Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
24. Drinking & Kissing


__ADS_3

Seporsi mie tarempa yang diberi topping ikan tuna tampak menggugah selera. Untuk menikmati mie asal kepulauan Riau itu tidak perlu jauh-jauh datang ke tempat asalnya, karena di Jakarta sendiri sudah ada yang menjual. Arunika yang notabene doyan makan sering kali up to date tentang kuliner-kuliner nusantara yang selalu menggugah selera untuk dicicipi. Ditemani oleh Aling, ia selalu bisa menikmati makanan dengan harga receh, tetapi rasanya tidak recehan.


“Kenapa dilihatin mulu, Ru? Gak suka?”


Si pemilik nama menggeleng, kemudian ia bergerak meraih sumpit. “Gue makan, nih,” ujarnya seraya menggunakan sumpit yang berada di sela-sela jarinya.


“Kondisi bos lo sekarang gimana?”


“Not good,” jawab Arunika sekenanya.


“Memangnya dia sakit apa? Perasaan selama ini dia gak punya riwayat sakit yang mengkhawatirkan. Gaya hidupnya juga sehat banget, ‘kan?”


“Gaya hidup sehat bukan berarti kita nggak bisa sakit, Ling. Namanya juga musibah, kapan saja bisa datang. Kita mana tahu.”


“Iya, true juga sih.” Wanita berkacamata itu mengangguk-anggukan kepala sembari menatap mangkuk mie tarempa miliknya. “Oh, iya. Tadi gue juga lihat si mantan finalis putri Indonesia itu di lobby,” lanjutnya, memberitahu.


“Oh.” Arunika hanya ber-oh ria. Membicarakan sosok itu membuatnya ingat pembicaraan mereka terakhir kali. Pembicaraan mereka yang terakhir kali, berhasil membuat Arunika mengubah pandangannya terhadap perempuan itu. “Kok bisa ada cewek anggun se-medusa itu?” monolognya tanpa sadar.


“Hah, gimana maksudnya, Ru? Anggun kok medusa?”


“Eh, enggak. Lo salah denger,” ralat Arunika cepat. “Lo mau bicara apa barusan?”


“Ah, itu, si Arumi Soedibyo. Tadi gue papasan di lobby. Tau nggak dia jalan sama siapa?”


Arunika mengedipkan bahunya acuh. Mana ia tahu sekarang wanita itu jalan dengan siapa setelah mencampakkan bos-nya. Mungkin dengan the next future husband yang lebih memenuhi kriteria keluarga. Semisal putra bungsu bapak presiden yang menjabat sekarang.


“Dia jalan sama Jefrey Asmarandana!” seru Aling, heboh.


“What?!” kaget Arunika, tak kalah heboh. Ia bahkan sampai tersedak makanannya sendiri. “Jefrey Asmarandana yang itu, Ling?”


Aling mengangguk mantap. “Iya. Jefrey Asmarandana yang lo sukai dari zaman kuliah.”


Arunika melongok tak percaya. Siapa sih yang tidak mengenal Jefrey Asmarandana. Aktor tampan itu sering kali wara-wiri di televisi. Kiprahnya sebagai bintang di dunia hiburan melonjak pesat semenjak ia beradu akting dengan seorang aktris kawakan penyabet anugrah piala Citra dalam sebuah film layar lebar. Jefrey juga sering membintangi reality show hingga menjadi host favorit dalam acara adventure yang ditayangkan setiap akhir pekan.


Dari kabar burung yang terdengar, katanya tahun ini Jefrey juga akan membintangi salah satu film laga besutan Holywood. Jika berita itu benar, maka itu dapat disebut sebagai debut Jefrey di kancah internasional.


“Masa sekarang Arumi deket sama Mas Jefrey?”


“Apa, Ru? Ulang sekali lagi, takutnya gue tuli.”


“MAS JEFREY, LING! CALON GUE?!” seru Arunika, gemas sendiri.


“Ya, ya, ya, Jefrey Asmarandana memang haluable. Tapi, enggak kelewatan juga halu-nya, Ru.”


Arunika memutar bola matanya malas. Selain Tom Cruise, Jefrey Asmarandana adalah salah satu aktor yang Arunika sukai. Namun, siapa sangka jika sekarang aktor yang sangat ia sukai malah dekat dengan wanita yang beberapa menit lalu ia cap sebagai ‘medusa’.


Saat ini mereka berdua memang tengah berada di apartemen Airlangga. Menunggu kehadiran si empunya yang katanya tengah dalam perjalanan pulang. Arunika datang ke sini bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena ada data yang harus ia ambil. Pria yang bekerja di bagian Data analyst itu tadi memintanya datang ke apartemen, karena sedang dalam perjalanan pulang.


“Ru.”


“Hm.”


“Hp lo bunyi tuh.”


Arunika menoleh, menatap benda yang berkedip beberapa saat lalu. Ia memang terlalu larut dalam pemikiran tentang Arumi dan Jefrey. Sampai-sampai tidak sadar jika handphone miliknya berbunyi.


“Iya, Dok,” jawab Arunika saat sambungan telepon ia angkat.


“….”

__ADS_1


“A—pa?!” kaget Arunika. “Kok bisa. Kenapa nggak ditahan aja, Dok? Bandel banget! Iya, biar saya yang cari dia.”


Aling yang melihat ekspresi sang sahabat mengernyitkan kening kebingungan. Entah apa yang tengah Arunika bicarakan dengan seseorang yang dipanggil ‘dok’ tersebut. Setelah menutup sambungan tersebut, wanita cantik itu buru-buru beranjak seraya membenahi barang-barang miliknya.


“Lo mau kemana, Ru?”


“Gue cabut duluan, Ling. Ada masalah urgent, gue titip flashdisk nya sama lo. Kalau bisa, lo check dulu datanya.”


Aling mengangguk tanda jika dirinya faham. Melihat gelagat sang sahabat, sepertinya memang sedang ada masalah urgent. Mungkin hal itu ada kaitannya dengan Bian, pikir Aling.


...🍄🍄...


“Ya ampun, Bapak!” Arunika berseru heboh saat menemukan sosok yang dilaporkan hilang dari rumah sakit itu berada di balik cabinet dapur.


Pria yang mengenakan atasan putih polos itu tampak tengah asik menikmati kegiatannya, membolak-balikkan spatula di atas penggorengan. Raut wajahnya sudah lebih fresh dari pada terakhir kali Arunika lihat. Berbanding terbalik dengan Arunika yang sudah cemas tak karuan.


“Bapak lagi ngapain? Bukannya Bapak masih harus bed rest di rumah sakit?”  tanya Arunika retoris. Matanya memicing, menatap sang atasan.


Dokter Raihan tadi menelepon karena pasien yang hendak ia periksa ternyata sudah tidak ada di ruangan. Arunika yang tertera sebagai wali pasien tentu menjadi orang pertama yang beliau hubungi.


“Saya lapar. Kamu tidak ada, jadi saya masak sendiri.”


Arunika menatap lawan bicaranya tak percaya. Ingin sekali ia menyumpah-serapahi sang atasan yang suka seenak jidatnya itu. Tidak tahukah ia, jika Arunika sampai meneror si abang gojek agar cepat sampai ke tempat ini guna memastikan keadaannya. Tahu-tahu yang sedang dikhawatirkan malah asik memasak.


Ctlak


Arunika mematikan kompor, membuat Altar melayangkan tatapan protes karena acara masaknya jadi terhambat.


“Kenapa dimatikan?”


“Duduk!” titah Arunika, mode tidak dapat dibantah.


“Duduk saya bilang!” tukas Arunika, sekali lagi


Altar menatap sang sekretaris dengan netra jelaganya. “Kamu kenapa? Kesurupan?”


Arunika menarik nafas dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan. “Duduk saja, okay.” Arunika meraih tangan sang atasan, membawa pria itu ke kursi makan.


“Biar saya yang masak.”


Altar tidak menjawab. Ia hanya patuh menuruti perintah sang sekretaris untuk duduk. Membiarkan wanita yang masih dalam balutan setelan formal itu berkutat di balik peralatan dapur. Tidak sampai 20 menit, berbagai menu vegan yang tentu saja healthy tersaji di atas meja makan.


“Silahkan dinikmati. Mungkin rasanya tidak akan seenak masakan Ibu Anda, tetapi lumayanlah.”


“Hm.”


“Jangan lupa baca do'a,” ujar Arunika mengimbuhi. Netra hazelnut itu kemudian menikmati pemandangan di hadapannya.


“Kamu tidak makan?”


Arunika menggeleng. Tadi ia sudah makan sebelum menerima emergency call dari rumah sakit. “Kenyang. Sudah makan mie.”


“Makan mie tidak baik bagi kesehatan,” tukas Altar. Memperingati layaknya seorang ayah memperingati putri kecilnya.


“Bukan mie instant kali. Tapi, mie tarempa.” Arunika berujar seraya menjulurkan lidah.


“Sama-sama berbahan dasar mie,” jawab Altar sekenanya.


“Ada bedanya. Mie tarempa itu pakai mie buatan sendiri, tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan.”

__ADS_1


“Hm.” Altar tidak bertanya lagi, membuat Arunika tersenyum puas.


Setelah memberi sang atasan makanan yang sehat dan dapat dikonsumsi, Arunika beralih ke ruang tengah. Ia juga sudah membersihkan peralatan memasak bekas digunakan. sekarang ia harus memastikan jika sang atasan minum obat sesuai anjuran dokter.


“Minum obat dulu, Pak.”


“Hm.”


“Ayo, buruan. Tangan saya pegel nih,” ujar Arunika seraya menyodorkan tiga butir obat berbeda diameter.


Altar yang tengah menonton televisi hanya mengangguk, tanpa memiliki niatan untuk mengambil obat-obat tersebut. Arunika mendengus sebal melihat respon sang atasan yang. Dasar big baby.


“Ini mau minum obat atau tidak? Lama banget ngambilnya!” protes Arunika.


Altar menoleh. Tanpa kata, pria rupawan itu mengambil alih obat yang ada di telapak tangan Arunika. Memasukannya kedalam mulut, kemudian meraih air putih yang ada di atas meja. Arunika tersenyum puas melihatnya.


“Nah, gitu dong. Nurut kalau—“ ucapan wanita itu terpotong begitu saja saat Altar mendekatkan wajah, lantas memiringkan kepala. Dengan gerakan cepat menawan bibir Arunika. Si empunya yang tengah berbicara dengan kondisi mulut sedikit terbuka, memudahkan Altar mendesak masuk. Membuat apa yang tadinya berada di dalam mulutnya kini berpindah.


Arunika tentu terkejut. Ia berusaha memberontak, akan tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan Altar. Laki-laki itu bahkan menahan tengkuk Arunika, supaya Arunika tidak dapat berbuat apa-apa. Alhasil Arunika benar-benar menelan obat yang Altar berikan lewat ciuman tersebut.


“Good,” ujar Altar saat ciuman mereka terlepas.


“Uhuk… uhuk… “ Arunika terbatuk-batuk karena ulah Altar. Dengan cepat ia meraih air putih yang ada di atas meja.


“Pelan-pelan,” ujar Altar seraya menepuk punggung Arunika.


“Bapak apa-apaan sih! Bapak berencana membuat saya mati muda?!” ketus Arunika setelah berhasil menandaskan minumnya.


“Tidak.”


“Terus?!”


“Drinking and kissing.”


Mendengar jawaban Altar, Arunika kontan melotot. “Itu obat Bapak, kenapa saya yang minum? Lagian ya, apa yang Bapak lakukan itu termasuk dalam kategori pelecehan. Tidak ada atasan yang melakukan bawahannya seperti itu, Pak!”


“Ada.”


“Siapa?!”


“Saya.”


Arunika menggeram kecil seraya menyeka sudut bibirnya. Rasa pahit masih tertinggal di dalam mulut, kendati ia sudah minum air putih untuk menetralkan rasa pahit yang timbul. Tunggu, sejak kapan ada air putih di atas meja selain air putih bekas Altar?


“Jangan bilang saya barusan minum air bekas Bapak?” tanya Arunika horor.


Altar tersenyum tipis seraya melipat kedua tangan di depan dada. “Memangnya kenapa? Bukannya kita sudah pernah berbagi saliva.”


Oh Tuhan, Arunika ingin sekali memiting kepala atasannya yang sok itu. Kenapa juga ia harus menghadapi bos killer macam Altar yang suka seenak jidat.


...🍄🍄...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


...Tanggerang 04-12-22...

__ADS_1


__ADS_2