Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
14. Live a Life You Will Remember


__ADS_3

Suara musik yang cukup menggema di area bar/lounge benar-benar menambah ramai suasana. Banyak pelancong dari dalam hingga luar negeri yang tampak menikmati suasana. Arunika tidak terlalu ingat kapan terakhir kali mengunjungi Bali, mungkin 4-5 tahun yang lalu. Saat perekonomian keluarganya masih baik-baik saja. Waktu itu ia datang ke sini karena menghadiri pernikahan anak rekan bisnis ayahnya. Tetapi, ia tidak menginap di The Legian, melainkan di Ayana Resort & Spa yang berlokasi di Sejahtera, Jl. Karang Mas, Jimbaran.


Hotel tersebut juga tidak kalah mewah nan megah. Berlokasi di dekat tebing yang memiliki akses langsung ke pantai tradisonal Bali. Ayana Resort & Spa juga berada di tempat yang cukup terpencil dan jauh dari hiruk pikuk keramaian para penduduk Bali.


“Kamu benar-benar mau tampil di sini?”


“Iya. Mau banget, Pak.”


Altar berdehem kecil saat wanita cantik pemilik netra hazelnut itu menunjukan raut penuh binar keinginan. “Kebetulan kenalan saya yang bertanggung jawab di sini?”


“Demi apa! Bapak nggak bohong, ‘kan?”  tanya Arunika heboh.


Jiwa penghiburnya semakin kuat meronta-ronta. Apalagi semakin larut semakin banyak pengunjung yang datang. Rasanya jemarinya gatal ingin sekali menyentuh peralatan DJ.


“Hm.”


“Kalau begitu boleh kenalin sama saya tidak, Pak? Saya mau ikutan menyumbang lagu.”


“Kamu pikir di sini acara hajatan?” Altar  menatap sang sekretaris tak habis pikir.


Arunika pikir tempat ini orkes organ tunggal alias dangdutan? Bukanlah. Ini tempat ternama, di mana setiap unsur yang mejadi bagian pengisi acara, waiters ataupun bartender sekalipun telah diberikan sertifikasi. Karena tamu-tamu yang mereka layani bukan saja pelancong dari dalam negeri, nama juga luar negeri.


“Tunggu di sini sebentar.” Altar berucap sembari beranjak dari posisi duduknya. Arunika yang masih setia duduk di tempat mengangguk patuh. “Jangan pesan minuman apapun yang mengandung alkohol.”


Lagi, Arunika mengangguk patuh.


“Kalau bisa kamu jangan pesan apapun selagi saya belum datang.”


“Dasar pelit!” gerutu Arunika di dalam hati. “Iya, Pak.”


“Saya cuma pergi sebentar, jangan membuat masalah,” pesan Altar untuk terakhir kali.


“Iya.”


Arunika menatap kepergian pria tersebut dengan bola mata yang memutar jengah. Ia berasa menjadi anak SMA yang kemana-mana harus ditemani. Ia ini sudah berusia 26 tahun. Bisa jaga diri sendiri. Altar tidak perlu khawatir ataupun risau, lagi pula Arunika ini pandai menemukan jalan keluar jika terlibat masalah.


Baru saja ditinggal beberapa menit oleh Altar, dua ‘nyamuk besar’ datang mendekat. Arunika menyambut keduanya dengan senyum ramah. Tidak mungkin langsung usir bukan? Nyamuk juga kalau mau ditepuk harus di biarkan mendekat terlebih dahulu. Terkadang Arunika salut dengan nyamuk. Hewan itu mati dengan sorak-sorai heboh diiringi tepuk tangan meriah, bukannya suara tangis.


“Drink?” tawar salah satu ‘nyamuk’ tersebut.


“No, thanks.” Arunika menolak dengan halus.


Ia masih ingat betul pesan bapak Altar di kepalanya. Tunggu di sini, jangan pesan apapun, dan jangan membuat masalah. Apa menerima kehadiran ‘nyamuk-nyamuk’ ganteng di hadapannya adalah masalah yang Altar wanti-wanti?


“Mau turun ke dance floor?” usul salah satunya. Keduanya duduk di samping kanan dan kiri Arunika. Arunika sebenarnya risih jika posisi mereka begini.


“No, thanks. Aku sedang menunggu seseorang.”


“Your boyfriend?”


“Who?”


Tanya keduanya bersamaan. Arunika tersenyum pongah. Kedua ‘nyamuk’ bule itu cukup agresif untuk ukuran orang asing yang baru bertemu beberapa menit. Alarm tanda bahaya di otak cantik Arunika mulai waspada.

__ADS_1


“What are you doing here?”


Kedua ‘nyamuk’ itu menoleh bersamaan saat mendengar ada suara deep bass yang menyapa indra pendengaran mereka. Seorang pria bertubuh tinggi, tegap, dan memiliki aura mengintimidasi yang kuat tengah menatap keduanya bergantian dari arah samping.


“She’s mine.”


Cukup satu kalimat, dan mampu membuat dua ‘nyamuk’ berdarah western itu melakukan jargon kang parkir, mundu, mundur, mundur.


“Apa yang tadi saya ucapakan? Kamu tidak dengar?” sembur pria rupawan tersebut.


Arunika nyengir kuda. “Itu nyamuk-nyamuk datang sendiri, Pak. Orang aing—eh saya maksudnya, lagi duduk santai di sini.”


Altar menghela nafas gusar. Baru saja ditinggal beberapa menit, wanita ini hampir saja lost ke tangan buaya kembar. Altar tidak habis pikir dengan pesona sekretarisnya ini. Padahal Arunika hanya duduk dan berdiam diri. Apalagi jika nanti tampil di panggung.


“Jadi bagaimana, Pak? Saya dibolehin perform?”


“Hm.”


“Hm itu, iya atau tidak?”


Antar beringsut dari duduknya. Entah-berantah dari mana pria itu mendapatkan topi hitam dengan logo centang yang kini sudah ia letakkan di atas kepala Arunika. Arunika yang mendapatkan perlakuan demikian tentu saja menautkan kening.


“Kamu boleh tampil, asalkan jangan jauh-jauh dari saya.”


Senyum Arunika terbit. Buncahan bahagia menggelora di rongga dada. Pada akhirnya ia bisa juga menyalurkan hasrat bermusiknya. Walaupun ya, harus ada syarat yang berlaku. Namun, bagi Arunika itu bukanlah perkara yang sulit.


Ketika putaran musik yang dilantunkan berakhir, suara dari microphone MC terdengar memberikan informasi perihal performance sumbangan. Arunika sudah bersiap di belakang panggung. Kedua tangannya tidak berhenti-henti bertautan saking senangnya. Ketika namanya yang diganti dengan Anonim DJ yang berarti DJ tanpa nama, Arunika menaiki panggung. Altar sendiri tetap menunggu di dekat panggung. Memperhatikan dengan seksama bagaimana wanita cantik itu menyalurkan hasrat bermusiknya lewat seperangkat alat mixing serta kawan-kawannya.


Dari tempatnya berdiri, Altar menyaksikan sendiri bagaimana Arunika bersenang-senang dengan dunia musik yang ia ciptakan. Wanita itu tampak lepas, terbang dengan bebas di antara untaian-untaian nada yang harmonis. Tidak seperti ekspresinya jika sedang bekerja, ketus, suka menggerutu, kadang innocent, terkadang juga aneh.


“Aduh, saya puas banget perform tadi, pak.”


Kalimat yang terdengar dari suara agak parau itu berhasil membuat Altar menoleh.


Mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju kamar. Arunika baru saja menyelesaikan performance-nya setengah jam yang lalu. Karena kepiawaiannya yang memukau, tiba-tiba Arunika banjir relasi pertemanan. Banyak pengunjung yang menyapanya saat turun dari panggung. Sebagian besar dari mereka bahkan meminta mutualan akun Instagram, ID Line, hingga kontak WhatsApp.


“Jujur sama saya, kamu minum apa tadi?” tanya Altar dengan suara datar.


Kedua tangannya bersinergi untuk memapah Arunika. Wanita itu tampak berjalan sempoyongan efek minuman beralkohol yang ia tenggak. Entah sengaja atau tidak, karena pada saat itu Altar tengah pergi ke kamar kecil.


“Ahh, minum apa, ya? Cairannya kuning gitu, rasanya ada manis-manisnya, tapi sepet juga di tenggorokan. Tenggorokan saya jadi sakit, kayak habis nelen bensin sejeligen.”


Altar menautkan alis mendengarnya. “Memangnya kamu pernah minum bensin?”


“Enggak. Bensin itu apaan sih, BBM bukan?” racau Arunika tidak jelas.


“Ya Tuhan, kenapa kamu selalu menyusahkan saya saat hilang kesadaran?” Altar beralih meraih tubuh Arunika agar dapat ia gendong ala bridal style.


“Aduh, nge-fly nih saya, Pak.”


“Apa?”


“Iya, nge-fly nih. Berasa lagi jadi sekretaris Kim.” Arunika meracau sembari mendusel-dusel dada bidang Altar yang kini tersaji untuknya. Mencari posisi ternyaman dalam gendongan tersebut.

__ADS_1


“Sekretaris Kim? Saya tidak pernah mendengar nama itu di kantor. Siapa dia?”


“Ohh, itu tuh Sekretaris yang ada di k-drama what wrong with secretary Kim. Bapak kudet ih.”


“Maaf. Saya benci drama. Baik itu dalam real life maupun televisi.”


“Gimana, pak?” Arunika bertanya sembari menggerak-gerakan kelopak matanya yang sudah ½ enggan terbuka.


“Sudah, jangan banyak bicara. Berikan key card kamar kamu,” ujar Altar saat mereka sudah tiba di depan kamar Arunika.


“Key card itu apa, pak? Sejenis umbi-umbian?”


Altar memejamkan matanya guna meresapi gejolak emosi yang tiba-tiba datang. Salahnya juga karena tadi membiarkan Arunika sendirian lagi. Jadi sekarang begini. Ia terjebak dengan wanita yang sedang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


“Kunci kamar kamu, Arunika.”


“Ohh, itu. Ada di slim bag saya, pak.”


Altar melirik slim bag milik Arunika. Merogoh benda tersebut dengan susah payah, setelah menurunkan Arunika untuk sejenak.


“Tidak ada.”


Ia menoleh kepada sang sekretaris yang tengah duduk di depan pintu dengan keadaan setengah sadar.


“Nginep aja deh di kamar Bapak. Ngantuk nih, matanya kayak udah dikasih lem,” jawab Arunika enteng.


Altar mendengus tidak suka. Kok bisa, ada wanita yang orientasi terhadap alkoholnya rendah, tetapi tetap berani keluar masuk tempat hiburan malam?


Dan, apa katanya barusan? Menginap di kamar Altar? Tidak salah? Altar itu masih pria normal loh. Punya nafsu terhadap wanita. Apalagi wanita tidak berdaya modelan Arunika.


“Yuk, tidur ih. Bi, aku mau tidur, ngantuk.” Arunika meracau semakin tidak jelas.


“Bi siapa? Kamu kira saya Bian pacar kamu itu?” tanya Altar sembari menatap Arunika tajam.


“Bian, ayo ih. Ngantuk.”


Altar mengatupkan rahangnya kesal. Detik berikutnya ia meraih key card kamarnya yang kebetulan berada di samping kamar Arunika. Membuka pintu lebar-lebar, sebelum membawa tubuh setengah sadar itu masuk.


“Saya tidak suka disamakan dengan orang lain. Baik itu dalam keadaan sadar ataupun tidak,” bisik Altar saat menurunkan tubuh mungil Arunika di atas tempat tidur.


Ia pria normal yang punya ego dan perasaan. Siapa juga yang mau dikira orang lain saat dimintai pertolongan. Big no.


Apalagi Altar paling tidak suka jika disama-samakan dengan Bian-Bian yang katanya pacar sekretarisnya itu. Jadi, biar Altar beri sekretarisnya itu sedikit hukuman sebagai peringatan.


...🍄🍄...


...TBC...


...Semoga suka 😘...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


...Tanggerang 29-11-22...

__ADS_1


__ADS_2