Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
16. (No’t) Easy


__ADS_3

Selesai brunch bersama di tempat makan yang tersedia di hotel, Altar dan Arunika kemudian langsung menemui mr. Aldebaran untuk melakukan meeting. Alasan utama kenapa mereka datang ke tempat ini.


Keduanya tampil dengan outfit formal yang warnanya senada, yaitu dominasi warna dark blue. Arunika tidak berniat menyamakan outfit-nya dengan sang atasan. Namun, saat sudah keluar dari kamar mandi Altar sudah mengenakan setelan formal berwarna dark blue, mulai dari jas hingga celana, kemudian dilengkapi dengan whaitscoat hitam.


Sedangkan Arunika sendiri tampil dengan outfit andalan bagi wanita karier pada umumnya. Pencil skirt yang dipadukan dengan kemeja berwarna putih gading berbahan lembut dengan model kerah bertali. Untuk alas kaki ia menggunakan stiletto bertumit tinggi dari Jimmy Choo. Satu-satunya koleksi sepatu mewah yang tersisa dalam jajaran koleksi sepatunya.


Tempat yang dijadikan sebagai tempat meeting masih berada di sekitar hotel. Mr. Aldebaran juga membawa istri beserta putrinya. Gadis bule berusia 6 tahun itu tampak ceria walaupun suhu tubuhnya masih belum stabil. Plester demam instant juga tampak menghiasi kening gadis cantik bermata biru itu.


Selesai dengan urusan bisnis, Arunika ikut bergabung bersama istri college mereka. Yuanita Queen namanya. Wanita tersebut ternyata memiliki darah Indonesia dari sang Ibu yang menikahi pria asal Cina. Mbak Yuan, begitu Arunika memanggilnya. Ternyata pernah tinggal lama di Indonesia, sebelum kedua orang tuanya migrasi ke London, Inggris. Di sana mbak Yuan menghabiskan masa SMA hingga kuliah.


“Dulu aku juga seperti kamu, loh.”


“Kayak aku gimana maksudnya, Mbak?” Arunika yang sedang memangku Annelisse—putri Aldebaran dan Yuanita—mengalihkan perhatian.


“Dulu dia itu atasan di kantor tempatku kerja.”


“Really?”


“Yes. Dia bahkan terkenal sebagai the real buaya yang setiap malam on night stad sama bule-bule cantik. Hampir separuh staf perempuan di kantor juga sudah pernah tidur sama dia,” beber Yuanita sembari meringis geli.


“Terus gimana ceritanya bisa tobat dan nikah sama Mbak?” jiwa-jiwa hobah alias tukang ghibah dalam diri Arunika meronta-ronta. Kisah Yuanita ini agaknya seperti drama-drama ala novel romantis yang kerap muncul di buku ataupun platform digital.


“Because him falling in love.”


“Sama mbak?”


Wanita cantik bermata agak sipit itu mengangguk. “Iya. Dia berjanji untuk berubah saat mengajak menikah. Dan dia membuktikan ucapannya.”


“Wah, really? so sweet banget dong.” Puji Arunika.


“Tapi, Aru, awalnya aku juga sempat ragu. Kesenjangan sosial di antara kami membuatku ragu. Aku selalu berpikir apakah aku layak untuknya? Aku bahkan sempat berpikir untuk mundur. Tapi, aku mencintai dia apa adanya. Begitupun dia terhadapku.”


Arunika mengangguk faham. Ia juga tahu jika hubungan yang memiliki problem kesenjangan sosial pasti akan  didera masalah internal maupun eksternal.


“Dia selalu menyakinkan aku. Sebuah hubungan dibangun atas kepercayaan dan komunikasi, bukannya saling mendominasi. Aku percaya dia, begitupun sebaliknya. Kita berjuang bersama-sama, jatuh dan bangun juga bersama, sampai akhirnya bisa berada di titik ini.” Yuanita mengurai senyum di akhir kalimatnya.


Ia melirik sang putri yang masih anteng duduk di pangkuan Arunika sembari bermain gawai. “Biasanya Annelisse jarang akrab sama orang baru, loh. Tapi sama kamu langsung nempel kayak lem.”


Arunika tersenyum mendengarnya. “Mungkin karena aku ada basic buat jadi baby sister, Mbak.” Arunika menjawab asal. “Kenapa aku enggak jadi baby sister aja, ya? Gajinya kan, lumayan,” imbuhnya sembari melirik sang atasan.


Pria yang tanpa ia sadari tengah menatap ke arahnya langsung mendelik tajam. Dari respon tersebut Arunika tahu jika itu bukanlah ide yang disukai pria tersebut.


“Dasar otoriter!” ketus Arunika sembari memalingkan wajah.


“Kamu ini benar-benar mengingatkan aku saat  masih kerja dulu.” Yuanita tersenyum tipis sambil menatap Arunika lurus-lurus. “Aku dulu juga kayak kamu, suka menggerutu kalau dia suka otoriter. Tahulah, kadang perempuan itu tidak mau diatur-atur. Tapi, apalah daya kalau punya atasan yang otoriter.”

__ADS_1


“Nah, gitu. I hate him, dia mempekerjakan aku nggak manusiawi. Dikit-dikit ‘intern-intern’, capek aku tuh. Padahal ini masih masa percobaan,” ujar Arunika sebal mengingat kebiasaan sang atasan. “Selain otoriter, dia juga maunya menjadi yang paling benar.”


Mendengar cerita Arunika, Yuanita melepaskan tawa yang cukup lepas. Sampai-sampai sang suami yang tengah duduk bersama Altar menoleh ke arah mereka.


“Aduh, sorry. Lucu banget soalnya.”


“Apanya yang lucu, Mbak? Kesel yang ada.”


Yuanita mengangguk sembari menormalkan deru nafasnya. “Kayaknya ada something deh di antara kalian.”


“Aku sama dia?” Arunika menunjuk dirinya sendiri dan Altar bergantian. “Ya enggaklah, Mbak. Ya kali aku ada something sama orang kayak dia. Bisa darting terus aku, Mbak.”


“Darting?”


“Darah tinggi maksudnya.”


Yanita mengangguk paham. “Tapi kalau aku lihat, kalian sama-sama nyaman. Dia enggak kelihatan terganggu sama kehadiran kamu, malah terlihat sudah mulai tergantung sama kamu.”


“Iyalah. Dia, kan, sukanya nyuruh aku buat ngurusin semua kebutuhannya. Aku juga dijadiin babu di apartemennya,” cerita Arunika. Pada dasarnya ia ini seperti ember bocor jika sudah bertemu dengan seseorang yang easy to talk.


Yuanita ini salah satu contohnya. Ia nyambung diajak bicara topik A hingga Z. Arunika senang jika disuruh berlama-lama dengan orang seperti Yuanita. Namun, tidak semua orang juga bisa diajak mengobrol oleh Arunika. Tergantung dari karakteristik orang yang kan menjadi lawan bicara.


“Kalau begitu sampai jumpa lagi mr dan mrs. Aldebaran.”


Arunika melepas senyum lebar saat hendak undur diri. Di sampingnya, Altar baru saja selesai berjabatan tangan dengan college mereka.


“Yes, me too.” Pria bule bermata biru itu menjawab sembari menjabat tangan Arunika. “Saya happy because kamu akrab dengan my wife and my daughter,” imbuhnya.


“Saya juga senang bisa mengenal Mbak Yuan dan Annelisse. Putri kalian sangat cantik dan periang.”


Arunika menyentuh surai keemasan Annelisse. Bocah cantik itu sempat menangis karena tidak mau berpisah. Tetapi sekarang ia sudah tidak menangis lagi, karena dijanjikan pertemuan berikutnya dengan Arunika.


“Senang bisa bertemu denganmu, Aru.” Yuanita berucap seraya memeluk Arunika.


“Aku juga, Mbak.”


“Jangan sungkan untuk menghubungi jika ingin berbagi cerita atau sekedar mengobrol. Kamu sudah save nomerku bukan?”


“Iya, Mbak. Kontak mbak sudah aku save. Akun Instagram mbak juga sudah aku follow, kita bisa bertukar kabar lewat direct message.”


“Kalau ada waktu, sempatkan mampir ke London. Annelisse pasti akan senang sekali jika kamu berkunjung.”


“Insya Allah, Mbak. Jika Tuhan menghendaki.”


Keduanya kembali berpelukan untuk sejenak. Altar dan Aldebaran yang melihat itu mengulas senyum tipis. Tidak menyangka jika keduanya akan cepat akrab dan menjadi sedekat itu.

__ADS_1


“Hati-hati ya, Mbak.”


“Iya. Sampai jumpa lagi lain waktu, Aru.”


Arunika mengangguk paham. Tangannya bergerak melambai-lambai mengantarkan kepergian keluarga asal Inggris tersebut. Mr dan mrs. Aldebaran memang langsung berangkat menuju bandara internasional I Ngurah Rai setelah kesepakatan di antara kedua belah pihak menemukan titik temu. Seharusnya jadwal kepulangan mereka besok, tetapi harus dipercepat karena ada urusan penting yang mengharuskan mereka pulang lebih awal. Jadilah malam harinya, Altar dan Arunika ikut mengantarkan mereka ke bandara sebelum bertolak ke Inggris.


“Saya tidak menyangka kamu akan cepat akrab dengan istri mr. Aldebaran,” ujar Altar saat Arunika baru saja hendak menggunakan seatbelt.


“Soalnya dia easy going, easy to talk, sumpel juga orangnya, Pak.” Arunika menjawab sekenanya.


“Kenapa kamu selalu bersikap formal jika bersama saya?”


“Karena Bapak atasan saya,” ujar Arunika penuh penekanan.


Saat kendaraan yang mereka naiki mulai melaju, Arunika memilih menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat duduk. Kedua kelopak matanya juga tertutup rapat. Hari ini cukup melelahkan.


“Memangnya kenapa jika saya atasan kamu?”


“Ya, gitu. Karena saya punya keharusan untuk dan hormat sama Bapak,” jawab Arunika masih dengan mata tertutup.


“Peraturan dari mana itu? Saya tidak pernah mendengarnya.”


Arunika membuka matanya kesal, sembari menoleh ke arah Altar yang ternyata sedang menatapnya juga.


“Bapak itu atasan saya, makanya saya harus hormat ke Bapak. Bisa aja sih bawahan tidak sopan dan hormat ke atasannya, itupun hanya berlaku jika mereka memiliki hubungan semacam staff with benefit.”


Arunika tidak habis pikir dengan pemikiran pria tersebut. Kenapa juga ia tiba-tiba bertanya demikian? Bukannya dari awal dialah yang selalu menjaga batasan dengan segala sifat perfeksionis nya.


“Jadi kamu harus menjalin hubungan seperti itu dulu dengan saya?”


“Bapak ngaco, nih. Pasti udah laper? Masa kita harus punya something apalagi yang gituan. Ya, enggak gitu juga kali, Pak.”


“Kenapa tidak?”


“Mulai sinting nih,” gumam Arunika pelan. Jengah menghadapi tingkah sang atasan yang menurutnya mulai tidak jelas. Ia memilih tidak menjawab pertanyaan tersebut. Bomat alias bodo amat. Orang ngawur kok diladeni.


“Kalau pun ada sesuatu di antara kita, semuanya tidak akan mudah,” imbuhnya setengah bergumam. Kedua kelopak matanya kembali tertutup. Kegelapan mulai merenggut kesadaran, tubuhnya yang didera letih minta diistirahatkan.


Tanpa Arunika ketahui, kalimat terakhir yang ia ucapkan bisa didengar oleh Altar dengan jelas. Menimbulkan tanda tanya cukup besar di kepalanya.


...🍄🍄...


...TBC...


...Semoga suka 😘...

__ADS_1


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


...Tanggerang 29-11-22...


__ADS_2