
"Kamu masih marah, Mas?"
Pertanyaan itu diajukan oleh Arunika yang sedang menikmati strawberry short cake Ogura kiriman adik tercintanya.
Bian, adik Arunika saat ini tinggal bersama Anita, mertua Arunika. Wanita paruh baya itu secara sukarela memberikan fasilitas bagi Bian yang hobby memasak. Di tangan Anita pula, skill memasak Bian semakin semakin berkembang pesat. Bian bahkan ditempatkan pada bagian kitchen, diawasi langsung oleh kepala Chef yang diperkirakan oleh Anita. Wanita paruh baya itu memang dermawan dan baik hati.
"Mas?"
Seraya mengunyah cotton cake populer asal negeri Jiran itu, Arunika kembali bertanya pada sang suami yang sedang merebahkan kepala di pangkuannya.
Suaminya sejak tadi mogok bicara, selain merespon dengan action. Dipancing soal keseharian pria itu selama di negara seberang pun, ia tetap bungkam dan lebih memilih membenamkan wajah rupawannya di perut sang istri.
"Kalau kayak gini terus, akunya geli, Mas."
Pria rupawan itu merespon, merubah posisi menjadi menghadap sang istri. "Bagaimana kabar kalian selama aku pergi?" tangannya tak terduga.
"Baik," jawab Arunika. "Aku makan teratur, istirahat teratur, rutin olahraga ringan juga, sesuai anjuran dokter."
"Sudah check up berapa kali?"
"Sekali lah. Pas waktu itu aku kirim foto, chek up hari itu doang."
"Jadwal chek up berikutnya kapan?"
Arunika tampak berpikir untuk sejenak. "Kalau nggak salah tiga atau empat Minggu lagi. Aku lupa, tapi ada kok catatannya di buku KIA."
Altar mengangguk singkat, kemudian kembali terdiam. Hal itu tentu saja membuat Arunika gemas sendiri. Semenjak pulang secara tiba-tiba dari kantor, ia sudah melakukan berbagai cara untuk memulai percakapan. Namun, agaknya Altar memang sedang tidak mood untuk banyak bicara.
__ADS_1
"Kamu kenapa diam terus sih? kalau ada yang mau kamu tanyain, tanya aja."
Altar tiba-tiba beranjak, meninggalkan pangkuan sang istri. Arunika tentu saja merasa kehilangan. "Kenapa kamu tidak bilang?"
"Bilang-bilang soal apa?" bingung Arunika.
"Masalah rumor di kantor."
"Oh." Sekarang Arunika tahu kenapa suami tampannya itu sejak tadi diam saja. Ternyata memang ada yang menganggu pikiran suaminya, namun pria itu memilih untuk menyimpannya sendiri. "Aku tau kerjaan kamu hectic di sana, jadi aku nggak mau nambahin beban pikiran kamu," tutur Arunika. "Toh, di sini aku bisa handle semuanya sendiri."
"Kamu sedang mengandung bayi yang kita tunggu-tunggu." Altar berkata seraya mengelus perut sang istri yang masih ramping. "Dan mereka memperlakukan kamu dengan sangat buruk," lanjutnya. Ada nada tak suka, mungkin juga kesal tersirat dalam kata-katanya.
"Nggak kok, Mas. Mereka begitu karena tergiring opini negatif publik."
"Teruslah bela mereka."
"Kamu resign? apa karena desakan wanita itu?"
Arunika mengernyitkan kening mendengarnya. "Maksud kamu Coryssa?"
"Aku tidak peduli dengan namanya. Yang jelas, dia atau bukan penyebabnya?"
"Hmm, fifty-fifty sih. Aku mengajukan resign karena memang sudah merasa risih. Walaupun sebenarnya berat buat resign, karena aku udah nyaman kerja di sana."
Sekarang status pernikahan mereka sudah diketahui oleh orang-orang kantor. Lambat Laun pasti suasana kerja Arunika tidak akan nyaman seperti dulu, saat ia belum menikah atau bahkan mengenal Altar. Arunika sendiri paling tidak bisa bekerja di tempat yang suasananya tidak membuat dirinya nyaman. Selain itu, ia juga ingin resign dan fokus dulu mengurus kehamilannya.
"Kalau kamu masih mau bekerja, aku tidak akan meminta kamu untuk resign." Altar berkata seraya menyentuh ujung bibir sang istri. Ada sedikit remahan strawberry short cake Ogura di sana. "Aku bisa menyediakan tempat kerja yang lebih nyaman."
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Aku berencana keluar dari D'A Cooperation dan membangun company milikku sendiri."
Arunika terdiam mendengarnya. Planning sebesar ini, kenapa ia baru tahu?
"Kamu nggak lagi bercanda, 'kan?"
Altar menggeleng kecil. "Sebenarnya sudah lama aku ingin membangun company sendiri. Aku bukan pewaris yang memiliki darah biologis pendiri D'A Cooperation. Para jajaran eksekutif senior tentu saja ada yang tidak menginginkan aku berada di posisi saat ini."
Arunika memang tahu jika sang suami sangat hectic dengan pekerjaannya. Selama mengarungi bahtera rumah tangga selama satu tahun, ia juga jadi tahu jika selama ini sang suami memiliki banyak musuh juga pesaing. Mengingat Altar dianggap sebagai pewaris yang tidak sah, karena tidak memiliki darah biologis pendiri D'A Cooperation. Pasti berat berada di posisi Altar yang selalu dibayang-bayangi oleh tekanan dari orang-orang yang meremehkan dirinya.
"Kamu bisa mengajukan resign jika itu memang kamu mau. Aku akan mendukung semua keputusan kamu."
Arunika tentu speechless mendengarnya. Selama menikah, Altar memang selalu memberikan apa yang ia inginkan. Bahkan tanpa Arunika harus berkata.
"Aku ....masih mau kerja di sana. Setidaknya, sampai aku berpamitan dengan cara yang benar."
"Oke," sahut Altar seraya mengelus pucuk kepala sang istri. Satu kecupan kemudian ia tinggalkan. "Dengan resiko apapun yang timbul setelah mereka tahu status kamu sebagai Nyonya Altar Jhonyan Dee Diantoro."
Arunika mengangguk seraya tersenyum lebar. "Toh, mereka sudah tahu kalau istri kamu. Sedang mengandung anak kamu juga," jawabnya. "Aku nggak khawatir soal apapun," tambahnya sembari melingkari pinggang liat sang suami. "Yang ada mereka makin patah hati."
ππ
Semoga suka π€
JANGAN lupa rate bintang 5 π like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π
__ADS_1
Tanggerang 13-12-23