
Kedatangan mantan finalis putri Indonesia yang lalu membawa dampak hingga detik ini. Hampir semua staf membicarakan gosip yang tengah hangat-hangatnya. Tentu saja tentang kedekatan CFO kebanggan D’A Cooperation dengan putri konglomerat tersebut. Kiranya kabar burung yang berhembus akan menganggu yang bersangkutan. Namun, kelihatannya baik Altar maupun Arumi fine-fine saja.
Kendati sudah menjadi bahan perbincangan hampir seminggu, buah bibir itu tetap santer terdengar. Arunika sendiri sudah bosan mendengarnya. Sialnya lagi ia yang bekerja sebagai sekretaris plus asisten plus kacung Altar ikut kena getahnya.
Biang gossip dari berbagai divisi rajin menanyai dirinya baik secara face to face ataupun sekedar menerornya lewat inbox, chat, derect message, line, hingga email. Semua berisi tentang keingintahuan mereka mengenai hubungan antara Altar dan Arumi.
“Bosen banget gue baca notifikasi isinya nanya-nanya si keturunan Sabyan. Mereka nggak bisa nanya langsung sama yang bersangkutan apa?” celoteh Arunika kesal sembari meletakkan handphone-nya ke dalam saku.
Awalnya ia membuka benda tersebut karena mendengar notifikasi yang masuk secara beruntun. Namun, saat ditelusuri semua notifikasi itu berisi topik yang un faedah.
“Dari kemarin itu-itu mulu yang dibahas. Apa perlu sekalian gue buatin Anekdot?” celotehnya tidak habis pikir.
Sembari berceloteh tangan Arunika sibuk mengaduk pasta pendek yang tengah di masak di atas wajan anti lengket. Hari masih cukup pagi dan Arunika sudah rapih. Cantik dengan setelan kerja, akan tetapi ia malah berakhir di sini. Memasak menggunakan celemek hitam dengan mood yang tidak karuan lagi.
Pagi tadi sang atasan menghubungi. Pria itu menyuruhnya datang kemari dan menjadikannya seperti ini. Arunika kembali mengelus dada jika mengingat kenyataan tersebut. Tidak di kantor, tidak juga di luar kantor, atasannya itu suka sekali semena-mena.
“Buat apa kamu?”
“Eh, copot-copot,” Latah Arunika karena terkejut. “Bapak, ngagetin aja.” Arunika berbalik seraya menunjuk si biang kerok dari keterkejutannya itu dengan spatula kayu di tangan.
“Kamu masak apa?”
Altar tidak menggubris. Pria itu melongok ke arah masakan yang tengah Arunika buat.
“Pasta?” kening pria rupawan bersetelan jas mahal itu mengernyit saat mengatakannya.
“Yang gampang-gampang aja, Pak.” Arunika balas menjawab sembari kembali fokus pada kegiatannya memasak pasta.
“Itu sehat atau tidak?”
“Tenang, Pak. Ini dijamin sehat buat Bapak yang golongan vegan.”
“Saya juga makan daging,” ujar Altar meluruskan. Ia juga makan olahan daging, tetapi dengan kadar yang sewajarnya. Itupun jika olahan dagingnya bebas dari lemak.
“Bagus, deh. Kalau begitu lain kali saya masakin semur daging. Bian paling jago kalau masak menu itu.”
Arunika berceloteh sembari tersenyum tipis. Semur daging buatan sang adik memang tidak ada duanya. Bian memang jagonya jika urusan semur. Arunika akui kehebatan sang adik. Siapapun nanti yang menjadi istri adiknya itu, Arunika jamin tidak akan kesulitan makan. Bian pandai memasak, melebihi kakak sekaligus gurunya ini.
Adik Arunika memang rajin mengasah skill memasaknya dengan cara mengikuti berbagai kelas memasak hingga perlombaan memasak. Bian juga pernah mengikuti salah satu ajang memasak populer yang acaranya disiarkan di televisi nasional. Namun, Bian hanya bisa berpuas diri sampai posisi 15 besar.
“Siapa itu Bian?” tanya Altar datar.
“Bian itu—“
“Dia pacar kamu?” sela Antar cepat. Tidak membiarkan Arunika menyelesaikan kalimatnya. “Kalian tinggal bersama?”
“Iya. Kenapa emang? Masalah buat Bapak?” Tanya Arunika. Dipancing demikian, ia tergoda untuk mengerjai sang atasan balik.
Altar menatap sang sekretaris lekat. Berani sekali wanita itu menjawab pertanyaannya dengan gamblang?
“Kita sudah tinggal bersama sejak lama,” ucap Arunika menambahi. “Lagian itu bukan urusan bapak. This is my privacy.”
Altar yang dipanas-panasi terbakar juga. Entah di mana letak kesalahan yang membuat pria itu kesal. Namun, detik berikutnya pria itu berbalik dan melangkah lebar meninggalkan Arunika.
Arunika yang melihat itu hanya terkikik geli. Sebisa mungkin dia menahan tawanya yang hampir saja lolos karena melihat tingkah sang atasan.
“Rasain. Sekali-kali gue kibulin.”
Arunika lantas kembali melanjutkan acara memasaknya. Setelah ini ia akan membuat jus untuk tambahan protein di pagi hari. Pekerjaan ini menjadi salah satu agenda wajib, jika sang atasan membutuhkan. Berhubung ibu Yangti sudah mulai absen bekerja, jadi sekarang Arunika harus mengurus semuanya sendiri. Tapi, kabar baiknya ia juga akan memiliki teman berbagi keluh kesah nanti.
Ya, dengar-dengar akan ada anak magang yang mengisi posisi sebagai asisten sekretaris. Jadi, nanti jika Arunika harus pergi kesana-kemari mengekori Altar, akan ada yang meng-handle urusan di kantor.
“Gimana Pak, enak?”
__ADS_1
“Hm.”
Arunika tersenyum masam mendengar respon sang atasan. Seporsi pasta alpukat bayam tengah pria itu nikmati. Makanan sehat terbuat dari pasta pendek yang dimasak dengan bumbu kemudian diberi saus dari campuran daging alpukat dan bayam yang di-mix bersama bumbu agar menciptakan rasa lezat.
“Bereskan peralatan yang kamu gunakan untuk memasak. Saya mau semuanya kembali rapih seperti semula. Saya tunggu di parkiran,” pesan Altar sesaat setelah menyelesaikan sesi makannya.
Aruna kehabisan kata-kata mendengarnya. Pria itu benar-benar menikmati sekali posisinya sebagai atasan.
Habis makan, langsung pergi begitu saja. Memang sih, Arunika dibayar untuk pekerjaan ini. Tetapi, tidak begini juga kali.
...🍄🍄...
Pekerjaan yang padat semakin membuat Arunika tidak semangat. Mood swing yang diakibatkan oleh drama yang dilaluinya pagi tadi terbawa hingga siang hari. Padahal pekerjaannya hari ini padat. Apalagi jadwal atasannya.
Altar hari ini harus menghadiri rapat direksi, briefing dengan anak-anak divisi Riset & Pengembangan atau R&D, meeting dengan client di dua lokasi, hingga dinner dengan college dari luar negeri. Semua agenda itu tentu akan Arunika temani. Tugasnya tentulah mencatat hasil ringkasan dari kegiatan-kegiatan tersebut. Selain itu, ia juga yang harus mengurusi janji temu dan mencocokkan dengan schedule sang atasan.
“Habis ini ada waktu luang untuk makan siang, Pak.”
Arunika menuturkan seraya mengoperasikan MacBook iPhone. Salah satu fasilitas yang ia dapatkan selama bekerja sebagai sekretaris Altar satu minggu ini.
“Jadi bapak mau makan siang di mana? Mau take away atau—“
“Pulang ke apartemen. Ibu saya akan mengirimkan makan siang.”
Arunika mengangguk patuh. Titah sang atasan adalah sebuah anjuran yang harus didengar dan dilaksanakan.
“Baik, Pak.” Arunika kemudian beralih menatap ke arah supir pribadi yang hari ini bertugas mengantar mereka kemana pun. “Kalau gitu nanti belok kiri di depan. Kita ke apartemennya Bapak dulu, Mas.”
Si supir mengangguk meng-iyakan. “Baik, Mbak.”
Tiba di gedung tempat tinggal pria pecinta kebersihan dan kerapihan tersebut, mereka secara kebetulan bertemu dengan seorang kurir yang membawakan makanan yang Altar maksud.
Setelah menerima kiriman dari sang ibu, Altar lantas memberikannya kepada Arunika untuk disajikan.
Di hadapannya sudah tersaji beragam jenis masakan Cina yang menggugah selera, mulai dari makanan berkuah hingga makanan kering. Mulai dari sup kepiting dengan selada air, udang goreng-sekejap, fu yung hai ala kanton, ayam masak szhechuan, ikan garing masak pedas, ayam chop sui, tumis sayur rebung, tumis sayur campur, lengkap dengan dessert.
“Pak, ini beneran Bapak mau makan semua?” tanya Arunika saat semua hidangan itu sudah tersaji dengan rapih di hadapan sang atasan.
Pria itu mengangguk tipis. Jas abu-abu yang dikenakannya hari ini sudah dilepas. Menyisakan kemeja putih yang legan nya digulung hingga siku. Membiarkan sepasang legan yang tampak liat itu terekspose secara nyata. Arunika akui bos-nya itu memiliki badan bagus.
“Kita, Arunika. Bukan saya.” Altar berucap seraya menunjuk sekretarisnya menggunakan sumpit hitam dengan ukiran warna emas.
“Saya?” Arunika menunjuk dirinya sendiri. “Saya boleh ikutan makan juga, Pak?”
“Hm.”
Arunika menerbitkan senyum lebar setelahnya. Padahal ia baru saja ingin memesan Japanese namban friend chicken yang rasanya creamy dan manis, perpaduan antara saus namban dan tartar. Tapi, siapa sangka rezeki datang tanpa diduga-duga. Sekarang ia bisa makan siang dengan makanan yang lezat, gratis pula.
“Setelah ini saya akan pergi ke lokasi sendiri. Kamu kembali ke kantor,” ujar Altar sebelum memulai acara makan siang.
“Baik, Pak.” Arunika menjawab dengan semangat. Ia sih mau-mau saja disuruh kembali ke kantor. Jadi tidak perlu capek-capek ikut meeting diberbagai lokasi.
Seperti titah baginda Altar yang terhormat, Arunika kembali ke kantor setelah makan siang. Ia ditugaskan untuk mengurus sisa pekerjaan di kantor. Malam nanti ia akan kembali menemani sang atasan dinner bersama college dari luar negeri.
“On the way makan enak lagi,” gumam Arunika sembari mengelus perut.
Aling dan Rose yang melihat itu geleng-geleng kepala sendiri. Hari memang sudah beranjak malam. Jam kantor sudah usai sejak tadi. Namun, berhubung Aling dan Rose harus lembur, mereka juga sekalian menemani Arunika yang sedang menunggu Altar.
“Yakin gak mau pulang, lo?”
Arunika menggelengkan kepalanya, konsentrasinya masih tertuju pada layar gaway yang menampilkan room chat-nya dengan sang atasan.
“Enggak, Ling. Gue lagu nunggu si bos.”
__ADS_1
“Ya, udah. Kita duluan kalau gitu, ya.” Aling bersuara. Diangguki oleh Rose yang juga sudah bersiap untuk pulang.
“Iya. Duluan aja. Gue pulang palingan nanti, habis nemenin si bos dinner.”
“Oke. Kalau gitu kita tinggal.”
Setelah percakapan tersebut, Aling dan Rose pergi meninggalkan Arunika. Wanita cantik itu masih sibuk menatap gaway, menunggu pesan dari sang atasan. Padahal sebentar lagi pukul delapan malam, tetapi pria itu tak datang. Padahal dalam schedule, dinner dimulai pukul delapan malam.
Arunika kembali mengecek schedule. Tertulis di schedule memang begitu.
Gundah dan kesal mulai menghampiri. Dentingan jam kembali membuatnya dongkol setengah mati. Semenit, dua menit, hingga lebih dari puluhan menit, masih tidak ada kabar juga. Hingga jam menunjukan pukul 21.00 malam, pria itu masih tak kunjung datang. Arunika mulai kesal.
Dia sudah capek menunggu dan mulai kelaparan.
“Kemana sih ini keturunan Sabyan, masa iya dia lupa sama gue?” gerutu Arunika sembari berjalan meninggalkan area lobby.
Staf yang bertugas di area tersebut juga sudah pulang 15 menit yang lalu. Hanya tinggal ia seorang diri di sini, bersama dua orang penjaga di pos keamanan. Arunika sudah bosan menunggu di lobby, jadi ia putuskan untuk menunggu di pos jaga.
Sembari menunggu, Arunika iseng membuka instagram. Scroll ke bawahan, melihat-lihat postingan yang muncul di beranda akun instagram guna menghilangkan rasa bosan. Dari salah satu postingan yang lewat di beranda, postingan Arumi Seodibyo Joyokusumo yang sudah diberi centang biru tiba-tiba menarik perhatian.
Ia memang menjadi salah satu followers Arumi, begitu sebaliknya. Mereka memang sempat mutualan di instagram sebagi tanda jalinan pertemanan. Selain bertukar nomor telepon.
Dalam postingan dengan caption ‘Good night’ tersebut, Arumi tampak berada di dalam sebuah mobil dengan pencahayaan yang cukup terang. Arunika juga bisa melihat seorang pria yang tengah berada di balik kemudi ikut terjepret kamera. Siluet di balik kemudi, maupun bagian dalam mobil yang mereka tumpangi tampak familiar di mata Arunika.
Rasa ke penasaran Arunika terjawab saat ia menatap siluet pria tersebut lekat-lekat. Mengenakan jas berwarna abu-abu, model rambut undercut berpotongan rapih. Raut wajahnya tampak datar walaupun dipotret dari samping. Fiks, Arunika yakin jika pria itu adalah boss keturunan dajjal-nya.
“Asuuu. Ternyata dia dinner sama Arumi Seodibyo. Lah, gue malah dibiarin nunggu di sini sampe akaran?!” ujar Arunika tidak habis pikir.
Saat tengah menggerutu kesal, bunyi music EDM yang menggema cukup heboh dari handphone miliknya membuat Arunika respek menoleh. Ada nama sang atasan muncul di layar.
“Kamu sudah pulang—“ tanya suara di seberang tatkala sambungan itu terhubung.
“Sudah, Pak. Maaf, saya enggak bisa nunggu Bapak sampai datang. Saya ada urusan urgent,” bohong Arunika cepat.
“Kamu tidak sedang membohongi saya?”
“Hahaha, nggak dong. Ini saya udah di rumah, Pak,” dalih Arunika. Ya kali, ia bicara jujur jika masih menunggu pria tersebut. “Jadi, gimana sama dinner bareng college nya, Pak? Aman?” tanya Arunika senormal mungkin. Ia harus over acting agar pria di seberang sana tidak curiga.
“Hm.” Pria itu menjawab dengan dehaman andalannya.
“Kalau gitu saya tutup dulu ya, Pak.”
“Tunggu, saya—“
“Pacar saya barusan datang. Udah dulu ya, Pak. Assalamu'alaikum,” ujar Arunika final.
Setelahnya ia langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Tidak peduli jika besok ia dimarahi habis-habisan. Yang penting sekarang ia bebas menyuarakan kekesalannya.
“Lagi jalan sama mantan finalis putri Indonesia juga, pake bohong segala,” cibir Arunika sembari mengerucutkan bibirnya kesal.
“Ck. Bikin kesel aja!” ketusnya sembari membuka aplikasi go-jack. Ia harus pulang dengan perut keroncongan dan perasaan dongkol.
“Sumpah, bikin kesel aja itu keturunan Sabyan. Sedih deh gue—” Arunika buru-buru meralat ucapan yang terakhir kali hendak lolos dari bibirnya. “Dih, apaan. Gue nggak sedih, cuma kesel aja.” Arunika bergumam kecil seraya mensugesti diri sendiri.
“Why should I be sad? Gue nggak sedih sama sekali karena batal ikut dinner, cuma kesel. Kesel karena dijadiin patung pancoran selama berjam-jam.”
Wanita cantik itu sibuk berceloteh sendiri guna melampiaskan rasa kesal. Tidak sadar akan keberadaan dua penjaga yang menatapnya bingung. Cantik-cantik kok bicara sendiri, macam ODGJ alis orang dengan gangguan jiwa. Begitu kiranya pikir kedua penjaga tersebut.
...🍄🍄...
...TBC...
...Tanggerang 28-11-22...
__ADS_1