
Sepasang kelompok mata terbuka, mengerjap beberapa kali guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata. Saat sudah berhasil menyesuaikan penglihatan, hal pertama yang tampak di pelupuk mata adalah ruangan yang didominasi oleh warna putih dan gray familiar yang tampak dibanjiri sinar matahari. Ia tentu terlonjak kaget. Dengan gerakan spontan bangun dari tempat tidur, sampai-sampai membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot. Menyadarkan ia akan kondisi tubuhnya yang tidak tertutup apapun, kecuali selembar selimut.
"Astagfirullah!"
Istighfar kecil menjadi kalimat pertama saat ingatan-ingatan soal alasan kenapa ia terbangun dengan keadaan tersebut mendera kepala. Ia menoleh ke samping, mencari keberadaan si pelaku utama. Namun, nihil. Hanya ruang kosong nan dingin yang ia dapatkan. Menandakan jika pria itu sudah pergi sejak lama. Dilihat dari posisi matahari di luar sana, ia yakin jika sekarang sudah beranjak siang.
Sungguh, memalukan rasanya karena bangun kesiangan di hari kedua tinggal di rumah mertua. Si*lnya lagi ia tidak bisa beranjak kemanapun karena rasa nyeri juga tak nyaman yang tertinggal di bagian inti tubuhnya. Ringisan kecil terdengar saat ia bergerak sedikit saja. Raut wajahnya langsung berubah merah, semerah kepiting rebus saat mengingat momen yang begitu menggairahkan kemarin malam.
Awalnya penyatuan itu hanya berlangsung hingga dini hari. Ia juga sudah mandi besar dan keramas di pagi hari, kemudian salat Subuh seperti biasa. Walaupun dengan keadaan kurang nyaman di bagian inti. Namun, godaan malaikat tampan berwujud manusia yang menjelma menjadi suaminya, kegiatan itu terulang kembali di pagi hari. Katanya berhubungan badan di pagi hari sangat dianjurkan untuk mempercepat kehamilan. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, ia mau-mau saja diajak olahraga pagi tanpa penolakan. Jadilah kegiatan bermandikan peluh itu terulang kembali.
Semalam dan subuh tadi ia benar-benar membuktikan performa pria yang dulu sempat dijuluki bujangan terpanas se-jabodetabek.
Alhasil sekarang ia benar-benar tewas di atas tempat tidur. Bergerak saja butuh tenaga ekstra. Apalagi jika harus mencapai kamar mandi, berapa banyak tenaga yang harus ia kumpulkan? ia tak sanggup.
"Kamu sudah bangun?"
Pemilik suara deep bass yang ia cari keberadaanya sejak tadi akhirnya muncul juga.
Arunika yang berada di atas tempat tidur kontan diam membisu. Netra hazelnut miliknya menatap sang suami lekat-lekat. Sedangkan yang ditatap malah menerbitkan senyum tipis sehangat mentari pagi setelah berhasil melewati pintu.
"Kamu pasti lapar. Aku bawakan makanan juga salep untuk kamu."
Dengan telaten, pria rupawan yang mengenakan kaos polos berwarna putih itu menyimpan bawaannya di atas nakas. Raut wajahnya terlihat lebih ringan, tidak kali seperti biasa. Apa mungkin efek servis malam pertama?
"Mas nggak mau minta maaf gitu?" sindiran Arunika lontarkan pada suaminya.
"Maaf untuk apa?"
Arunika mencebikkan bibir mendengar jawaban sang suami. "Membuatku seperti ini."
Alih-alih menjawab, pria rupawan itu menatap sang istri dengan senyum tipis yang masih terpatri. Tergambar jelas raut lelah serta kurang tidur di wajah ayu sang istri. Surai kecoklatan nya juga acak-acakan dengan keadaan tubuh hanya terlilit selimut tebal yang tengah ia pegang erat-erat. Kendati demikian, di mata Altar penampilan sang istri pagi ini sangat cantik dan begitu menarik. Ia bahkan rela jika harus mengulang olahraga bermandikan peluh yang pagi tadi mereka lakukan.
__ADS_1
"Gak usah mikir yang aneh-aneh!"
Altar tersenyum kecil mendapati keahlian analisa sang istri yang meningkat pesat. "Mandi dulu, setelah itu makan. Kamu sudah melewatkan sarapan, sebentar lagi jam makan siang." Ia berjalan mendekat setelahnya.
"A-pa?!" kaget Arunika. "Ini udah mau jam makan siang?"
"Hm. Selama itu kamu tidur." Altar berujar seraya tersenyum tipis. Ia terhibur melihat ekspresi sang istri.
"Ini juga gara-gara kamu, Mas." Ketus sang istri. "Coba aja pagi tadi gak usah main lagi, nggak akan gini jadinya."
Altar melipat tangan di depan dada mendengar celotehan sang istri. "Dokter Ridwan merekomendasikan kita untuk meningkatkan frekuensi hubungan seksual-"
"Stop it!" jerit Arunika jengkel. Jeritan itu malah ditanggapi kekehan kecil oleh sang suami. Bisa-bisanya pria itu bicara begitu frontal.
"Maaf. Kamu pasti merasa kurang nyaman," ujar Altar menambahkan. Pria itu kini duduk di samping sang istri. Meraih satu punggung tangan Arunika untuk digenggam.
"Sakit Mas, bukan nggak nyaman lagi. Coba deh kamu jadi aku," keluh sang istri.
Arunika speechless mendengarnya. Mau marah sejadi-jadinya, gatot alias gagal total jika begini.
"Sekarang kamu mandi dulu. Sudah aku siapkan air hangat. Ayo aku bantu."
"Gak usah!" tolak Arunika mentah-mentah. Ia malu. Padahal semalam mereka sudah melihat masing-masing tanpa busana. "Aku bisa sendiri." detik kemudian, Arunika mengaduh kesakitan saat baru saja bergerak sedikit.
"Sure?"
Arunika mengerucutkan bibir sebal. Menampilkan wajah galak juga tak bersahabat pada Altar. Altar yang menyadari itu hanya tersenyum maklum. Mungkin semalam ia beruntung bisa mendapati sisi sang istri yang suka malu-malu kucing. Sekarang, Arunika kembali pada tabiatnya yang asli. Galak seperti kucing liar yang sukar dijinakkan.
"Gendong, buruan!" seru istri cantiknya.
Altar tertawa kecil. Semakin terhibur. Menikahi Arunika benar-benar membuatnya bahagia. Setiap harinya pasti akan berwarna.
__ADS_1
"Buruan ih, malah ketawa. Marah lagi nih!" ancam sang istri. Ketus.
"Hm."
Dengan segera pria rupawan itu meraih tubuh sang istri yang terbalut selimut tebal. Membawanya ala bridal style menuju kamar mandi. Kemudian ia menurunkan sang istri di pinggiran bathtub sang sudah terisi air hangat.
"Perlu bantuan lagi?"
"Gak usah, aku bisa sendiri," jawab sang istri cepat.
Altar mengangguk kemudian merunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri.
"K-amu mau apa, Mas? Jangan aneh-aneh, ya. Masa semalem sama pagi tadi nggak cukup!" jerit Arunika histeris.
Altar lagi-lagi dibuat tersenyum dengan tingkah laku sang istri. "Sepertinya aku jadi menjadi murah senyum karena kamu, Aru."
"Hah?" bingung si empunya nama.
"Take your time, wife. Aku tunggu di luar. Kalau sudah mandinya panggil aku lagi."
Altar mengakhiri kalimatnya dengan kecupan singkat di pucuk kepala sang istri. Kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Arunika yang masih terpaku.
"Jantung, oh jantung. Yang kuat ya, lo di dalem sana. Punya suami modelan Altar memang nggak baik buat kesehatan lo. Pesonanya itu loh, deep-nya sampe ke ulu hati." Arunika bergumam kecil seraya menatap pintu kamar mandi yang telah ditutup dari luar. Gara-gara suaminya, sekarang jantungnya jadi jumpalitan ria.
...ππ...
...TBC...
...Semoga suka π€...
...Jangan lupa rate bintang 5 π like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π...
__ADS_1
...Tanggerang 21-12-22...