
Di saat Putri dan Tia pergi Sultan datang ke lestoran tempatnya bekerja ia berteriak mencari Putri.
Arjuna dan Raja yang mendengar teriakan Sultan bergegas keluar secara bersamaan. Mereka saling membuang muka tapi memandang ke arah yang sama yaitu melihat siapa yang datang berteriak memanggil Putri yang tidak lain adalah Sultan
"Hey ...! apa kamu tidak tau sopan santun masuk ke sini teriak-teriak?" cegah Raja saat tau itu Sultan ia sengaja ingin membuat rusuh dengannya.
"Jangan ikut campur kamu! aku cuma cari istri aku di sini. Mana dia?" tanya Sultan.
"Wei Wei ... kamu tidak di terima di sini jangan sembarang masuk! ini bukan lestoran Bapak kamu!" cetus Raja yang sengaja tidak membiarkan Sultan masuk karna ia sangat membenci Sultan.
"Ini pun juga bukan lestoran Bapak kamu! kenapa sih melarang aku masuk! aku mau ketemu Putri," ujar Sultan memanas.
"Putrinya tidak ada di sini, jadi kamu di larang masuk! sana pergi!" usir Raja ia tidak suka melihat Sultan yang sok-sokan itu.
"Kurang ajar kamu berani mengusir-ngusir aku," Bruk ...! Sultan melayangkan tinjuan si perut Raja.
Arjuna cuma diam melihat pertunjukan itu bukan nya melerai malah ia membiarkan mereka bergulat.
Tinjuan demi tinjauan mendarat di tubuh mereka masing-masing, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.
Di saat bos lestoran mendengar kabar ada yang berkelahi ia pun menemui keduanya yang sudah babak belur bertikai tidak ada yang mau mengalah mereka sama-sama tegah emosi tidak bisa di hentikan akhirnya Bos lestoran berteriak meminta mereka untuk berhenti berkelahi. Keduanya menoleh ke arah suara mereka kaget sudah dikerumuni oleh banyak karyawan dan pengunjung lain.
__ADS_1
Bos lestoran mengusir Sultan sedangkan Raja diadili di ruangannya akan di beri sanksi. Sultan masuk dalam mobilnya dan berusaha menahan sakitnya mukanya memar dan bibirnya berdarah ia menuju lokasi syuting tempatnya bekerja.
Sultan tiba di tempat syuting.
Ia turun memasuki tempatnya biasa syuting. Semua kru kaget melihat tampang Sultan yang babak belur mereka pun bertanya. Tapi Sultan berdiam diri saja.
Asisten membawa Sultan ke ruangan sutradara. Kebetulan hari itu ada pemotretan melihat kondisi Sultan tidak memungkinkan Pak sutradara memarahi Sultan habis-habisan dan mengusirnya.
Sultan pergi dengan hati yang dongkol. Ia masuk kembali ke mobilnya dan menenangkan dirinya.
"Sialan ...! ini semua gara-gara Putri, mimpi apa aku semalam semua kacau dan berantakan seperti ini," ucapnya merasa dongkol. Ia pun pergi dari tempat itu.
Sultan melirik ponselnya yang menyala berada di bawah kursi ia pun meraihnya. Dengan kagetnya ia melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Papanya. "Kenapa aku bisa lupa kalau Papa mau menelpon tadi?" ucapnya menyalahkan dirinya.
📞"Halo Pa," ucap Sultan memberi salam.
📞"Kemana saja kamu Sultan, di telpon tak diangkat." Pak Dewa membentak Sultan.
📞"Em maaf Pa, aku lagi sibuk tadi antar Putri belanja," ucap Sultan beralasan.
📞"Apa itu benar?" Pak Dewa ragu.
__ADS_1
📞"Ya benar buat apa Sultan bohong."
📞"Mana Putrinya Papa mau bicara!* ucap Pak Dewa dengan nada keras.
📞"Em Putrinya lagi di ruangan dokter Pa, sekarang ia berada di rumah sakit tapi aku ada di luar nih Pa sedang cari makanan untuk mereka," ucapnya berbohong lagi.
📞"Oh bagitu ya sudah sampaikan saja salam Papa pada Ayah dan Mamanya Putri, semoga Mama Putri cepat sembuh."
📞"Iya Pa, sudah dulu ya Pa. Aku udah mau jalan nih."
📞"Jalan? jalan kemana?"
📞"Ke rumah sakit karna Sultan kan ada di pasar nih cari makanan."
📞"Oh ya sudah. Awas kamu berani bohongi Papa lagi Sultan. Masih ingat kan dengan resiko ya apabila kamu melanggar ucapan Papa?"
📞"Iya masih ingat kok Pa."
📞"Bagus!" ucap Pak Dewa menutup Ponselnya.
Mereka pun selesai berbicara. Sultan semakin merasa dongkol dan memanas. "Sejak kenal Putri hidupku selalu sial, dapat ancaman dari Papa, pekerjaan ku berantakan, semuanya bikin pusing ...!!" teriak Sultan. Ia pun segera melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Saat di perjalanan, Ratu menelpon Sultan ia meminta Sultan menemuinya di sebuah Kafe.
Sultan pun bergegas pergi menuju tempat yang di sebutkan Ratu.