
Bunga tidur yang indah bersama 23 bujang NCT yang masih glowing-glowing harus terganggu karena sinar mentari pagi. Kedua kelopak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik itu tampak bergerak-gerak, sebelum terbuka dan meloloskan sepasang iris hazelnut. Beberapa kali ia mengerjapkan mata guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata. Kepalanya tiba-tiba dihantam pening yang cukup menganggu saat kesadarannya mulai kembali pulih.
“Ini kenapa kepala rasanya kayak mau pecah?” gumamnya kecil seraya mengumpulkan kesadaran.
“Perasaan semalem gue tidur nyenyak. Soalnya bantal di hotel bintang lima itu rasanya beda. Udah empuk, anget, terus…” Arunika menjeda kalimatnya sejenak.
Sejak kapan guling yang dipeluknya bisa hidup? Ini guling yang ia peluk kembang-kempis loh. Dan sejak kapan juga bantal jadi seempuk, sehangat, dan senyaman ini?
Dengan gerakan slow motion, Arunika menoleh ke samping. Tempat di mana ketika maniknya tertoreh, ia bisa melihat bantal-guling yang ternyata hidup. Terlihat dari bagian yang kembang-kempis secara teratur.
“What?!”
Arunika terperanjat, kaget bukan main dengan posisinya saat ini. Ia terbangun dalam posisi memeluk tubuh manusia yang tentunya bernyawa. Lihat saja bagian atas tubuhnya yang naik-turun secara teratur. Deru nafasnya bahkan kini bisa ia rasakan menerpa pucuk kepalanya.
“P—ak…” panggil Arunika sembari mengguncangkan tubuh di sampingnya.
“Hm.”
“Pak, bangun dulu.” Arunika bersuara kembali.
Ia sudah beralih dari posisi berbaringnya menjadi posisi duduk. Iris matanya menebar ke penjuru ruangan yang familiar di mata. Tunggu, ini bukan kamarnya. Dengan cepat ia memeriksa kondisinya sendiri. Untungnya ia bisa bernafas lega, karena pakaian yang dikenakannya masih melekat di sana. Hanya saja sekarang ia sudah tidak mengenakan oversized sweater yang semalam digunakan.
“Aduh, pasti semalam hangover lagi,” gumam Arunika sembari mencubit pipinya sendiri. Namun, gerakan itu tertahan karena ada yang memegang lengannya.
“Kenapa dicubit?”
“I—tu….” Arunika gugup seketika.
Pria rupawan yang baru saja membuka mata itu kini sudah beranjak dari posisi berbaring. Mendudukkan dirinya sembari bersandar pada head board. Manik jelaganya menatap sayu ke arah Arunika.
“Jam berapa sekarang?” tanyanya santai sembari menyentuh surai gelap miliknya yang jatuh secara acak di beberapa bagian wajah. Gerakan slow motion yang damage-nya deep banget ke jantung.
“Pak, ini kok saya bisa ada di sini?”
“Kamu tidur di sini semalam.”
“What?!” pekik Arunika kaget. “Kok bisa?”
“Tentu saja bisa.” Altar melipat kedua tangannya di dada. “Kamu selalu menyusahkan saya ketika mabuk,” imbuhnya.
__ADS_1
“Memang saya ngapain saja semalam, Pak? Seingat saya, semalam saya perform, terus dikelilingi bule pas turun dari panggung. Habis itu kita pindah ke meja bar. Mereka pesan minum, saya juga ditawarin. Tapi, saya ingat kok kalau saya cuma pesan jus jeruk. Terus….” Arunika kehabisan kalimat.
“Terus?” Altar menautkan keningnya, menanti jawaban Arunika.
“Terus saya tidak ingat apa-apa lagi, Pak.” Arunika menggaruk pelipisnya sendiri. “Memangnya semalam saya berulah ya, Pak? Tapi, kita tidak ngelakuin sesuatu yang melanggar norma bukan?”
“Hm.”
“Saya melakukan saja semalam, Pak? Muntah lagi?”
“No.” Altar menjawab sembari beranjak dari tempat tidur. Pria rupawan yang mengenakan atasan only T-shirt warna putih yang dipadukan dengan celana pendek berbahan lembut itu berjalan ke arah ruang tengah.
“Kamu bikin saya pusing,” imbuh Altar.
“Terus kenapa Bapak tidak mengantar saya ke kamar kalau bikin pusing? Kenapa malah ke sini?” Arunika ikut beranjak. Dengan langkah cepat ia mengekori Altar.
“Jika bisa, mungkin sudah saya lakukan.”
“Memangnya kenapa tidak bisa?”
“Key card kamu tidak ada.”
“Apa? Tapi, semalam key card saya sudah saya simpan di dalam tas.” Arunika buru-buru mencari keberadaan slim bag miliknya. Dengan cepat ia mencari benda pipih tersebut. Namun, hasilnya nihil. Benar kata Altar, benda itu tidak ada di sana. “Lah, kok nggak ada?” risau Arunika.
“Really, Pak? Key card saya hilang!”
“Hm. Ceroboh,” komentar Altar datar.
Arunika tersenyum keki. “Namanya juga khilaf, Pak. Tapi semalem benar tidak terjadi apa-apa di antara kita, kan, Pak?”
Altar menatap lawan bicaranya lurus-lurus. Bagaimana Altar bisa berbuat apa-apa jika Arunika meracau sepanjang malam sebelum jatuh ke alam mimpi. Ia bahkan melemparkan oversized sweater yang digunakannya sembarangan, hingga mengenai wajah Altar. Niat hati ingin membalas sedikit perbuatan sang sekretaris, Altar malah ketiduran karena letih menghadapi tingkah absurd sekretarisnya itu.
“Tidak ada yang terjadi selain kamu tidur sambil menjadikan saya guling.”
Arunika tersenyum canggung sembari menyelipkan anak rambutnya ke sela-sela telinga. “Maaf, Pak. Semalam saya pasti merepotkan.”
“Sangat,” jawab Altar datar.
“Iya, makanya saya minta maaf.”
__ADS_1
Arunika menghembuskan nafasnya lemah. Ia memang memiliki orientasi yang rendah terhadap alkohol. Ia juga tidak berniat menikmati minuman haram tersebut jika bukan kesalahan someone yang telah menukar jus jeruknya dengan minuman beralkohol.
“Untuk sementara waktu kamu pesan pakaian dari situs belanja daring yang ada di sekitar sini. Saya harus bersiap untuk meeting dengan client.” Altar berucap sambil menyodorkan smartphone miliknya.
Layar benda pipih tersebut tampak menampilkan beranda sebuah situs belanja daring. Arunika menerimanya dengan setengah hati. Mau bagaimana lagi, ia tidak memiliki satu pun pakaian untuk berganti.
“Saya akan mandi. Pilih beberapa yang cocok dengan ukuran kamu,” pesan Altar sebelum pergi.
“Iya, Pak.”
Detik berikutnya, pria rupawan itu menghilang dibalik pintu yang Arunika yakini adalah pintu kamar mandi. Hembusan nafas lega keluar dari lubang hidung Arunika. Untung saja semua pikiran negatif yang tadi menghantui benaknya kini sudah terurai satu per satu. Tidak terjadi apapun di antara mereka, only sleep. Yes, just sleep with him.
Arunika melafalkan kalimat tersebut di kepalanya beberapa kali. Seolah-olah kalimat tersebut adalah sebuah mantra.
Ketimbang memikirkan semua itu lebih lama, Arunika memilih menggulirkan jemari lentiknya di atas telepon pintar milik Altar. Setelah memilih dan memilah beberapa kebutuhan, Arunika langsung melakukan checkout. Untuk metode pembayaran ia memilih cash on delivery alias COD agar bisa memastikan barangnya terlebih dahulu. Ia memang harus mendampingi sang atasan untuk meeting bersama college asal Inggris, jadi ia harus membeli setelan formal yang nyaman dan tentunya tetap sopan.
Baru saja hendak meletakkan benda pipih keluaran terbaru tersebut, sebuah notifikasi pop up muncul di layar. Arunika bisa menemukan nama Arumi dari notifikasi pop up yang ternyata berasal dari aplikasi pesan singkat. Jemarinya tergoda untuk membuka pesan-pesan tersebut. Padahal Arunika tahu jika perbuatannya itu lancang.
...|Arumi|...
^^^Mas Al katanya sedang di Bali, ya?^^^
^^^Pergi sama siapa, mas?^^^
^^^Arez atau bukan?^^^
^^^Aku telepon mas Al dari kemarin malam, kok nggak diangkat?^^^
^^^Mas Al sibuk banget ya, sampai nggak bisa balas pesan aku?^^^
Arunika mematung untuk sejenak. Sejauh apa sebenarnya hubungan mereka, sampai-sampai Arumi Seodibyo harus posesif seperti ini? Namun, pertanyaan-pertanyaan itu berganti dengan kekhawatiran jika sampai Arumi tahu Altar pergi bersama dengannya. Apalagi semalam Arunika telah lancang tidur bersama calon suami dari putri kesayangan keluarga Soedibyo itu.
Just sleep with him, sih. Tapi, bagaimana jika Arumi mengetahuinya? Pasti akan timbul kesalahpahaman. Dan Arunika tidak mau semua itu sampai terjadi. Ia tidak mau hidup normalnya menjadi kacau balau hanya karena kesalahpahaman yang menimbulkan scandal.
...🍄🍄...
...TBC...
...Semoga suka 😘...
__ADS_1
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 29-11-22...