
Jika dipikir matang-matang, posisi Arunika memang bukanlah PHO atau perusak hubungan orang seperti orang luar bicarakan. Karena sejatinya Altar pria lajang yang bukan milik siapapun. Kedekatannya dengan mantan finalis putri Indonesia memang sempat membuat banyak pihak salah paham. Pun dengan santer terdengarnya perjodohan di antara mereka. Padahal Altar sama sekali tidak meng-iyakan semua pemberitaan itu.
Pria itu juga berulang kali mencoba membuat Arunika mengerti. Bahwa posisinya di sini berarti. Ia tidak merebut siapapun. Ia berhak atas Altar yang telah menjadi suaminya. Kendati memilih menyembunyikan pernikahan mereka, itu semua karena pinta Arunika. Ia belum siap jika dunia harus mengetahui status barunya.
Namun, siapa sangka jika kejutan telah menanti mereka berdua mereka kembali dari rumah sakit. Seorang wanita yang tampil menawan kenakan silk dress berwarna biru muda dari brand AVOUAVOU yang dibanderol dengan harga sekitar Rp17,9 juta rupiah tiba-tiba menyambut mereka. Ia duduk di salah satu sofa ruang tamu. Dengan raut wajah yang mencerminkan kesedihan, kekecewaan, serta penyesalan.
"A-rumi."
"Kalian menikah diam-diam di belakangku?" tanyanya to the point. Ada Anita yang mendampingi di sampingnya. Mencoba menenangkan titisan batari yang tampak kacau tersebut.
"Arumi, ini tidak seperti yang kamu pikir-"
"Kamu wanita tidak berperasaan, Aru. Kamu menikahi pria yang jelas-jelas aku cintai!"
Arunika membulatkan mata mendengarnya. Arumi mencintai suaminya? Wah, drama Queen sekali. Padahal Arunika masih ingat betul jika wanita itu menganggap pria yang sekarang menjadi suaminya seperti sampah. And then, ia berkata mencintainya?
"Bukannya kamu menganggap pria yang kamu cintai seperti barang yang layak kamu buang waktu itu?" tanya Arunika, berhasil membuat seisi ruangan bungkam. "Kamu menganggap dia tidak berguna karena dia kesulitan memiliki keturunan. Sekarang kamu menuduh aku tidak berperasaan? Woah, aku ingin tertawa terbahak-bahak mendengarnya."
Arunika tidak peduli jika ibu mertuanya ada di sana. Ia hanya ingin membeberkan sikap asli dari Arumi Soedibyo Joyokususmo yang sempat menjadi calon menantu idealnya.
"Aku menerima ajakannya menikah karena aku tidak berpikiran dangkal seperti kamu, Arumi. Cinta tidak mematok sebuah kesempurnaan," ucap Arunika. "Jika kamu mencintainya, seharusnya kamu tidak mematok kesempurnaan yang jelas-jelas tidak akan dimiliki manusia manapun termasuk Altar."
Arunika menarik nafas dalam, kemudian menghelanya perlahan. Ia larut dalam emosi karena wanita medusa yang bersembunyi dibalik image tuan putri.
"Asal kamu tahu, Arumi. Jika saja cinta kamu itu tulus tanpa syarat, mungkin sekarang bukan aku yang mengisi posisi istri Altar. Tapi, kamu."
"Kamu-" Arumi hendak berkata, tetapi Arunika kembali menyela.
"Mungkin ini sudah jalan takdir-Nya. Kamu dengan cinta bersyarat kamu itu, tidak bisa memiliki pria spesial seperti suamiku."
Di samping Arunika, Altar diam-diam merekam setiap kalimat yang terlontar dari bibir istrinya. Sungguh, hatinya dibuat menghangat setiap kali kalimat pembelaan meluncur dari bibir sang istri. Wanita itu tulus dengan perasaannya. Sungguh beruntung ia telah mendapatkan wanita seperti Arunika.
"Kamu cantik, Arumi. Terpelajar, berasal dari keluarga terpandang pula. Kamu pasti akan mendapatkan pria yang memenuhi syarat sempurna yang kamu patok. Jadi, aku harap kamu tidak mengusik kehidupan suamiku lagi. Dia sekarang milikku."
Setelah berkata demikian, Arunika menautkan jemarinya dengan milik Altar. Kemudian membawa pria itu pergi bersamanya menuju lantai atas. Samar-samar ia bisa mendengar tepuk tangan dari adik-adik iparnya--Aruna dan Arez--yang berada di dekat area ruang tamu. Entah dari mana pula ia mendapatkan keberanian untuk mengintimidasi keturunan batari. Kekutan itu datang begitu saja, saat sebagian jiwanya tak rela jika wanita itu membual soal cinta yang ia punya untuk suaminya.
"Huft."
Hembusan nafas kasar terdengar saat Arunika berhasil menutup pintu. Sekarang ia tidak perlu sok tangguh lagi, karena ia rasa sudah cukup membungkam Arumi.
"Apa?" tanyanya saat mendapati tatapan yang sulit diartikan dari sang suami.
Pria rupawan itu tak mengatakan sepatah kata pun semenjak tadi. Ia manut saja saat dibawa pergi oleh Arunika.
"Tadi itu apa?" tanyanya tiba-tiba.
"Gak tahu," jawab Arunika seraya mengedipkan bahu acuh. Ia juga tidak tahu kerasukan apa tadi.
"Aku baru tahu kamu bisa semenyeramkan itu."
Arunika tersenyum tipis. Dagunya terangkat. "Iya, dong. Memangnya dia doang yang bisa double face alias muka dua. Aku juga bisa," ujarnya bangga.
"Bagus."
"Bagus sih, bagus. But, ini tangannya jangan nakal ya!" Arunika menatap Altar was-was seraya mencoba melepaskan belitan lengan kokoh sang suami di pinggangnya. Ada rasa aneh yang berhasil membuat tubuhnya meremang.
"Mas mau ngapain, sih? Jangan aneh-aneh, ya! Ini masih pagi loh." Arunika menatap sang suami horor saat pria itu tak kunjung menjauhkan tangannya dari pinggang Arunika.
__ADS_1
"Terima kasih."
"Terima kasih buat apa?" bingung Arunika. Tiba-tiba suaminya itu mengucapkan terima kasih tanpa alasan yang jelas.
"Terima kasih karena sudah menerimaku dengan tulus."
Aruna speechless mendengarnya. "Coba ulang sekali lagi, Mas. Aku gak denger."
"Tidak ada replay. Cukup satu kali," ujar Altar, kembali pada mode datar.
"Ish, pelit amat."
Altar tersenyum tipis melihat sang istri mengerucutkan bibirnya kesal. Raut wajah wanita itu tampak menggemaskan di matanya.
"Aru."
"Hm?"
"Aku sepertinya menyukai kamu."
"A-pa?" ulang Arunika gagap.
Altar tersenyum tipis melihat keterkejutan yang tercipta di wajah cantik sang istri. Dengan perlahan, jemarinya menyusuri sepanjang garis wajah cantik tersebut. Masih menikmati kecantikan yang tersaji secara alami di hadapannya, tangan Altar bergerak meraih tengkuk belakang sang istri. Membisikkan kalimat yang membuat jantung sang istri kian meledak, ditutup dengan ciuman dalam yang tentu memabukkan.
...ππ...
"Mas udah, ya. Aku mau ambil minum dulu ke bawah."
"Hm."
"Hm, hm, doang dari tadi. Tapi, kapan dilepasin nya?"
Arunika memutar bola matanya malas. Sudah puluhan menit berlalu dan posisinya masih tertahan oleh pelukan posesif sang suami. Hari ini mereka libur bekerja dalam rangka cuti menikah. Altar sendiri yang mencetuskan ide tersebut. Oleh karena itu, Arunika hanya menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah mertua. Terutama di kamar sang suami, mengingat sekarang pria itu nempel terus seperti perangko. Arunika jika tidak tahu kenapa tiba-tiba Altar bersikap demikian.
"Kamu sudah salat?"
"Udah?" jawab Arunika bingung. Mendapati pertanyaan demikian, padahal tadi mereka salat Isya berjamaah sebelum makan malam. Apa Altar lupa?
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Bukannya tadi kita salat berjamaah? Mas lupa?"
Altar menggeleng. "Kalau aku minta sekarang, kamu mau?"
"Minta apa?" tanya Arunika bingung. Tak mendapati jawaban dari sang suami, ia kemudian melirik jam yang berada di atas nakas.
Awalnya mereka memang ikut bergabung dengan anggota keluarga lain di ruang santai. Mengobrol seraya menikmati kudapan manis seperti pasta kacang merah dan kue bulan buatan ibu Mertua. Sebelum Altar menculiknya, kemudian mengurungnya di atas tempat tidur.
"Minta hak sebagai seorang suami."
Arunika menelan saliva susah payah mendengar suara deep bass itu mengalun tepat di telinganya. Posisinya sekarang adalah tidur menyamping dan dipeluk posesif dari belakang oleh Altar. Seolah-olah pria itu tak akan membiarkan Arunika beranjak kemana pun.
"Kamu belum siap?" tanya Altar, sadar akan tubuh sang istri yang tiba-tiba menegang.
"Harus sekarang banget, ya?"
"Hm."
"Wajib?"
__ADS_1
"Hm."
"Ini masih sore loh, Mas?"
Altar melepaskan tawa. Tawa yang membuat Arunika refleks menoleh. Pemilik netra hazelnut itu terpesona akan apa yang dilihatnya sekarang. Sajian wajah sang Adonis yang tampak tertawa lepas. Tanpa ada gurat-gurat serius yang biasa tampak di sana.
Kapan lagi ia melihat suaminya yang datar dan dingin seperti kulkas dua pintu itu tertawa lepas, coba?
"Mas, kamu sehat, kan?" tanyanya seraya menyentuh rahang kokoh sang suami.
Alih-alih menjawab, Altar malah kembali melontarkan pertanyaan. "Memangnya kenapa kalau sekarang masih sore, Aru? Ini sudah hampir pukul sembilan malam, apa salahnya jika kita melakukannya sekarang?"
Gerakan Arunika tertahan di rahang kokoh sang suami. Wajahnya langsung memerah kala mendengar ucapan frontal sang suami.
"I-tu, yang lain, kan, masih belum tidur...." ayo berpikir Aru. Berpikir yang logis, lanjutnya di dalam hati.
"Aku cuma tanya, kamu sudah siap atau belum? Jangan merisaukan anggota keluarga yang lain, lagi pula ruangan ini kedap suara." Altar tersenyum tipis setelah mengatakannya. Ia tahu jika sang istri pasti gugup.
Tanpa sadar, kalimat itu malah kian membuat wajah sang istri tambah merah. Membuat Arunika menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Altar kian tersenyum kebar mendapati sang istri yang malu-malu kucing. Padahal usianya sudah 26 tahun, tetapi tingkah lakunya saat malu sama seperti gadis kecil yang baru mengenal cinta.
"Jadi, mau atau tidak?" tanyanya sekali lagi, menuntut jawaban yang pasti.
Arunika tidak menjawab. Namun, yang pasti saat ini ia tidak mungkin pula menolak. Mengingat sekarang sekarang ia adalah seorang istri yang memiliki tugas memenuhi kebutuhan sang suami. Lambat-laun mereka juga pasti akan melakukan hubungan suami istri. Jadi, Arunika putuskan untuk memberikan anggukkan kepala sebagai jawaban. Ia yang sudah lama tidak menjalin asmara, sejatinya juga merindukan perhatian seorang pria yang mampu memerlukannya seperti wanita yang dicintai.
Mendapati lampu hijau dari sang istri, Altar merunduk. Senyum kini tercipta di bibirnya.
"Terima kasih."
Setelah berkata demikian, Altar merangkum wajah sang istri perlahan, meraih bibir ranum milik wanitanya. Menciumnya perlahan, menikmati setiap sesapan yang ia berikan. Membagi setiap cita rasa yang tercipta dengan wanita yang ada dalam dekapan.
Seiring dengan berjalannya waktu, ciuman lembut penuh perasaan itu kian menuntut. Altar menumpahkan dahaganya setelah berpuasa sekian lama. Ia mel*mat habis bibir ranum milik sang istri. Menciptakan gelenyar hebat yang menghidupkan gelora di masing-masing rongga dada.
Arunika sendiri hanya menerima dengan baik tanpa ikut berpartisipasi. Ini adalah ciuman ketiga mereka. Ciuman pertama mereka pasca resmi menyandang status suami-istri. Ciuman terpanas yang pernah Arunika dapatkan pula. Harus ia akui jika suaminya itu really good kisser.
Arunika memang pernah dicium oleh mantan kekasih terdahulunya, namun cuma sebatas kecupan di kening. Tidak pernah ada yang menciumnya di bibir, karena sejatinya first kiss-nya telah direnggut oleh pria yang sekarang menjadi suaminya. Ia yang begitu terhanyut dalam ciuman sang suami, baru sadar jika pria itu mendesak masuk. Karena tak kunjung membuka bibir, Altar menggeram kecil. Arunika sejatinya noob soal kissing. Kendati ia sendiri sering kali hilir mudik di club night yang notabene tempat yang lumrah dengan gemerlap dunia malam. Jadi, saat dicium seperti itu ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Ini bukan ciuman pertama kita. Kenapa kamu tegang sekali?" tanya Altar dengan suara serak kala ciuman mereka terlepas. Jelas sekali jika ia sudah mati-matian menahan akhwat nya.
"A-ku gak tahu harus apa, Mas," jawab Arunika kikuk. "K-amu orang yang nyuri first kiss aku. Sekarang kamu cium aku kayak gini."
Altar terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka jika ciuman kala di pulau Dewata saat itu adalah first kiss Arunika. Ada lega juga bahagia mendera dada saat tahu ia adalah pria pertama yang berhasil mencuri first kiss sang istri.
"Relaks, ikuti saja perlahan-lahan." Altar berujar seraya menyentuh permukaan bibir ranum sang istri yang tampak basah. Ia kemudian kembali merunduk, melabuhkan satu ciuman dalam lagi.
"Balas ciumanku, Aru."
Arunika mengikuti instruksi sang suami. Ia mulai ikut berpartisipasi walaupun dengan ragu-ragu. Hal itu tentu saja membuat Altar semakin bersemangat. Entah sejak kapan pula, posisi mereka berganti. Yang pasti, sekarang Altar telah mengurung tubuh mungil sang istri di bawah kukungan lengan kokohnya.
Arunika rasa jantungnya sudah hampir meledak saat wajah Adonis di hadapannya kembali menawan bibirnya dengan l*m*tan-l*m*tan memabukkan. Bahkan lidahnya sudah ikut membuat mabuk kepayang. Membuat Arunika hanyut dalam buaian nafsu yang kian bergelora. Menciptakan gejolak hebat yang melilit perut.
Tugas Arunika hanya membiarkan Altar mengajari, menuntun, juga membawanya menuju kenikmatan surga dunia yang akan direnggut bersama. Ia hanya bisa pasrah, mengikuti juga menikmati semua kenikmatan sang suami ciptakan. Membuat suasana di ruangan ber-AC itu panas juga ribut oleh suara erangan penuh kenikmatan hingga pagi menjelang.
...ππ...
...TBC...
...Semoga suka π€...
__ADS_1
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π...
...Tanggerang 15-12-22...