
Putri dan Sultan sudah berangkat Pak Dewa memandangi mereka dari kejauhan terlintas di benak Pak Dewa yang sudah tidak sabar ingin melihat mereka akan segera punya anak, ia pun larut dalam lamunannya. Dua anak laki-laki kembar berjalan ke arah Pak Dewa ia pun tersenyum ke arah dua anak laki-laki itu hendak menghampirinya dan memanggilnya Kakek. Saat ia ingin menyambut tangan kedua anak laki-laki tersebut, mereka pun sirna. Pak Dewa jadi sedih ternyata itu cuma halusinasinya saja.
Ya ampun aku sampai melamun begini aku tidak mau ini cuma terjadi dalam hayalan ku saja Sultan dan Putri harus segera memberikanku cucu kalau tidak maka sia-sialah perjuangan ku selama ini. Aku berharap ada penerus yang akan mewarisi semua aset yang ku punya. Hidupku tidak akan sempurna tanpa penerus karna Sultan satu-satunya harapanku, ucapnya membatin.
Lain halnya dengan Putri dan Sultan mereka berdebat dari tadi didalam mobil hanya karna beda pendapat mau pergi kemana. Sultan yang saat itu ingin menemui Ratu dengan mengajak Putri agar Papanya tidak curiga sedangkan Putri mau pergi ketempat kerjanya. Tentu saja Putri menolak karena Putri juga punya kepentingan yang lebih penting dari itu. Ia harus berkerja dan memastikan kalau Arjuna sudah masuk kerja hari itu.
Berkali-kali Putri menelpon Arjuna tapi tidak di angkatnya akhrinya ia menelepon Tia yang sudah sampai di tempat kerja untuk memastikan Arjuna masuk atau tidak.
Putri tidak mau menghiraukan kemauan Sultan yang terus memaksanya untuk menemani dirinya bertemu dengan Ratu.
"Ini yang terakhir kalinya aku bicara padamu Putri, aku adalah suami. Jadi, kamu harus menuruti apa kemauanku titik!" cetus Sultan sudah tidak sabar lagi melihat sikap Putri yang terus menolak tidak mau menemaninya.
Putri bertepuk tangan saat mendengar ucapan Sultan sambil tertawa.
"Jadi, begini yang namanya suami? mengajak istri untuk ketemu dengan wanita lain, hebat banget yah kamu suami macam apa itu. Emang ada ya, istri yang rela melihat suaminya bertemu dengan perempuan yang bukan keluarganya melainkan kekasihnya. Aku rasa kalau pun ada itu cuma di sinetron. Tidak ada perempuan yang rela menyaksikan suaminya pacaran, gak lucu itu. Aku mau turun di sini saja, berhenti!" pinta Putri mencetus.
Sultan terdiam sejenak. Kalau aku tidak bersama Putri pasti Papa akan marah besar padaku dan ia pasti akan terus mengancam aku lagi. Bikin pusing aja aku harus bagaimana Ratu juga udah tiba di sana pengen ketemu.
"Oke! aku bukan suamimu disini, silahkan turun tapi ingat saat urusanku selesai dengan Ratu kamu harus siap untuk pulang bersamaku lagi. Nanti aku telpon kamu. Bagaimana dil?"
"Oke aku turun di sini saja," sahut Putri dengan mantap.
__ADS_1
"Silahkan! ..."
"Tunggu ...!
"Apa lagi?" Putri berhenti.
"Jangan-jangan coba-coba ngadu ke Papa kalau aku jalan dengan Ratu. Awas kamu!" ancam Sultan.
"Pakai ancam segala lagi, kamu takutnya aku bilangin Papanya? Hahahaha dasar pengecut!" Putri meledek Sultan yang masih melototi nya. Ia pun pergi dan berlalu keluar dari mobil Sultan.
"Dasar suami nyebelin bikin nyesek aja, kemauan dia harus di penuhi giliran kemauanku tidak dianggap nya sama sekali. Memang nasib ... berarti aku harus jalan kaki dong dari sini mana lestoran masih jauh lagi," keluhnya berjalan dengan kesal.
Saat Putri berjalan kaki sebuah mobil membututi nya dari belakang. ia mengikuti kemana pun Putri pergi.
"Itu orang kurang kerjaan banget, masih saja gangguin padahal aku sudah manasin-manasin dia tetap saja masih nekat," gerutu Putri berjalan pelan sambil mengomel sendiri. Raja masih memanggilnya tapi Putri terus berjalan lebih cepat lagi menghindari Raja.
Akhirnya Raja menikung Putri, dengan kagetnya Putri langsung histeris.
"Dasar kurang ajar! kamu gak punya akhlak main nikung aja, kalau aku ketabrak dan langsung mati bagaimana? mau tanggung jawab kamu!" omel Putri benar-benar marah.
"Maaf, abisnya kesal di panggil-panggil gak mau berhenti. Kok jalan kaki sih?" tanya Raja sambil tersenyum meledek.
__ADS_1
"Bukan urusan kamu!"
"Dimana suaminya yang Sultan itu apa kalian sudah cerai?" ujar Raja memanas-manasi Putri.
"Brengsek kamu, mau tau aja kehidupan aku. Aku mau cerai kek, mau putus kek, bukan urusan kamu!"
"Hahahaha ... Putri, Putri, kamu itu masih suka marah-marah ya tapi aku suka kok, karna kamu kalau marah makin manis saja masih sama seperti dulu. Aku mau kita seperti dulu Put, plis...!" ucap Raja memohon sambil meraih tangan Putri.
"Kurang ajar, pengang tangan segala. Pergi!" usir Putri sambil menepis tangan Raja dan mendorongnya.
"Putri, kasar banget sih aku masih sayang sama kamu Put, jangan cuek sama aku."
"Aku gak mau balikan sama kamu. Mau maksa juga?"
"Iya aku akan paksa kamu Put, sampai kapanpun aku gak akan rela kamu jadi milik orang lain,"
"Udah bicaranya. Gak penting banget!" cetus Putri.
Ia pun pergi berjalan dengan cepat meninggalkan Raja.
"Put, Putri!" teriak Raja.
__ADS_1
Putri tidak mau mendengar ia berjalan terus hampir sampai di Lestoran tempatnya berkerja.