Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
38. Positif Morning


__ADS_3

Pagi kembali menjelang, mentari juga sudah kembali menampakkan diri. Cahaya kemuning nya mulai menyinari bumi, membangunkan para manusia yang masih terlelap dalam buaian mimpi. Hal itu tak lagi berlaku untuk Arunika yang sudah bangun sejak tadi. Selepas salat Subuh ia memang tidak tidur lagi.


Berbeda dengan sang suami yang tampaknya masih ingin tidur. Lihat saja bagaimana lelapnya pria rupawan itu saat ini. Atasan piyama panjang yang semalam digunakan sudah raib entah kemana. Terkadang Arunika bingung sendiri, untuk apa memakai atasan. Toh, pada akhirnya akan dilepas juga.


For your information, Altar lebih suka tidur tanpa mengenakan atasan seperti saat ini. Pria itu fine-fine saja tertidur tanpa baju, sekalipun AC menyala. Malah Arunika yang masih belum terbiasa kala bangun dengan sajian dada bidang dan deretan roti yang sentuh-able.


Omong-omong, semalam tidak terjadi apa-apa seperti dugaan Arunika. Pria itu menunggu dengan arti yang sebenarnya. Setelah mandi dan salat, Arunika menyusul Altar ke tempat tidur. Pria itu tidak meminta apa-apa selain tidur sambil memeluk sang istri. Arunika juga agak heran.


Tidak mau menganggu tidur sang suami, Arunika bergerak perlahan. Melepaskan diri dari sepasang lengan kokoh yang melilit pinggang. Setelah berhasil, ia buru-buru masuk ke kamar mandi. Tidak lupa membawa ‘something’ yang kemarin ia beli. Sebenarnya Arunika tidak seluruhnya mengatakan kebenaran kemarin. Selepas pulang makan ia memang pergi ke mall bersama Rose dan Aling, tetapi sebentar. Ia juga sempat mampir ke tempat Aling untuk sekedar curhat bersama bestie-nya itu.


Sepulang dari tempat Aling, Arunika sempat mampir ke apotik. Sesuai anjuran dari Aling, Arunika memberanikan diri membeli alat tes kehamilan atau test pack. Ia sendiri tidak yakin apakah ia telat datang bulan karena hamil atau terlalu stress. Biasanya ia telat datang bulan karena terlalu stress dengan tuntutan pekerjaan, sehingga jadwal datang bulannya tidak beraturan.


Mengingat sekarang ia sudah memiliki suami, telat datang bulan bisa jadi pertanda lain. Bisa jadi ia hamil. Tidak ada yang tidak mungkin, mengingat ia dan Altar rutin berhubungan badan. Sekalipun Altar memiliki riwayat gangguan infertilitas, pria itu sebelum menikah sudah rajin melakukan pengobatan. Dokter juga sudah mengatakan jika sekarang mereka tinggal berusaha dan berdo’a.


Oleh karena itu sekarang Arunika akan memastikan. Pagi hari adalah waktu yang paling dianjurkan untuk menggunakan test pack karena kondisi urin yang kental membuat hormon hCG mudah terdeteksi. Tidak dianjurkan digunakan pada siang hari, karena sudah banyak minum, sehingga kondisi urin menjadi encer. Dalam kondisi ini akan sulit mendeteksi hormon hCG.


Alat tes kehamilan atau test pack memang bekerja dengan cara mendeteksi keberadaan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dalam urin. Hormon ini hanya ada jika sel telur telah dibuahi menempel di dinding rahim. Kadarnya akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan.


Dengan jantung yang berdegup tak karuan, Arunika menunggu. Ia sudah mencelupkan test pack yang ke wadah berisi urin. Sembari menunggu dengan perasaan yang tak menentu, suara shower ikut menjadi background. Arunika memang sengaja menyalakan shower agar terkesan sedang mandi.


Cukup lama ia menunggu, sekitar 15 detik. Benda pipih dan panjang itu tampak sudah menunjukkan perubahan. Membuat netra hazelnut miliknya seketika terbelalak. Tak mau berpuas diri di detik-detik awal, ia memilih menunggu lebih lama. Takutnya perubahan kembali terjadi pasca ia heboh sendiri.


“Aru, kamu di dalam?”


Arunika gelagapan. Samar-samar ia mendengar suara. Altar sepertinya sudah bangun.


Wanita itu buru-buru mematikan shower, kemudian menjawab. “Iya, Mas.”


“Sedang apa?”


“Kenapa memangnya?” tanya Arunika balik.


“I want to pee, Aru.”

__ADS_1


Arunika mengerjap mendengar kalimat sang suami dari balik pintu. Pria itu mau buang air kecil, sedangkan Arunika masih menunggu hasil yang belum pasti.


“Apa gue….” kalimatnya terpotong kala melirik test pack yang tergeletak begitu saja. Garisnya masih sama dengan yang ia lihat 10 menit lalu, tidak berubah. Membuatnya menutup mulut sakit terkejutnya.


Sepersekian detik berikutnya wanita cantik itu memutar badan, kemudian berlari menuju pintu.


“Aru, kamu kenapa….”


Kalimat pria rupawan dalam keadaan half naked itu terpotong kala sang istri tiba-tiba muncul kemudian menubruknya. Jika saja tidak pandai mengontrol keseimbangan, mereka pasti sudah jatuh mencium lantai.


“Why, Aru?” tanyanya kebingungan seraya mengelus punggung sang istri.


“Yes, yes, yes!”


Altar kian dibuat kebingungan kala sang istri berseru heboh. Namun, sepersekian detik berikutnya, punggung wanita itu tampak bergetar pelan.


“Kamu kenapa menangis?” tanyanya risau, tetapi sang istri tak kunjung menjawab. “Sayang, kamu kenapa?”


Altar tahu wanitanya terkejut karena tiba-tiba dipanggil dengan embel-embel ‘sayang’. Sebelumnya ia memang tidak pernah memanggil wanitanya dengan embel-embel yang terkesan manis dan romantis, padahal mereka sudah cukup lama menikah.


“Hm?”


“Aku….”


“Iya, kamu kenapa?” tanya Altar, mulai gemas dengan tingkah laku sang istri. Ia yang mulanya terbangun karena ingin baung air kecil, urung melakukan niatnya karena tingkah laku sang istri yang menimbulkan tanda tanya.


“…. Hamil.”


“Apa?” kaget Altar kala mendengar lanjutan kalimat sang istri.


“Aku hamil anak kamu,” ujar sang istri singkat, padat, dan jelas di telinganya. Namun, respon Altar kemudian membuat sang istri sebal.


“Bagaimana bisa?” tanya Altar tanpa dosa.

__ADS_1


“Yakin kamu nanya begitu, Mas?” tanya Arunika, badmood seketika. “Masih kurang yakin kalau aku hamil anak kamu? Sedangkan yang nidurin aku cuma kamu doang.”


Mendengar nada bicara sang istri yang mulai tidak bersahabat, Altar berdehem. “Tapi, aku…”


“Yes, hubby, I know. But, sekarang aku yakin kalau aku hamil,” ujar Arunika seraya menyodorkan test pack yang tadi ia gunakan. Bukan satu, melainkan tiga.


Wajar Altar sempat tidak percaya, mengingat gangguan infertilitas yang ia alami membuatnya sempat berpikiran tidak akan bisa memiliki keturunan. Sekarang Tuhan dengan kuasanya menunjukkan jika tidak ada kerja keras yang mengkhianati hasil.


“I’am going to be a daddy, Aru.”


Arunika mengangguk seraya merentangkan tangan. Saat berkata demikian, ia bisa melihat wajah sang suami yang tampak bahagia bercampur rasa haru. Tak butuh waktu lama, pria rupawan itu mengikis jarak di antara mereka. Mengisi sela yang sempat tercipta.


“Tidak ada kerja keras yang mengkhianati hasil, Mas. Hanya saja, terkadang waktu yang membuat kita lelah menunggu.”


Arunika berani berkata demikian karena tahu berapa lama sang suami berjuang agar dapat sembuh dari gangguan infertilitas. Selama kurun waktu tersebut, Altar berjuang untuk sembuh seorang diri. Ia tak mau membuat orang-orang terdekatnya merasa khawatir atau terbebani. Karena gangguan itu pula, Altar sempat merasa pesimis dapat berkeluarga. Padahal usianya sudah menginjak kepala tiga. Namun, semua itu kian terkikis semenjak ia bertemu dengan Arunika.


Wanita muda yang memiliki pembawaan hangat dan selalu mampu menghidupkan suasana. Si cantik pecinta elektronik musik dance yang kini telah mewujudkan impian terbesarnya untuk memiliki keluarga kecil.


“Terima kasih, Aru. Kamu telah mewujudkan mimpiku yang selama ini tidak dapat diwujudkan oleh wanita lain.”


Arunika tersenyum seraya mengelus punggung sang suami. “Harusnya aku yang berterima kasih, Mas. Soalnya kamu udah buat aku jadi seorang ibu.”


...🍄🍄...


...TBC...


...HAPPY NEW YEAR DARI Nengkarisma & Kaka Shan 🎉🎉...


...Semoga tahun ini banyak lagi cerita yang dapat Author bagi untuk readers. Jangan bosan-bosan baca cerita Author ya ☺️...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa rate bintang 5 🌟 like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...

__ADS_1


...Tanggerang 01-12-23...


__ADS_2