
Bekerja sebagai seorang DJ Discjokey atau bukanlah perkara yang mudah. Pekerjaan sebagai Discjokey sendiri dibedakan menjadi tiga, yaitu DJ Clubs, DJ kamar tidur atau Bedroom's DJ, dan DJ radio. DJ sendiri muncul dari kecintaan terhadap aliran Electro Dance Musik atau EDM.
Tugas DJ Club bukan saja mengoperasikan alat DJ di club, tetapi DJ club juga diharapkan mampu membuat para pengunjung betah berlama-lama di tempat tersebut. DJ Club harus bisa membuat para pengunjung hanyut dalam keindahan musik yang disuguhkan.
DJ Club juga harus memiliki kepribadian yang menyenangkan agar bisa membawa aura positif bagi para pengunjung. Saat melakukan performance seorang DJ Club juga diharapkan bisa memberikan energi kepada setiap pengunjung. Jadi, ada feedback yang terjalin antara DJ dan pengunjung yang tengah menikmati musik.
“Enggak biasanya senin malam udah mampir ke sini, bos. Sendirian lagi,” ujar bartender yang baru saja menyajikan pesan Altar.
Si empunya nama mengurai senyum setipis kertas. Ia tidak memesan minuman alcohol, karena ia penganut pola hidup sehat yang menentang keras minuman bersoda, apalagi beralkohol. Bartender di club ini sudah tahu apa yang menjadi pesanannya jika datang ke tempat ini.
Altar itu jarang mengunjungi tempat seperti ini. Mungkin sesekali, itupun karena ajakan teman-temannya. Mereka biasa kongkow-kongkow di tempat remang-remang yang pengap ini. Altar akui jika ia tidak betah berlama-lama di tempat seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Teman-temannya dari zaman sekolah dulu selalu minta bertemu di sini.
“Lah, lo di sini juga Al?” Tanya seorang pria berpakaian semi formal yang datang bersama seorang wanita yang menggunakan Midi dress of shoulder.
“Hm.”
“Gak ngajak-ngajak lo.”
Pria tersebut mengambil posisi duduk di samping Al. menggunakan sebelah tangannya untuk mengintruksikan wanita yang datang bersamanya untuk pergi.
“Pesen apa lo, Al? malam ini gue yang traktir. Lo bebas pesen apapun.” Pria yang memiliki manik biru itu melirik pesanan Altar untuk sejenak. “Apaan nih? Mocktail tropical fruit lagi?”
Mocktail itu berbeda dengan cocktail. Mocktail tidak mengandung alkohol, biasa dibuat dari campuran sari buah-buahan dan campuran lain. Sedangkan cocktail adalah minuman yang mengandung alkohol, biasanya dicampur dengan satu atau lebih komponen tambahan yang membentuknya menjadi minuman beraroma kuat.
“Hidup lo lurus amat Al, kayak jalan tol.”
“Jalan tol aja ada beloknya, bos,” sahut si bartender.
Pria berpakaian semi formal itu tersenyum lebar. “Bener juga lo, Aydin.” Keduanya lantas mengumbar tawa lepas.
Altar yang menyaksikan keduanya hanya berekspresi datar-datar saja. Apa juga yang harus dia tunjukan sebagai respon?
Memangnya salah ya, jika memilih hidup dengan jalur lurus?
Lagi pula Altar itu sudah seperti robot yang diprogram untuk patuh. Ia akan menjalani kehidupan seperti ini seumur hidup. Tidak pernah ada keberanian untuk melewati batas zona yang telah ditentukan. Altar biasa mengikuti aturan. Aturan itu dibuat untuk ia patuhi, bukan untuk dilanggar.
__ADS_1
Selama ini ia hidup lurus, datar dan selalu berjalan dalam rotasi yang sudah ditetapkan untuknya. Ia pernah berkeinginan untuk keluar dari zona tersebut, akan tetapi ia tidak memiliki keberanian yang cukup. Ia butuh seseorang yang memiliki keyakinan lebih besar, guna membuatnya keluar dari zona nyaman.
“Al, lo mau nemenin gue nggak habis ini?”
Altar menoleh ke arah sang sahabat. “Ngapain?”
“Minta nomornya DJ Aru. Gue tuh udah lama nge-fans sama dia. Mau minta nomornya, tapi nggak dapet-dapet.”
“Bukannya Pak Diego punya nomernya DJ Aru, bos?” celetuk si bartender. Diego yang ia maksud adalah manager club night tempat DJ Aru biasa manggung.
Pria itu menggeleng lesu. “Enggak. Dia cuma punya nomer asistennya.”
Altar yang mendengar keinginan sang sahabat itu kontan terdiam. First impression dengan wanita itu memang kurang menyenangkan. Jadi sampai saat diri Altar masih tidak bisa melupakannya. Hal itu berdampak pada sikapnya yang selalu semena-mena kepada Arunika. Namun, menyaksikan binar di mata sang sahabat yang begitu memuja DJ pecinta topi tersebut, membuat Altar merasakan perasaan yang cukup menganggu.
Ia cukup tahu siapa itu sahabatnya. Alvino Sebastian, seorang eksekutif muda yang track record-nya sudah terkenal seantero kota. Duda muda yang suka sekali bergonta-ganti pasangan ini memang acak kali menyuarakan kecintaanya terhadap wanita acak. Jika sudah bosan, Alvino tentu akan mencampakkannya bak sampah.
Kendati demikian, jika sudah jatuh cinta, Alvino ini tipe pria yang mudah luluh. Apapun akan ia berikan kepada wanita yang ia cintai. Hal itu sudah pernah ia tunjukan pada almarhumah istrinya yang sudah berpulang ke sisi Tuhan.
“Noh, DJ Aru turun.” Tunjuk si bartender ke arah panggung.
“Wah, iya. Ayok, Al. Anterin gue!” seru Alvino heboh.
“Bahasamu, ***. Gue cuma gugup, ya!” jawab Alvino kesal.
“Gue pergi.”
Perdebatan kecil diantara keduanya terhentikan saat mendengar suara dingin Altar yang menyela. Pria itu lantas pergi setelah meninggalkan selembar uang dengan pecahan dollar di bawah gelas.
Ada yang harus ia lakukan ketimbang meladeni permintaan kurang berfaedah Alvino.
“Lah, Bapak masih di sini?” kaget seorang wanita yang mengenakan outfit casual tersebut. T-shirt putih polos yang dilapisi dengan jaket kulit hitam, dipadukan dengan jeans biru belel dan alas kaki pump shoes. Sebuah ransel berukuran sedang juga tampak ia gendong di punggung.
“Kenapa memangnya? Ini tempat umum. Suka-suka saya jika ingin berlama-lama di sini.”
“Iya juga sih.”
__ADS_1
Wanita cantik yang malam ini kembali menggunakan topi sebagai penunjang outfit nya itu tersenyum keki. “Kalau gitu saya duluan, Pak. Silahkan dilanjut lagi acara bersenang-senang nya,” lanjutnya sembari melangkahkan kaki untuk meninggalkan pria yang masih mengenakan outfit kantoran tersebut.
Aling memang sudah pulang duluan karena ada acara keluarga. Alhasil malam ini Aru hanya ditemani oleh wanita berkacamata itu setengah manggung. Sisanya ia yang mengurus sendiri hingga terjadi proses transaksi.
Karena uang manggung telah dikantongi, Aru memilih untuk segera undur diri. Suasana di tempat seperti ini tidak cocok untuk dirinya yang noob soal minuman beralkohol. Takutnya dia salah minum, dan berakhir kehilangan kesadaran. Hal itu bisa berujung fatal.
Jika saja bukan karena hobby dan arena pekerjaan yang ia lakoni, tidak mungkin Arunika mau capek-capek datang ke tempat laknat seperti ini.
“Pulang sama saya.”
Arunika menoleh kontan. Dari arah samping suara deep bass itu datang. Ia pikir sudah tidak ada boss keturunan dajjal-nya di sana. Tapi, ternyata dugaannya salah!
“Enggak usah, Pak. Saldo gopay saya Alhamdulillah masih banyak. Masih muat buat pesen ojol—“
“Kamu datang sama saya, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mengantar kamu pulang.”
Definisi dari mana itu? Ingin sekali Aru berkata demikian. Tapi, lagi-lagi ia hanya bisa mengangguk patuh. Di hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris plus asisten pribadi Altar, Arunika sudah terlalu capek mendebat. Hari ini sudah cukup dia kehilangan banyak tenaga karena meladeni atasan satunya itu.
“Saya tahu kamu belum makan malam.”
Tiba-tiba Altar buka suara, ketika keheningan lebih mendominasi perjalanan mereka. Hal itu tentu saja membuat Arunika menolehkan kepala ke arah samping. Tempat di mana sang atasan tengah mengendalikan kemudi.
“Kok Bapak tahu? Jangan-jangan Bapak cenayang, ya?” tanya Arunika jumawa.
“Selera humor kamu ternyata rendah.”
What? Tidak salah itu atasannya berkata demikian? Arunika bahkan sampai membelalakkan mata saking terkejutnya.
“Kita mampir makan malam dulu. Habis itu saya antar kamu,” ujar Altar sembari memanuper perseneling agar kendaraanya yang mereka naiki berhenti di sebuah restoran.
Arunika mendesah kecil. Padahal dia hanya ingin cepat pulang. Bukan terus menerus mengekori sang atasan sepanjang waktu. Ia ingin pulang, bertemu dengan sang adik yang pasti sudah menyiapkan berbagai menu makanan yang lezat dan nikmat. Bukan terus-menerus diperintah begini dan begitu.
Padahal peraturan di awal tidak begini. Jadwal kerjanya juga tetap dan telah di atur secara professional. Seharusnya peraturan antara ‘atasan-bawahan’ sudah berakhir bersamaan dengan berakhirnya jam kerja. Tapi ini, kenapa Altar tetap memerintah dirinya sekalipun sudah bukan jam kerja?
...🍄🍄...
__ADS_1
...TBC...
...Tanggerang 28-11-22...