
Setelah beberapa langkah mereka akan memasuki dapur seseorang menahan langkah mereka dia adalah Arjuna yang mengabarkan kalau di depan lestoran mereka ada Sultan yang mencari Putri.
"Ngapain lagi dia datang kesini, ganggu aja ...!" cetus Putri tidak suka.
"Tia aku samperin Sultan dulu yah."
"Yah, pergi aja sana, cepetan!" ujar Tia melanjutkan langkahnya ke dapur.
Arjuna memandangi kepergian Putri. "Putri jujur sebenarnya, aku merasa sakit hati saat melihat mu dengan suamimu yang songong itu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa, karna kedudukannya lebih tinggi dari aku. Aku hanya bisa mengalah mudah-mudahan secepatnya kamu akan bercerai darinya Put, agar aku bisa dengan bebasnya mendekatimu."
"Sultan! Putri mana?" tanya Tia tiba-tiba datang.
"Tuh!" tunjuk Arjuna ke arah Putri dan Sultan di kejauhan. Raut Arjuna memerah karna terbakar api cemburu yang melanda dirinya. Sudah lama ia menyimpan rasa sukanya pada Putri tapi kenyataannya ia belum berani untuk mengatakan hal itu pada Putri hingga kini ia tiba-tiba Putri menikah dengan Sultan. Ia merasa terpukul dan sakit hati. Tapi demi kebersamaannya dengan Putri ia masih. bjsa bersabar karna ia masih sedikit lega antara ia dan Putri tidak ada hubungan apa-apa sebatas pernikahan di atas kertas. Mereka pun masih bisa bersama karna Putri masih tampak care dengan nya.
"Kok, Putri malah ngobrol dengan Sultan sih? bukannya bekerja. Gimana sih Putri! katanya gak mau ladeni Sultan lagi, tapi kenyataannya gitu," cetus Tia memasang wajah kecewa. Tia langsung pergi menghampiri mereka.
"Putri ...! kok kamu malah asyik ngobrol sih. Ayo kita antar makanannya," seru Tia.
"A- Tia tunggu bentar ya, aku masih bicara sama Sultan."
"Heh Putri, ingat! kamu harus pulang saat ini. Bukan malah ngantar yang begituan gak penting banget sih. Papa di rumah sudah menunggu di rumah.
"Ya ampun Sultan, kamu bilang itu tidak penting itu perkejaan aku tau .... Dasar pria sombong! mentang-mentang anak Sultan ingat kekayaanmu itu masih punya orang tua." Putri beranjak pergi, ia mengikuti Tia tapi Sultan menarik tangannya dengan kuat.
"AU sakit tau! lepas tidak!" bentak Putri.
"Tidak! kamu harus pulang!" sahut Sultan memaksa.
"Ayo Putri, kita pulang!" ajaknya Sultan lagi, tapi Putri masih enggan untuk memenuhi permintaannya itu karna ia masih marah pada Sultan.
Putri jadi bingung di sisi lain ia harus bekerja di sisi yang lain lagi ia akan memenuhi permintaan Pak Dewa karena ia juga tidak tega mengecewakan hati Pak Dewa.
"Ayolah Putri. Pliss ... aku gak tau lagi buat alasan apalagi. Malam ini malam yang sangat penting bagiku Putri, kamu harus pulang. Papa punya riwayat penyakit jantung Put, aku kuatir pada keadaannya. Apa kamu mau lihat Papa masuk rumah sakit gara-gara kamu tidak datang?"
__ADS_1
Putri berpikir sejenak ia merasa tidak tenang harus menolak ajakan Sultan karna ia tidak mau Pak Dewa sakit.
"Oke, aku akan pulang dengan mu. Tapi, ada satu syarat, saat surat warisan sudah ada di tanganmu aku minta cerai darimu dan aku minta modal usaha buat buka lestoran apa kamu bersedia?" pinta Putri.
"Itu masalah kecil buatku, kamu tenang aja semuanya akan aku kabulkan. Ya sudah tunggu apalagi ayo kita pulang," ajak Sultan.
Tia merasa geram pada Putri bukan nya malah ikut ngantar makanan dengannya malah masuk mobil Sultan ia pun pasrah dengan keadaan membiarkan Putri dan Sultan pergi. Tia pergi dengan kesalnya saat ia akan mulai jalan Putri mengirimkan pesan untuknya.
📩 "Tia kamu tenang aja aku ada rencana. Saat Sultan dapat warisan dari Papanya aku meminta sebuah lestoran padanya dan aku akan angkat kamu sebagai atasan atasan semua karyawan jadi kamu tidak akan capek-capek lagi ngantar makanan seperti sekarang. Oke! doakan saja ya Tia, semoga segera terwujud."
Tia terseyum ia pun membalas pesan Putri dengan emoji tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Putri dan Sultan pun sudah sampai di rumah. Pak Dewa sudah tidak tenang menunggu keberadaan mereka. Ruangan sudah siap di dekorasi acara penyambutan ultah Sultan sebentar lagi akan di selenggarakan.
Pak Dewa melihat anak dan menantunya sudah datang, ia pun segera menghampiri mereka dengan semangat.
"Dari mana saja kalian? Papa sudah panik kirain kalian akan terlambat."
"Terus sudah dapat bajunya?" tanya Pak Dewa.
"A- bajunya ketinggalan saat perjalanan menuju ke sini, karna kita sempat mampir di kafe dan ketinggalan di sana Pak, maaf banget. Aku pakai baju yang ada sajalah, baju aku juga nbagus-bagus kok," ujar Putri cengengesan.
"lho gak bisa gitu dong, kamu dan Sultan harus couplelan. Gak apa-apa deh biar Papa yang pesan langsung di bawa ke sini saja, gampang kok itu urusannya," ujar Pak Dewa ia segera menelpon orang butik langganannya.
"Iya makasih banyak Pak," ujar Putri merasa malu.
"Yah sama-sama kalian siap-siap aja ya!"
"Baik Pa," Sultan menimpali.
"Gimana sih kamu Sultan, kok bisa lupa gak pesan baju kasian Papa mu tuh," Putri tidak tega harus melibatkan Pak Dewa hanya untuk pakaian mereka saja ia memarahi Sultan dan terjadilah perang mulut lagi di antara mereka.
"Heh kok nyalahin aku sih! seharusnya kamu yang siapkan semuanya Put, perkejaan mulu yang kau urus. Pekerjaan kamu itu gak ada apa-apa sama sekali gak penting banget, lebih baik kamu berhenti saja dari pada tiap hari harus ribet begini," cibir Sultan.
__ADS_1
"Gak! aku gak akan berhenti kamu tu yang egois jalan mulu abisin harta orang tua. Enek-enakan aja maunya."
"Astaghfirullah kapan aku enak-enakan, ha? Aku kerja kali kali," ujar Sultan memanas di tuduh enak-enakan.
"Kerja apaan? asyik pacaran iya," timpal Putri mencibir.
"Kalau bicara sama kamu sampai besok juga gak akan kelar. Sudahlah aku mau mandi saja. Awas ya berani macam-macam lagi bisa babak belur kau buat!" ancam Sultan.
"Siapa juga yang mau macam-macam, yang ada kamu kali mau ngintipin aku mandi."
"Sorry banget Putri, anda terlalu kepedean. Asal kamu tau, kamu bukan tipe aku. Buat apa juga ngintipin kamu yang ada aku bintilan, lebih baik aku hubungi Ratu dari pada harus berbicara dengan mu."
"Silahkan aja, siapa juga yang larang."
Putri berganti pakaian siap akan pergi mandi.
📞"Halo Ratu apa kamu ingat hari ini hari apa?" tanya Sultan.
📞"Em, ingat dong masa enggak kamu ultah kan hari ini?"
📞"Iya, ternyata kamu masih ingat."
Hugh untung saja aku ingat hampir aja lupa desah Ratu mengelus dadanya.
"Aduh, aku belum siapkan kado buat Sultan bagiamana ini?" ucap Ratu dengan pelan.
📞"Ratu kamu kok diam?" tanya Sultan.
📞"Em, gak kok. Aku cuma mikir aja, ntar malam acaranya pasti seru. Tapi, aku ragu apa Papamu akan menerima aku di acara itu secara aku kan sudah mengecewakan dia." ucap Ratu berpura-pura sedih.
📞"Kamu tenang aja, soal itu kamu tenang aja Papa pasti akan akan terima kok."
Ratu pun tersenyum.
__ADS_1