
Setelah acara selesai, semua tamu pulang Sultan duluan masuk ke kamar sedangkan Putri masih mematung sambil melirik sebuah meja di sampingnya, tempat menyimpan kunci berserta surat-surat penting lainnya pemberian Pak Dewa.
Putri cuma memandangi semua benda itu, ia pun menyusul Sultan ke kamar. Pak Dewa masih sibuk dengan hal lainnya, Putri pamit masuk ke kamar.
Saat Putri pamit Pak Dewa melirik sepintas ke arah Putri ia melihat Putri tidak mengambil hadiah untuknya, ia pun menegur Putri.
"Putri jangan lupa itu kunci dan surat-surat di bawa. Simpan baik-baik ya," pesan Pak Dewa.
"Pak, sebenarnya Putri tidak perlu semua ini ...," Putri membiarkan semua benda tidak berani menyentuhnya.
"Lho kenapa? kamu tidak mau menerima pemberian Bapak?"
"Rasanya Putri tidak pantas saja itu menerimanya Pak. Maafkan Putri," ujarnya.
"Kamu pantas kok, kamu kan istrinya Sultan menantu Bapak, apanya lagi yang tidak pantas. Ayo ambillah! jangan sungkan itu hak mu. Anggap saja itu hadiah pernikahan kalian dan bentuk rasa terimakasih Bapak, karna kamu sudah mau jadi istrinya Sultan pada saat itu. Coba gak ada kamu pastilah Bapak akan menanggung malu sampai saat ini, pada semua tamu dan kerabat karna Sultan batal menikah." ujar Pak Dewa.
Ia terus memaksa, agar Putri mau menerima pemberiannya itu. Akhirnya Putri luluh karna tidak mau di anggap tidak menghargai Pak Dewa, ia pun tidak enak hati. Maka ia pun menerimanya.
__ADS_1
Sultan melihat di kejauhan, kebetulan ia mau keluar mengambil air minum di dapur, ia mendengar semua pembicaraan Papanya dengan Putri.
"Dasar munafik, bilang aja itu kurang. Pake pura-pura lagi," ucap Sultan berkata pelan sambil memandang sinis ke arah Putri.
Putri melayangkan pandangannya ke arah Sultan. Sultan pun cepat mengalihkannya berlalu dari posisinya sebelum Putri mendekatinya.
Putri semakin dongkol melihat tatapan Sultan seperti tidak suka padanya, ia pun berniat akan membicarakan hal itu nanti setelah Sultan istirahat di kamar. Saat di hadapan Pak Dewa ia mencoba untuk bersabar seakan tidak terjadi apa-apa.
Setelah Pak Dewa pergi di hadapannya baru Putri beranjak dari tempatnya menyusul Sultan ke dapur.
"Kamu kenapa menatapku seperti tadi? Putri berkacak pinggang tiba-tiba nongol di hadapan Sultan.
"Tidak, aku gak apa-apa lagian itukan sebagian dari harta Papa cuma segelintir saja gak ada apa-apanya. Jika dibandingkan dengan warisan yang kudapat mah, gak ada apa-apanya itu. Terima saja kamu kan butuh," ucap Sultan dengan cibiran.
"Kamu salah! aku gak butuh sama sekali pemberian ini. Ambil! buat kamu aja!" Putri memberikan semua benda yang ada di tangannya di hadapan Sultan, Ia pun pergi ke kamar.
"Sombong banget, pura-pura gak butuh padahal kan butuh," ejek Sultan berkata pelan.
__ADS_1
"Gak nyesel kamu balikin semuanya buat aku?" seru Sultan sambil tersenyum bahagia.
"Nggak, ambil saja! aku juga gak butuh pemberian orang," seru Putri.
"Sombong amat, kamu? Baru aja kerja di lestoran, aku yakin setahun kerja gak akan dapat mobil semewah ini, apa gak nyesel kamu balikin ini semua?" Sultan mengulangi kata-katanya sambil tertawa meledek Putri.
Putri memanas ia membanting pintu kamar, karna di hina habis-habisan oleh Sultan.
"Tunggu aja pembalasan dariku! Ya Tuhan tolonglah hamba mu yang terhina ini, semoga aku secepatnya naik gaji. Aku akan membuktikan pada pria sombong itu, kalau aku bisa beli mobil dengan usahaku sendiri," ucapnya mengepalkan tangannya.
"Sabar... sabar ... Putri kamu pasti bisa!" ucapnya menyemangati dirinya.
"Tia, aku harus segera meminta bantuan pada Tia semoga aja Tia bisa bantu," lirihnya berharap.
Putri pun menelpon Tia, ia menceritakan semua
unek-uneknya pada sahabatnya itu. Ia juga meminta bantuan pada Tia untuk meminjam sejumlah uang agar bisa beli mobil baru. Tapi sayang, Tia tidak dapat membantunya karna Tia sendiri juga terlilit hutang orang tuanya saat itu.
__ADS_1
Putri menghela napas panjang menerawan ke atas langit-langit kamar sambil berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang banyak dalam waktu sekejap. Apa yang harus aku lakukan biar bisa beli mobil?" pikirnya.
Aku harus bisa buktikan pada Sultan, kalau aku bisa membeli apa yang aku mau tanpa bantuannya, batinnya bertekad.