
Sudah bukan rahasia umum lagi jika mood ibu hamil itu seperti rollercoaster, naik-turun. Gara-gara insiden Coryssa yang mencari gara-gara, Arunika jadi mengalami mood swing. Alhasil sepulang dari kantor, ia mengajak Aling dan Rose untuk berkeliling Plaza Indonesia. Bermodalkan black card mas suami yang jarang dipakai, Arunika mentraktir dua sahabatnya itu makan, nonton, dan shopping.
"Ambil aja kalau mau, gue yang bayar."
"Heh, serius lo? ini harganya dua jutaan loh!"
"Ambil aja lah, gue yang bayar. Hitung-hitung traktiran," ujar Arunika seraya mengibaskan tangannya. Ia memang berniat untuk mentraktir Aling dan Rose. Toh, selama ini ia jarang membelanjakan uang bulanan dari Altar.
"Karena gue masih punya harga diri, gue ambil handbag ini aja. Gue udah falling in love. Habis ini, udah nggak ada lagi yang gue mau," ujar Rose seraya memeluk erat-erat handbag yang dimaksud.
"Terserah lo. Yang penting habis ini kita makan," sahut Arunika. "Anak gue udah keroncong."
"Kalau gitu mending kita makan dulu habis bayar ini," timpal Aling. Jika Rose sibuk lihat-lihat tas, Aling lebih tertarik untuk melihat-lihat perlengkapan painting.
Aling memang agak tomboi, dan ia jarang memperhatikan penampilan. Apa saja bisa ia pakai, asal nyaman. Jika disuruh memilih barang apa yang harus ia beli ketika pergi ke pusat perbelanjaan, maka ia akan menyerbu seperangkat perlengkapan painting. Aling sangat hobby painting. Ia juga punya usaha painting phone case Aesthetic, namun setiap pesanan terbatas karena ia buat secara handmade.
Setelah asik berkeliling, mereka pun memutuskan makan di tempat makan yang mengusung tema Korean food. Mereka memesan beberapa menit best seller, mulai dari shabu-shabu, Korean chicken with gochujang souce, sampai bibimbap.
"Ru, lo yakin mau resign?"
"Hmm. Udah nggak kondusif juga, gue takut stress dan berpengaruh ke kandungan gue."
"Kenapa lo nggak bilang aja kalau suami lo itu Pak Altar?" sahut Rose, memberi masukan.
"Gue, ragu aja."
"Ragu?" ulang Rose dan Aling.
Arunika mengangguk. "Orang-orang di luaran sana tahunnya dulu gue ada skandal sama suami gue. Padahal kita nikah juga bukan karena skandal. Walaupun udah satu tahun berlalu, gue ....masih tetep aja ragu klaim dia sebagai suami. Gue ....kadang masih ngerasa nggak pantas."
Rose dan Aling saling berpandangan untuk sejenak. Setahun belakangan ini Arunika tidak cerita banyak soal pernikahannya. Namun, mereka selalu mendengar jika Altar memperlakukan Arunika dengan baik dan itu saja sudah cukup bagi Arunika. Padahal ia masih menyimpan keraguan atas opini publik jika status mereka terbongkar.
"Gini, ya, Ru. Kenapa lo harus merasa ragu? harus berapa ratus kali gue, Aling, atau bahkan Pak Altar meyakinkan lo, kalau lo itu pantas jadi istrinya Pak Altar. Buktinya lo yang dinikahi plus dibuntingin."
"Heh, your language" Aling mengoreksi. "Aru lagi hamil, kita harus jaga bahasa."
"Sorry, kebablasan barusan."
Arunika mengangguk. "Dia baru berusia empat Minggu, jalan lima Minggu," ucapnya memberi tahu. "Kalian percaya nggak pas gue dapet garis dua, gue nangis kejer sambil peluk Altar. And then, dia juga ikutan nangis karena katanya terharu, senang, sama nggak percaya gitu."
Aling dan Rose mengangguk, percaya. Ada sekelumit bahagia tercipta saat melihat sahabat mereka kembali ceria.
"Pak Al itu bucin sama lo, Ru." Rose berkata seraya menatap sahabatnya lembut. "Cowok kalau udah nangis karena cewe, itu berarti perasaannya tulus banget."
"Gue nggak pernah tuh buat dia nangis, kecuali pas tau gue hamil."
"Lo nggak tahu aja gimana cemasnya Pak Al pas gathering tahun lalu lo pingsan di lapangan."
"Masa?"
"Tanya aja Aling. Dia tahu detail gimana ngamuknya suami lo. Bukan satu divisi lagi yang dimarahi, tapi semua peserta yang ikut gathering tahun kemarin, Ru."
Aling melongo tak percaya. Tahun lalu saat kantor mengadakan gathering tahunan ke Bogor, ka memang sempat tumbang karena kelelahan. Saat sadarkan diri, tahu-tahu ia sudah berada di kamar hotel milik suaminya. Ia tidak tahu apa yang terjadi selama tidak sadarkan diri. Pantas saja, keesokan harinya ada beberapa orang yang tampak sungkan kepadanya.
"Kurang-kurangin deh itu rasa nggak percaya diri. Lo itu bagi Pak Altar spesialnya luar biasa," ujar Rose seraya melipat tangan di depan dada. "Di Coryssa kalau nanti tahu lo istrinya pak Altar, beuhhh .... ditendang dia."
Arunika tersenyum tipis, sedangkan Aling sudah terkekeh. Rose memang mood booster. Circle Arunika memang terdiri dari sekumpulan happy virus yang bisa saling menghibur dan melengkapi.
ππ
__ADS_1
"Beb, lo hamil!"
Pemilik ruangan yang sedang membenahi beberapa barang itu tampak mendongkrak guna menatap pria yang baru saja melewati ambang pintu.
"Kalau masuk itu salam dulu bisa nggak sih?"
"Sorry, gue over excited."
Arunika berdecak seraya kembali berbenah.
"Katanya lo hamil, beb. Beneran?"
"Hmm."
"Udah berapa Minggu?"
"Jalan lima Minggu," sahut Arunika. Sedangkan pria di hadapannya tampak antusias saat bertanya-tanya. "Lo ngapain pagi-pagi menyantrongi ruangan gue?"
"Kangen lah. Gue 'kan baru balik dari Batam."
"Kangen? preettt banget."
"Kenapa sih judes amat? kurang belaian?"
Arunika mendelik mendengar perkataan Airlangga. Ya, lelaki itu adalah Airlangga. Ia memang baru pulang dari Batam setelah menyelesaikan 3 hari perjalanan kerja.
"Lo nggak update hot news terbaru di grup kantor?"
"Hot news apaan?" tanya Airlangga seraya mengeluarkan smartphone miliknya. "Di sana gue sibuk. Nggak sempet pegang hp. Mainan data mulu."
"Mereka kira lo suami gue."
Memutar bola mata malas, itu lah yang Arunika lakukan. "Lo pikir aja sendiri."
"Gue emang nempel sama lo, tapi bukan berarti gue juga yang nikahi lo. Dangkal banget pikiran orang-orang."
"Makanya cari pacar supaya nggak nempel terus sama istri orang."
Bukannya marah atau tersinggung, Airlangga malah tertawa pongah. "Gue udah ada pacar kok. Namanya Anin, anak magang di bagian data analis. Nanti gue kenalin deh."
"Nggak usah, nggak minat juga," sewot Arunika.
"Kok gitu, beb? dia anaknya baik loh. Polos, sexy, terus...."
"Mas Langga!"
Kalimat Airlangga terpotong oleh suara yang datang dari ambang pintu. Saat mereka berdua menoleh, sudah ada beberapa orang wanita di depan pintu ruangan Arunika.
"Eh, Anin. Kamu ngapain nyasar ke gedung finance?" tanay Airlangga dengan muka sumringah.
Jadi, ini toh Anin si anak magang yang dipacari Airlangga, pikir Arunika.
"Mas tega ya, bohongin aku!"
"Eh, saya bohong apa sama kamu?" bingung Airlangga. Pasalnya sang kekasih yang masih mahasiswi itu tiba-tiba berkata demikian.
"Bisa-bisanya Mas Langga bohong soal status Mas Langga sama Mbak Arunika."
Airlangga melongo, sedangkan Arunika terdiam. Ini anak magang yang katanya polos dicuci otak oleh siapa coba? bicaranya ngawur sekali.
__ADS_1
"Aku tahu aku ini bodoh. Tapi, seenggaknya Mas Langga jangan permainkan perasaanku!" jerit Anin, menimbulkan keributan di pagi hari yang cerah itu.
"Tunggu dulu, ini sepertinya ada kesalahpahaman." Arunika beranjak, hendak mendekati Anin, namun Coryssa tiba-tiba muncul. Menghadang.
"Semua ini gara-gara lo," tuduh Coryssa. "Makanya kalau punya suami dijaga. Supaya nggak mainin perasaan cewek polos kayak gini."
Arunika menghela nafas kasar mendengar tuduhan Coryssa. "Lo tau dari mana Airlangga suami gue?" tanyanya, dingin. "Lo punya bukti apa kalau dia ayah dari anak yang gue kandung?"
Alih-alih takut, Coryssa malah tersenyum miring seraya mengeluarkan handphone, kemudian mengoperasikan benda itu untuk beberapa saat. "Foto ini lo sama Airlangga, 'kan?"
Arunika menyipitkan mata untuk melihatnya. "Sial*n, dari mana dia dapat foto gue sama Altar," gumam Arunika. Itu jelas fotonya saat dirangkul Altar ketika keluar dari kelab malam, dua bulan lalu. Masalahnya, bisa-bisanya foto itu ada pada Coryssa. "Itu laki gue, bukan Airlangga."
"Kalau lo kekeuh bukan Airlangga suami lo, coba kasih kita bukti." Coryssa menantang. "Lo nikah secara agama, 'kan? seenggaknya pasti ada foto pas pernikahan."
"Pernikahan gue sah secara hukum dan agama," koreksi Arunika. Enak saja ia disangka istri siri.
"Well, kalau begitu mana buktinya?"
Arunika menggeram marah. Coryssa benar-benar membuatnya naik pitam.
"Ru, udah jangan diladeni," bisik Airlangga. "Ingat, sekarang lo lagi hamil."
Arunika menggelengkan kepala. Ia tahu bayinya pasti kuat. Di sisi lain, Aling dan Rose coba untuk menerobos kerumunan di depan ruangan Arunika, namun percuma. Mereka tetap tidak bisa masuk saking banyaknya orang haus rasa penasaran yang berkumpul.
"Ada," sahut Arunika. "Lo mau bukti, 'kan?"
"Nggak usah banyak bicara, mending lo tunjukkin sekarang juga buktinya."
Arunika menghela napas pendek, kemudian mencari-cari letak handphone miliknya.
"Lo jangan coba-coba bohong, Ru. Di sini udah ada korban suami lo. Mendingan lo ngaku aja. Atau, lo malu punya suami bertitel player kayak Airlangga?" pancing Coryssa, tak mau diam.
"Jaga mulut lo, per*k." Airlangga bergerak maju. "Gue memang player, tapi gue nggak pernah ngusik privasi orang lain kayak gini."
"Gue cuma mau bantu sepupu gue." Coryssa berdalih atas dasar rasa kemanusiaan. Padahal ia punya keuntungan tersendiri lewat cara seperti ini. Ia jelas-jelas ingin menyingkirkan Arunika.
"Mas Langga sama Mbak Arunika jahat!"
Anin kembali memuntahkan rasa kecewanya. Hal itu tentu kian membuat Arunika geram, karena gadis itu salah paham terlalu jauh. Sedangkan Ai Airlangga hanya bisa menghela napas. Pacarnya yang baru itu memang polosnya minta ampun. Saking polosnya, ia sampai mudah dikelabui.
"Dengar, kami nggak ada hubungan apa-apa selain hubungan pertemanan." Airlangga meringkas jarak. Hendak mendekati Anin, namun gadis itu menghindar dan memilih memeluk Coryssa.
"Mendingan kalian jelasin biar semuanya clear," tuntut Coryssa. "Mana buktinya kalau kalian bukan pasangan suami-istri?"
Arunika memejamkan mata untuk beberapa saat. Kepalanya pulang pening menghadapi drama yang dibuat Coryssa pagi-pagi begini. Ketika memutuskan untuk membuka mata, tiba-tiba ia melihat sesuatu yang berhasil membuatnya terdiam. Namun, sepersekian detik berikutnya ada senyum yang tertarik.
"My husband is coming."
Coryssa, Airlangga, Anin, serta semua orang di sana langsung terdiam. Ada pula yang berpandangan. Mencoba mencerna maksud dari ucapan Arunika yang entah ditujukan pada siap. Sampai sebuah suara familiar menginterupsi, membuat mereka seketika membatu.
"Sedang apa kalian berkerumun di ruangan istri saya?"
ππ
Semoga suka π€
Jangan lupa rate bintang 5 π like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π
Tanggerang 05-12-23
__ADS_1