Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
45. Gorgeous Wife & Gentle Husband


__ADS_3

"You look so gorgeous, Mbak."


Wanita yang sedang hamil muda itu tersenyum cerah saat dipuji demikian. Ia biasanya tampil dengan gaya tomboy sebagai outfit andalan. Atau paling tidak tampil dengan off shoulder top, high-rise cigarette jeans dan strap heel sandal ketika kongkow-kongkow. Biasanya outfit formal ke kantornya juga terbatas pada rok A-line, strappy Maxi dress putih dan kemeja sebagai outer, atau blouses yang dipadukan dengan high waist cullote dan high heels.



Namun, kali ini ia tampil anggun dengan sebuah dress warna putih. Jenis pakaian yang jarang ia kenakan. Kendati demikian, ia kerap menggunakan jenis pakaian tersebut ketika harus menemani sang suami, atau ketika mereka hendak menghabiskan waktu berdua seperti romantic dinner, staycation, dan sebagainya.


Altar sangat suka melihat istrinya tampil anggun. Namun, ia tidak pernah memaksa istrinya untuk selalu berpenampilan dengan gaya berpakaian yang tidak membuatnya nyaman. Khusus untuk kesempatan ini, pria itu memberikan dress yang membuat istrinya tampil begitu cantik, elegan, dan menawan.


"Masa sih, Ra?" guru wanita yang tampil anggun dengan one shoulder asymmetric dress itu. Tambahan anting-anting perak berhasil menonjolkan kesan glamour pada tampilannya yang bisa dibilang sederhana, namun berkelas.



Rambutnya yang dari awal dibiarkan tergerai, kini sebagian dijumput. Sedangkan untuk alas kaki, Altar meminta Alura untuk membeli sepatu tanpa heels. Boleh saja ada heels, namun jangan terlalu tinggi. Yang terpenting adalah keamanan bagi istri serta bayi mereka.


"Iya. Mbak itu kelihatan makin cantik kalau pakai dress."


"Jadi biasanya jelek?"


"Eh, enggak gitu juga." Alura menjawab dengan gelagapan. "Menurut penilaian aku sih, Mbak tuh pakai apa aja pasti kelihatan cantik. Cuma, kalau pakai dress begini cantiknya double-double." Alura dengan jujur memberikan pendapatan. "Tapi, jujur. Aku paling suka gaya Mbak pas nge-DJ."


Arunika tertawa kecil seraya mengelus permukaan perutnya yang masih rata. "Kalau menurut kamu udah oke. Sekarang kita lanjut. Apa instruksi selanjutnya dari suami saya?"


Alura mengangguk paham seraya melirik jarum jam di pergelangan tangan kirinya. "Kita langsung berangkat ke gedung sebelah, Mbak. Sir Altar sudah menunggu."


Arunika mengangguk tanpa kata. Entah apa yang direncanakan sang suami, yang pasti ia percaya pada rencana pria itu. Setiap tindakan yang Altar ambil, pasti sudah direncanakan sebaik mungkin.

__ADS_1


Tiba di gedung sebelah setelah melewati connecting door yang menghubungkan dua pintu antara gedung satu dengan gedung yang lainnya. Biasanya connecting door tersebut hanya bisa diakses oleh para petinggi, sekelas dewan direksi beserta antek-anteknya. Arunika juga baru pertama kali lewat connecting door yang membentuk jalan layang tembus pandang di antara dua gedung tersebut. Itu pun ia diberi akses karena statusnya sebagai istri Altar telah terungkap.


Secara otomatis, posisi Arunika jadi naik satu tingkat semenjak statusnya diketahui. Ya, ia jadi lebih dihormati dan disegani. Padahal dulu ia dianggap seperti staf biasa pada umumnya. Arunika tentu tak semerta-merta menyukai perubahan tersebut, karena baginya semua itu terlalu tiba-tiba.


"Nah, nanti Mbak tinggal masuk jalan sini," ujar Alura. Mereka sudah tiba pada sebuah ruangan dengan sekat berupa tirai berwarna merah yang dipasang dari ketinggian, menjuntai ke bawah.


"Sekarang Mbak bisa duduk cantik dulu. Waiting here."


"Oke," sahut Arunika seraya mengambil posisi duduk pada salah satu kursi yang tersedia di sana.


"Kalau gitu aku pergi dulu. Masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan."


Arunika mengangguk seraya tersenyum hangat. "Makasih, Ra. Kamu sudah banyak membantu suami saya."


Alura mengangguk-anggukan kepalanya. "Sama-sama, Mbak. Lagipula aku senang bisa membantu Sir Altar. Toh, itu sebagian dari pekerja aku." Seulas senyum kemudian terbit di bibirnya. "Aku tau Sir Altar sangat mencintai Mbak. Mbak sangat beruntung mendapatkan hati Sir Altar."


"Sir Altar juga sangat beruntung bisa mendapatkan wanita hebat seperti Mbak Arunika," lanjut Alura. "Intinya, Mbak sama Sir Altar itu sama-sama beruntung, saling melengkapi."


Arunika tahu orang akan berkata soal "keberuntungan" jika menyangkut hubungannya dengan Altar. Namun, orang-orang itu tidak tahu bahwa dibalik semua yang terlihat di khalayak umum, ada alasan kenapa mereka bisa saling melengkapi. Ada kekurangan yang coba mereka resapi. Ada keinginan yang coba mereka miliki.


"Good morning, ladies and gentleman."


Suara seseorang yang familiar di telinga tiba-tiba terdengar. Arunika tebak suara itu berasal dari balik tirai. Entah ada acara apa di balik sana, namun yang pasti tidak sedikit orang yang hadir. Terdengar dari tepukan tangan saat pembawa acara memberikan sebuah instruksi. Arunika juga tidak tahu kenapa ia harus berada disini.


Sampai ketika nama suaminya dipanggil. Prianya mendapatkan penghargaan serta sanjungan berkat kerja kerasnya membangun perusahaan. Apresiasi tersebut rupanya diberikan oleh pihak direksi generasi pertama, atau bisa disebut para senior di jajaran dewan direksi.


Seperti pada umumnya, setelah mendapatkan apresiasi atas jasa-jasa yang telah diberikan, pembawa acara mempersilahkan sang suami untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Arunika mendengarkannya dengan baik. Satu per satu kata ia resapi, karena ia sendiri tahu jatuh dan bangunnya sang suami belakangan ini. Tanpa sadar, ia sudah berdiri dengan kedua bola mata hazelnut miliknya yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Seperti yang sudah sebagian orang ketahui, saya sudah menikah. Istri saya adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuat saya menyerah pada kesendirian."


Arunika mendongkrak. Bola mata hazelnut miliknya menatap lekat ke arah tirai.


"Di telah menjadi bagian dari hidup saya semenjak satu tahun yang lalu."


Arunika tidak menyangka jika suaminya akan berkata demikian di hadapan banyak orang. Ia bisa merasakan keheningan suasana di balik tirai.


"Saya berharap tidak ada yang mengusik hidupnya lagi. Jika ada yang mengusik istri saya, itu berarti siap berhadapan dengan saya."


Hening sebentar. Arunika sempat bertanya-tanya saat keheningan itu melanda. Atas dasar apa Altar melakukan semua ini? apa atas dasar keselamatannya? supaya orang-orang tahu jika ia adalah istrinya, sehingga pria itu melakukan konferensi pers secara dadakan pada acara penghargaan ini.


"Dia adalah istri tercinta saya. Ibu dari calon anak-anak saya," ujar suami lagi. Bersama dengan itu, tirai yang menjadi penyekat mulai terangkat. Secara otomatis keberadaan Arunika langsung terlihat saat tirai itu terangkat.


"She is my beloved wife," ucap pria rupawan dengan setelah jas yang senada dengan dress Arunika. "Come on, come and introduce yourself (ayo, kemari dan perkenalkan dirimu)."


Tidak ada kata ragu bagi Arunika untuk memenuhi panggilan tersebut. Baginya sang suami adalah gambaran pria gentle yang sesungguhnya. Pria itu juga selalu berusaha menjadi pasangan yang sempurna selama membina rumah tangga. Sungguh, Arunika bersyukur bisa bertemu dengannya setelah sempat patah sejadi-jadinya karena seorang pria.


"I coming, Hubby," jawab Arunika dengan senyuman yang mengembang begitu lebar. Biar mereka semua tahu jika ia begitu bahagia.


πŸ„πŸ„


THE END


semoga suka πŸ–€


JANGAN lupa rate bintang 5 🌟 like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘

__ADS_1


Tanggerang 19-12-23


__ADS_2