
"Mbak jangan dimakan terus dong kuenya."
Laki-laki muda yang sedang sibuk baking itu kembali melerai. Di meja makan seorang wanita yang masih menggunakan piyama mendengus sebal. Bibirnya masih sibuk mengunyah saat laki-laki yang berada di depan oven itu berkata. Rasa legit yang berpadu dengan rasa kacang, pisang, dan choco chips membuat lidahnya enggan berhenti bergoyang. Citarasa nikmat tersebut sayang sekali jika dibiarkan begitu saja.
"Mbak nyicipin doang, Bi."
"Nyicipin kok habisnya lima biji, Mbak?" laki-laki muda itu menyindir dengan halus. Pasalnya sejak tadi sang kakak tak berhenti-henti.
"Fabian Arian, jangan belajar pelit sama Mbak."
"Bian gak pelit, Mbak. Cuma itu 'kan kuenya buat tester. Masa dimakan terus, aku udah nggak sedia bahan buat bikin ulang." Bian menatap sang kakak dengan kedua tangan yang sibuk mengeluarkan loyang dari oven.
Arunika tersenyum kecil seraya mengangguk. "Udah, kok. Udah."
"Ya udah dong, soalnya Mbak udah kenyang, 'kan?" gerutu Bian.
Arunika tertawa kecil. Ia memang bangun dengan sambutan aroma wangi kue yang baru keluar dari oven. Sejak pagi-pagi buta sang adik sudah berkutat dengan adonan kue. Maka ketika fajar menyingsing di ufuk timur, nut cookies dan roti pisang choco chips sudah tersaji di atas meja. Katanya roti-roti itu dibuat sebagai tester yang diminta salah satu kenalan Bian. Ia memang berencana menitipkan kue-kue kreasinya di cafe salah satu kenalan.
"Mbak nggak mau berangkat kerja?" tanya Bian kala sang kakak tak kunjung beranjak dari kursi. Padahal jarum jam udah hampir menyentuh pukul tujuh. Biasanya sang kakak akan ribut jika jam segitu belum mandi.
"Libur."
"Libur?" kening Bian bertaut mendengarnya. Lelaki berseragam putih-abu itu kemudian berbalik, menghadap sang kakak. "Bian perhatiin, Mbak itu banyak liburnya belakangan ini. Memangnya Mbak nggak kena teguran HRD?"
"Don't worry. Buktinya sampai sekarang pihak HRD masih diem-diem bae." Arunika tersenyum jumawa setelah mengatakannya. "Lagian, Bi. Mbak ini libur karena disuruh bos. Mbak, manut aja."
Bian menautkan kening mendengarnya. "Heran sama bos-nya, Mbak. Punya sekretaris kok disuruh libur terus, yang handle tugas sekretaris siapa dong?"
Arunika mengedipkan bahu. "Entah. Mbak, ya, nurut aja disuruh libur. Lagian ya, Mbak juga tetep mantau kerjaan. Work from home."
Bian tidak lagi bersuara setelahnya, karena ringtone super heboh dari handphone kakaknya membuat si pemilik handphone beranjak.
"Mbak keluar dulu, mau angkat telepon."
"Hm."
Laki-laki muda yang tengah sibuk memindahkan kue itu menjawab sekenanya.
Arunika kemudian berlalu meninggalkan sang adik yang tengah sibuk baking. Ada satu telepon masuk dari Aling. Ia memutuskan pindah ke halaman rumah. Ia memang tidak masuk kerja karena dilarang sang atasan. Entah apa alasannya, akan tetapi sejak pertemuan dengan Arumi kala itu, Altar mengurangi jam kerja Arunika tanpa sebab.
"Iya, kenapa Ling?"
__ADS_1
"Lo di mana sekarang, Ru?" tanya suara dari seberang.
"Di rumah. Kenapa?"
"Bisa ke cafe Loneey, nggak? Soalnya produser musik yang mau kerjasama buat single lo ngajakin ketemu."
Arunika manggut-manggut. "Cafe Looney? Hmm, bisa sih. Palingan tiga puluh menitan lagi, soalnya gue belum mandi."
"Ok. Kalau gitu gue tunggu di sana, ya."
"Hm."
Sambungan telepon itu tertutup setelahnya. Arunika memang akan meluncurkan single perdananya setelah sekian tahun berkiprah di dunia DJ. Dari dulu tawaran untuk membuat single memang sudah berseliweran, akan tetapi Arunika belum menanggapinya dengan serius. Baru belakangan ini ia berubah pikiran. Mungkin sudah waktunya ia dikenal lebih luas oleh masyarakat, bukan hanya menjadi idola di Paradise clubs. Setidaknya Arunika mengharapkan feedback yang memuaskan dari keputusan tersebut.
Ketika jarum jam bergerak mendekati jam makan siang, Arunika keluar rumah menggunakan outfit andalannya. Celana jeans panjang dipadukan dengan atasan kaus putih polos berlogo kepala kelinci di sebelah kiri. Jangan lupakan sebuah topi berlogo 'centang' berwarna putih yang ikut menghiasi kepala. Seiras dengan warna sepatu canvas yang ia gunakan.
Ketika tiba di cafe yang Aling sebutkan, hampir sebagian besar pasang mata mengalihkan pandangan pada Arunika. Membuat wanita itu menautkan kening kebingungan.
"Ling, apa dandanan gue norak? Perasaan dari tadi mereka pada lihatin gue mulu," tanya Arunika sesaat setelah mendudukkan diri di depan Aling.
"Sorry, Ru."
Kening Arunika mengernyit saat mendengar respon lawan bicaranya. "Lah, kenapa lo tiba-tiba minta maaf, Ling?"
"A-pa?!" kaget Arunika. "Yang bener lo? Masa kontrak kerjasamanya dibatalin gitu aja tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu?"
Aling menggelengkan kepala lemas. "Gue juga baru dapet telepon dari orangnya, Ru. Barusan banget, sebelum lo dateng."
"Kok bisa gitu, Ling?" Arunika berujar pelan. Padahal ia sudah memiliki harapan besar lewat projek ini. Beberapa penggemar juga sudah aktif bertanya-tanya soal pembuatan single perdananya.
"Atau mungkin ini ada sangkut-pautnya sama pemberitaan itu?" monolog Aling.
"Pemberitaan apa Ling?" bingung Arunika.
"Sekarang udah gak ada, sih. Kayaknya di-take down. Tapi, pemberitaan itu sempat viral dua hari ke belakang." Aling berujar seraya membuka handphone.
"Kok gue nggak tahu?" bingung Arunika.
"Mungkin karena lo gak masuk kerja, Ru."
"Gue nggak masuk kerja karena disuruh atasan," ujar Arunika gamblang.
__ADS_1
Aling manggut-manggut. "Gue sempet screenshoot beberapa, tapi gue mikir ratusan kali buat ngasih tau lo."
"Ngasih tau apaan, sih?" bingung Arunika seraya merebut handphone Aling. Iris hazelnut miliknya menatap apa yang tersaji di layar handphone. Detik berikutnya pupil mata Arunika membola sempurna.
"What the h*ll is that?!" Arunika berujar cepat.
Bagaimana bisa ada pemberitaan miring soal dirinya, tetapi ia sama sekali tidak tahu-menahu. Bahkan Bian, adiknya juga tidak tahu. Bagaimana hot news seperti itu tidak sampai ke telinganya. Padahal di sana jelas membawa-bawa nama Arunika.
"Ini hoaks dari mana, ya Gusti!" Arunika buru-buru menyimpan benda pipih itu ke atas meja.
Sekarang ia tahu kenapa orang-orang memperhatikannya sejak tadi. Inilah alasannya. Sebuah pemberitaan telah melambungkan nama serta wajah Arunika. Di mana dalam pemberitaan tersebut ia dirumorkan menjadi alasan kandasnya hubungan seorang eksekutif muda dengan mantan finalis putri Indonesia. Lengkap dengan potret yang menampilkan mereka bertiga. Potret itu diambil di parkiran apartemen Altar beberapa hari yang lalu.
"Orang-orang kantor juga ngira kalau pemberitaan ini bener, soalnya lo kayak ngilang gitu aja, Ru."
"Gue nggak ngilang! Gue cuma disuruh cuti sama...." kalimat Arunika terpotong setelahnya. "Tunggu, Ling. Jangan bilang kalau dia udah tahu?"
Dengan berat hati Aling mengangguk-anggukan kepala. "Bos dari kemarin sibuk terus. Kayaknya dia juga yang udah mengupayakan pemberitaan ini di-take down."
Arunika terdiam mendengarnya. Jadi, ini alasan kenapa bos-nya itu tiba-tiba memberikan cuti. Padahal ia juga tahu jika schedule pria itu tengah padat. Jika dipikir-pikir lagi, memang ada yang janggal dengan perintah atasannya yang tiba-tiba itu.
"Sekarang lo mau gimana, Ru? Gak mungkin lo diem aja, 'kan? Di sini posisi lo yang dirugikan karena berita miring ini."
"Gue nggak tahu, Ling."
Sungguh, Arunika tidak tahu harus berbuat apa. Ia juga bingung kenapa harus terlibat masalah seperti ini. Kehidupan yang ia jalani saja sudah sangat rumit, sekarang ditambah dengan kisah cinta Arumi dan Altar yang menyerat serta namanya.
"Gue juga nggak mau terlibat sama urusan mereka, Ling."
"Gue juga tahu lo nggak mau semua ini terjadi. Tapi, semua ini udah ada yang ngatur. Lo nggak bisa diem aja kalau nama lo tercemar."
"Terus, sekarang gue harus gimana? Karena pemberitaan ini projek single perdana gue gagal. Gue juga dilarang kerja sama bos, nyatanya semua itu cuma alibi supaya gue nggak tahu."
Jujur Arunika kecewa, kesal juga sedih. Ia kecewa karena baru mengetahui masalah ini. Kendati demikian, ia tidak bisa menyalahkan Aling atau siapapun. Ia juga kesal karena pemberitaan ini secara tidak langsung telah membuat nama baiknya tercemar. Disisi lain ia sedih karena peluncuran single perdananya harus gagal. Siapa yang harus disalahkan atas apa yang dia rasakan saat ini? Arumi? Altar? Atau takdir?
Arunika tidak pernah berencana membuat dirinya terlibat di masalah antara mereka. Altar dan Arumi maksudnya. Tetapi, siapa sangka jika skenario takdir membawa ikatan bak benang kusut guna menjerat mereka bertiga.
...ππ...
...TBC...
...Semoga suka π€...
__ADS_1
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π...
...Tanggerang 06-12-22...