
Altar tidak pernah merasakan rasa bersalah sebelum ini. Pria rupawan yang selalu hidup teratur itu tidak pernah berbuat sesuatu yang akan membuatnya merasa bersalah di kemudian hari. Namun, kali ia merasakan bersalah sebesar itu. Rasa bersalah karena telah mematahkan harapan sang sekretaris. Semenjak itu jarak seolah-olah terbentang begitu nyata di antara mereka.
“Ini, saya bawakan kopi pesanan Bapak.”
“Hm. Taruh saja di meja.”
“Baik, Pak.”
Segelas Americano coffe yang masih mengepulkan uap tersaji di hadapan Altar. Aroma khas seduhan coffe langsung menyeruak masuk ke indra penciuman. Manik jelaga milik pria rupawan itu kemudian beralih kepada sang sekretaris.
“Ada yang Bapak butuhkan lagi? Jika tidak saya pamit undur diri.”
Altar tampak berpikir sejenak. “Tolong bersihkan rak buku itu, saya melihat masih ada debu yang tertinggal.”
Arunika menoleh. Menatap ke arah rak buku yang menempel di dinding. Tingginya hampir tiga kaki, dengan diameter menyamai dinding itu sendiri. Jadi, sekarang tugas sekretaris juga tukang bersih-bersih debu?
“Baik, Pak. Akan saya bersihkan sampai kinclong.”
“Hm.”
Arunika berbalik badan. Mulutnya komat-kamit tidak jelas, menyumpah serapahi sang atasan yang menyebalkan. Ia ingin sekali menarik perkataan soal rasa syukurnya bisa diterima bekerja di perusahaan ini.
Gajih mumpuni, bonus tiap bulan dikantongi, kerjanya manusiawi, fasilitasnya memadai, lengkap dengan jaminan kesehatan yang bisa dimiliki. Nah, sekarang kerjanya tidak manusiawi. Darting setiap hari, mood naik turun kayak roller coaster tiap pagi.
Sekarang Arunika harus membersihkan debu yang tidak terlalu menganggu, ketimbang tumpukan dokumen dan surel yang sudah menunggu. Atasannya itu memang kurang waras. Untuk apa ada office boy atau office girls jika sekretarisnya sendiri yang harus membersihkan debu-debu ini?
“Kamu tidak ikhlas membersihkan debu-debu itu?”
Arunika terlonjak kaget. Bagaimana tidak, suara deeb bass itu berbisik tepat di telinganya. “E—nggak, Pak.”
Pria rupawan itu menatapnya lurus-lurus. Dari jarak dekat ditatap oleh jelmaan dewa Yunani ternyata mampu membuat lutut Arunika berubah menjadi jeli.
Bagaimana tidak terkejut, sekarang pria rupawan itu tengah berdiri di sampingnya dengan wajah terlalu condong ke samping. Jika saja Arunika bergerak spontan secara berlebihan, ia yakin ujung hidung mereka akan bersentuhan. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga bibir mereka akan saling menyapa.
“Bersihkan lagi.”
Altar memutuskan eye contact di antara mereka. Pria itu kemudian berlalu pergi begitu saja setelah mengambil sebuah buku dari hadapan Arunika.
“Aish, bikin serangan jantung aja. Koplo nih jantung.” Arunika bergumam kecil sembari mengelus dada. Ia bisa merasakan ritme detak jantungnya yang tiba-tiba abnormal.
Padahal jika ingin mengambil buku, pria itu bisa memintanya untuk mengambilkan. Tapi, ini? Ah, Arunika jadi nething kalau bos-nya itu cuma mau caper. Kendati demikian, mana mungkin bos keturunan Sabyan itu caper kepadanya. Sementara ia sendiri sudah memiliki gandengan yang luar biasa cantik seperti Arumi Soedibyo.
__ADS_1
Arunika menggelengkan kepalanya guna mengusir pemikiran-pemikiran un faedah tersebut. Manik coklatnya kembali menatap jajaran buku-buku tebal di hadapannya sembari menghembuskan nafas dalam. Debu, oh debu. Kapan engkau selesai dibersihkan?
Setengah jam kemudian, Arunika baru bisa bernafas lega. Ia telah menyelesaikan tugas membersihkan debu-debu di koleksi buku sang atasan. Diliriknya si empunya rungan yang masih sibuk membaca dokumen. Kaca mata baca juga tampak bertengger di hidung mancungnya. Jika dilihat-lihat, atasannya itu memang seperti dewa Yunani yang tengah pelesiran ke bumi.
Tubuh tinggi, tegap, dan proposional. Wajahnya terpahat sempurna dengan hiasan alis tebal yang melekuk simetris, sepasang mata tajam, bulu mata lentik, hidung mancung, serta bibir merah alami yang aesthetic sekali untuk dikecup. Eits, Arunika menampik pikiran kotornya. Bisa-bisanya ia berpikiran sampai sana.
“Kenapa kamu geleng-geleng kepala?”
“Tidak, Pak.”
Arunika tersenyum kikuk. Masa ia harus jujur jika baru saja memuji-muji bos-nya di dalam hati. Impossible sekali.
“Kamu sudah selesai membersihkan debunya?”
“Sudah, Pak.”
“Hm.”
Hm itu artinya apa sih? Iya atau apa? Please. Arunika butuh google translate sekarang. Atau Idak ahli isyarat. “Saya boleh pergi sekarang, Pak?”
“Hm.”
Sedangkan Altar menatap sekretarisnya itu dengan alis bertaut.
“S-aya sudah boleh pergi, Pak?”
“Hm. Kamu boleh pergi.”
Mendengarkan ultimatum demikian dari sang baginda raja, Arunika langsung balik kanan bubar barisan. Wanita cantik itu bergegas menuju ruangannya sendiri. Menyelamatkan diri dari ruangan dengan atmosfir akward tersebut.
Kendati sudah selamat dari ruangan CFO, tumpukan dokumen telah menunggu di atas meja. Sembari menghembuskan nafasnya gusar, Arunika mulai menghidupkan personal Computer. Tugas-tugas itu harus ia selesaikan, mau tidak mau. Suka tidak suka. Jika tidak dikerjakan, tugas itu tidak akan selesai sampai kapanpun.
Pukul 12.15 Arunika baru bisa bernafas lega. Setidaknya sebagian tugas sudah selesai dikerjakan. Ia meregangkan tangannya sejenak, sebelum membuat personal computer yang baru saja digunakannya kembali dalam kondisi shut down. Sekarang sudah masuk jam makan siang, Arunika juga sudah siap untuk mengisi perut. Kabarnya hari ini makanan di canteen telah di-upgrade. Yes, upgrade menu-menu baru.
Memang sudah kebijakan perusaan jika menu-menu yang tersedia di canteen bisa di-upgrade setiap awal atau akhir bulan.
Baru saja hendak meninggalkan lantai tersebut, tubuhnya refleks berbalik guna menatap pintu bertuliskan Chief Financial Officer Room.
“Kenapa gue lupa kalau keturunan Sabyan itu belum makan siang?” gerutu Arunika. “Kalau gini caranya mana bisa gue makan duluan.”
Dengan berat hati, akhirnya Arunika memutuskan untuk kembali. Ia harus memastikan sang atasan mengisi perut terlebih dahulu, karena itu adalah bagian dari tugasnya.
__ADS_1
“Permisi, Pak.” Arunika mengetuk pintu sang atasan sembari bersuara.
“Masuk.”
Wanita cantik itu melangkah masuk setelah diizinkan. Dilihatnya sang atasan yang masih berada di posisi yang sama dengan terakhir kali. Menghadapi tumpukan dokumen-dokumen keuangan yang seolah-olah tidak ada habisnya.
“Ini sudah masuk jam makan siang. Bapak mau saya pesankan sesuatu untuk makan siang?” tanya Arunika.
Ia tahu jika sang atasan tidak pernah melewatkan jam makan. Pria pecinta kebersihan dan kerapihan itu selalu menjaga pola makannya dengan baik. Itulah yang Arunika lihat selama bekerja melayani pria tersebut.
“Saya ingin makan nasi.”
“Baik, Pak.” Arunika mengeluarkan handphone dari dalam saku blazer yang digunakannya. Bersiap membuka aplikasi ojek online untuk memesan makanan secara daring. "Bapak mau makan nasi apa? nasi liwet, nasi goreng, nasi Hainan, nasi...."
“Kita pulang ke apartemen. Saya mau kamu yang masak.”
Gerakan jemari yang sedang searching itu kontan berhenti. Berganti dengan tatapan kaget yang diperlihatkan kepada pemilik ruangan tersebut.
“Ayo kita pulang. Saya sudah lapar,” ajak Altar gamblang sembari meraih kunci mobil dan jas-nya yang tersampir di punggung kursi. Tanpa menunggu jawaban sang sekretaris, laki-laki itu sudah melenggang pergi begitu saja.
Please, this is a bad idea. Arunika sendiri sudah keroncongan sejak tadi. Perutnya sudah berdemo minta diisi. Tapi ini, Altar dengan seenak jidat meminta dirinya untuk masak terlebih dahulu. Padahal mereka bisa saja turun dan makan di canteen, di sana semuanya sudah siap santap, atau mereka bisa pesan sesuatu dari aplikasi daring. Lantas menunggu sekitar 20 sampai 30 menit. Kenapa harus repot-repot pulang ke apartemen pria itu untuk memasak?
Dan lagi, apa katanya barusan? Kita? Ini cuma perasaan Arunika atau memang atasannya itu sok akrab, ya? Kalimatnya itu loh, kalau ada orang yang lain yang mendengar pasti akan timbul kesalahpahaman. Bisa saja mereka menyimpulkan yang tidak-tidak. Sungguh, Arunika tidak habis pikir dengan jalan pikiran keturunan Sabyan tersebut.
“Arunika." panggilan laki-laki yang tengah berdiri di depan pintu itu.
“Iya, Pak?"
"Cepat, saya sudah kelaparan," ujarnya penuh penekanan. Memberikan kode agar Arunika segera menyusul.
"Kalau udah kelaparan, mending makan di canteen aja. Kalau nggak beli lewat gr*bfood. Apa susahnya sih?!" dumel Arunika di dalam hati. "Iya, Pak. Ayo kita pulang."
...🍄🍄...
...TBC...
...Semoga suka 😘...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 29-11-22...
__ADS_1