
“Mbak nggak kerja?”
Wanita yang baru saja menuangkan air mineral dingin ke dalam gelas bening itu menoleh. “Memangnya kenapa kalau Mbak nggak kerja, Bi?”
“Nggak biasanya aja,” jawab anak laki-laki berseragam SMA yang baru saja mengeluarkan roti pisang dengan taburan chocolate chips dari dalam oven itu.
“Kamu buat roti untuk siapa, Bi?”
“Ah, ini untuk teman. Dia nggak suka makanan manis, tapi kali ini aku pakai gulanya sedikit. Semoga aja dia suka. Katanya pisang itu baik untuk ibu hamil.”
“Temen kamu hamil? Temen yang mana, Bi?” wanita yang masing mengenakan kaos oblong dengan bawahan celana ½ paha itu bertanya antusias.
Bian itu masih SMA. Teman mana yang ia maksud tengah berbadan dua? Married by accident, kah? Kenapa juga sang adik harus repot-repot membuatkan roti pisang? Atau jangan-jangan, Arunika langsung beralih menatap sang adik lekat.
“Kamu nggak hamilin anak orang, kan, Bi? Masa kamu nggak tahu gunanya pengaman? Itu loh, yang suka ada dijajaran rak paling depan di meja kasir minimarket. Katanya kamu pinter, juara kelas, juara paralel, masa gunanya pengaman nggak tahu, Bi?” tanya Arunika bertubi-tubi.
Lelaki yang mendapatkan berondongan pertanyaan itu malah tertawa geli. Tangannya dengan telaten memindahkan kue buatannya ke dalam box.
“Dia memang dihamili.”
“Astagfirullah, Bi. Kok kamu bisa kebobolan gitu? Kalau kamu nikah sekarang, gimana sama sekolah kamu? Mau dikasih makan apa anak sama istrimu, Fabian Arian?”
Arunika menguyar rambutnya frustasi. Masa adiknya tiba-tiba nikah muda, kemudian putus sekolah. Mau dikasih makan apa anak dan istri Bian nanti? Cinta? Memangnya kalau lapar makan cinta bisa kenyang? Enggak. Yang ada malah busung lapar.
“Mbak ini fantasinya kejauhan. Dia hamil karena ada suaminya,” ucap Bian meluruskan. “Dia udah nikah kok bulan lalu. Sekarang lagi hamil.”
“What? Really?”
Bian menganggukkan kepala. “Cobain dulu roti pisangnya, Mbak. Enak nggak?”
Arunika menghembuskan nafas lega sembari mengangguk. Padahal tadi pikirannya sudah berkelana kesana kemari, tapi semuanya cuma imajinasi. Karena kenyataannya bukan yang ia prediksi.
“Enak. Always good.”
Arunika berkomentar dengan jujur. Roti buatan adiknya itu memang tidak pernah gagal, apalagi bantet. Adonannya sempurna, mengembang dengan sempurna. Takaran kemanisannya juga pas. Tidak kemanisan, apalagi sampai membuat enek.
“Ngomong-ngomong, temanmu itu sekarang masih sekolah, Bi? Dia, kan, lagi hamil?”
“Dia homeschooling. Les juga sama aku.”
“Owh, anak les mu.”
Bian mengangguk sembari memisahkan roti pisang yang telah ia tata dengan cantik.
“Iya. Namanya, Anye. Mbak juga kenal, ‘kan?”
“Wait,” Arunika mengangkat jemari telunjuknya ke hadapan bibir sang adik. “Anye yang mana?”
“Anye yang dulu tetanggaan sama kita pas tinggal di Sukabumi.”
Arunika menggali memorinya ke beberapa tahun silam. Ia memang lahir di kota Pasundan, besar juga di sana. Tapi, apa yang dikatakan oleh adiknya memang benar juga. Mereka sempat tinggal di kota Sukabumi, mungkin beberapa tahun. Sebelum pindah lagi. Hidup mereka memang sempat nomaden karena menghindari kejaran para debcollector.
“Oh, Anye yang cantik itu? Yang bule bukan, sih? Rambutnya brunette.”
Bian mengangguk.
“Wah, bukannya dia itu first love kamu, Bi?”
Bian menggaruk tengkuk dengan gerakan kikuk. Hal itu bisa Arunika simpulkan sebagai gerakan salah tingkah.
“Apaan sih, Mbak. Kita cuma temenan. Lagian dia juga sudah punya suami.”
“Memangnya kamu kalah ganteng dari suaminya, Bi? Kenapa adik Mbak jadi letoy gini? Alamat jadi sad boy dong.” Arunika melipat tangan di depan dada sembari menatap sang adik.
Adiknya itu perfect loh untuk ukuran remaja SMA. Pintar masak, rajin bersih-bersih rumah, mandiri, jenius, baik hati, attitude & manner-nya juga bagus. Boyfriend material banget pokoknya. Tapi, sayang karena saking baiknya ia jadi sering patah hati.
“Bukan kalah di tampang aja, mbak. Dari segi fisik, psikis, sama finansial juga Bian kalah.”
__ADS_1
Arunika bisa melihat raut wajah sang adik yang berubah sendu.
“Dia pria dewasa yang berani bertanggung jawab, siap secara mental, sehat secara fisik, nggak penyakitan kayak Bian. Dia juga punya penghasilan tetap.”
“Kamu juga nanti bakal begitu, Bi. Kamu pinter, bakal sehat, bakal jadi pria yang hebat, bakal punya pekerjaan dan penghasilan yang tetap.”
“Iya, Mbak. Kalau Bian masih kuat bertahan.” Seulas senyum terbit di bibirnya.
“Hus. Gak baik bilang gitu. Kalau kamu nggak bertahan, buat apa mbak banting tulang siang dan malam? Ini semua mbak lakukan buat biaya pengobatan kamu. Biar kamu bisa sehat dan hidup normal seperti temen-temen sebaya kamu di luar sana.”
Arunika tersulut emosi. Emosinya tiba-tiba bergejolak saat sang adik menyinggung soal sakit yang ia derita. Demi Tuhan, Arunika tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya Bian yang dia punya. Ia tidak suka jika lelaki itu bicara soal keinginan untuk menyerah. Arunika bekerja siang dan malam, mulai dari kerja kantoran hingga berpindah-pindah club malam, semua itu dilakukan agar dapat membiayai pengobatan sang adik.
“Maaf, Mbak.”
“Mbak nggak butuh maaf kamu, Bi. Mbak cuma mau kamu semangat buat jalanin semua ini. Ada mbak, jangan khawatir. Kita lewati semua ini bersama-sama.”
Pembatas kaca itu pecah, membuat lelehan lava bening berjatuhan dari kelopak mata. Arunika tipikal orang yang jarang menitihkan air mata. Air matanya terlalu berharga hanya untuk hal-hal sepele. Ia akan menitihkan kristal bening tersebut di saat hatinya takut kehilangan suatu yang ia anggap sangat berharga.
“Don’t crying, Mbak. Bian sedih kalau lihat mbak gini. Cuma mbak yang bian punya di dunia ini.”
Arunika semakin tergugu. Sepulang dari pulau Dewata, Bali, perasaanya memang menjadi mudah sensitif. Seperti saat ini contohnya. Sembari memeluk tubuh sang adik, ia menumpahkan segala luka yang telah dibendung selama ini. Soal kejadian yang membuatnya shock saat di Bali, hingga debcollector yang tiba-tiba muncul kembali.
Ditambah soal sang adik yang ikut memicu gejolak emosi. Arunika hanya wanita biasa, bukan wonder women. Ia termasuk mahluk yang perasa. Namun, pandai dalam menyembunyikan semuanya dibalik topeng happy virus. Padahal jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, banyak luka yang terbuka.
“Belajar yang bener, hati-hati bawa motornya,” pesan Arunika.
Lelaki yang sedang menggunakan helm full face itu mengangguk. “Iya, Mbak.”
“Jangan lupa—“
“—minum obat, makan siang, jangan jajan sembarangan. Kalau perut aku sakit, langsung hubungi, Mbak.” Bian tersenyum lebar setelah menyela ucapan sang kakak.
Arunika mengerucutkan bibirnya sebal menyaksikan kelakuan yang adik. Apakah saking saking seringnya ia berpesan, sampai-sampai Bian dapat hafal semuanya.
“Aku berangkat dulu, Mbak.”
“Hm. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut.”
Lambaian tangan Arunika berikan sebagai pengantar kepergian sang adik. Tanpa sadar, sebutir kristal bening lolos dari kelopak matanya. Buru-buru ia menyeka jejak-jejak lelehan kristal tersebut. Cukup dihadapan Bian saja ia terlihat lemah, tidak pada dunia. Karena Arunika tahu jika dunia itu sangat kejam.
Setelah mengantarkan Bian, Arunika kembali ke dalam rumah. Setibanya di bangunan yang memiliki 2 kamar tidur tersebut, ia terdiam di sofa lusuh dekat televisi. Ia bolos kerja untuk kedua kalinya dengan alasan sakit. Semua jadwal yang telah disusun, dilimpahkan pada asisten sementara yang bertugas meng-handle sebagian tugas Arunika. Arunika bukan sakit betulan, melainkan lebih kepada shocked berkepanjangan.
Ia masih shock dengan kejadian di Bali kala itu. Ia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana saat berhadapan dengan Altar. Padahal sudah jelas-jelas jika di sini Arunika hanyalah korban. Korban serangan dadakan yang membuat seluruh tubuhnya nge-freez.
Jangankan untuk menolak, apalagi berteriak, menggerakkan tubuh saja sukar. Kendati demikian, Arunika tidak bisa selamanya begini. Ia harus kembali bekerja mulai esok hari. Jika tidak, ia pasti akan menerima surat peringatan karena terus-menerus mengambil cuti.
“Psstt.”
Dua orang wanita yang tengah menikmati caramel macchiato dari starbuck depan itu tampak menengok kesana-kemari saat mendengar suara familiar, tetapi tidak tampak wujudnya.
“Lo denger nggak, Ling?”
“Denger. Kayak suara si Aru, tapi gak ada wujudnya.”
“Jangan-jangan si Aru—“
“Gue kenapa?”
Kedua wanita itu menoleh kontak saat mendengar suara familiar tersebut terdengar dari arah belakang. “Aru?!” ujar mereka kaget.
Si empunya nama tampak tertawa geli melihat ekspresi keduanya. “Kenapa lo pada? Kayak habis lihat setan aja.”
“Iya. Lo setan yang lagi cosplay jadi manusia,” jawab Rose sewot.
“Bikin jantungan aja lo, Ru.”
“Lagian lo pada, gue panggil dari tadi nggak nge-respon.”
__ADS_1
Arunika berjalan santai di antara keduanya. Wanita itu tampak tampil fresh dengan atasan berwarna salmon yang dipadukan dengan rok A-line warna hitam. Surai kecoklatan miliknya hari ini sengaja di kuncir kuda tinggi-tinggi.
“Udah sehat lo?” tanya Aling sembari menyentuh kening sang sahabat.
“I’am fine, friends. Gue udah sehat wal’afiat.” Arunika mengumbar senyum manis guna meyakinkan keduanya.
“Bagus deh lo udah masuk lagi, Ru,” ujar Rose yang diangguki persetujuan oleh Aling.
“Memangnya kenapa kalau gue udah masuk?”
“Noh, bos lo kurang belaian kasih sayang. Tau lo nggak masuk, semua anak divisi micro dilaser sama mata tajam doi.”
“Masa ah?” Arunika tersenyum keki.
“Kalau nggak percaya, cari tahu aja sendiri.”
Arunika mengedipkan bahunya acuh. Jika Altar marah-marah kepada anak divisi micro finance, apa urusannya? Arunika bukan pawang Altar.
Keturunan dajjal satu itu terkadang punya masalah dengan mood. Arunika saja sampai saat ini belum bisa berdamai dengannya. Bagaimana bisa ia menjadi pawang Altar?
Dengan langkah yang dibuat sepelan mungkin, Arunika mengendap-endap masuk ke ruangan yang tampak sunyi tersebut. Ia membawa coffe yang biasa dipesan Altar. Sebelum meminta, Arunika sudah berinisiatif membuat agar dapat meminimalisir pertemuan di antara mereka. Pria itu sepertinya sedang tidak berada ruangan. Terbukti dari sepi nan sunyi nya uangan tersebut.
“Kamu menghindari saya?”
“Astagfirullah,” Arunika terperanjat kaget bukan main saat mendengar suara deep bass tersebut mengalun di gendang telinga. Untung saja coffe yang ia bawa tidak tumpah.
“Anu, Pak,” Arunika bergerak gelisah sembari berbalik badan agar dapat menghadap si pemilik suara.
“Kamu tidak masuk kerja untuk menghindari saya, Arunika?”
“Saya sudah meminta izin untuk cuti sakit, Pak,” jawab Arunika sambil menunduk. Takut jika tatapan mereka bertemu. Ia belum siap menghadapi sang atasan.
“Kamu sakit?”
“I—ya, Pak.”
“Apa karena waktu itu?”
Arunika kontan menggelengkan kepala. “Bukan, Pak.”
“Lalu kenapa? Kamu baik-baik saja saat kita berpisah.”
Arunika kehabisan akal. Apa yang harus ia jawab sekarang?
“Saya—“
“Kamu menghindari saya. Menghindari semua kontak yang saya bangun untuk menghubungi kamu.”
Arunika mendongkrak. Apa yang pria itu katakan memang benar adanya. Dua hari ini ia sengaja memutuskan semua kontak yang berhubungan dengan Altar. Arunika hanya bertukar surel dengan sekretaris pengganti jika diperlukan. Semua itu ia lakukan karena ingin menghindari Altar. Untuk sejenak, Arunika ingin menenangkan diri.
“Kamu marah?” pria itu kembali menyuarakan pertanyaan. Mendesak jarak di antara mereka hingga menyisakan sedikit jarak. Tubuh Arunika sekarang sudah mentok ke pinggiran meja.
Arunika tidak marah. Hanya saja apa yang pria itu lakukan terlalu jauh. Arunika shocked. Ciuman itu membawa seberkas percikan di hati. Percikan yang lambat lain dapat menimbulkan kobaran api.
“Pak, jangan begini. Tidak enak jika ada yang melihat. Takutnya timbul fitnah.”
“Kamu marah sama saya?” desak Altar.
Arunika menggeleng sembari menaikkan kepala. “Tidak, Pak. Saya—“ kalimat Arunika terpotong oleh suara pintu yang terbuka, diiringi suara benda jatuh yang cukup nyaring kemudian.
Altar menoleh sembari menggeser kan tubuh, secara tidak langsung memberi Arunika space untuk melihat siapa gerangan pencipta suara gaduh tersebut. Di ambang pintu seorang wanita cantik dengan terusan berwarna soft pink berbahan satin berdiri mematung. Tatapannya mengarah pada Arunika dan Altar. Detik itu pula batin Arunika merutuki diri sendiri karena telah berani bermain-main dengan api.
...🍄🍄...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
__ADS_1
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 29-11-22...