
Arunika mengunyah balado telur beserta lauk makan siangnya yang lain dengan perasaan dongkol. Rasa lapar yang tadi menggerogoti kini telah sirna tak bersisa. Yang ada hanyalah kedongkolan yang membuat rasa laparnya kian menjadi ambyar.
“Kenapa lo pada nggak bilang sama gue?” tanyanya, menuntut jawaban dari dua orang yang sedang duduk sambil makan dalam diam di seberang meja.
“Kita udah coba ngasih lo clue, Ru.” Salah satu buka suara, membela diri.
“Iya. Lo aja yang ngerti maksud dari clue yang kita kasih." Giliran yang satu lagi menambahkan.
Aling dan Rose berucap bergantian. Keduanya memang sudah mencoba memberitahu Arunika soal CFO mereka yang berdiri di belakangnya. Namun, Arunika tidak bisa menangkap maksud dari clue yang mereka berikan karena terlalu fokus berceloteh.
“Jadi, sekarang lo kerja sama Pak Direktur Keuangan?”
“Hm. Keturunan dajjal itu jadiin gue pesuruh.” Aruna menjawab dengan malas.
“Gitu-gitu juga mukanya kayak dewa-dewa Yunani, Ru.”
“Ta*k ucing (kucing) lah,” jawab Arunika tidak peduli. Baginya boss yang bad attitude dan suka nyuruh ini-itu tetaplah masuk ke golongan daftar hitam. Apalagi kini ia harus mendedikasikan waktunya untuk menjadi pesuruh manusia macam itu.
Bekerja di bawah Altar sama saja dengan kehilangan kebebasan hidup. Arunika merasa ruang geraknya semakin terbatasi. Belum lagi ia dibuat hipertensi setiap hari.
“Saya mau laporan keuangan proyek fly over. Dokumennya harus sudah ada di meja saya setelah meeting selesai,” pesan Altar.
“Iya, Pak,” jawab Arunika sambil mencatat pesan tersebut baik-baik dalam kepalanya. “Ada lagi yang Anda butuhkan, Pak?”
“Untuk saat ini itu saja. Kamu bisa bertanya lebih lanjut kepada Ibu Yangti soal pekerjaan kamu.”
“Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit undur diri,” ucap Arunika sambil menunduk hormat.
“Tunggu.”
“Ya salam, naon dei (apa lagi)?” batin Arunika di dalam hati. “Iya, Pak?” tanyanya seraya mengulas senyum paksa.
“Itu, di gigi kamu.” Altar menunjuk menggunakan dagu dengan ekspresi datar.
“Iya, ada apa dengan gigi saya, Pak?” tanya Arunika penasaran. Perasaan tidak ada yang aneh dengan giginya. Ia tidak memakai behel, atau apapun itu. Giginya juga putih, bersih, dan enak dipandang. Jadi, apa masalahnya?
“Ada biji cabai.”
What the f*ck?! Ini Arunika tidak salah dengarkan? biji cabai!
“Sebaiknya kamu berkaca terlebih dahulu setelah selesai makan siang. Alangkah baiknya jika kamu sikat gigi setelah makan.”
Please, Arunika ingin terjun ke lantai bawah saat ini juga saking malunya. Demi rakyat bikini bottom yang selalu damai, Arunika rasanya ingin menghilang detik itu pula.
__ADS_1
...🍄🍄...
Rutinitas seorang wanita karier biasanya selalu berputar di sekitar pekerjaan, asmara, dan rumah tangga bagi yang sudah menikah. Bekerja merupakan perioritas utama bagi para wanita karier yang belum menikah atau masih berstatus singel. Lain urusan dengan wanita karier yang sudah menikah dan berumah tangga. Mereka akan dituntut untuk pandai me-manage waktu agar terbagi secara efisien, baik urusan pekerjaan maupun urusan pribadi.
Sama halnya dengan Arunika. Ia juga harus pandai membagi waktu untuk urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Karena selain bekerja sebagai staf kantoran, Arunika juga harus manggung guna menyambung hidup. Jadwal manggung biasanya disesuaikan dengan longgarnya job desk di kantor. Aling yang bekerja sebagai asisten di belakang layar juga dituntut pandai memilih tawaran manggung.
Kendati uang yang didapatkan dari hasil manggung tidak seberapa, Arunika tetap melakoni pekerjaan tersebut karena selain membutuhkan uang, ia juga menyukai pekerjaan yang sesuai dengan passion-nya.
Di Indonesia rata-rata gajih seorang discjokey adalah 3.000.000 rupiah. Namun, nominal tersebut akan bertambah seiring dengan performa panggung yang semakin meningkat dan para peminat yang melonjak pesat. Tak ayal jika popularitas menjadi penambah penghasilan tersendiri bagi seorang discjokey.
Terkadang dengan nominal tersebut bisa dibilang minim mengingat peralatan yang dibutuhkan seorang DJ harganya bukan kaleng-kaleng. Alat-alat yang dibutuhkan seorang pemula hingga professional juga tidak sedikit. Semua bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Alat-alat yang biasa digunakan pemula, meliputi Headphone, Turntable, Mixer, Controller, Mic and Speaker.
Peralatan dan perlengkapan DJ standar sendiri terdiri atas dua turnable alias pemutar CD, Mixer dengan dua saluran headphone, pengeras suara dan perangkat lunak untuk keperluan mixing.
Untuk Arunika pribadi, ia juga memiliki ATH-M50x Closed-back studio. Produk pionir dari Audio Technical yang merupakan andalan bagi para ahli di bidang musik. Hadir dengan port audio yang bisa diganti ukurannya, sehingga bisa digunakan untuk beraneka kebutuhan, seperti mendengarkan music atau bekerja di studio music. Alat ini juga memiliki aercups yang bisa mengisolasi suara di sekitarnya. Harga produk ini bisa mencapai 1.950.000 atau lebih di online shop.
Pekerjaan dan hobby yang tidak murah memang. Namun, Arunika tetap menggelutinya karena ia mencintai dunia tersebut.
“Iya, gue langsung on the way habis ini,” jawab Arunika sembari membenahi peralatannya. Sebelah tangannya menyangga telepon yang terselip di antara telinga.
Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam, dan dirinya masih terkurung di gedung pencakar langit tersebut. Di saat semua orang sudah pulang di jam normal, Arunika harus stay di kantor karena pekerjaan dari atasan yang abnormal.
“Gue mampir ambil jas si bos di penatu dulu, Ling. Lo otw aja duluan, jangan lupa bawa peralatan manggung.”
Arunika mendesah lega saat barang-barang miliknya sudah tertata rapih. Sekarang dirinya tinggal memesan ojek online untuk mengantarnya pulang.
Sambungan telepon terputus setelahnya. Arunika lantas memesan ojek online lewat aplikasi. Hari ini memang hari paling tidak beruntung se-dunia bagi Arunika. Ia harus lembur dan dikejar deadline manggung dalam waktu bersamaan. Untung saja dirinya sempat membawa baju ganti yang di simpan di loker. Jadi tidak perlu repot mengurusi baju ganti.
“Kamu belum pulang?”
“Astagfirullah!” kaget Arunika. Ia baru saja menekan tombol lift yang akan membawanya turun ke bawah saat mendengar suara deep bass yang memanggil dari belakang.
“I—ya, Pak,” jawabnya tanpa menoleh. “Bapak sendiri baru mau pulang?”
“Hm.”
“Keturunan Sabyan kambuh nih,” ucap Arunika di dalam hati. “Kalau begitu saya—“
“Saya juga mau turun ke lantai bawah kalau kamu lupa,” sela pria rupawan tersebut datar.
Arunika tersenyum pongah. Benar juga ucapan atasannya itu. “Ah, iya, Pak.”
Saat pintu kotak besi itu terbuka, Arunika mempersilahkan sang atasan masuk terlebih dahulu. Bagaimana pun juga attitude and manner harus selalu dikedepankan jika sedang bersama ‘atasan’. Apalagi jika atasannya modelan Altar.
__ADS_1
“Kalau gitu saya duluan, Pak. Sudah ada yang menunggu,” pamit Arunika, bersiap meninggalkan sang atasan terlebih dahulu saat lift terbuka.
“Kamu dijemput?”
“Kepo,” batin Arunika nyeletuk julid. Seulas senyum tipis dia terbitkan secara paksa. “Iya, Pak. Ada Kang ojol,” jawab Arunika sekenanya.
“Kalau begitu saya dul—“
“Cancel. Kamu pulang sama saya.”
“Hah, gimana maksudnya, Pak?” Arunika loading untuk sejenak. Mimpi apa ia semalam, sampai-sampai bisa diajak pulang oleh pria yang terkenal dingin dan datar macam kulkas dua pintu itu.
“Hitung-hitung menghemat ongkos transportasi,” imbuh Altar lagi. “Kamu juga harus mengambil jas saya di penatu bukan?”
Arunika mengangguk.
“Good. Kalau begitu kamu pulang bersama saya.”
Arunika baru saja hendak menjawab, sebelum pria itu berjalan mendahului dirinya. Meninggalkan Arunika yang masih terpaku di tempat. Mau tidak mau Arunika berjalan cepat guna menyusul pria tersebut. Ia sudah memesan ojol dan akan menolak ajakan pria tersebut.
“Lah, Kang ojol nya mau kemana tuh?” bingung Arunika.
Saat dia tiba di parkiran, ojol yang di pesan tiba-tiba nyelonong pergi begitu saja. Padahal ia belum melakukan pembatalan pesanan.
“Slonong boy banget tuh ojol, nggak tahu apa kalau gue lagi butuh!” gerutu Arunika kesal. Selagi sibuk merutuki ojol yang tiba-tiba pergi begitu saja, sebuah mobil BMW keluaran terbaru tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya. Kaca depannya tampak terbuka dan memperlihatkan si pengemudi.
“Masuk, ojek kamu sudah saya suruh pulang.”
“What?! Kok Bapak biarin ojol pesanan saya pergi sih!” kesal Arunika.
“Saya antar kamu.”
“Kenapa juga Bapak ngebet nganterin saya? Saya ini gak mau pulang. Saya memang mau ambil jas Bapak di penatu, terus manggung di club malam—“ Arunika membekap bibirnya sendiri. Ia keceplosan berbicara. Maniknya terpejam sejenak merutuki kebodohannya yang keceplosan di hadapan atasan sendiri.
“Club night mana? Biar saya antar kamu. Kebetulan saya juga sedang ingin bersenang-senang malam ini.”
Skakmat.
Ucapan pria itu bak vonis mati bagi Arunika. Ia bisa apa sekarang? Mana bisa ia manggung jika atasannya kembali menjadi penonton. Yang ada insiden tidak menggenakan beberapa waktu lalu kembali terulang.
...🍄🍄...
...TBC...
__ADS_1
...Semoga suka 🖤...
...Tanggerang 28-11-22...