
"Kita flight pukul sembilan pagi, pak."
"Hm."
"Keperluan Bapak sudah saya packing. Kopernya saya taruh di samping pintu," ujar wanita cantik yang sedang sibuk menyajikan vegetarian toast dengan segelas protein milkshake itu.
Di hadapannya ada seorang pria yang sedang sibuk menatap layar gaway sambil berceloteh dengan bahasa Inggris. Sesekali pria yang hanya mengenakan kaos putih polos dengan bawahan celana berwarna khaki itu terdengar menyuarakan ketidaksukaannya.
"Setelah ini saya harus pulang dulu untuk mengambil koper...."
"Koper kamu belum dibawa?" sela pria tersebut.
Arunika menggelengkan kepala. "Ini Bapak telepon saya dari jam enam, makanya saya belum bawa koper. Ribet. Nanti kalau mau berangkat ke bandara, biar saya mampir dulu ambil koper."
"Buang-buang waktu," komentar Altar.
"Buang-buang waktu?" gumam Arunika lirih. Yang ada, dialah yang buang-buang waktu. Sedari pagi sudah menelepon puluhan kali hanya karena ingin sarapan dengan vegetarian toast dan segelas protein milkshake.
Padahal jadwal Arunika cukup padat pagi ini. Ia harus menelepon sekretaris college mereka yang menetap di Bali, memastikan jadwal temu mereka. Selain itu Arunika juga harus ke kantor untuk menyerahkan beberapa dokumen yang telah di-ACC oleh Altar. Namun, pria itu seenak jidatnya meminta ia datang pagi-pagi sekali.
Hari ini ia memang akan terbang ke pulau Dewata bersama sang atasan, sesuai planning yang telah diubah. Karena hal ini juga, Arunika harus merelakan golden ticket nya untuk performance di Fantasia hangus. Mungkin belum rezeki baginya untuk tampil di Fantasia.
Pesawat yang akan membawanya dan Altar ternyata mengalami penundaan jadwal terbang. Karena delay, pesawat baru bisa take off tiga puluh menit kemudian. Arunika sengaja memesan dua tiket penerbangan business class, awalnya karena Altar akan pergi dengan Arez. Duo keturunan dewa Yunani itu biasa dimanjakan oleh kemewahan sejak bayi. Jadi, Arunika sudah mempersiapkan akomodasi perjalan bisnis mereka dengan sebaik mungkin. Namun, sekarang malah ia yang merasakan semua fasilitas mewah itu, menggantikan posisi Arez. Duduk tepat di samping Altar dalam penerbangan business class menuju pulau Dewata, Bali.
Selama penerbangan Arunika menggunakan sebagian waktunya untuk mempelajari proposal kerjasama yang nantinya akan menjadi topik utama dari kedatangan mereka ke pulau Dewata. College satu ini sangat potensial untuk penanaman modal.
Tiba di bandara I Gusti Ngurai Rai, Arunika dan Altar langsung meluncur ke hotel yang sudah di-booking jauh-jauh hari. The Legian menjadi hotel yang Arunika pilih untuk perjalanan bisnis kali ini, berhubung sang college juga menginap di hotel tersebut.
The Legian adalah salah satu penginapan mewah yang terletak di Pantai Seminyak. Dibilang mewah karena memiliki infinity pool tiga tingkat yang langsung menghadap ke view indahnya pantai yang menakjubkan. Hotel ini juga memiliki akses langsung ke pantai. Para pengunjung bisa berpuas diri main air di pantai atau sekedar bersantai menikmati indahnya ombak di dek kayu yang tersedia.
Sarana dan prasarana yang ditawarkan juga cukup lengkap, mulai dari parkir gratis, kolam renang, wi-fi dengan kecepatan tinggi, bar atau lounge, permainan papan atau puzzle, jubah mandi, shower, saluran TV kabel/satelit, AC, pantai pribadi, mesin pembuat coffe atau teh, dan fasilitas penunjang lainnya.
Jenis kamar yang ditawarkan juga bervariasi, mulai dari kamar dengan pemandangan laut, kamar yang mengarah ke pemandangan kolam renang, kamar bebas rokok, ruang keluarga, tersedia ruang rokok dan suite.
Sebenarnya Arunika tidak terlalu sedih-sedih amat harus ikut nge-trip ke pulau Dewata. Akomodasi yang telah disiapkan olehnya jauh-jauh hari memang tidak mengecewakan. Apalagi kini ia sendiri yang menikmati. Sekali-sekali ia liburan ke pulau Dewata, Bali, dengan budget yang tidak menguras isi kantongnya sedikitpun. Namun, lagi-lagi harus Arunika ingat jika kedatangannya ke sini adalah untuk perjalanan bisnis. Tiga hari di pulau Dewata utamanya adalah untuk kebutuhan bisnis.
"Bapak mau makan siang sama apa?"
"Kamu punya rekomendasi?"
Setelah landing di pulau Dewata, mereka sepakat untuk istirahat di kamar masing-masing. Ketika sudah waktunya makan siang, Arunika sebagai sekretaris yang baik hati datang ke kamar sang atasan untuk menawarkan makan siang.
"Mau coba nasi campur Bali, Pak? Bapak belum makan nasi loh dari pagi."
__ADS_1
"Hm, boleh."
"Oke, dua nasi campur Bali," wanita cantik itu mencatat pesanan sang atasan dalam note di teleponnya. "Saya tambahin serombotan sama sate plencing ya, Pak."
"Hm. Gimana kamu saja."
Arunika tersenyum sambil mengangguk. Dalam hati ia menggerutu kecil. "Kalo gue kasih salad buah kecubung baru tau rasa, lo."
Arunika menyeringai tipis tanpa Altar sadari. Buah kecubung adalah buah hijau yang berduri. Buah yang memiliki bunga berbentuk terompet itu jika diracik dengan baik dan benar bisa diolah menjadi obat bius, anti rematik, dan antitusif. Zat alkaloid di dalamnya mampu membuat seseorang berhalusinasi, mirip efek samping amfetamin dan kokain.
Mungkin ide buah kecubung ini dapat ia coba lain kali. Tapi, bohong. Buah kecubung 'kan tidak boleh sembarang dimakan!
Memiliki relasi pertemanan yang cukup luas, dan sebagian besarnya adalah laki-laki. Membuat Arunika sedikit banyaknya lebih open minded. Salah satu teman laki-lakinya adalah seorang pekerja di BNN alias Badan Narkotika Nasional. Soal obat-obatan terlarang dari mulai zat psikotropika kelas satu hingga kelas empat, Arunika memiliki pemahaman dasarnya. Termasuk beberapa jenis zat kimia hingga tumbuhan yang memiliki efek samping sama seperti obat-obatan terlarang, buah kecubung ini salah satu contohnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"
Arunika menggeleng cepat. "Enggak, Pak."
"Kalau begitu cepat pesan makanannya."
"Iya, Pak."
...ππ...
Ketika senja di atas nestapa menjadi pemandangan yang menutup hari, Arunika sudah bersiap dengan blouse bertali spaghetti tiga senti bermotif flora yang ia beli sekitar tiga bulan yang lalu. Tidak lupa ia juga mengenakan oversized sweater sebagai outer yang akan membuatnya terlihat semakin stylish dan tetap melindungi tubuhnya dari terpaan angin malam. Sedangkan untuk alas kaki, Arunika hanya menggunakan flatshoes yang nyaman digunakan. Setelah menyambar slim bag untuk membawa handphone dan barang-barang penting lain, Arunika bergegas meninggalkan kamar saat langit sudah semakin gelap.
Ia sudah menghubungi sekretaris mr. Aldebaran, business partner asal Inggris yang seharusnya ia dan Altar temui malam ini. Namun, gagal karena tiba-tiba saja putri pri bule tersebut terserang demam. Jadi jadwal pertemuan diundur hingga esok hari. Oleh karena itu, Arunika memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan berkeliling di sekitar hotel. Ia juga sempat melihat bar/lounge, salah satu fasilitas yang disediakan oleh pihak hotel. Jika boleh, Arunika ingin mencoba manggung dadakan di sana.
"Mau ke mana kamu?"
Arunika terlonjak kaget mendengarnya. "Ah, ini, saya mau cari udara segar di sekitar hotel."
"Dengan pakaian seperti itu?" Altar menunjuk pakaian Arunika dengan mata menyipit.
"Memangnya kenapa sama pakaian saya, Pak?" bingung Arunika sembari mengamati penampilannya sendiri dari atas sampai ke bawah. Penampilannya terbilang lebih sopan ketimbang bule-bule berbikini yang siang tadi hilir mudik di area pantai.
"Mengundang," komentar Altar.
"Mengundang apa, Pak?" tanya Arunika bingung. Pasalnya ucapan atasannya terdengar itu ambigu.
Altar berdehem kecil sebelum menjawab. "Nyamuk."
__ADS_1
"Maksud Bapak pakaian saya mengundang nyamuk, begitu?" Arunika menatap sang atasan dengan wajah innocent.
"Hm."
"Tenang saja, Pak. Saya sudah pakai lotion anti nyamuk, mana mau nyamuk-nyamuk itu mendekat sekalipun pakaian saya mengundang." Arunika tersenyum lebar. Lebih baik mencegah ketimbang mengobati. Ya, 'kan?
Jadi Arunika sudah melakukan banyak pertimbangan sebelum keluar dengan outfit seperti ini. Salah satunya adalah menggunakan lotion anti nyamuk. Tidak aesthetic jika saat pertemuan besok kulitnya bentol-bentol karena gigitan nyamuk.
"Kalau gitu saya duluan, Pak." Arunika melambaikan tangannya sambil tersenyum, sebelum meninggalkan pria yang malam ini mengenakan kaos putih polos yang dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam tersebut. Only monochrome.
"Eh, kok Bapak mengikuti saya?"
"Saya juga mau mencari udara segar," jawab Altar.
Arunika yang melihat gelagat sang atasan itu menautkan kening. Padahal dari gaya berpakaiannya yang yang kelewat santai, pria itu tampak tidak berniat pergi ke luar. Namun, kenapa ia tiba-tiba menyuarakan keinginan untuk pergi ke luar? Dan sekarang Altar malah berjalan santai di sampingnya.
"Saya mau ke sana, Pak. Bapak balik ke kamar saja kalau sudah mengantuk." Arunika melirik sang atasan barang sejenak.
Sudah lebih dari 30 menit berlalu ia berkeliling ditemani Altar di sampingnya. Sepanjang perjalanan, akward mendominasi atmosfir di antara mereka. Tidak ada obrolan kasual yang dapat mengisi waktu, mengingat hubungan Arunika dan Altar tidak sedekat itu.
"Kamu mau ke bar?"
Arunika mengangguk sebagai jawaban. Tempat yang Altar sebutkan itu terlihat ramai. Hasratnya sebagai seorang DJ Club terasa terpanggil. Ia ingin sekali menjadi bagian dari pengisi keramaian di sana.
"Orientasi kamu terhadap alkohol sangat rendah. Kamu yakin mau ke sana?"
"Saya bukan mau minum, Pak. Saya cuma mau lihat-lihat. Kalau boleh saya juga pengen hibur mereka."
Mendengar itu, Altar menatap sang sekretaris lekat-lekat. "Kamu mau membuat pertunjukan di sana?"
"Jika Dewi Fortuna mengizinkan."
"Saya temani."
Itu bukan ajakan melainkan sebuah pernyataan. Pernyataan jika Altar akan menemani wanita tersebut melakukan apapun yang ia suka di sana. Ia hanya tidak mau sekretarisnya pergi sendiri.
...ππ...
...TBC...
...Semoga suka π...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π...
__ADS_1
...Tanggerang 29-11-22...