
...(Warning) Sexual Education Area...
...ππ...
"A-pa, dok?"
"Anda belum mengetahuinya? Sebagai pasangan, saya pikir Anda sudah mengetahui hal tersebut."
Wanita cantik dalam balutan setelan kerja itu menggelengkan kepala seraya menutup mulut. Ia masih terkejut dengan apa yang baru saja diutarakan oleh pria yang menggunakan snelli di hadapannya. Sampai-sampai untuk beberapa saat ia lupa cara untuk berkedip.
"Dokter Ridwan sudah berpesan agar pasien melakukan chek up di Singapura. Mungkin pasien melupakannya. Saat ini Dokter Ridwan sedang melakukan seminar di luar negeri."
Pria dengan name tag Dokter Raihan itu menuturkan seraya membaca catatan medis pasien yang sedang ia tangani. Pasien tersebut awalnya adalah pasien pribadi Dokter Ridwan yang tak lain dan tak bukan adalah Ayahnya. Sebelum pergi ke luar negeri, Dokter Ridwan sudah berpesan agar meng-handle pasien-pasien yang biasa beliau tangani. Termasuk atasan Arunika.
"Dok, boleh saya bertanya?" Arunika buka suara. Kentara sekali banyak rasa penasaran tercipta di raut wajahnya.
"Iya, tentu saja boleh."
"Berapa kemungkinan pasien bisa sembuh?"
"Untuk saat ini saya belum bisa memastikannya."
Arunika terpaku mendengarnya. Sungguh, apa yang ia dengan hari ini membuat pandangannya terhadap pria itu berubah total.
"Tapi, Anda dan suami masih memiliki harapan untuk mendapatkan keturunan. Selama masih ada harapan, kalian bisa mencoba semaksimal mungkin."
"Bagaimana caranya, Dok?"
"Ada banyak cara yang dapat dilakukan, seperti pengobatan, konseling, atau kombinasi keduanya. Untuk opsi ke dua, suami Anda sepertinya sudah melakukannya sejak lama."
Setiap kali mendengar kata 'suami' terucap, Arunika ingin menertawakan dirinya sendiri. Dengan gamblang ia memang mengaku sebagai 'istri' Altar saat dokter menanyakan hubungannya dengan pasien. Kebetulan hanya Arunika yang mendampingi pria tersebut. Ia berhasil membawa Altar ke rumah sakit setelah menelepon ambulance.
Arunika tentu saja cemas karena Altar tiba-tiba tidak sadarkan diri. Ia tidak tahu sejak kapan Altar sakit, hingga akhirnya hilang kesadaran. Ketika tiba di rumah sakit, ia kembali dihadapkan dengan kenyataan besar yang membuatnya terkejut bukan main. Sungguh, apa lagi yang pria itu sembunyikan dibalik titel perfeksionis nya?
"Apa keadaan ini berarti jika Pak ....maksud saya suami saya tidak dapat memiliki keturunan?" tanya Arunika pelan.
"Jumlah sp*rma sedikit atau dianggap rendah dari normal apabila hanya berjumlah kurang dari 15 juta sp*rma per mililiter air mani. Kondisi ini mengurangi kemungkinan dapat membuahi sel telur pasangan agar dapat mengandung."
Arunika terdiam. Sebenarnya pembicaraan itu terlalu berat untuknya. Apalagi ia dan Altar sebenarnya tidak memiliki ikatan apapun, kecuali atasan dan bawahan. Sekarang, ia di sini mendengarkan penjelasan soal kondisi kesehatan sistem reproduksi pria itu. Padahal ia sendiri agak risi dengan topik yang tengah dibahas. Namun, mau bagaimana lagi. Ibarat kata sudah terlanjur basah, nyemplung saja sekalian.
"Tetapi, kondisi ini berbeda ketika sama sekali tidak ada kandungan sp*rma di dalam air mani. Kondisi itu disebut azoospermia."
Arunika masih mendengarkan dengan hidmat. Baginya yang paling masuk di akal adalah Altar akan kesulitan memiliki keturunan. Entah-berantah dengan penjelasan medisnya, yang jelas itu yang Arunika tangkap. Sel sp*rma yang laki-laki jumlahnya sedikit, tidak sesuai takaran normal.
"Pasien mengidap Oligospermia atau jumlah ****** rendah. Kondisi ketika air mani yang diej*kusi (dikeluarkan) saat org*sme lebih sedikit dari jumlah normalnya. Oligospermia sendiri adalah salah satu masalah infertilitas. Kondisi ini mengurangi kemungkinan dapat membuahi sel telur."
__ADS_1
Pembicaraan dengan dokter muda beberapa saat yang lalu masih terngiang-ngiang di kepala Arunika. Jadi, ini celah yang ia temukan pada pria perfeksionis seperti Altar. Pria dengan pemilik segudang kelebihan yang begitu diagung-agungkan oleh kaum Hawa di luar sana.
Tak jarang ia juga mendengar kabar burung yang mengatakan jika para petinggi D'A Cooperation doyan 'jajan' di club night. Untuk sekedar one night stand saja, kemungkinan besar lumrah untuk pria bertahta, bergelimpangan harta, juga memiliki paras dewa seperti Altar.
Seperti pertemuan pertama mereka di club night kala itu. Ia juga tahu Altar itu pria dewasa dengan segala kelebihannya. Belakangan ia juka suka seudzon dengan kehidupan Altar. Namun, semua itu terpatahkan sekarang.
Siapa sangka jika pria yang mendekati kata sempurna seperti Altar memiliki gangguan infertilitas. Kondisi tersebut akan membuatnya kesulitan memiliki keturunan. Arunika jadi membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Altar. Pasti berat.
Semua orang juga tahu seberapa berartinya keturunan bagi keberlangsungan hidup. Apalagi Altar adalah seorang pengusaha, calon menantu keluarga Soedibyo. Ia pasti dituntut untuk memberikan keturunan sebagai penerus. Poor Altar.
Arunika menggelengkan kepala guna menghapus pemikirannya barusan. Kenapa dia jadi perhatian begini terhadap hidup atasannya? Seharusnya ia biasa saja bersikap professional, sebagaimana mestinya seorang sekretaris. Arumi lah yang harus memikirkan tentang kondisi Altar. Toh, mereka yang akan bertunangan dan membina rumah tangga.
"Bapak sudah bangun?" tanya Arunika saat melihat pria yang tadinya tidak sadarkan diri itu sudah duduk di atas hospital bed.
Netra gelapnya tampak keruh saat menyambut kedatangan Arunika. Membuat Arunika mati kutu sendiri di tempatnya berdiri.
"Kamu sudah tahu?"
"Tahu soal apa, Pak?" Arunika tersenyum canggung seraya mendekati hospital bed. Ia meletakkan bungkusan berisi bubur hangat yang baru dibeli di atas meja. "Bapak makan dulu. Itu makanannya sudah dingin, ini saya ganti sama yang baru. Kalau...."
"Saya tanya, apa kamu sudah tahu?" desak Altar.
Arunika memejamkan matanya sejenak saat Altar kembali bertanya dengan nada yang tidak bersahabat. Pria itu jangan-jangan mengidap bipolar? Duga Arunika. Padahal sebelum jatuh pingsan, ia sempat berbuat manis. Tapi, sekarang mode Untouchable lagi. Eh, tunggu, manis?
"Iya," jawab Arunika tanpa melepaskan pandangan dari styrofoam box berisi bubur.
Arunika tahu jika hal seperti itu tabu di antara mereka yang tidak memiliki ikatan apapun selain atasan-bawahan. Mungkin, hal itu juga merupakan sebuah weeknesh yang mati-matian Altar sembunyikan dari semua orang. Hal itu tak ubahnya aib yang dapat menimbulkan negative opportunity. But, Arunika juga tidak seculas itu. Kendati ia memang tidak terlalu menyukai atasannya, terutama karena sikap semena-mena pria itu. Arunika tidak akan segan menggunakan kondisi ini untuk membuat Altar down.
Ia juga bisa merasakan bagaimana beratnya Altar menghadapi kenyataan tersebut. Memiliki keturunan berarti melestarikan keberlangsungan hidup umat manusia. Jikalau Altar akan sulit memiliki keturunan, ada banyak cara agar pria itu bisa merasakan menjadi seorang Ayah. Selama masih ada kesempatan dan ia bisa mencobanya, why no't?
"Saya sudah menghubungi Ibu Anda. Beliau sangat khawatir mengenai kondisi Anda yang belakangan sulit dihubungi."
"Kamu menghubungi keluarga saya?"
Arunika mengangguk kemudian beralih, mengambil bubur bawaannya. "Saat ini beliau sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit."
"Kamu memberitahu mereka?"
"Soal kondisi Bapak?" Arunika bertanya seraya menautkan kening. Menanti jawaban Altar yang tak kunjung datang. "Itu adalah hak prerogatif Anda sebagai pemilik keputusan. Saya tidak memiliki hak untuk mencampuri keputusan Anda, hanya karena saya kebetulan mengetahui kondisi Anda."
Arunika terdiam setelahnya. Begitupun dengan Altar yang masih setia memperlihatkan ekspresi flat yang sulit ditebak.
"Makan dulu, Pak. Habis ini minum obatnya," ujar Arunika seraya menyodorkan bubur yang baru.
Altar tidak menolak, maupun menerima. Membuat Arunika dengan cekatan meraih tangan pria tersebut, agar dapat mengambil alih bubur di tangannya.
__ADS_1
"Habiskan. Saya akan tunggu Bapak di sana," ia menunjuk sofa di dekat pintu. "Sambil bekerja saya akan memastikan kalau Bapak menghabiskan buburnya."
Setelah berkata demikian, Arunika berlalu. Ia memang sempat menelepon kantor, Aling utamanya. Ia tidak bisa meninggalkan sang atasan sebelum anggota keluarganya belum datang. Jadi, ia memilih meminta seseorang untuk mengirimkan note book dan MacBook yang biasa ia gunakan untuk bekerja.
Ketika jarum jam menunjukan pukul 10.10 menit, seorang wanita paruh baya datang bersama Arumi. Dalam sekali lihat Arunika bisa menebak jika wanita tersebut adalah Ibu Altar. Tampak sekali gurat-gurat kecemasan di wajahnya yang masih terlihat cantik di usia yang tidak muda lagi. Sedangkan Arumi, ada something yang tampak berbeda dari wanita cantik tersebut. Entah apa, tapi Arunika bisa melihat keengganan di matanya.
"Kamu ini definisi sekretaris idaman sekali rupanya."
Arunika menoleh ke samping. Ia baru saja menerima panggilan dari kantor mengenai urgent meeting yang seharusnya dihadiri sang atasan.
"Ya?"
"Kamu mendalami peranmu dengan sangat baik, Aru."
Arunika mengernyitkan kening. Entah apa maksud dari ucapan Arumi. Wanita cantik dalam balutan purple dress model sederhana itu tiba-tiba datang dan berkata demikian.
"What do you mean about Altar?"
"What?" Arunika menajamkan pendengaran. Apa ia tidak salah dengar, Arunika baru saja menanyakan bagaimana pendapatnya soal sang atasan?
"Kamu menyukainya? Dia perfeksionis dalam segala kesempatan bukan?"
Of course, tetapi Arunika sendiri tahu sela mana yang dapat membuat Altar langsung dipandang tidak sempurna. Pria itu sulit memiliki keturunan. Sedangkan keturunan bisa jadi sangat penting dalam sebuah hubungan, terutama hubungan pernikahan.
"Aku sudah memutuskan untuk membunuh perasaan itu. Perasaan yang membuatku bertahan di sisinya selama ini. I'am tired until the end," ungkapan Arumi.
Arunika semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Arumi. Entah apa yang akan perempuan itu sampaikan lewat basa-basi ini.
"Ambil, miliki dia seutuhnya. Seperti apa yang kalian coba lakukan selama ini di belakangku."
"Apa maksud dari ucapan kamu ini? Aku tidak mengerti. Harus berapa kali aku katakan, tidak ada apa-apa di antara kami." Arunika menyuarakan ketidakmampuannya memahami ucapan Arumi.
Arumi memang tipikal wanita yang pandai mengolah emosi. Ia bisa dengan mudah menyembunyikan banyak ekspresi di balik sikap tenangnya.
"Ambil Altar. Aku tidak lagi membutuhkan dia."
What? apa-apaan Arumi, main suruh-suruh saja. Lagipula, memangnya Altar barang, sampai dibuang begitu saja ketika sudah tidak dibutuhkan?
...ππ...
...TBC...
...Semoga suka π€...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π...
__ADS_1
...Tanggerang 03-12-22...