
Satu hari di pulau dewata Bali. Bebas pergi kesana-kemari, karena job desk hari ini free. Tiga point utama yang tengah dijalani oleh Arunika saat ini.
Sejak pagi ia sudah bersiap dengan casual style. Celana jeans belel, dipadupadankan dengan atasan kaos berbahan lembut motif tie dye yang cerah nan gonjreng. Sepasang sandal swallow hitam kini menjadi pilihan untuk menemani. Lengkap dengan sebuah topi. Kendati gayanya sudah lumayan okay, alas kaki tetap-lah membumi. Cintai produk dalam negeri. Salah satu personil EXO saja bangga pakai sandal swallow begini.
Sembari membawa Tote bag berukuran medium di tangan, Arunika mulai menjelajahi beberapa tempat yang menjual souvenir untuk buah tangan. Ada beberapa barang pesanan Aling dan Rose yang harus ia beli. Selesai dengan urusan belanja souvenir, rencananya ia akan lanjut berburu baju dan kuliner tradisional Bali.
Sejak pagi ia memang sudah semangat 45 untuk menjelajahi. Berhubung hari ini terakhir ia menginjakkan kaki di Bali, tanpa tuntutan pekerjaan yang berarti. Ibarat bonus di penghujung bulan yang dinanti-nanti. Bos besarnya juga sudah diberi makan pagi-pagi sekali. Semua kebutuhan pria itu sudah Arunika persiapkan tanpa terkecuali. Hal itu dilakukan agar ia tidak terganggu saat tengah menikmati waktu seorang diri.
Jadwal kepulangan mereka adalah malam nanti, jadi hari ini free. Berhubung kerjasama yang mereka tawarkan dengan mr. Aldebaran sudah sampai pada titik kesepakatan. Jadi sekarang Arunika bisa leha-leha sambil memanfaatkan waktu luang sebaik mungkin. Ia juga mendapat uang untuk jajan dari sang atasan yang pagi tadi kesambet jin baik.
“Kamu di sini?”
Mendengar ada suara yang familiar menyapa gendang telinga, wanita cantik bersurai panjang itu menoleh. Iris kecoklatan miliknya membola saat melihat siapa yang tengah berdiri di sana.
“Bapak ngikutin saya? Kok bisa ada di sini?” tanyanya curiga.
“Impossible,” jawab pria rupawan yang tampil dengan casual style tersebut.
“Why no’t? mungkin saja Bapak mengikuti saya karena kesepian.”
Pria itu menggeleng tipis. “Saya sedang mencari makan siang.”
“Kenapa tidak telepon saya? Nanti saya belikan terus suruh diantar ke hotel.”
“Ribet,” komentar pria tersebut sambil menarik kursi untuk ia duduki.
“Eh, Bapak mau ngapain duduk di situ?”
“Saya mau makan siang. Kamu tidak dengar?”
Arunika menatap sang atasan yang kelewat santai itu dengan mata memicing. Baru juga 5 jam berlalu setelah mereka berpisah, sekarang pria itu sudah kembali mengacaukan me time-nya.
“Saya mau ayam betutu sama sate lilit, tolong pesankan.”
Arunika mengangguk sembari misuh-misuh. Tidak lama kemudian seorang waiters datang karena Arunika memanggil. Ia menyebutkan beberapa menu yang hendak dipesan beserta pesanan sang atasan.
“Pesanannya sudah saya catat. Tunggu sebentar ya, Kak.”
“Iya.” Arunika menjawab sembari tersenyum ramah pada wanita muda yang menggunakan pakaian tradisional Bali tersebut.
Tempat makan ini memang cukup hits di kalangan pelancong dalam maupun luar negeri. Mengusung tema tradisional Bali, dengan interior yang masih kental dengan unsur seni. Berhasil membuat banyak pengunjung singgah untuk menikmati makanan-makanan yang menjadi menu andalan di tempat ini.
Makanan tradisional Bali seperti ayam betutu, bebek betutu, sate lilit, serombotan, sate plencing, lawar, sambal matah, nasi campur bali, nasi Jinggo, bebek timbungan, dan berbagai makanan klasik lain menjadi ikonik di tempat ini. Arunika mengetahui tempat makan ini dari rekomedasi teman-temannya yang pernah berkunjung ke Bali.
“Setelah ini kamu mau ke mana?” tanya Altar sambil mendorong piring bekas makannya yang sudah kosong ke samping.
“Jalan lagi. Kalau Bapak?”
Altar menyeka sudut bibirnya menggunakan tisu sebelum menjawab. Gerakannya perlahan, mencerminkan attitude and manner putra seorang bangsawan.
__ADS_1
“Pulang,”
“Bapak tidak mau pergi kemana dulu, gitu? Mumpung lagi free, Pak.”
“Pantai.”
“Oh, Bapak mau ke pantai?” Arunika mengangguk-anggukan kepalanya mendengarnya, paham akan maksud sang atasan.
“Good choice, Pak. Panas-panas begini biasanya banyak bule lagi berjemur. Bapak bisa nyari satu buat dijadikan calon istri.”
“Untuk apa?” tanya Altar dengan kening bertaut.
Arunika terkikik geli melihat ekspresi sang atasan. “Kalau tidak dijadikan calon istri, mentok-mentok jadi sugar baby juga tidak apa-apa, Pak.”
“Pemikiranmu dangkal sekali ternyata,” komentar Altar sembari mengeluarkan dompet.
“Ya kali aja Bapak butuh hiburan. Atau mau saya pesankan sekalian aja, Pak?”
“Pesan apa lagi?” Altar menatap sekretarisnya itu bingung.
“BO alias booking online. Buat temen kencan Bapak hari ini,” ucap Arunika sambil meloloskan senyum geli di akhir kalimat.
Ternyata menggoda sang atasan seru juga, pikirnya. Raut wajah pria minim ekspresi itu tampak menggelitik perut. Apalagi saat ditawari untuk mencari teman kencan kilat. Padahal Arunika sendiri tahu jika atasannya itu sudah memiliki Arumi Soedibyo yang tidak kalah cantik dengan wanita bule. Point plus-nya, Arumi itu wife material sekali. Cantik, ramah, anggun, feminim, keibuan, pandai memasak, jenius dan tentu saja berasal dari keluarga berada.
“Sebentar, Pak. Saya mau angkat telepon dulu.” Arunika berujar sembari meraih benda pipih yang ia simpan di dalam Tote bag.
“Iya, Bi, kenapa?”
Arunika sengaja tidak menjauh dari Altar saat menerima panggilan tersebut. Lagi pula dia yakin jika Bian akan menelepon dalam durasi yang singkat.
“Owh, baju olahraga kamu? Iya. Ada di dekat space underwear, di situ. Memangnya nggak ada? Setelan yang udah disetrika ada di tempat biasa.”
Altar yang masih menjadi pendengar setia, menghembuskan nafasnya kasar. Memangnya orang yang berpacaran harus sampai segitunya?
Harus mengurusi soal pakaian pasangannya juga?
Sampai hafal di mana saja letak-letaknya?
Ia malah tidak habis pikir dengan cara berpacaran seperti itu. Jika ingin tinggal bersama, tinggal mengikat hubungan secara resmi. Menikah misalnya. Dengan itu mereka bisa bebas tinggal bersama, tanpa takut melanggar norma dan hukum yang berlaku. Tapi, kenapa juga Altar pusing-pusing memikirkan? Lagi pula itu bukan urusannya. Bukan hak nya juga mencampuri hubungan mereka.
“Pak?”
Altar tersentak dari lamunannya. “Hm.”
“Saya panggil-panggil dari tadi tidak merespon? Jangan-jangan Bapak melamun, ya?”
Pria rupawan itu menatap lawan bicaranya lekat. Sejurus kemudian sebelah tangannya terangkat guna menepuk-nepuk pucuk kepala Arunika yang terlindungi oleh topi.
“Ayo ke pantai. Saya mau ke sana.”
__ADS_1
Yang Arunika tahu, itu bukan kalimat interogatif, melainkan imperatif. Bukan kalimat pertanyaan guna meminta pendapat, melainkan kalimat perintah, mutlak. Karena sedetik kemudian, pria itu kembali melangkahkan kaki sembari membawa jemari mungil milik Arunika bersama dalam genggaman jemarinya. Apa-apaan ini?
Isi kepala Arunika bubar jalan. Sistem dalam otaknya tiba-tiba saja menjadi lemot, loading, telmi alias telat mikir.
Kok, atasannya tiba-tiba jadi begini? Mau menolak, lantas menampar pipinya karena telah lancang memegang tangannya, tetapi Arunika tidak memiliki keberanian. Mau membiarkan, ia jadi tidak nyaman. Arunika takut. Takut jatuh kedalam buaian manis berujung patah hati seorang diri. Yang namanya jatuh itu selalu identik dengan rasa sakit, luka, dan air mata. Dan, Arunika tidak mau merasakan jatuh cinta karena semua resiko itu.
“Sunset.”
Arunika terpukau. Sistem di dalam kepalanya jalan lagi. Kendati demikian, ia tidak lagi memikirkan soal sikap aneh sang atasan belakangan ini. Melainkan tertuju pada keindahan yang terlukiskan di hadapan mata kepalanya sendiri. seberkas cahaya berwana jingga yang menghiasi sepanjang garis pantai tampak sangat cantik, menarik, juga mempesona. Membius setiap pasang mata.
Sudah cukup lama mereka berada di bibir pantai. Mereka sudah puas hunting foto, bermain air, menikmati es kelapa muda, sampai bermain pasir. Arunika yang lebih banyak mendominasi dalam kegiatan-kegiatan have fun tersebut. Sedangkan Altar asik menikmati gerak-gerik sang sekretaris yang tampak have fun.
Beberapa pengunjung berjenis kelamin pria juga menghampiri dengan niat yang bervariasi. Mulai dari mengajak berkenalan, pura-pura bertanya alamat, ada juga yang to the point mengatakan ketertarikan melihat wanita cantik yang tengah menikmati me time tersebut. Oleh karena itu, Altar akhirnya mengajak Arunika bibir pantai yang lebih sepi.
“You like it?”
“Of course. Sunset-nya cantik banget,” ujar Arunika dengan binar kekaguman tergambar jelas.
Menjadi tulang punggung bagi kehidupan mereka—Arunika dan adiknya—bukanlah hal mudah. Terlebih lagi orang tuanya meninggalkan hutang yang tidak sedikit, ditambah dengan pengobatan sang adik yang membutuhkan banyak uang. Arunika tidak memiliki waktu barang sejenak guna menikmati sunset di ibu kota. Pada jam-jam tersebut ia masih sibuk mengetik di balik kubikel. Mengurusi berbagai laporan keuangan yang masuk.
Altar menoleh, sembari melepaskan genggaman tangan mereka. Untuk sesaat Arunika merasakan kehilangan kehangatan pada jemarinya. Namun, sebagai gantinya pria rupawan tersebut menyusuri sepanjang garis wajah Arunika. Tatapan mereka terkunci satu sama lain. Seberkas cahaya jingga jatuh menyinari, menjadi background yang terlalu indah untuk mereka yang terlalu dekat tanpa sekat.
“Kamu baru pertama kali melihat sunset?”
Gelengan kepala Arunika berikan sebagai jawaban. “Tidak. Cuma sudah lama saja tidak melihat sunset secantik ini.”
Altar menyunggingkan segaris senyum. Senyum limited edition yang jarang sekali ia bagi kepada khalayak umum. “Kalau begitu nikmati sunset-nya sampai kamu puas.”
“Tapi, Pak. Penerbangannya?”
Jadwal penerbangan mereka adalah pukul 20.00 malam. Jika mereka terlalu lama menikmati sunset, mereka tidak akan memiliki cukup waktu untuk membersihkan diri, packing, dan pergi ke bandara. Mereka akan melewatkan penerbangan ke Jakarta.
“Penerbangannya bisa di-cancel.”
“Jangan, Pak. Jadwal Bapak padat, Bapak tidak boleh mengacaukan schedule—“
Altar gemas. Sungguh. Gemas mendasari tindakan gilanya yang sudah berani membungkam bibir ranum yang suka sekali berceloteh itu. Rasanya ada medan magnet maha dahsyat yang membuatnya tertarik untuk mencicipi benda lunak tanpa tulang itu. Menyesap dalam di antara keterkejutan yang tampak di wajah si pemilik. Mencicipi rasa manis seperti cairan nektar yang tercipta di antara tautan mereka.
Altar tentu sadar akan semua ini. Namun, ego yang ia miliki mendominasi. Insting yang terkurung dengan baik itu lepas kendali. Membuatnya berani berbuat sejauh ini. Padahal, lubang hitam yang menganga lebar tengah menanti.
...🍄🍄...
...TBC...
...Semoga suka🖤...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 29-11-22...
__ADS_1