
"Ini dokumen terakhir yang harus Anda periksa, Sir."
Pria rupawan yang duduk di kursi kebesaran di bagian Finance itu mengangguk kecil. Sesekali ia melihat jam saat hendak memeriksa dokumen. Jika sudah kelewat pusing, ia akan berdiam diri untuk sejenak. Menikmati pemandangan hotel Marina bay Singapura yang terpampang jelas dari balik jendela ruang kerjanya.
"Jangan lupa panggilkan teknisi IT. Ada sedikit trouble dengan firewall jaringan di personal komputer server saya."
"Baik, Sir," sahut asistennya selama bekerja di sini. "Ada lagi yang Anda butuhkan, Sir?"
"Charger."
"Charger, Sir?"
"Hm. Handphone saya kehabisan daya. Saya harus segera menghubungi istri saya."
Asistensi yang kebetulan berjenis kelamin perempuan itu langsung terdiam kala mendengar ucapan atasannya yang masih dikenal sebagai bujangan terpanas seantero kantor pusat.
"Anda .... memangnya sudah menikah, Sir?" tanya sang asisten, polos.
"Hm."
"Jadi, Anda benar-benar sudah menikah, Sir?!"
Altar, pria rupawan yang tadinya sibuk mengurus dokumen terakhir yang harus diperiksa itu mendongkrak. Menatap lawan bicaranya. Ia kemudian mengangkat tangan kanan guna menyentuh rahang. Jika diperhatikan secara seksama, ada cincin yang melingkari jari tengahnya semenjak satu tahun lalu. Apa tidak ada yang sadar?
Walaupun biasanya cincin nikah digunakan pada jari manis, menggunakan cincin di jari tengah juga menandakan tanggung jawab dan sedang menjalani hubungan serius. Tidak banyak orang yang memakai cincin di jari tengah. Namun, berdasarkan mitologi Yunani, jari tengah memiliki makna dan merupakan simbol tanggung jawab serta keseimbangan. Inilah salah satu alasan mengapa kepala keluarga memakai cincin di jari tengah.
Asisten nya yang kebetulan orang Indonesia itu langsung menutup mulut saat menyadari kode yang diberikan atasnya.
"Jika kamu sudah paham, lebih baik sekarang carikan charger. Istri saya pasti menunggu kabar dari saya."
"B-aik, Sir."
ππ
Perusahaan bersekala besar seperti D'A Cooperation pasti akan langsung bertindak ketika ada rumor yang tersebar luas mengenai sah satu staff nya. Hal itu juga berlaku bagi Arunika yang notabene sekretaris mantan Presdir yang sekarang menjabat sebagai Chef Eksekutif Officer atau CFO. Mudahnya direktur keuangan.
Peristiwa memalukan yang terjadi tiga hari lalu masih menjadi buah bibir yang ramai diperbincangkan. Alhasil Arunika dipanggil oleh pihak human resource development atau HRD. Bukan hanya dirinya yang dipanggil, namun Aling, serta Rose yang juga ada di tempat kejadian. Tak luput pula, Coryssa si Medusa.
Ini sudah menginjak hari keenam dari kepergian suaminya. Pria itu pasti sangat kewalahan, karena sempat berpesan jika ia akan sulit dihubungi. Masalah yang terjadi di kantor juga sepertinya belum sampai ke telinga pria rupawan tersebut.
__ADS_1
"Arunika muntah karena punya riwayat maag, Bu Sher. Pagi itu dia cuma makan rujak sebelum ikut briefing."
"Morning kok makan rujak? aneh nggak sih? orang normal 'kan seharusnya cari breakfast buat pagi, bukan cari rujak," timpal suara familiar yang begitu menganggu di telinga.
"Heh, suka-suka Aru dong. Dia mau breakfast atau nggak bukan urusan lo, itu 'kan seleranya!" timpal Rose. Ia tak terima ucapan Aling dibalas demikian oleh Coryssa si Medusa.
"Aneh aja gitu." Coryssa tidak mau mengalah. Sudah bukan rahasia umum lagi jika tabiatnya demikian.
"Kalian bisa diam sebentar? saya ingin dengar jawaban dari Arunika," instruksi pemilik ruangan. Bu Sherly namanya. HRD D'A Cooperation yang terkenal tegas, namun kooperatif. "Jadi mana yang benar, Aru? insiden tiga hari yang lalu didasari oleh gangguan lambung atau karena kamu memang sedang mengalami morning sickness?"
Arunika terdiam. Masih bergulat dengan pikirannya sendiri, memilah kata yang kira-kira pas untuk menjadi jawaban.
"Saya bukan bermaksud untuk menyinggung privasi kamu. Tapi, apa benar kamu bekerja sampingan di kelab malam?"
Arunika mengangkat pandangan. Menatap lawan bicaranya. "Ya, Bu. Pekerjaan sampingan saya adalah seorang Discjokey."
Bu Sherly manggut-manggut mendengarnya. "Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?"
Arunika menjatuhkan pandangan pada permukaan perutnya yang tertutup oleh pakaian. "Saya memang sedang hamil."
Kejujuran yang baru saja dilontarkan oleh Arunika itu tentu saja membuat seisi ruangan terdiam. Aling dan Rose termasuk orang yang sangat dekat dengannya, namun mereka juga tidak tahu jika Arunika sedang hamil.
"Oh My God, lo nggak bercanda 'kan, Ru?" tanya Rose antusias. Ia jadi orang pertama yang merespon.
Bu Sherly sekali lagi mengangguk. Kali ini sembari membenarkan letak France kacamata. Ia tampak sedikit terkejut, namun pandai menyembunyikannya.
"Suami? lo bercanda, ya? memangnya kapan lo married?" tanya Coryssa, bertubi-tubi. "Atau jangan-jangan lo jadi istri siri?" lanjutnya, tak berperasaan.
"Heh, punya mulut dijaga, ya!" balas Rose.
"Mulut kurang etika," imbuh Aling juga.
Mereka berdua tentu tidak terima Arunika terus dipojokkan. Coryssa tidak tahu apa-apa. Tetapi selalu bicara sok tahu.
"Lah, gue bicara soal fakta dan realita. Toh, bener 'kan nggak ada yang tahu pernikahannya?"
Arunika tersenyum tipis seraya geleng-geleng kepala. Ia tahu Coryssa sudah keterlaluan, tapi ia tak mau memberikan balasan.
"Semua keputusan ada di tangan Bu Sherly. Saya sudah mengatakan kejujuran yang ibu inginkan."
__ADS_1
"Baik. Saya akan mempertimbangkan lagi terkait masalah ini," sahut Bu Sherly. "Diluar masalah yang ada, saya ingin mengucapkan selamat atas kehamilan kamu," sambung Bu Sherly.
"Terima kasih, Bu."
Arunika memutuskan untuk bicara soal fakta, karena mungkin ini sudah waktunya. Janin dalam kandungannya tidak perlu ia sembunyikan bak aib, karena janin itu adalah hasil dari ikhtiar dan tawakal yang dilakoni olehnya dan sang suami.
"Siapa suami lo?" tanya Coryssa yang tiba-tiba menghadang jalan Arunika.
Mereka sudah diizinkan meninggalkan ruangan HRD. Namun, sepertinya Coryssa masih belum puas menyudutkan Arunika. Lihatlah bagaimana caranya bertanya di depan semua orang yang sedang berlalu-lalang.
"Atau jangan-jangan bapaknya, Airlangga?"
Pertanyaan Coryssa yang cenderung blak-blakan itu tentu menarik perhatian banyak orang. Mereka penasaran. Pasti, rumor yang muncul akan dengan cepat menyebar luas di kantor.
"Bukan," jawab Arunika seadanya. Ia berusaha tenang menghadapi Coryssa si Medusa.
Di sampingnya Aling dan Rose sudah siap melawan Coryssa, namun ia halangi. Coryssa bukan hanya kali ini saja mencari gara-gara. Dulu saat rumor tentang Arunika, Arumi dan Altar terlibat skandal juga ia bersikap seperti ini.
"Kenapa pernikahan lo ditutup-tutupin? lo malu?"
"Nggak juga," sahut Arunika. "Itu keputusan yang gue pilih sesuai kesepakatan sama suami gue."
Coryssa tersenyum miring mendengarnya. "Siapa sih suami lo? atau jangan-jangan, mantan tunangan lo yang dulu nikah sama cewek lain?!"
"Heh, Medusa. Jaga bicara lo, ya!" Aling lepas kendali. Ia yang paling emosi jika anda yang mengungkit-ungkit masalalu Arunika dengan bajing*n bernama Dewangga. Mantan pacar Arunika yang berkhianat.
"Sebenernya lo mau apa dengan bersikap begini?" tanya Arunika. Ia tahu ada yang Coryssa inginkan dari tindakannya ini.
"Resign. Gue muak lihat lo di sini."
"Lo mau gue resign?" ulang Arunika seraya menatap Coryssa lekat-lekat. "Kalau gue mau resign, gue bakal resign tanpa lo harus bikin keributan kayak gini. Kekanakan."
Sebenarnya Arunika tahu alasan apa yang mendasari Coryssa untuk berbuat seperti ini. Coryssa ini adalah salah satu mantan kandidat terbaik untuk menjadi sekretaris Altar yang disortir oleh bu Yangti. Namun, Altar memilih Arunika yang notabene tidak ada dalam list. Coryssa sudah menyimpan harapan tinggi, ia pasti yang akan terpilih jika melihat bagaimana skill serta pengalaman. Akan tetapi, yang keluar sebagai pemenang adalah Arunika. Semenjak itu lah Coryssa makin tidak suka dengan Arunika.
"Kalau resign bikin lo puas, besok gue bakal mengajukan resign ke Bu Sherly."
ππ
Semoga suka π€
__ADS_1
Jangan lupa rate bintang 5 π like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π
Tanggerang 04-12-23