Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
22. Why does she love me?


__ADS_3

Altar menatap menu makan malam yang tersaji di atas meja, kemudian meraih garpu dan sendok ke dalam genggaman. Memotong daging yang telah dimasak dengan berbagai bumbu dan rempah, kemudian menyuapkan ke dalam mulut. Di hadapannya seorang wanita cantik dalam balutan dress berwarna dusty pink juga tampak menikmati hidangan tersebut dengan anggun.


“Apa ada yang ingin kalian nikmati lagi?”


Sebuah suara lembut menginstruksi, membuat keduanya mengalihkan pandangan.


“Ini sudah cukup, Tante.”


Wanita cantik itu merespon terlebih dahulu. Senyum menawan tampak terpatri di bibir. Semua orang juga pasti setuju jika ia adalah definisi sesungguhnya dari seorang batari alias bidadari.


“Kalian belum pilih dessert, ‘kan? Mau Tante pilihkan menu yang paling recommend disini?”


“Tidak perlu repot-repot, Tante. Semua makanan di sini enak, Arumi suka semuanya.”


“Selain cantik, ternyata kamu juga pintar menyanjung, ya?”


Senyum kembali terpatri di bibir kedua wanita tersebut. Altar menatap wanita muda yang menjadi sumber senyum bagi Ibu-nya untuk sejenak.


Benar apa kata Ibunya barusan, wanita di hadapannya cantik. Cantik sekali malahan. Tubuhnya tinggi semampai, berisi di tempat yang seharusnya. Ideal dan proporsional untuk kategori wanita cantik menurut idaman kebanyakan pria. Tutur katanya lemah lembut, sopan, anggun, dan tentu saja berpendidikan. Hal itu sudah terbukti kala ia terpilih mejadi menjadi salah satu finalis putri Indonesia.


Anggapan jika orang kaya sombong dan suka seenaknya, terpatahkan oleh kepribadiannya. Ia tidak sungkan untuk menyapa orang-orang yang ia jumpai saat blusukan ke kampung-kampung. Ia juga dipercaya menjadi duta Unicef di Indonesia. Ia juga sering terlibat bakti sosial yang menyuarakan tentang hak asasi anak dan perempuan.


Para orang tua yang memiliki anak lelaki tidak akan berpikir dua kali untuk  menjadikannya menantu. Hanya saja, tidak semua lelaki itu bisa memikat hati seorang batari seperti Arumi Soedibyo Joyokusumo. Hanya Altar. Sejauh ini hanya laki-laki itu yang berhasil menarik perhatiannya begitu banyak.


Terkadang Altar juga bingung, why does she love me?


Apa yang wanita seperti Arumi harapkan darinya? Selama ini mereka dekat karena orang tua mereka adalah sahabat juga rekan bisnis. Karena ikatan itu pula mereka dijodoh-jodohkan. Walaupun berita tentang perjodohan di antara mereka sudah santer dibicarakan, Altar tidak pernah memberikan klarifikasi apapun.


Lagi pula ia belum ingin menikah untuk saat ini. Entah sampai kapan ia akan melajang, ia sendiri tidak tahu. Ketimbang menunggu, Altar sudah berulang kali meminta Arumi untuk mencari pendamping hidup lain yang lebih potensial. Namun, wanita itu tidak mengindahkan ucapannya sama sekali.


“Kamu tidak mau mampir?”


“Tidak. Mungkin lain kali.”


“Opa sepertinya ingin sekali mengobrol dengan kamu. Mampirlah lain waktu.” Wanita cantik yang baru saja melepaskan seat belt itu kembali berujar. Tawaran kesekian telah ia lontarkan, namun Altar tak kunjung mau mampir untuk menyapa anggota keluarganya lagi.


Altar memang baru saja mengantarkan Arumi pasca memenuhi undangan dinner dari Ibunya. Anita—Ibu Altar—memang sangat dekat dengan Arumi. Kedua wanita itu bahkan sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan untuk memasak atau baking, jika memiliki waktu luang.


“Al.”


Altar menoleh ke samping, saat pintu tak kunjung dibuka. “Hm.”


Dari jenis tatapan yang dilayangkan wanita cantik itu, Altar yakin jika ada yang ingin ia sampaikan.


“Pertunangan kita akan segera dilangsungkan, Al.”


Altar memilih diam, mengambil jeda sebelum menjawab. “Itu bukan keinginanku.”


“Tidak bisakah kamu berpura-pura untuk itu?”


“Berpura-pura?”

__ADS_1


“Berpura-pura bahagia dengan pertunangan kita, Al. Mau sampai kapan kamu mengacuhkan, aku?”


“Sudah aku katakan sejak awal, aku muak dengan sebuah komitmen.”


“Tapi, Al. Pernikahan kita sudah dipastikan akan terjadi.”


Altar tidak menjawab. Netra gelap miliknya menatap sang lawan bicara lamat-lamat. “Apa kamu pikir aku peduli?”


“Al.” Arumi tampak putus Asa. Selama ini ia sudah berjuang keras membuat Altar mencintainya, namun hasilnya tetap nihil. “Sedikit saja, apa kamu tidak bisa mencoba membuka hatimu untuk aku?”


Altar masih tidak bergeming. Hingga saat ini pertanyaan seperti why does she love me? Masih mengisi kepala. Apa yang Arumi harapkan dari pria seperti dirinya, padahal Arumi saja tidak tahu soal sisi gelap yang selama ini Altar coba sembunyikan dari dunia.


“I love you, now, and ever,” bisik Arumi.  Sebutir Air mata lolos dari netra cantiknya. Jemari lentiknya entah sejak kapan sudah menyentuh rahang Altar yang mengeras. “Lihat aku sebagai Arumi, Al. Jangan lihat aku sebagai putri dari keluarga Soedibyo. Just, Arumi.”


Altar masih bungkam. Hanya netra gelapnya yang bergerilya menatap lawan bicaranya. Wanita cantik itu sekarang menitihkan air mata seraya mengutarakan rasa putus asa. Selama ini Altar memang tidak bersikap tegas. Ia tidak menerima atau menolak, membuat pihak-pihak lain ikut campur memperkeruh keadaan.


“Katakan kepadaku, apa yang sebenarnya kamu inginkan?”


Arumi menuntut jawaban yang pasti. Ia tidak sanggup lagi menerka-nerka. Seiring dengan berjalannya waktu, egonya kian terbakar api cemburu. Apalagi saat ia menyadari jika besar kemungkinan ada something di antara Altar dengan sekretaris barunya. Ibarat sudah menjadi sesuatu yang lumrah jika something bisa saja terjadi di antara seorang atasan dan bawahan sekelas sekretaris atau staff biasa sekali pun, mengingat intensitas pertemuan mereka yang cukup intens di tempat kerja.


“Apa yang membuatmu mencintaiku?”


Akhirnya setelah sekian lama kalimat itu terlontar juga dari bibir Altar. Arumi sudah mengantisipasi jika suatu saat pertanyaan ini dilontarkan kepadanya. Dengan senyum tipis terpatri di bibir, wanita cantik itu menjawab dengan lugas.


“Karena itu kamu, Al. Pria yang aku cintai selama ini. Pria yang aku mimpikan akan menjadi suami dan Ayah dari anak-anakku. Aku yakin jika kita bisa hidup bahagia bersama. Jikapun kamu belum mencintaiku, tidak apa. Kamu hanya butuh waktu sedikit lagi. Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta.”


“Kamu salah.” Altar berucap datar. “Aku tidak bisa mewujudkan semua mimpi kamu.”


Altar tidak menjawab. Dia hanya menunjuk pintu di samping Arumi menggunakan dagu. “Masuklah. Orang tuamu sudah menunggu.”


“Jelaskan dulu apa yang membuatmu tidak bisa mewujudkan semua itu?!” desak Arumi.


Altar menarik nafas dalam, kemudian menghelanya perlahan. Netra hitam miliknya menatap Arumi lamat-lamat, sebelum mengucapkan seuntai kalimat yang membuat wanita cantik itu mematung. Dalam sepersekian detik berikutnya, pintu mobil terbuka. Wanita cantik itu akhirnya beranjak, meninggalkan Altar sendirian dalam keheningan.


“Untuk sementara waktu aku mau kita tidak perlu bertemu dulu, Al.”


Altar memalingkan wajahnya untuk sejenak, sebelum menjawab dengan dehaman. “Hm.”


“Aku masuk. Selamat malam.”


Ucapan selamat malam itu bagaikan kalimat yang menandakan bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka. Setelahnya, Arumi hilang di balik pintu utama kediaman Soedibyo. Altar sendiri memilih memutar setir, membawa kendaraannya keluar dari kediaman salah satu taipan tersohor di dalam negeri.


Dalam perjalanan pulang, Altar berbelok dari jalur yang seharusnya. Ia membawa kendaraan roda empat itu menuju salah satu tempat di mana ia bisa menikmati keindahan kota Jakarta saat malam hari tiba.


Sekarang, ia tahu kenapa Arumi mencintainya. Ah, mencintai kelebihan pada Altar lebih tepatnya. Namun, sayang karena Altar punya satu kekurangan yang akan membuat wanita manapun berpikir ulang untuk menjadi pendamping hidupnya. Walaupun Arumi belum mengibarkan bendera putih, bagi Altar ekspresi defensif Arumi sudah mencerminkan segalanya. Sama seperti ekspresi wanita yang dulu sangat ia cintai.


...🍄🍄...


Siulan-siulan nyaring terdengar dari ruangan sekretaris CFO tampak mewakili good mood yang tengah dirasakan oleh si pemilik ruangan. Tiga hari yang lalu, rekeningnya yang semula hanya berisi saldo lima jutaan, tiba-tiba melonjak pesat saat notifikasi transfer masuk. Jumlah yang cukup fantastis dengan tujuan digit nol dibelakang.


Ia sudah bisa menyicil hutang kedua orang tuanya, juga membayar biaya pengobatan Bian. Sisanya sudah ia alokasikan untuk membayar kosan, membeli kebutuhan sehari-hari, kemudian ditabung.

__ADS_1


Saking senangnya, Arunika bahkan sudah tidak sabar ingin menemui Altar. Omong-omong, pria itu sudah tidak masuk kerja semenjak dua hari yang lalu. Ketidakhadirannya membawa tanda tanya besar sekaligus bencana bagi Arunika. Karena itu banyak schedule yang terbengkalai. Beberapa urgent schedule juga di-handle oleh Arez—sekretaris CEO.


Sekarang tugas Arunika akan memastikan keberadaan sang atasan di tempat tinggalnya. Kata security apartemen tempat Altar tinggal, pria itu terakhir kali terlihat dua hari yang lalu. Kendaraannya juga masih terparkir di parkiran semenjak itu. Setelah mendapatkan informasi tersebut, Arunika buru-buru memasuki lift. Ia harus memastikan jika sang atasan baik-baik saja. Takutnya ada something yang tidak diinginkan telah terjadi. Soalnya, sekarang sedang marak beredar berita pembunuhan sadis yang menyasar kaum pria, terutama pria lajang yang tinggal sendiri.


Telepon milik pria itu juga tidak dapat dihubungi. Koneksi untuk mencari informasi tentang keberadaanya benar-benar terbatasi.


Tiba di depan unit sang atasan, Arunika mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tidak ada sahutan. Gelisah dalam penantiannya, Arunika kemudian memilih memasukkan beberapa digit nomer yang telah atasannya beritahukan. Pria itu memang sempat memberi tahu password apartemen-nya, karena Arunika sering hilir-mudik di tempat tersebut.


“Bapak di dalam?” panggil Arunika saat kakinya berhasil melangkah masuk.


Tempat itu gelap, tirai-tirai masih tertutup. Hanya lampu dari arah dapur yang menjadi sumber pencahayaan. Arunika beralih, menuju jendela yang masih tertutup tirai. Menyibaknya, membiarkan ruangan tersebut dibanjiri sinar mentari.


“Astagfirullah?!” kaget Arunika saat netra hazelnut miliknya menemukan seonggok tubuh tak berdaya yang terbaring di atas sofa. “Bapak kenapa?”


Dengan segera ia menghampiri. Menyentuh kening pria yang tampak berbaring tidak nyaman di atas sofa. Tubuh jangkungnya bahkan tidak tertampung sepenuhnya di sana.


“Bapak sejak kapan demam? Kenapa tidak menghubungi saya? Kalau saya tahu Bapak sakit, saya pasti langsung on the way ke sini,” ujar Arunika retoris.


Pria yang masih dalam posisi berbaring itu perlahan-lahan membuka mata. Banjir sinar mentari yang mengisi seluruh ruangan agaknya mampu membuatnya terganggu.


“Kamu datang?” tanyanya dengan suara parau.


“Iya, saya datang sebelum bapak innalilahi wainnalilahi rojiun!” sengit Arunika. “Lagian, ya, kalau sakit itu bilang. Jadi tidak membuat orang kelimpungan. Satu kantor nyariin Bapak, tahu nggak?”


“Tidak,” jawab si empunya enteng.


“Aish,” Arunika menatap bos-nya sebal. Ia berjongkok tepat di hadapan sofa yang ditiduri sang atasan. Tangannya masih bertengger di atas dahi Altar yang terasa menyengat kulit.


“Bapak bangun dulu, pindah ke kamar. Biar saya bantu. Saya panggilin dokter juga, ya?” usul Arunika.


“Tidak perlu.”


“Sekali aja, Pak. Bisa tidak jangan membantah. Nurut saja sama saya,” ketus Arunika. “Kalau sakit ya harus ke dokter—“


Arunika tidak lagi dapat berbicara saat tengkuknya diraih oleh Altar. Pria itu membungkam bibirnya yang tengah menyuarakan protes dengan bibir pula. Melum*tnya pelan, akan tetapi mampu membuat seluruh sistem dalam tubuh Arunika mati seketika.


Arunika juga bisa merasakan suhu tubuh sang atasan yang tidak normal lewat ciuman tersebut. Samar, juga sebentar. Sebelum pria itu melepaskan tautan bibir di antara mereka seraya menjauhkan wajah.


“Saya senang kamu datang.”


Setelah berkata demikian dengan suara tenang dan menghanyutkan, netra gelap itu tertutup. Membuat Arunika yang sempat membatu dibuat kalut seketika.


“Pak?!”


...🍻🍻...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...

__ADS_1


...Tanggerang 02-12-22...


__ADS_2