Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
20. Desire


__ADS_3

Rasa yang legit tercecap oleh lidah saat croissant donut yang dibeli untuk sarapan dikunyah. Seraya berkutat di depan mesin printer, sebelah tangannya memegang cup yang berisi coffe. Hari yang sibuk bagi Arunika, karena pagi-pagi sekali ia sudah dipusingkan dengan mesin printer yang tiba-tiba mati. Membuatnya harus antri menggunakan mesin printer yang lain.


“Ok, udah gue print double. Berarti tinggal dijilid,” gumamnya seraya menelan kunyahan terakhir.


“Boleh gue minta?” bisik sebuah suara tepat di belakang telinga Arunika. Hal itu tentu membuat si empunya berjengit kaget.


“Aish, Air. Lo ngagetin gue!” ketusnya seraya memukul si pelaku membabi buta.


“Aw, jangan di pukul dong, beb. Di cium aja,” ujar suara husky itu jenaka.


“Sial*n. Lo kapan balik sih, Air?” kesal Arunika seraya berkacak pinggang.


“Kemarin gue nyampe Jakarta, beb. Tapi, lo nggak bisa gue telepon.”


Pria berperawakan tinggi dengan jambul keemasan itu mengerucutkan bibir, seolah-olah tengah merajuk. Membuat lawan bicaranya berdecak.


“Gak usah sok imut, mual gue.”


“Mual? Lo gak hamil 'kan, selama gue tinggal dinas?” ujar pria itu pura-pura khawatir.


“Aish, your language!” kesal Arunika seraya mencubit lengah bisep yang tertutup kain berwarna biru langit.


“Kirain gue, lo ditinggal dinas bunting. Gue 'kan, jadi bingung. Nanem juga kagak, kok jadi.”


Arunika membulatkan mata tidak percaya. Beberapa orang yang kebetulan lewat dan melihat interaksi mereka tampak curi-curi dengar. Mungkin sebagian dari mereka juga bisa jadi salah paham karena ucapan asal pria bernama Airlangga tersebut.


“Lo kenapa balik lagi sih? Bukannya enak di sana. Banyak bule, ‘kan?”


Airlangga tersenyum kecil seraya merapihkan poni Arunika. “Enggak enak kalau nggak ada lo, beb.”


Arunika berdecak sebal sembari merapihkan kertas-kertas HVS yang telah selesai di-print out. Sedangkan Airlangga dengan setia menunggu sambil memegangi cup coffe milik Arunika.


“Lo nggak balik ke lantai atas? Ini bukan tempat lo,” usir Arunika.


“Jahat banget. Lo nggak kangen gue apa?”


“Enggak!” jawab Arunika mantap seraya melangkah keluar dari ruangan.


Airlangga tersenyum lebar, kemudian mengikuti langkah Arunika. “Denger-denger sekarang lo naik jabatan, beb? Jadi sekretaris CFO. Beneran?”


“Hm.”


“Banyak duit dong sekarang?”


“Banyak duit your head!” ketus Arunika seraya memblokir jalan Airlangga. “Lo kenapa balik lagi sih?!”


“Kalau gue bilang kangen, lo percaya nggak?”

__ADS_1


“Enggak,” ketus Arunika seraya berbalik badan. Tidak mau lagi menghadapi pria berdarah campuran tersebut.


“Nanti malem ada waktu luang nggak?” tanya Airlangga, masih tidak putus asa.


“Enggak ada. Gue sibuk.”


“Sibuk ngapain? Manggung atau lembur?”


“Bukan urusan lo!” ujar Arunika ketus seraya berjalan lebih cepat agar dapat menjauh dari jangkauan Airlangga.


Airlangga yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis. Jika diingat-ingat ini memang balasan untuknya yang waktu itu pergi tanpa pamit. Jadi, jangan salahkan Arunika jika saat ini marah. Orang lagi sayang-sayangnya, malah ditinggal pergi.


“Sial*n emang si Air!”


Arunika membanting kertas-kertas HVS yang telah di-print out itu ke atas meja. Bisa-bisanya ia kembali dipertemukan dengan pria yang telah membuat cintanya kandas dua tahun yang lalu. Aish, tensi darah Arunika langsung melonjak pesat jika mengingat peristiwa tersebut.


“Intern.”


Suara interkom yang cukup keras kembali membuat Arunika sadar. Lepas dari si Air yang dulu membuatnya jatuh ke dalam keterpurukan, kini ia harus menghadapi keterpurukan lain. Arunika menghembuskan nafas lemah sebelum beranjak menuju ruang CFO. Tempat di mana pria yang belakangan ia hindari berada.


“Bapak panggil saya—“ kalimat Arunika terpotong saat melihat sosok feminim dalam balutan dress misty rose tengah berdiri seraya memegang sebuah jas. Jas itu milik sang atasan, Arunika tentu saja bisa mengenalinya.


“Altar lagi ke kamar mandi. Kamu bisa tunggu sebentar.”


Arunika tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Di liriknya area sofa yang tampak diisi oleh tas kulit berwarna merah jambu. Sedangkan beberapa benda di atas meja sofa juga tampak berantakan.


Arumi—wanita cantik itu tersenyum tipis seraya menunjuk sebuah berkas. “Dia pasti bakal lama di kamar mandi,” imbuhnya.


Arunika bukan wanita bodoh. Ia tahu maksud dari maksud terselubung yang coba Arumi ucapkan. “Ah, begitu rupanya.” Oleh karena itu, Arunika memilih menanggapi sekenanya saja.


Ia meraih berkas yang Arumi tunjukkan. Pandangannya tidak sengaja melihat dasi berwarna dark blue teronggok begitu saja di dekat kaki Arumi. Arunika tahu dasi itu milik siapa.


Jantung Arunika tiba-tiba berdesir tanpa alasan. Rasa jijik menyeruak saat isi kepalanya berfantasi yang tidak-tidak. Entahlah, ia jadi nething membayangkan sepasang anak Adam  dalam satu ruangan yang cukup memberikan bukti otentik.


“Kalau begitu saya pamit undur diri,” ujar Arunika formal seraya memeluk dokumen tersebut erat-erat.


“Ah, tunggu.”


“Iya?”


“Apa aku bisa minta segelas teh chamomile? Teh ku jatuh sebelum sempat diminum.”


Arunika mengernyitkan kening. Ia tidak salah dengar?


“Teh chamomile hangat dengan gula lass sugar.”


Enggan mendebat, Arunika memilih mengangguk seraya tersenyum tipis. Setelah itu ia pamit undur diri. Membawa gemuruh tak menentu di hati. Mungkin selain Altar, sekarang Arunika juga harus membiasakan diri menghadapi tingkah killer calon istri bos-nya itu.

__ADS_1


“Kamu tidak makan siang?”


“Astagfirullah!” kaget Arunika, refleks mengucapkan istighfar. Untung saja Korean rich balls di tangannya tidak terlempar. “T-idak, Pak. Saya bawa bekal.”


“Bekal?”


Arunika mengangguk seraya menyembunyikan tangan yang tengah memegang Korean rich balls di belakang tubuh. Ia memang tidak turun ke bawah untuk makan siang karena membawa bekal.


Pagi tadi Arunika sempat memasak Korean rich balls bersama sang adik. Korean rich balls modifikasi lebih tepatnya. Makanan otentik ala negeri k-pop itu dimasak dengan komposisi bahan yang dapat disesuaikan sesuai selera. Selain Korean rich balls, Arunika juga melengkapi bekalnya dengan tumis sayuran dan lauk pendamping lain khas negeri ginseng tersebut.


“Kamu tidak mau turun ke bawah?”


Arunika menggeleng. Masih enggan menatap sang lawan bicara yang kembali bertanya. Jangan tanya di mana Arumi, karena wanita cantik itu sudah pulang setengah jam yang lalu.


“Mau saya temani?”


“NO!” Arunika menjawab tegas di dalam hati. Ia tidak mau turun ke bawah juga salah satu trik untuk menghindari Altar. Sekarang pria itu malah menawarkan diri untuk menemani. Lucu nggak sih?


“Bapak bukannya mau lunch? Pak Arez dan Pak Afka pasti sudah menunggu di bawah.”


Mau tidak mau, akhirnya Arunika harus mengutarakan sepatah dua patah kata untuk menyahuti sang lawan bicara.


“Mereka lunch bersama pasangan masing-masing.”


‘And then?’ ingin sekali Arunika menjawab demikian. Akan tetapi, ia malah berkata demikian. “Terus Bapak kenapa tidak lunch sama someone. Atau perlu saya pesankan makanan siang saja?”


“Tidak untuk keduanya.”


Pria itu bukannya beranjak, malah menarik kursi di depan meja Arunika. Memposisikan diri dengan nyaman di sana, seraya beralih menatap isi kotak bekal Arunika.


“Bekal kamu sepertinya cukup untuk makan siang kita berdua.”


“Kita berdua?” Arunika menggantungkan kalimatnya.


“Korean rich balls itu tampaknya lezat. Boleh saya mencobanya?” pria itu mendongkrak. Menatap Arunika dengan sorot mata hangat. Wait, kok hangat, bukan datar?


Seharusnya Arunika menjawab ‘Tidak’ dengan lantang. Ia harus tegas menolak kehadiran pria rupawan tersebut. Supaya pria itu berakhir pergi dan makan siang seorang diri di canteen. Namun, seolah-olah terhipnotis oleh sosok hangat yang dipancarkan iris jelaga milik Altar, Arunika malah menjawab sebaliknya.


“B-oleh.”


...**...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...

__ADS_1


...Tanggerang 29-11-22...


__ADS_2