
Ibu memandangi Putri "Hati-hati di jalan, pulang nya jangan sampai malam Put, kalau pulang nanti telpon suami kamu suruh nginap sini lagi. Mama mau bicara penting sama dia," ucap bu Ajeng menambahkan.
"Iya," Putri mengiyakan saja padahal dia tidak mau sampaikan pesan mamanya itu.
"Untuk apa lagi dia nginap di sini, hanya buat nyesek aja," ujar Putri cemberut.
"Semalam Sultan nginap ke rumahmu ya Put?" tanya Tia.
"Iya, tapi paginya udah pergi."
"Oh, kerja ya?"
"Gak tau, sepertinya ia sedang bertemu seseorang. Kamu tau tidak sebenarnya kami hari ini itu kami pergi ke luar negeri lho. Tapi batal. Aku dan Sultan memutuskan gak jadi pergi padahal tiket udah siap."
"Lho kenapa gak jadi? sayang kan tiketnya."
"Iya tapi yang beli bukan kita kok, Papanya Sultan. Ia menyuruh kami berbulan madu di sana."
"Papa Sultan baik banget ya Put. Andai aku punya mertua sebaik dia. Udah kaya baik lagi, hidupmu beruntung banget Put. Seharusnya kamu bersyukur."
"Iya, beda banget dengan anaknya super nyebelin. Pernikahan kami juga hanya sebatas di atas kertas kok Tia. Aku dan Sultan tidak saling mencintai. Aku gak tau apa pernikahan ini akan tetep di jalani atau diakhiri.'
"Lho kok gitu sih? si Sultannya nyebelin bagaimana?"
"Hem malas ah, cerita tentang dia."
"Cie-cie ... aku lihat ada roman-roman aneh di wajah mu."
"Roman aneh? ada-ada saja kamu."
Putri mengajak Tia secepatnya pergi agar cepat sampai. Keduanya naik angkot pergi ke sebuah kafe yang di tentukan Tia untuk menemui seseorang di sana.
Sampai di sebuah kafe Tia dan teman prianya akan bertemu. Tia merasa ragu untuk menemui pria itu akhirnya ia menyuruh Putri yang menemui pria itu sedangkan ia duduk di bangku pojokan mengintai dari jauh.
Saat Tia menoleh ke belakang ia melihat ada Sultan bersama seorang cewek cantik sedang berduaan.
Tia enggan nyamperin mereka ia cuma menguping semua pembicaraan mereka. Ternyata cewek cantik itu adalah Ratu yang datang tiba-tiba karna suatu kesalahannya ia meminta maaf pada Sultan di tempat itu.
"Sultan aku benar-benar minta maaf padamu karna aku sudah membuat mu malu, karna kita batal menikah," ucap Ratu.
"Pada saat itu aku lari bersama Ayah karna di kejar dekolektor yang kasar. Pada saat itu sebenarnya aku akan segera pergi di acara pernikahan kita tapi Papa mengajakku lari kalau gak kami akan di bunuh Sultan," lirih Ratu bercerita.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak hubungi aku pada saat kejadian itu aku kan bisa membantu."
"Sudah tidak ada waktu lagi, Ponselku tertinggal di kamar. Dekolektor itu sudah di depan rumah, seketika itu pula kami lewat pintu belakang pergi melarikan diri. Kami baru saja pulang tadi malam kerumah, syukurlah situasi sudah aman makanya aku baru bisa menghubungi kamu. Maaf yah sekali lagi. Selama ini aku menghilang aku sama Ayah bersembunyi di rumah keluarga di desa Ayah. Aku juga akan meminta maaf pada Papamu dan menjelaskan semuanya. Aku mau kamu memberikan aku kesempatan lagi Sultan aku mau jadi istrimu," ujar Ratu meminta.
"Sultan...!" ucap Tia kaget ia juga membawa Putri di depan Sultan.
Tia bertanya pada Putri siapa gadis yang bersama Suaminya itu dan Putri menjawab dengan bisikan kalau gadis itu adalah calon pengantin Sultan yang tidak datang pada saat pernikahannya.
"Kalian ada di sini juga?" ucap Sultan kaget dan ia merasa gugup.
"Siapa mereka Sayang?" tanya Ratu mendelik.
"Me-mereka karyawan lestoran langganan Papa ...," ucap Sultan terbata-bata.
"Oh karyawan lestoran. Hai semuanya," ucap Ratu ramah.
Tia kaget mendengar ucapan Sultan yang tidak mengakui Putri sebagai istrinya. Putri pergi dari tempat itu dan Tia juga menyusul.
"Putri tunggu!" ucap Tia menahan langkah Putri.
"Ayo kita pergi dari sini Tia. Aku tidak sanggup harus melihat mereka."
"Yah itu terserah kamu kalau kamu masih mau menunggu teman kamu kamu tunggu aja, aku mau pulang aja kamu temui saja temanmu itu yah," ucap Putri dengan linangan air mata.
"Tunggu sebentar saja Put," ucap Tia memohon.
"Maaf Tia, aku gak bisa," ucap Putri ia pun pergi dari lestoran itu. Sedangkan Sultan juga tidak tenang ia tidak tega melihat Putri namun ia juga tidak bisa bilang ke Ratu kalau Putri adalah istrinya.
Putri pergi dengan rasa kecewanya.
Tia masih mengejarnya dan ia menarik tangan Putri.
"Put, tunggu dulu!" ucap Tia.
"Apaan sih Tia? aku mau pulang!"
"Kamu nagis?"
"Gak! kok," sangkal Putri ia menyembunyikan wajahnya dari Tia.
"Itu...!"
__ADS_1
"Iya jujur aku kesal."
"Kamu cemburu? dan kecewa? kata kamu pernikahan kalian cuma di kertas. Tapi, kamu kok baper sih?" ujar Tia.
"Hem, aku gak cemburu kok aku kesal aja kok dia gak mau ngaku kalau aku ini istrinya."
'Yah jelas lah Sultan tidak mengakuinya. Itukan calon istrinya gimana ceritanya kalau dia akui kamu yang ada cewek itu pasti marah lah sama Sultan."
"Aku mau pulang aja!" ucap Putri.
"Tunggu dulu! kita pergi sama-sama, pulangnya harus sama-sama juga. Kamu kan sudah janji sama aku mau tunggu pria yang ku ceritakan itu."
"Yah sudah. Tapi, kalau 10 menit lagi dia tidak datang maka aku akan pergi."
"Baiklah!"
"Ini, kamu pengang ponsel aku, nanti dia chat kamu balas ya. Katanya dia sudah otw. Aku duduk di sana kamu temui dia yah!" pinta Tia ia pun beranjak.
"Tia...!" panggil Putri. Tia sudah menjauh, Putri terpaksa menuruti kemauannya.
"Dasar gadis aneh, mau ketemu sama cowok aja gak berani. Masa aku yang temui sih! dasar Cemen kamu Tia," ucap Putri sendirinya.
Ponselnya berbunyi pria yang dimaksud Tia sudah chat dan ia sudah berada di lestoran. Ia bilang kalau dia memakai baju hitam. Putri pun melihat di sekeliling dan ia melihat pria itu, Putri pun menemuinya, "Kamu Chico?" ucap Putri bertanya.
"Yah, aku Chico. Apa kamu Tia?" tanya pria itu.
"Iyah, aku Tia." jawab Putri berbohong.
"Oh mari kita duduk!" ajak pria itu.
Putri melayangkan pandangannya ke arah Tia yang memperhatikan mereka dari jauh. Tia memberi kode kalau Putri harus ngobrol dengan pria itu.
Putri pun duduk dengan terpaksa harus menuruti kemauan Tia ia mengobrol dengan pria yang bernama Chico itu.
Pria itu lumayan tampan dan ia cukup ramah. Sepertinya ia menyukai Putri. Putri pun jadi risih.
Saat itu kebetulan Sultan dan Ratu melewati mereka karna mereka sudah mau pulang. Sultan menoleh dan ia melihat Putri. Timbul pertanyaan di benaknya. Putri lagi duduk dengan siapa? Sepertinya itu bukan mantannya yang bernama Raja itu deh, siapa dia?
Sultan melirik pria yang duduk bersama Putri itu ia memegang tangan Putri dan Sultan tidak suka.
Bersambung...
__ADS_1