Mendadak Jadi Istri Sultan

Mendadak Jadi Istri Sultan
Sultan mendadak pingsan


__ADS_3

Sultan masih tidak sadarkan diri Tia berbalik arah meminta bantuan warga setempat untuk membawanya ke rumah sakit. Walau ia merasa jengkel tapi ia tidak tega meninggalkan Sultan yang pingsan terpaksa ia menolongnya dan membatalkan perjalanannya.


"Nyusahin aja nih orang, Putri harus tau kejadian ini enak saja dia sudah menghambat perjalananku mana aku sudah telat lagi," dengus Tia. Ia pun langsung menelpon Putri.


📞"Putri nih Laki lho nyusahin aja, pake acara pingsan lagi."


📞"What! apa, gimana maksudmu a- m- siapa?" ucap Putri terbata-bata sampe salah bicara karna kaget tiba-tiba Tia menelpon memberi kabar yang tidak terduga itu.


📞"Suami lho. Si Sultan pingsan di jalanan dan sekarang dia mau di bawa ke rumah sakit," jelas Tia.


📞"Astaga ...! yang benar saja. Gimana ceritanya kok kamu bisa ketemu dia, dan pingsan gitu?" tanya Putri tidak habis pikir.


📞"Panjang ceritanya nanti saja, kamu cepetan kesini."


📞"Dimana?" tanya Putri.


Tanpa menjawab pertanyaan Putri, Tia langsung mematikan ponselnya tanpa permisi lagi lalu mengirimkan alamatnya saat itu dan meminta Putri secepatnya datang menemuinya karna warga sudah datang akan segera membawa Sultan ke Puskesmas.


"Untung saja ada warga yang punya mobil di sini, kalau tidak, gak tau deh nasib tuh orang," ujar Tia merasa lega.


Sultan sudah di naikkan ke mobil siap dibawa ke rumah sakit terdekat atau Puskesmas.


Tanpa menunggu lama lagi para warga membawa Sultan. Putri juga sudah datang ke tempat yang di sebutkan Tia. Mereka pun pergi menggunakan Motor menyusul mobil warga yang membawa Sultan.


"Put, Laki Lho kok ada di jalanan sepagi ini. Ada apa dengannya? tumben banget dia jalan kaki," tanya Tia merasa penasaran.


Putri bingung mau jawab apa dia cuma diam saja.


"Put ...!" ucap Tia memangil karena Putri tidak merespon. Putri cuma berdehem pura-pura tidak tau sebabnya ia mengalihkan pembicaraan lain agar Tia tidak bertanya tentang Sultan lagi.


"Tia, makasih ya kamu sudah membantu Sultan. Itu orang benar-benar keterlaluan. Nyusahin saja, sudah tau gak biasa jalan-jalan pake acara jalan kaki segala. Entah apa yang di carinya pagi-pagi di jalanan," ujar Putri berpura-pura.


"Jadi kamu benaran tidak tau Put?" tanya Tia masih ragu dengan sikap Putri.

__ADS_1


"Iya, benaran gak tau," sahut Putri datar.


Mereka pun saling membisu. Tia mengendarai motornya dengan pokus, sedangkan Putri sibuk dengan pikirannya. Mereka pun sudah sampai di Puskesmas.


Ada tiga warga yang membawa Sultan mereka menggotong tubuh Sultan memasuki area Puskesmas dengan buru-buru.


Petugas Puskesmas segera membantu warga tersebut membawa Sultan ke salah satu ruangan.


"Yang mana keluarga Pasien?" tanya petugas pada warga yang membawa Sultan.


Warga pun menjawab menunjuk kearah Tia. Tia pun dipanggil untuk menghadap petugas.


"Eh malah saya yang di suruh," Tia menarik tangan Putri yang dari tadi membungkam. "Ini istrinya Pak."


"Oh iyakah, kalau begitu mari ikut Saya, sementara menunggu Dokter anda wajib mengisi beberapa data dulu setelah itu pasien akan ditangani," ujar Petugas.


Putri pun ikut petugas itu ke ruangannya mengisi data tentang identitas Sultan.


"Iya, bukan Pak. Dia dari kota dan mendadak pingsan di jalan teman saya tadi yang menemukan dia," jelas Putri.


Petugas menanyakan seputar kesehatan Sultan dan Putri selalu menebak jawabannya menjawab sebisanya dengan menerka saja, karena ia benar-benar tidak tau semua tentang Sultan.


"Anda ini bagaimana, Istri nya atau bukan sih? kenapa sepertinya ada ragu dalam menjawab pertanyaan saya?" ucap petugas jadi curiga kalau Putri bukan istri Sultan.


"Maaf Dok, saya panik dan shok melihat suami saya tiba-tiba pingsan gini padahal awalnya ia baik-baik saja, saya tidak bisa pokus menjawab pertanyaan Bapak," sahut Putri beralasan.


"Oh begitu, ya sudahlah data ini akan saya berikan pada Dokter dan Suami anda akan di periksa. Silahkan tunggu di luar Buk," ujar petugas.


"Baik Pak, saya permisi," ucap Putri.


"Silahkan ...!" ucap Petugas mempersilahkan Putri, Ia pun langsung menelpon Dokter memberitahu kalau saat itu ada pasien yang masuk.


Putri pun bergegas keluar dengan raut wajah yang cemberut bercampur jengkel sebab Petugas itu membuatnya kesal, bertanya terlalu mendetail tentang kesehatan Sultan padanya.

__ADS_1


Putri pergi menemui Tia dan para warga yang masih menunggu di luar. Tia berjanji akan memberi imbalan berupa uang sebelumnya kepada para warga oleh sebab itu para warga tersebut masih menunggu bayaran.


Tia menyuruh mereka menunggu.


"Bapak-bapak tenang ya akan ada imbalannya kok sesuai janji saya. Teman saya itu istri Sultan gak mungkin gak punya duit," ujar Tia.


"Ya jangan cuma bicara Neng, kami sudah terlalu lama menunggu di sini. Sebentar lagi mobil ini akan di pakai pemiliknya kami pun juga akan bekerja," ujar salah satu Pria tersebut kepada Tia.


"Iya saya mengerti," ucap Tia.


Bekerja? Tia kepikiran sesuatu, ternyata ia jadi lupa kalau dirinya juga akan pergi kerja dan sudah terlambat beberapa jam.


Waduh kok bisa lupa sih! ini gara-gara Sultan gimana ini? Tia jadi mondar-mandir tidak karuan.


"itu dia Putri, teman saya," tunjuk Tia ke arah Putri yang berjalan. Tia pun memanggil Putri agar mempercepat jalannya.


"Put, kamu urus Bapak-bapak ini ya! bay ... aku harus berkerja sudah telat nih." Setelah Putri sudah mendekat Tia langsung berlari keluar mencari motornya dan berlalu dari tempat itu menuju tempat kerjanya.


Putri berteriak mencoba menghentikan langkah Tia namun Tia tidak mau mendengar lagi ia sudah menghilang.


Putri memandang wajah Bapak-bapak tersebut satu persatu dengan penuh kebingungan.


"Mana bayaran kami?" tanya salah satu warga.


"Bayaran?" Putri keheranan.


"Iya bayaran. Teman anda menjanjikan sebuah imbalan berupa uang untuk kami tadi, karena sudah membawa suami Anda ke Puskesmas ini," terangnya.


"What?" Putri jadi panik karna ia sendiri tidak memegang uang saat itu.


"Jangan pura-pura bengong nya kamu! kita udah capek-capek kesini, sampe pinjam mobil tetangga buat bawa suami kamu. Tadinya kami mau pergi berkerja."


Ya ampun Tuhan, tolonglah hamba mu ini...!" lirih Putri dalam hatinya dengan suara rintihan.

__ADS_1


__ADS_2