
"So, lo lagi hamil? terus nggak ngasih tau kita?"
"Bukan nggak ngasih tau, cuma belum aja," jawab wanita cantik yang sedang mengoleskan lipstik dengan warna yang cocok dengan warna alami bibirnya. "Gue juga baru tahu, sehari sebelum suami gue pergi ke Singapura."
"Pantesan waktu itu lo bad mood banget," sahut lawan bicaranya. Namun bukan Aling, melainkan Rose. "Gue paham perasaan lo."
Arunika menganggukkan kepala seraya membenarkan tatanan wajahnya, terutama pada bagian bibir. Perkara bertemu sang suami lima menit saja, dandanannya yang alakadarnya harus di-touch up ulang.
"Btw, di kantor gimana? pasti pada ghibahin gue, ya?"
Aling dan Rose mengangguk dengan kompak. Mereka berdua diberi cuti setengah hari oleh Altar, karena hampir seminggu ini Arunika dilarang keluar rumah. Jangankan pergi ke kantor, keluar dari unit apartemen yang menjadi tempat tinggalnya semenjak menikah saja, ia tidak diperbolehkan. Hal itu dilakukan karena Arunika sempat mengalami flek, serta kondisi tubuhnya drop pasca insiden dilabrak Coryssa.
Padahal Arunika awalnya merasa tidak kenapa-kenapa. Namun, siapa sangka jika tubuhnya memberikan respon berbeda. Menurut dokter yang menanganinya, flek bisa terjadi karena berbagai kemungkinan. Altar sempat overthinking. Pria itu takut istrinya mengalami iritasi serv*ks. Iritasi ini biasanya muncul setelah berhubungan seksual saat hamil, pemeriksaan serv*ks oleh dokter atau bidan, dan infeksi. Padahal ia tidak menggagahi istrinya semenjak dinyatakan tengah berbadan dua.
Namun, menurut penjelasan dokter, Flek bisa terjadi selama masa kehamilan terutama di trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Dokter yang biasa menangani Arunika kemudian melakukan pemeriksaan fisik disertai pemeriksaan penunjang seperti USG, untuk memastikan ibu dan janin dalam keadaan baik-baik saja.
Selain penanganan medis, Arunika juga dianjurkan untuk bad rest atau istirahat di tempat tidur, membatasi aktivitas sehari-hari dan aktivitas fisik, tidak mengangkat benda berat, dan menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan mengonsumsi banyak air putih. Oleh karena itu, Altar memintanya untuk tetap tinggal di rumah.
"Fifty-fifty," jawab Rose. Salah satu lambe turah fenomenal di D'A Cooperation. "Lima puluh persen nyinyir, sisanya mengiri," lanjutnya, meluruskan.
"Itu wajar sih, Ru. Kita 'kan tau sendiri kalau suami lo itu incaran para betina. Secara cuma suami lo yang masih lajang, disaat yang lain udah sibuk gendong anak."
Arunika tersenyum tipis seraya menutup pouch make up miliknya. Siang ini ia sudah mengantongi izin untuk keluar apartemen, namun hanya diperbolehkan makan-makan cantik di cafe. Itu pun dengan syarat tambahan harus kirim foto setiap satu jam sekali.
"Kita juga usahanya udah nggak nanggung-nanggung. Tapi, Allah baru menitipkan rizkinya sebulanan ini rahim gue," ujar Arunika tiba-tiba. "Gue awalnya memang takut buat go publik, tapi gue sempet bilang kalau mau go publik kalau seandainya ada kecebongnya yang jadi." Arunika tersenyum semakin lebar saat bayangkan wajah tampan suaminya yang sedang merajuk. "Ehh, ternyata ucapan itu adalah doa. Kita akhirnya dikaruniai satu rizki luar biasa dari sang ilahi."
"Alhamdulillah," sahut Rose dan Aling.
"Gue udah kangen suasana kantor. Besok kayaknya gue masuk kerja deh."
__ADS_1
"Memangnya laki lo kasih izin?" Aling bertanya seraya melepaskan kacamata.
"Kasih lah, nanti gue rayu dia kalau nggak ngasih izin." Arunika mengedipkan matanya jenaka. Soal merayu Altar, ia jagonya.
"Bisa banget lo mainnya. Untuk laki lo udah bucin kuadrat," ujar Rose seraya terkekeh.
Arunika terkekeh kecil mendengarnya. "Suami gue memang bucin."
ππ
Arunika tahu betul resiko apa yang harus ditanggung ketika ia menjadi istri Altar. Termasuk resiko tentang hidupnya yang mendadak jadi pusat perhatian. Eksistensi nya di kantor jadi begitu mencolok, hanya karena sekarang mereka tahu jika ia adalah istri dari CFO D'A Cooperation sekaligus mantan Presdir atau Presiden Direktur.
Semenjak menginjakkan kaki di lobby D'A Cooperation setelah cuti satu Minggu, Arunika langsung disambut dengan sapaan hangat dan tundukkan kepala hormat. Alih-alih senang, ia malah jadi sungkan sendiri diperlakukan demikian.
Setibanya di ruang kerja miliknya, Arunika juga disambut oleh beberapa bouquet bunga, coklat, serta bingkisan lain dengan kartu ucapan yang menyampaikan ucapan selamat. Di depan gedung kantor D'A Cooperation juga berjejer rapih beberapa karangan bunga yang semua menuliskan ucapan selamat.
"Ngucapin nya telat banget," lirihnya. Ini sudah satu tahun, bahkan beberapa Minggu lai ia akan merayakan anniversary yang pertama bersama sang suami. Jadi, mereka tidak perlu mengucapkan selamat sampai segitunya.
Arunika mengangkat pandangan. Ia menemukan wanita muda bernama Alura yang berprofesi sebagai asisten magang untuk sang suami.
"Kamu juga, kenapa jadi manggil Ibu, sih? biasanya juga Mbak," protes Arunika.
"Waktu itu 'kan aku belum tahu status Ibu yang sebenarnya."
Arunika geleng-geleng kepala mendengarnya. "Panggilan Mbak aja, Ra. Kalau panggil Ibu, kesannya kayak aku bukan Ibu kamu."
Alura tersenyum kikuk seraya mengangguk. Ia juga tak lupa mengucapkan selamat atas pernikahan serta kehamilan Arunika.
"Bapak dimana, Ra?"
__ADS_1
"Sir Altar sedang mengunjungi ruang COO, Mbak."
"Oo," sahut Arunika, ber-oh ria. "Aku pikir dia ke ruangan adiknya."
"Tadi sempat ke ruangan Sir Arez, tetapi Sir Arez sedang meeting di luar."
Arunika manggut-manggut di tempatnya. Perhatian wanita yang sedang hamil muda itu lantas teralihkan pada barang bawaan Alura. Beberapa paper bag dengan logo brand pakaian serta sepatu ternama.
"Kamu habis belanja, Ra? barang bawaan mu banyak banget."
Alura menggelengkan kepalanya. "Lah, ini punya Mbak semua."
"Hah?" Arunika seketika itu pula termenung. "Maksudnya?"
"Itu, Mbak. Sir Altar minta saya untuk kasih semua ini ke Mbak. Katanya Mbak disuruh siap-siap sebelum pergi ke gedung sebelah."
"Memangnya ada acara apa di gedung sebelah, Ra?"
Gedung sebelah yang dimaksud Alura adalah gedung baru yang dibeli oleh D'A Cooperation. Aset baru perusahaan untuk memperluas tempat kerja bagi para karyawan.
"Acara spesial, Mbak. Sir Altar sendiri yang mengusung acara tersebut."
"Eh?"
"Mendingan sekarang Mbak ganti baju. Habis itu touch up dikit, biar matching sama bajunya. Terus kita on the way ke gedung sebelah," tutur Alura seraya memberikan paper bag bawaannya pada Arunika. "Mbak harus terlihat ratusan kali lipat lebih cantik dari biasanya," tambahnya dengan senyum yang mengembang. "Soalnya Sir Altar mau memperkenalkan Mbak ke seluruh dunia."
ππ
Semoga suka π€
__ADS_1
JANGAN lupa rate bintang 5 π like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π
Tanggerang 15-12-23