
Arjuna melayangkan pandangan ke arah luar ia melihat Putri berdiri di depan pintu. Arjuna segera memberi isyarat pada Sultan kalau ada Putri di situ. Sultan pun berpura-pura cari bahan pembicaraan lain agar Putri tidak curiga. Padahal, dari awal Putri sudah mendengar semua obrolan mereka yang saling curhat satu sama lain. Dengan gugupnya Arjuna menyuruh Putri masuk. Sultan membetulkan posisinya ikut gugup melihat kedatangan Putri.
"Masuk aja Put, ngapain berdiri di situ?" ucap Arjuna menegur.
"A-iya aku baru saja kok di sini. Kalian abis obrolin apa? ngomongin aku ya?" ucap Putri basa-basi.
"Kamu PD banget ya? jadi cewek kita gak ngomongin kamu kok. Iya kan," ujar Arjuna sambil menyenggol pundak Sultan. Sultan pun menyiagakan nya.
Putri mengabaikan obrolannya tadi. Ia mengalihkannya dengan pertanyaan lain tentang kesehatan Sultan. Sultan pun menjawab kalau dia tidak apa-apa hanya masuk angin biasa.
"Jangan berbohong padaku, sebenarnya kamu sudah lama mengidap penyakit kan?" tebak Putri.
"Apa Dokter sudah menceritakan semuanya padamu?"
"Iya dan Dokter menyuruh kamu segera rujuk ke rumah sakit besar di kota," terang Putri.
Sultan menarik napas panjang ia memalingkan wajahnya.
"Kenapa? kamu tidak mau?"
"Siapa yang akan membantu aku pergi kesana? kamu tau kan aku sudah miskin tidak punya apa-apa lagi."
"Jangan berkata begitu, anak Sultan akan selamanya akan jadi anak Sultan. Sebentar lagi Papamu akan datang ke sini buat menjemput kamu."
"Serius? apa kamu yang menelpon Papa?"
"Ya!" ucap Putri datar.
"Putri ... makasih banyak ya kamu sudah bantu aku," Sultan langsung meraih tangan Putri dan menciumnya.
Arjuna jadi merasa tidak enak berada di tengah-tengah mereka, hatinya cemburu melihat adegan mereka barusan ia pun pamit keluar.
__ADS_1
Putri memanggilnya tapi Arjuna tidak mau mendengar suara Putri, ia pergi dari tempat itu.
Dengan lemahnya ia berjalan menyusuri koridor hendak keluar dari tempat itu.
"Putri memang pantas bersama Sultan, aku tidak akan bisa seperti Sultan yang punya segalanya. Bahkan mereka sudah menikah buat apa lagi aku ganggu hubungan mereka. Biarlah semua berlalu mulai hari ini aku akan melupakan Putri," ucapnya.
Arjuna mempercepat jalannya ia sudah di halaman Puskesmas mengambil motornya di parkiran ia pun pergi dari tempat itu.
Sultan yang saat itu masih di ruangan bersama Putri
berpura-pura tidak sakit ia mengajak Putri pulang sebelum Papanya datang karena ia tidak mau ketahuan sakitnya belum sembuh, ia takut merepotkan Papanya seperti yang sudah-sudah. Saat itu ia bertekad tidak mau lagi mengecewakan Papanya ia juga berniat meminta maaf akan memperbaiki sikapnya selama itu yang mungkin membuat Papanya kecewa.
"Put, mau kan kamu berjanji padaku?'
"Janji apaan?" ucap Putri dengan wajah bingung.
"Jika Papa kesini, tolong jangan ceritakan semua penyakit ku padanya. Karna, aku tidak mau buat dia susah lagi," ujar Sultan melirih.
"Tidak Put, sudah cukup aku selama ini menyusahkan Papa, kasian dia selalu susah karena aku."
"Tapi 'kan kamu lagi sakit Sultan, kamu harus berobat dan aku tidak punya uang buat membayar biaya pengobatan mu itu! asal kamu tau ya Bapak-bapak tadi sudah membawa Ponsel dan Cincinku kini aku tidak punya apa-apa lagi. Jangan konyol ya kamu masih mau membohongi Pak Dewa. Aku tidak setuju dengan keputusanmu."
"Siapa yang suruh kamu obati aku, aku gak suruh kamu kan?"
"Tapi aku ..."
"Tapi apa Put?"
"Aku kuatir dengan dirimu Sultan," ujar Putri sambil menyembunyikan wajahnya tampak malu mengakui kalau dirinya tidak tega melihat Sultan sakit walau ia sudah kehilangan Ponsel dan Cincinnya ia tidak peduli.
Sultan membalikan badannya ia memandangi wajah Putri lalu tertawa.
__ADS_1
"Apa kamu serius peduli denganku? sampai memberikan ponsel dan Cincin kawin kita pada Bapak-bapak itu?"
"Em, jangan baper dulu. Aku hanya kasian sama Pak Dewa nantinya dia juga yang akan repot kalau kamu sakit. Aku sih ogah mikirin kamu, bukan urusan aku juga," cibir Putri dengan wajah sinis.
"Jadi kamu cuma kasian ke Papa bukan ke aku?"
"Iya, buat apa kasian sama orang yang gak punya hati iyakan?"
"Putri ternyata kamu memang egois! wajar saja Raja tinggalin kamu menikah dengan perempuan lain," ujar Sultan balik mencibir.
"Heh! kok bawa-bawa nama Raja? aku dan dia sudah And gak ada hubungan lagi, kenapa kamu sebut-sebut lagi depanku malah ngatain aku egois lagi. Kamu tidak tau apa-apa soal hubunganku dengan Raja jadi tutup mulut mu!" bentak Putri memanas.
"Apa iya kamu sudah tidak mencintai dia lagi?" tanya Sultan masih ragu.
Tanpa menjawab pertanyaan Sultan Putri keluar dari ruangan itu meninggalkan dia. Hatinya sedang panas dan jengkel karena Sultan sudah mengungkit masa lalunya.
"Putri kamu mau kemana?" seru Sultan.
"Aku mau pulang. Malas disini bukannya berterimakasih malah nyakitin hati!" ujar Putri dengan ketusnya.
"Putri ...!" Sultan hendak bangun. Namun, kepalanya tiba-tiba sakit dan ia pun jatuh pingsan.
Putri menoleh dan melihat Sultan terjatuh.
"Astaga ...!" seru Putri ia pun berbalik arah menghampiri Sultan sambil berteriak membangunkan Sultan.
Saat itu juga Pak Dewa baru tiba di Puskesmas tersebut. Ia langsung bertanya kepada petugas kemana ruangan Sultan. Setelah sampai ruangan Sultan, ia langsung melihat Putri menangis sambil membangunkan anaknya yang sudah tidak sadarkan diri itu.
"Ada apa ini...?" tanya Pak Dewa dengan wajah panik.
"Pak Dewa, syukurlah Bapak datang. Sultan pingsan Pak," ucap Putri sambil menangis.
__ADS_1
Pak Dewa langsung berlari memanggil Dokter.