Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
12. Vitamin Sea & Indirect Kiss


__ADS_3

“Saya butuh vitamin sea.”


Jemari yang sedang lihai mengiris bawang itu sontak berhenti. Dialihkan tatapannya dari irisan-irisan bawang pada pria yang berdiri di depan lemari pendingin.


“Kalau Bapak butuh vitamin C, nanti saya buatin jus jambu batu. Jambu batu itu kandungan vitamin C nya lebih tinggi dari jeruk loh, Pak. Mau?”


“Vitamin sea, not C.”


Pria yang baru saja mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin itu meluruskan.


“Maksudnya Bapak butuh vitamin laut?” tanya Arunika memastikan.


“Menurut kamu?” bukannya menjawab, pria itu malah balik tanya.


“Oke, deh. Kalau gitu saya buatkan sesuatu yang mengandung banyak vitamin sea.”—sesuai keinginan baginda raja, lanjut Arunika di dalam hati.


Arunika menyerah mendebat. Dengan sigap wanita cantik itu memutuskan topik pembicaraan di antara mereka. Dengan langkah lebar ia mendekati lemari pendingin. Membuka freezer, menimang-nimang sejenak. Apa saja yang harus ia ambil. Beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan udang dan beberapa kawan-kawannya dari lemari pendingin.


Altar yang melihat sekretarisnya hilir mudik di dapur memilih untuk menunggu sembari menonton siaran televisi. Pada jam makan siang begini biasanya banyak berita yang bisa ia lihat. Mulai dari headline news dalam hingga luar negeri. Tanpa Altar sadari, perlahan-lahan ia mulai malas melakukan rutinitasnya sendiri. Contoh kecilnya adalah memasak. Biasanya Altar mandiri dengan memasak sendiri. Tetapi, sejak memiliki sekretaris baru, ia lebih suka menyuruh-nyuruh. Terima jadi saja maunya.


Padahal Altar bukan tipe anak mommy yang tidak bisa apa-apa, dan tahunya minta dilayani saja. Ia ini cukup handal memasak, serta dapat mengurus semuanya sendiri. Tetapi, sejak ada Arunika, ia tidak mandiri. Toh, wanita itu digaji untuk semua ini.


“Bagaimana, Pak?”


“Hm.”


Arunika mengerucutkan bibirnya kesal mendengar komentar sang atasan. Susah payah ia memasak dan Altar hanya memberikan respon ‘hm’ saat ditanya bagaimana rasa masakannya. Padahal saat ia mencicipi masakannya, semuanya sudah pas di lidah. Ia memang tidak memasak banyak karena takutnya tidak dimakan. Nanti ujung-ujungnya mubadzir. Jadi Arunika putuskan untuk memasak ikan Singapura yang disajikan dengan nasi beserta udang kukus.


Masakan Singapura banyak dipengaruhi oleh masakan Cina. Oleh karena itu Arunika membuatnya, karena tahu jika keluarga sang atasan kental dengan kebiasaan makan masakan Cina. Berbekal keahlian memasaknya yang cukup memadai, serta keahlian dalam mengingat berbagai jenis menu yang pernah ia pelajari selama liburan di Negara Singa Putih tersebut. Arunika membuat masakan yang berbahan dasar daging ikan putih, telur, bawang bombai, bumbu kari, nanas kalengan, jeruk mandarin, water chesnut dan beberapa jenis bumbu sebagai penyedap.


Jika tidak suka ikan, daging ayam juga dapat digunakan sebagai pengganti ikan. Berhubung tadi sang atasan butuh vitamin sea yang sekilas Arunika kira vitamin C. Jadilah ia memasak menggunakan bahan-bahan yang mengandung banyak vitamin dan protein. Selain itu Arunika juga menghidangkan menu tersebut bersama nasi yang dimasak dengan kacang polong dan beberapa bumbu sebagai penyedap. Sehingga rasanya menjadi lebih istimewa.


Untuk udang sendiri hanya diberi bumbu garam dan lada. Kemudian digulung dengan kerahi sebelum di kukus selama 5 menit. Udang kukus tersebut selanjutnya disajikan dengan saus cocolan yang dibuat dari campuran saus ikan, air, cuka, kecap, gula, irisan daun mint, bawang merah, garam serta lada.


Simple saja, yang terpenting menu tersebut dapat menjamu perut sang Baginda Raja.


“Pak, habis ini ada rapat sama divisi micro finance.” Arunika berujar dari balik tempat pencuci piring.


Kedua tangannya tengah sibuk dengan spone pencuci piring. Buih-buih berwarna putih tampak memenuhi beberapa bagian lengan bajunya yang lupa digulung.


“Pak, bisa minta tolong sebentar?”


Altar yang baru saja dipanggil, mengalihkan tatapannya sejenak dari layar gaway di tangan. Diliriknya sang sekretaris dengan alis yang terangkat sebelah.


“Tolong gulung lengan baju saya, Pak. Ini saya kebanyakan pakai sabun cuci piring kayaknya, makanya busanya banyak. Saya lupa gulung lengan baju saya,” ujar sang sekretaris sambil menyengir.


“Dasar.”


Altar beranjak dari duduknya. Pria rupawan yang sudah tidak mengenakan jas kerjanya itu menatap sang sekretaris lurus. Ia tidak menyangka jika ada wanita yang bisa ceroboh seperti Arunika.


Altar Akui jika sekretarisnya itu cekatan dalam berbagai bidang. Ia juga tidak telmi alias telat mikir jika dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang cukup rumit. Namun, dibalik semua itu Arunika adalah wanita paling ceroboh yang pernah Altar temukan.

__ADS_1


Dengan telaten pria rupawan tersebut membantu Arunika. Menggulung lengan blouse warna xanadu yang hari ini digunakan sang sekretaris. Arunika juga menaruh perhatian pada lengan bajunya yang sedang digulung. Tinggi Arunika yang hanya sebatas dagu Altar, membuat pucuk kepalanya berada tepat di hadapan pria rupawan tersebut saat menunduk. Jarak di antara mereka memang cukup dekat. Mungkin hanya sekitar 6 centi yang terbentang di antara keduanya.


“Terima kasih, Pak.”


Arunika mengulas senyum saat Altar selesai membantunya. Namun, ia cukup terkejut saat sadar jarak di antara mereka begitu dekat.


Tatapan manik coklatnya seolah-olah terkunci saat lawan bicaranya balik menatap lurus. Arunika memilih memutuskan kontak terlebih dahulu. Akward akan suasana di antara mereka. Oleh karena itu dia memilih untuk menunduk.


Altar masih betah dalam posisinya. Sebelah tangannya tanpa sadar terangkat menyentuh pucuk kepala Arunika. Rambut sekretarisnya itu hitam, agak kecoklatan. Kendati demikian, Altar bisa menebak jika sekretarisnya itu cukup memperhatikan perawatan rambutnya. Terbukti dari kehalusan surai-surai yang mengeluarkan semerbak aroma harum tersebut.


“Kamu merawatnya dengan baik.”


Ucapan Altar yang tepat dikatakan di hadapan Arunika dengan jarak sedemikian tipis, agaknya mampu membuat wanita cantik itu diserang kegugupan luar biasa. Padahal Arunika tidak mudah terpesona. Namun, Altar merupakan pengecualian. Hanya dengan kalimat sederhana yang diucapkan dengan nada datar saja, mampu membuat seluruh tubuhnya berubah menjadi jeli.


“Pak?” panggil Arunika tiba-tiba gagu. Ia tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak tahu sampai kapan harus bertahan dalam posisi tersebut.


“Selesaikan pekerjaanmu. Setelah ini kita kembali ke kantor.”


Altar menarik tangannya dari pucuk kepala Arunika setelah meninggalkan sentuhan halus. Kemudian dengan segera pria rupawan itu pergi meninggalkan Area dapur. Meninggalkan Arunika yang masih terpaku di tempat.


“Keturunan Sabyan itu kesambet, ya?” seloroh Arunika sepeninggalan Altar. “Perlu di-ruqyah kali. Kok dia jadi aneh?” lanjut Arunika.


Tidak mendapati jawaban yang memuaskan dari pertanyaan-pertanyaan random yang muncul di kepalanya, Arunika memutuskan untuk melanjutkan acara cuci piringnya yang sempat tertunda. Demi seperangkat peralatan dapur yang menyaksikan sendiri perubahan sikap sang atasan yang aneh itu, Arunika masih dibuat penasaran.


...🍄🍄...


“Ru, dari mana aja lo? Tadi gue nyariin lo sama si Rose, tapi lo gak ada.”


“Apartemen si bos.”


“Heh, ke apartemen siang bolong begini ngapain?” tanya Aling kelewat kaget. “Jangan-jangan lo sama si bos nganu ya?”


“Bahasanya bisa tolong disesuaikan dengan PUEBI dan KBBI? Itu kalimatnya beresiko menimbulkan kesalahpahaman.”


“Lah, terus ngapain dong?” Aling bertanya sebelum menyeruput coffe instan yang baru saja selesai ia seduh.


“Di sana gue dijadiin babu.” Arunika menjawab sembari mengambil air dingin dari water dispenser. Tiba-tiba saja kerongkongannya terasa kering sesaat setelah keluar dari ruang meeting.


“Yakin lo gak ada apa-apa selain itu?” tanya Aling curiga.


“Uhuk… uhuk…” Arunika tersedak air yang tengah dia minum. Padahal baru sedikit air yang baru saja melewati kerongkongannya.  “Maksud lo apaan?”


“Staff with benefit or secretary with benefit, maybe.”


“Staff with benefit or secretary with benefit your head!” Arunika menatap sang sahabat galak. “Lo lupa kalau gandengannya dia sekelas Arumi Seodibyo? Gue mah apa atuh, cuma remahan rengginang.”


“Remahan rengginang juga jadi kalau falling in love—“


“Please, jangan ngawur deh, Ling. Gue baru kerja sama dia belum genap sebulan aja, rasanya udah pengen resign. Gimana ceritanya sampai ada something.”


“Ya kali aja, Ru. Kita, kan, enggak tahu sama kuasa Tuhan.”

__ADS_1


“Gue percaya sama Tuhan kalau nasib gue gak bakal buruk-buruk amat sampe harus falling in love with him. Impossible.”


“Kalau beneran sampe falling in love with him, bakal patwapatwapat riwayat lo, Ru.”


Arunika memutar bola matanya malas. Siapa juga yang berencana falling in love with him dan membuat riwayat hidupnya patwapatwapat. Ia masih cukup normal untuk menolak pesona pria keturunan Sabyan yang menyebalkan itu.


“Arunika?”


“Eh, iya, Pak.”


Kedua wanita yang sedang mengobrol itu kontan berdiri dari tempatnya duduk. Mereka yang masih bersantai di pantry sembari menikmati keheningan di ruangan, sebelum pria rupawan dengan jas hitam itu memasuki pantry.


“Saya haus.”


“Haus ya tinggal minum, bukan malah koar-koar.” Arunika berucap dalam hati kecilnya. “Bapak haus? Mau saya ambilkan minum?” tanyanya berbanding terbalik dengan apa yang hati kecilnya ucapkan.


Aling yang melihat itu kontan menggigit bibir bawahnya guna menahan tawa yang hampir saja lolos. Ia paham betul dengan tabiat Arunika. Ia bisa menebak jika wanita itu pasti baru saja menggerutu di dalam hati.


“Tidak. Saya minum ini saja.”


Arunika dan Aling membulatkan mata saking kagetnya. Belum sempat melarang, pria rupawan tersebut sudah terlebih dahulu meraih gelas bening berisi air putih yang masih penuh di tangan Arunika.


“Oh my good, dia minum bekas lo, Ru.” Aling berbisik pelan saat melihat pemandangan mahakarya luar biasa ciptaan Tuhan di hadapannya yang tengah menenggak habis segelas air putih bekas sahabatnya.


“**** up!” umpat Arunika kecil. “Jangan banyak bacot kalau gak mau lihat gue dipecat sebelum genap kerja sebulan sama dia.”


Arunika tahu sendiri bagaimana pria tersebut hidup. Pria yang cinta sekali dengan kebersihan itu biasanya teliti sekali. Tapi, kali ini ia sendiri yang ceroboh dan main ambil. Jadi, jangan salahkan jika Altar minum dari gelas yang sama dengan Arunika.


“Secara nggak langsung kalian ciuman, dong.” Aling berbisik lagi sembari tersenyum jenaka. "Indirect Kiss."


Arunika mendelik galak. Ciuman secara tidak langsung? Memangnya ada yang sepeti itu, ya? Pikir Arunika.


“Ini.”  Altar menyodorkan gelas kosong bekas minumnya kepada Arunika.


“Bapak masih haus? Biar saya ambilkan lagi kalau masih haus,” usul Arunika sembari tersenyum kikuk.


“Tidak. Itu sudah cukup.”


Altar melirik sejenak ke arah water dispenser yang berada di sisi container pantry. “Saya pernah mendengar ada karyawan yang komplain karena air minum di pantry tidak layak konsumsi. Tapi, air minum yang baru saya minum rasanya layak-layak saja. Bahkan ada manis-manisnya. Apa mungkin merk air minumnya sudah diganti?”


“Haha, tidak pak.” Arunika dan Aling menjawab kompak. Sebelum Aling mengucapkan kalimat yang membuat Arunika mendelik tajam.


“Itu memang diganti merk nya, Pak. Itu loh, merk air minum bervitamin yang jargonnya ada manis-manisnya.”


...🍄🍄...


...TBC....


...Semoga suka 😘...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...

__ADS_1


...Tanggerang 29-11-22...


__ADS_2