Mendadak Jadi Istri Sultan

Mendadak Jadi Istri Sultan
Sultan masuk angin


__ADS_3

Sore telah tiba Sultan belum menemui Putri lupanya ia sibuk dengan pekerjaannya. Ia baru sempat menjemput Putri malam hari. Tapi ternyata Putri tidak di ijinkan pulang pada malam hari itu oleh kedua orang tuanya. Sultan pun terpaksa di suruh menginap. Saat di rumah Putri, Sultan di layani dengan baik oleh kedua orang tuanya. Saat itu Sultan sedang mengobrol dengan Papa Putri. Putri di suruh membuat minuman untuk mereka.


"Silahkan diminum maaf adanya cuma teh panas," ucap Putri.


"Gak apa-apa apapun boleh asal iklas buatnya," cibir Sultan.


"Sedikit iklas. Namun, terpaksa hehehe," kelakar Putri.


"Maaf cuma bercanda. Kamu kok tiba-tiba datang kesini sih!" tanya Putri.


"Yah aku terpaksa menjemput kamu di sini takut Papa nelpon. Lagian kamu kan istri aku wajar dong aku jemput kamu," ucap Sultan basa-basi padahal ia menjemput Putri atas perintah Mama Dayang.


"Aku bisa pulang sendiri kok besok pagi, kamu pulang aja sendirian yah," pinta Putri.


"Putri, kamu kok usir suaminya sih? biarkan ia menginap di sini barang satu malam. Ini kan sudah malam gak baik jalan sendiri di luar," sambung papa Putri.


"Menginap?" Sultan kaget.


"Iya menginap. Papa gak akan ijinkan kamu pulang malam-malam begini, Papa kuatir jalanan sepi takut bahaya apalagi sekarang sedang gerimis rawan kecelakaan."


"Cuma gerimis gak apa-apa lah Pak, 'kan pake mobil."


"Gak boleh, kamu harus nginap di sini. Ini sudah malam Papa gak mau ambil resiko jika kamu ada apa-apa di jalan banyak bahayanya."


"Yah, kalau Sultan nginap di sini mau tidur dimana coba!" gerutu Putri.


"Ya di kamar kamu lah, kalian kan sudah suami istri. Gimana sih!" ucap Pak Raden gak abis pikir.


"Baiklah Pak, saya akan menginap di sini," Sultan melirik Putri merasa tidak yakin dengan ucapannya.


"Ya sudah Ayah tinggal dulu ya. Sebaiknya kalian pergi tidur saja karna ini pun sudah malam kalian kan pengantin baru," ucap Pak Raden.


"Iya Yah, sebentar lagi kita akan masuk," sahut Putri.


Papa Putri pun masuk dan meninggalkan mereka berdua.


"Put, bagaimana ini aku mau tidur dimana?" tanya Sultan sambil melihat di sekeliling ruangan rumah Putri ia melihat tampak sempit menurutnya.


"Di kursi aja," ucap Putri terseyum.

__ADS_1


"Nggak mau, aku mau kamu yang di kursi dan aku di ranjang kamu."


"Enak saja gak mau!" Putri pun masuk ke kamar langsung naik ranjangnya Sultan menyusul sambil melihat di sekeliling kamar.


"Kamar kamu sempit banget sih," ucap Sultan meledek.


"Wajarlah sempit aku kan tidurnya sendirian. Kamu taunya menghina doang, mentang-mentang punya kamar besar itu juga rumah Papa kamu kan?" cibir Putri manyun.


"Kamu tega banget sih biarin tamu tidur di kursi, aku tidak biasa tidur di kursi yang ada aku jatuh lagi kursinya kan sempit," keluh Sultan.


"Mau tidur dimana lagi? di rumah ini cuma ada kamar dua. Kalau kamu mau kamu boleh tidur di ruang tamu kursinya agak enakkan dikit ada busanya mau?" tawar Putri.


"Gak-gak, ntar orang tuamu tau lagi sandiwara kita."


"Iya juga sih, yah aku bingung kamu mau tidur dimana, terserah kamu aja deh mau tidur dimana. Aku ngantuk."


Akhirnya Sultan dapat ide ia akan tidur di lantai saja ia pun meminta tikar untuk alasnya. Putri mengambil dan memberikannya pada Sultan sehelai tikar tipis.


"Yakin mau tidur di lantai, gak takut kedinginan?" tanya Putri.


"Yakin, aku sudah biasa kok waktu di kampung Nenek dulu tidurnya di lantai cuma pake alas tikar begini juga," Sultan mulai menyiapkan tempat tidurnya. Putri memberinya bantal dan selimut tipis dengan sedikit tersenyum karna ia tidak yakin kalau Sultan bakal bisa tidur kalau di lantai.


"Aku gak yakin kamu bisa tidur di lantai, anak Sultan kayak kamu gak akan kuat pasti badan kamu pegal-pegal soalnya kamu biasa tidur di kasur yang empuk," Putri terseyum.


"Ya sudah kalau gitu, kamu tidur aja lagi aku juga mau tidur ngantuk banget," ucap Putri sambil menguap.


Mereka pun mulai tidur saat tengah malam Sultan merasa menggigil, ia bersuara memanggil Putri. Dari tadi ia tidak bisa tidur karena ia menggigil kedinginan tidak biasa tidur di lantai dengan alas yang tipis.


"Put... Put... dingin Put... aku menggigil," ucap nya pelan dengan getaran suara.


Sayup-sayup Putri mendengar suara dari bawah ternyata Sultan yang memanggilnya. Sontak ia bangun dan mengecek keadaan Sultan.


"Sultan kamu kenapa?"


"Dingin Put."


"Astaga! badanmu panas," ucap Putri sambil memeriksa suhu tubuh Sultan.


"Sepertinya kamu demam. Ayo naik ke atas.

__ADS_1


"Ke atas mana?" ucapnya lemah.


"Di ranjangku."


"Gak apa-apa, kamu gak marah?"


"Gak kamu demam aku jadi kuatir. Gak apa-apa kamu tidur di ranjangku aja," ucap Putri.


Sultan bergegas bangun di bantu Putri ia pun duduk di ranjang Putri. Dengan pelan-pelan Putri merebahkan tubuh Sultan ke atas kasur. Putri tampak panik ia pergi ke dapur mengambil air untuk mengompres Sultan.


Secepatnya ia balik pergi ke kamar dan langsung mengompres Sultan.


"Kata kamu kuat, kok jadi gini? dasar manja," cibir Putri.


"Biasanya aku kuat kok, gak kayak gini mungkin aku memang mau demam aja, karna kecapean gak pernah istirahat."


"Alla... ngaku aja pake malu-malu segala kamu itu badannya rentan biasalah anak Sultan," ledek Putri sambil mengompres.


"Gak gitu, aku kuat kok. Itu karena aku kurang istirahat bukan karna tidur di lantai," ucap Sultan tidak mau mengakui kalau dirinya memang lemah.


Sultan menggigil kedinginan Putri menyelimuti seluruh tubuhnya gantian dia yang tidur di lantai.


Sampai pagi Sultan tidur dengan nyenyak sedangkan Putri tidak bisa tidur sampai pagi karena kuatir dengan kondisi Sultan.


Tepat pukul 6 Putri bangun pagi ia menyiapkan sarapan untuk Sultan. Mama Ajeng terseyum melihat perubahan Putri yang biasanya tidur suka telat bangun.


"Hem anak Mama sudah bangun sepagi ini?" ucap Mama sambil tersenyum.


"Iya Ma, Sultan demam hari ini aku mau ajak dia ke puskesmas," ujar Putri.


"Demam? kok bisa tiba-tiba gitu, kemarin baik-baik saja."


"Gak tau Ma, mungkin dia gak cocok sama suasana rumah kita."


"Ya sudah kalau gitu, Mama mau ke pasar belikan dia buah-buahan."


"Biar dia sehat harus makan buah dan sayur. Apa kamu mau nitip sesuatu?" tanya Mama Dayang.


"Iya ada Ma, Putri nitip obat jamu yang biasa Mama minum kalau masuk angin. Mungkin Sultan masuk angin."

__ADS_1


"Cie... pasti semalam kalian lembur ya?" ledek Mama Dayang.


"Apaan sih Ma...! kita gak ngapa-ngapain kok," Putri jadi malu.


__ADS_2