
Dengan gerakan lunglai wanita bertopi itu mendorong pintu guna memberikan space masuk bagi tubuhnya. Membawa langkah kaki yang kian berat sepanjang perjalanan. Helaan nafas terdengar saat ia berhasil memasuki ruangan yang tidak terlalu luas, tetapi selalu bersih dan tertata rapih. Mendengar obrolan dua suara, ia menggerakkan kepala guna menoleh ke sumber datangnya suara-suara tersebut.
“Bi, ada tamu—“ kalimatnya langsung tertelan begitu saja saat netra hazelnut miliknya bersirobak dengan tamu yang dimaksud.
Wanita paruh baya dengan terusan berwarna abu-abu itu tampak menyunggingkan senyum tipis kala menyadari kehadiran Arunika. Seolah-olah menyambut kedatangan Arunika dengan kehangatan layaknya seorang ibu.
“Mbak sudah pulang?”
Arunika mengangguk setelah mendapatkan kembali kesadarannya. “Ibu Anita ada keperluan apa sampa-sampai datang ke kosan kumuh kami.”
Mendapati pertanyaan demikian, ibu tiga anak itu kembali mengulas senyum ramah. Ia tidak tersindir sama sekali. “Saya sengaja datang karena ingin berkunjung. Apa kunjungan mendadak saya membuat kamu tidak nyaman?”
“Bukan begitu maksud saya.” Arunika melambaikan tangan kikuk di depan dada. Ia hanya terkejut mendapati ibu dari atasannya ada di sini. Darimana pula wanita paruh baya itu tahu alamat rumahnya.
“Bisa kita bicara sebentar, Arunika?”
“Iya, Bu.” Arunika mengangguk seraya mengambil posisi duduk di samping Bian. Tepat di hadapan Anita.
“Nak Bian, Anye ada di mobil. Katanya Anye ingin sekali bertemu dengan kamu. Apa kamu tidak keberatan untuk menemani menantu saya sebentar?”
Bian tidak bodoh untuk mengartikan kalimat wanita paruh baya tersebut. Maka dengan segera ia mengangguk dan pamit undur diri. Meninggalkan Arunika beserta Anita. Memberi mereka ruang guna membicarakan something yang agaknya penting. Namun, sepeninggalan Bian yang membawa suasana normal di tempat tersebut, membuat seisi atmosfir dilingkupi kecanggungan.
“Apa kabar, Arunika?” tanya Anita. Ramah seperti biasa.
Arunika tersenyum tipis sebelum menjawab. “Saya baik, Bu.”
“Saya dengar kamu sakit. Oleh karena itu kamu tidak masuk kerja?”
“Saya sakit?” bingung Arunika. Padahal ia sehat-sehat saja belakang ini. “Alhamdulillah, saya sehat wal’afiat, Bu.”
Anita tersenyum tipis mendengar itu. “Altar yang berkata demikian saat saya ingin bertemu kamu.”
Arunika tidak menjawab. Raut penuh keterkejutan tergambar jelas di wajahnya. Altar memang suka seenaknya, Arunika akui itu. Kebiasaan buruk bos-nya itu memang terkadang kelewatan. Namun, kenapa pria itu seolah-olah tidak ingin ibunya bertemu Arunika?
“Mungkin Altar khawatir jika saya menemui kamu.”
“Memangnya kenapa kalau Ibu menemui saya? Saya juga tidak akan menyakiti Ibu.” Arunika bicara dengan kening mengernyit.
“Bukan. Bukan saya yang Altar khawatirkan,” Anita menjeda kalimatnya sejenak. Seulas senyum tipis terbit di ujung-ujung bibirnya. Membuat Arunika menunggu dalam rasa penasaran. “Tetapi, kamu.”
__ADS_1
“Saya?”
“Iya. Altar pikir kedatangan saya akan menganggu kamu.”
“Apa? Tentu saja tidak. Saya malah merasa tidak enak karena Ibu harus berkunjung ke tempat seperti ini,” ujar Arunika seadanya. Ia memang tidak enak hati menyambut kedatangan janda kaya raya seperti Anita di kosan kumuh miliknya. Kosan yang tidak layak disambangi oleh wanita hebat sepertinya.
“Kedatangan saya ke sini hanya untuk memastikan sesuatu.”
Arunika mengangguk, masih mendengarkan dengan seksama.
“Apa pemberitaan itu benar? Saya ingin tahu jawabannya secara langsung dari kamu.”
Arunika menggeleng cepat. “Enggak, Bu! Pemberitaan itu terlalu dilebih-lebihkan.”
Anita mengangguk paham. “Bagaimana soal foto kamu yang keluar dari apartemen putra saya pagi-pagi sekali?”
Susah payah Arunika menelan ludah. Lambat Laun pertanyaan seperti itu pasti akan muncul ke permukaan. “Itu memang benar foto saya, Bu. Tapi, saya berani jamin jika tidak ada apa-apa di antara kami. Saya tidak bisa pulang karena semalam ada hujan lebat, oleh karena itu beliau menyarankan untuk menginap. Beliau juga berbaik hati meminjamkan pakaiannya. Foto itu diambil saat saya tidak sengaja bertemu Arumi di parkiran. Mungkin karena kebetulan saya dan Pak Altar turun bersama. Namun, oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab malah menggunakan foto tersebut untuk menggiring opini negatif publik.”
Arunika menuturkan tanpa dusta. Lagi pula ia yang paling dirugikan atas mencuatnya pemberitaan tersebut. Memang tidak terjadi apa-apa di antara mereka, kecuali fakta jika mereka tidur satu ranjang. “Sungguh, tidak ada apa-apa di antara kami. Selain hubungan atasan dan bawahan.”
Anita menatap Arunika lekat. Mencoba menggali kejujuran di netra hazelnut tersebut. Detik selanjutnya wanita paruh baya itu melemparkan pertanyaan yang seumpama bom waktu. “Apa kamu sudah tahu kondisi Altar yang sesungguhnya?”
Arunika mengangguk tanpa kata. “Kamu juga yang membawanya ke rumah sakit waktu itu?”
“Dan kamu tetap peduli dengan Altar?”
“Rasa kemanusiaan membuat saya peduli, Bu. Saya juga tahu berat rasanya berada dalam posisi seperti itu. Disaat semua orang biasa menganggap beliau sempurna dari berbagai aspek, pada kenyataanya ada celah yang membuat beliau begitu mudah dipandang tidak berguna.”
“Oleh karena itu kamu tetap bertahan di sisi Altar?”
Arunika mengangguk ragu. Arunika bertahan di sisi Altar karena terikat kontrak perjanjian kerja. Dalam kontrak itu tertulis bahwa dalam jangka 2 tahun Arunika harus mengabdi tanpa terkecuali. Jika arunika melanggar kontrak, atau mengajukan resign dalam kurun waktu kontrak masih berlangsung, maka akan ada denda yang harus Arunika bayar. Nominal yang tertera juga tidak main-main, sekitar 500 juta rupiah.
“Jika saya meminta pendapat kamu dari sudut pandang seorang perempuan, bukan sebagai bawahan. Apa kamu akan tetap berada di sisi Altar sekalipun dia kesulitan memiliki keturunan?”
Arunika terdiam. Jika saat ini adalah ujian nasional, mungkin pertanyaan seperti itu masuk kedalam golongan soal HOT atau higher order thinking skills. Pertanyaannya penuh ranjau darat. Menjebak.
Menurut Arunika, sebagian besar wanita jika dihadapkan dengan pertanyaan tersebut pasti akan menjawab ‘TIDAK’ dengan kompak. Alasannya jelas, karena anak tetap memegang aspek terbesar sebagai kunci kesempurnaan sebuah bahtera rumah tangga. Hadirnya keturunan juga dipercaya menjadi pengikat di antara pasangan. Namun, tidak sedikit pula yang berpikiran sebaliknya.
Bagi mereka yang percaya jika keturunan bukanlah satu-satunya sumber kebahagian dalam sebuah pernikahan, pasti akan menjawab ‘YA’ tanpa ragu. Apalagi belakangan pemikiran childfree juga tengah marak digembar-gemborkan. Pemikiran itu berpusat pada pemikiran orang-orang yang beranggapan jika kebahagian dalam sebuah pernikahan tidak selamanya berpusat pada keturunan. Pemikiran tersebut membebaskan mereka dari keharusan memiliki keturunan dengan berbagai alasan juga pertimbangan.
__ADS_1
Tapi, sekarang pertanyaan itu ditujukan untuk Arunika. Wanita muda yang masih mengejar karir itu sama sekali belum memikirkan soal pernikahan apalagi keturunan. Kendati demikian, jika pasangannya berada di posisi seperti Altar, Arunika tidak akan menjauh. Selama cinta memang tertanam kuat di antara mereka, menjadi pondasi utama guna membangun kebahagiaan dalam biduk pernikahan.
“Saya akan bertahan, Bu. Jika memang pasangan saya berada dalam posisi tersebut. Mengingat jika saya memiliki perasaan tulus kepadanya. Seperti kata-kata mutiara yang dikutip dari almarhum B.J Habibie, Cinta sejati memandang kelemahan lalu dijadikan kelebihan untuk selalu mencintai.”
Arunika mendongrak, menatap lawan bicaranya lekat. “Saya akan menjadikan itu sebagai kelebihan. Saya tidak akan meninggalkan dia, sekalipun kami tidak akan memiliki keturunan jika nantinya kita menikah. Ada banyak cara agar dapat memiliki keturunan, misalnya lewat proses bayi tabung atau adopsi. Itu menurut sudut pandang saya. Lagi pula setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, masih ada kemungkinan bagi Pak Altar untuk memiliki keturunan. Beliau masih punya kesempatan.”
Anita tersenyum. Puas akan jawaban yang diberikan sekretaris putranya. Sebenarnya Anita agak ragu saat ingin menemui Arunika. Namun, sekarang semua keraguan itu terpatahkan. Ternyata putranya memiliki sekretaris yang berwawasan terbuka.
“Kalau begitu boleh saya meminta tolong, Arunika?” Anita akhirnya buka suara. Seulas senyum terbit di bibir. “Kamu wanita yang baik dan memiliki hati yang tulus. Saya hanya bisa berharap kepada kamu untuk meminta bantuan ini.”
Arunika diam-diam was-was. Takut akan permintaan Arunika yang bisa saja menjadi jebakan baginya. “Boleh saya tahu apa yang bisa saya bantu untuk ibu? Jika bisa saya akan coba membantu.”
Raut wajah ibu tiga anak itu tampak berseri. Di ujung kemelut bingung yang membelenggu, ada secercah harapan yang bisa ia dapatkan setelah menemui wanita muda ini. Sosok yang digadang-gadang telah menjadi alasan kandasnya hubungan sang putra dengan calon menantu idealnya.
Hanya saja, Anita tidak lantas percaya begitu saja. Ia mengenal betul putra sulungnya. Begitu pula dengan sifat dan tabiat Altar. Si sulung memang tumbuh menjadi anak yang mandiri dan selalu mampu berdiri sendiri. Karena hal itu pula, banyak yang Altar coba sembunyikan agar tak mengubah image mandiri yang telah melekat.
Sebagai seorang ibu yang membesarkan Altar sejak kecil saja, Anita tidak tahu-menahu jika banyak rahasia yang putranya sembunyikan. Tidak terkecuali riwayat gangguan infertilitas yang ia alami. Selama ini Altar menutupinya dengan rapih.
Sekarang alasan kenapa si sulung melajang hingga detik ini terjawab sudah. Kendati demikian, Anita yakin jika putranya sudah memiliki rencana. Planning is nomer one dalam hidup Altar. Soal gangguan infertilitas yang ia alami, Altar pasti sudah memiliki rencana.
“Arunika.”
“Iya, Bu.”
Arunika mendongrak. Setelah sekian detik menunggu, sekarang Anita kembali bersuara.
“Tolong bujuk Altar supaya berubah pikiran. Seperti apa yang barusan kamu katakan."
"Maksud ibu?"bingung Arunika. Ia butuh penjelasan lebih detail.
"Yakinkan dia supaya mau menikah, kemudian menjajal kemungkinan yang masih ada untuk memiliki keturunan.”
And then, sekarang jantung Arunika berdebar tak karuan. Dalam benaknya ia mulai bertanya-tanya, memangnya ia bisa membujuk Altar untuk menikah? di saat pria itu baru saja dibuang begitu saja oleh calon istri idealnya.
...🍄🍄...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
__ADS_1
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 07-12-22...