
Ada yang pernah berkata, orang jenius sekalipun akan cenderung lebih mudah berbuat hal-hal diluar nalar saat jatuh cinta. Apa itu benar? jawabannya fifty-fifty percent. Karena Arunika sendiri belakangan ini merasa mudah sekali berbuat hal-hal diluar nalar. Ia rasa otaknya yang encer suka mandek dalam beberapa kesempatan jika berhubungan dengan si bos keturunan Sabyan. Apa itu berarti Arunika menyukai bos-nya? falling in love with her? Big No!
Mungkin itu hanya interest biasa. Tidak ada kaitannya dengan falling in love. Arunika meyakinkan praduga tersebut, karena ia sendiri adalah tipikal perempuan yang tidak mudah jatuh cinta. Apalagi dengan kondisi hati yang belum sepenuhnya pulih dari penyakit bernama patah hati. Tidak mudah baginya menjalani recovery. Sekurang-kurangnya, ia butuh obat juga penawar agar dapat lebih mudah mengobati.
Omong-omong sekarang Arunika sudah resmi melewati satu bulan pertama bekerja sebagai sekretaris Altar. Jangan ditanya seberapa berat satu bulan tersebut bagi Arunika. Hari pertama saja sudah berasa satu tahun. Apalagi bulan-bulan berikutnya? Arunika bahkan bisa terkena demensia dini jika mengingat berapa lama kontrak kerja yang ia tanda tangani saat itu.
Oleh karena itu, untuk merayakan satu bulan pertamanya di neraka dunia, Arunika malam ini memutuskan untuk clubbing. Ia kembali manggung dan menumpahkan segala hasrat untuk membuat ratusan manusia tumpah ruah di area dance floor. Ditemani oleh Aling dan Airlangga, mereka standby sejak sore di kenal malam langganan mereka. Dikarenakan sang atasan ada acara dinner di luar, jadi Arunika diberi kompensasi untuk pulang lebih awal.
Alhasil ia sudah terdampar di sini bersama dua sahabatnya. Kembali menggila dengan memainkan berbagai irama.
Kemahiran Arunika mengatur lagu atau musik dalam medium cakram atau medium lain, selalu membuat para pendengarnya hanyut dalam irama musik. Apalagi jika pilihan musik yang ia tampilkan menggebu-gebu, serta membakar setiap kalbu. Siapa yang tak luput dari panggilan suara musik itu.
Aksi fisik daripada seorang DJ adalah memilih dan memainkan rekaman-rekaman suara atau disebut deejaying atau DJing dan cakupan kesempurnaan dari memainkan secara sederhana satu seri rekaman-rekaman.
“Beat Matching Arunika makin keren aja,” puji Airlangga yang duduk di depan meja bar seraya menikmati segelas wiski.
Di sampingnya Aling mengangguk seraya tersenyum tipis. Beat Matching atau penyelarasan ketukan memang bagian dari komposisi musik yang Arunika kuasai. Semakin hari kemahiran perempuan itu tentu saja semakin terasah. Arunika juga gigih dalam belajar. Ia rajin streaming YouTube untuk mencari referensi, bahkan bisa sampai bergadang semalaman ketika sedang mempelajari satu unsur.
“Keahliannya memang meningkat pesat belakangan ini.”
“Efek patah hati kali, ya?”
Aling menipiskan bibir seraya menatap ke arah panggung. “Si assh*le itu gimana kabarnya? Udah dead apa belum?” tanya Aling sarkas.
Airlangga tertawa kecil mendengarnya. “Segitunya lo benci dia?”
“Pikir aja sendiri. Sahabat gue ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Mikir, punya otak gak?” sewot Aling. Ia jadi emosi sendiri.
“Punya lah.”
Mendengar jawaban lawan bicaranya, Aling mengerucutkan bibir sebal. Patah hati yang sahabatnya alami memang tidak terlepas dari campur tangan Airlangga. Jika saja pria itu tidak pergi bersama Airlangga untuk mengurusi perusahaan cabang di luar negeri, saat ini Arunika pasti sudah bahagia dengannya. Namun, semua itu hanyalah angan-angan. Takdir sudah berkehendak, membawa pria yang pernah sangat Arunika cintai. Sekarang pria itu sudah menikahi wanita lain dan tengah menanti kehadiran buah hati pertama mereka.
Melupakan Arunika yang masih terjebak pada palung masa lalu yang kian membelenggu.
“Gue harap si assh*le itu nggak balik lagi ke sini.”
“Memangnya kenapa kalau dia balik lagi? Ini tanah kelahirannya, Ling.”
“Gue cuma nggak mau lihat Aru sedih.” Aling mengalihkan tatapannya ke sembarangan arah untuk sejenak. Ia ingat betul seberapa parahnya patah hati yang dulu Arunika alami. “Lo tahu sendiri 'kan, gimana Aru berupaya keras untuk bertahan hidup.”
Airlangga mengangguk. Ia tahu itu. “Tapi, Ling. Kalaupun dia balik, berarti itu sebuah pertanda, ya?”
__ADS_1
“Pertanda apa?” Aling menatap Airlangga dengan mata menyipit.
“Urusan di antara mereka belum selesai kalau mereka belum damai.”
“Lo pikir Aru mau damai sama si assh*le? Never, Air.”
“Dengan cara berdamai, seenggaknya mereka bisa sama-sama melepaskan beban yang selama ini membelenggu.” Airlangga menatap panggung, tempat di mana Arunika menunjukan keahliannya. “De....“
“Jangan sebut namanya. Gue nggak mau denger lagi!” seru Aling tidak suka.
“Okay.” Airlangga mengangguk faham. “Mereka akan selalu hidup dengan perasaan yang belum selesai jika tidak berdamai.”
“Asal lo tahu, Air. Aru berusaha berdamai selama ini. Dia berusaha ikhlas dengan keadaan.” Aling mengembangkan senyum tipis di akhir kalimat, menyambut kedatangan sang sahabat yang baru saja turun dari panggung. “Tapi, gue tetep berharap kalau dia nggak kembali, sebelum hati Aru sepenuhnya terobati.”
Setelah berkata demikian Aling mengangkat tangan. Melambai-lambai di udara guna menyambut Arunika. Wanita cantik itu dalam balutan outfit kasual itu tampak membalas dengan anggukan. Malam ini Arunika tampil dengan kaos putih polos yang dilapisi jaket, dipadukan dengan celana jeans dan sneaker canvas.
“Cabut, yuk. Laper nih, pengen nasi goreng krengsengan pake acar yang banyak,” ujar Arunika saat berhasil mencapai keduanya. Ia tampak sumringah setelah memberikan penampilan terbaiknya, seperti biasa.
“Yuk. Gue juga pengen kwetiau. Kita beli di angkringan biasa, mau?” sahut Aling.
Arunika mengangguk sumringah seraya merangkul bahu Aling. “Lo nggak mau ikut, Air?”
“Enggak deh. Gue masih mau stay di sini. Sayang, udah pesan,” jawab Airlangga seraya mengangkat gelas bening berisi minuman beralkohol miliknya.
“Hm.”
“Have fun, Air. Lo udah lama enggak jajan cewek berwajah oriental, ‘kan? Sekarang jajan deh sesuka lo, threesome sekalian biar puas.”
Mendengan ucapan frontal Arunika, Airlangga tersenyum tipis. “Enggak. Gue maunya make love sama lo aja, beb.”
“Najis!” Arunika menjawab seraya memutar bola matanya malas.
“Kalau lo berubah pikiran, alamat apartemen gue masih sama. Password-nya juga belum diganti,” ujar Airlangga memberitahu seraya mengerlingkan mata jenaka.
Arunika memutar bola mata malas. Mereka lantas berpisah. Arunika dan Aling berlalu dari tempat tersebut, meninggalkan Airlangga yang masih sibuk menikmati wiski pesanannya. Mungkin nanti ia akan main sebentar dengan perempuan yang sekiranya berhasil menarik perhatian.
Sekita pukul 23.00 malam Arunika baru kembali ke tempat tinggalnya. Di depan televisi yang berada di ruang tengah, sang adik terlihat sedang menghadap laptop yang menyala. Beberapa lembar kerta HVS tampak berhamburan di atas meja. Ketukan jari yang beradu dengan permukaan keyboard terdengar nyaring di ruangan yang tidak terlalu luas tersebut.
“Belum tidur, Bi?” Arunika bertanya seraya mengambil posisi di samping sang adik.
“Belum, Mbak. Masih ngerjain soal-soal buat bahan latihan anak-anak les,” jawab sang adik tanpa menoleh. Masih fokus bekerja.
__ADS_1
“Ini ada martabak manis, makan dulu gih.”
“Makasih, Mbak. Aku makan habis ini,” jawab Bian seraya menoleh sebentar. Gerakan jemarinya di atas keyboard kontan berhenti. Laki-laki muda itu menatap sang kakak lamat-lamat. “Tadi mereka dateng lagi, Mbak.”
“Mereka siapa?” tanya Arunika yang sedang sibuk membuka box martabak yang dibawanya, supaya sang adik bisa langsung makan.
“Deb Colector.”
“What the h*ll is that?!” kaget Arunika. “Kok mereka bisa tahu alamat ini, Bi? Kamu enggak diapa-apain sama mereka, ‘kan?” tanya Arunika retoris, netra hazelnut miliknya memindai tubuh sang adik lekat. Ia tahu sendiri bagaimana beringasnya para debcollector saat menagih hutang.
“I’am fine, Mbak.”
“Mereka nggak rusuh kayak terakhir kali, ‘kan?”
Lelaki muda itu menggeleng. “Enggak, Mbak. Mereka cuma minta kita balikin uangnya secepat mungkin. Mereka ngasih tenggat waktu sampai minggu depan.”
“Minggu depan?” kaget Arunika.
Bian mengangguk lemah. “Kalau Mbak belum ada uang, kita pakai uang itu dulu.”
Arunika menggeleng tegas. Uang yang adiknya maksud adalah uang simpanan Bian. Uang itu disimpan untuk biaya biaya pengobatan dan pendidikan. Tidak mungkin Arunika mengambilnya untuk menutupi hutang orang tua mereka. Selagi ia masih bisa bekerja, uang itu adalah hak Bian. Ia akan menggunakan cara lain untuk mendapatkan uang, tetapi tidak dengan menggunakan uang tersebut.
“Besok Mbak gajihan, Bi. Kamu tenang aja.”
“Apa uang Mbak cukup? Hutang kita banyak, Mbak.”
Arunika tersenyum tipis. Ia tahu sang adik khawatir, tetapi hutang-piutang yang ditinggalkan kedua orang tua mereka merupakan tanggung jawab mutlak Arunika. Ia sendiri bekerja keras siang dan malam selama ini untuk menutupi semua itu. Supaya sang adik tidak perlu khawatir soal hutang tersebut. Hutang itu bukan hak dan kewajiban Bian. Hak dan kewajibannya adalah belajar dengan giat, dan terus bersemangat melakukan pengobatan guna meraih kesembuhan.
“Kamu fokus aja sama kesehatan dan sekolah kamu, Bi. Biar Mbak yang kerja buat perekonomian kita.”
Semenjak peninggalan kedua orang tua mereka, Arunika mengambil alih posisi sebagai tulang punggung. Ia bekerja siang dan malam, mengabaikan cibiran orang-orang yang beranggapan jika ia bekerja sebagai wanita penghibur.
Arunika hanya ingin mengumpulkan pundi-pundi rupiah sebanyak mungkin, agar dapat segera melunasi hutang yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Setelah masalah hutang teratasi, Arunika akan fokus pada kesehatan sang adik. Karena Bian adalah satu-satunya alasan Arunika bekerja begitu keras selama ini. Bian adalah satu-satunya anggota keluarga serta harta berharga yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Oleh karena itu, Arunika akan berupaya semaksimal mungkin untuk melunasi hutang mereka, plus mengupayakan pengobatan terbaik bagi adiknya.
...🍄🍄...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
__ADS_1
...Tanggerang 01-12-22...