Mendadak Jadi Istri Sultan

Mendadak Jadi Istri Sultan
Putri berniat akan segera menceraikan Sultan.


__ADS_3

Putri dan Arjuna ngos-ngosan habis dikejar Raja, untung saja Raja tidak bisa mengejar mereka karena kehilangan jejak. Mereka bersembunyi di balik tembok belakang. Raja menjadi emosi ia pun pergi dari tempatnya menuju depan lestoran masih penasaran dengan keberadaan Putri dan Arjuna ia memaki-maki keduanya.


Sedangkan Putri dan Arjuna cikikikan tertawa karna Raja tidak bisa menemukan mereka. Arjuna tiba-tiba terdiam saat melihat Putri tertawa lepas ia bahagia melihat Putri bahagia wajahnya ceria.


Putri aku sudah lama menyukai kamu Put, tapi bagaimana cara mengungkapkannya aku gak tau. Apalagi posisimu yang sudah jadi istri orang. Akankah kesempatan itu ada untuk ku Putri? tanya Arjuna membatin sambil memandangi wajah Putri di depannya.


"Hey Kak Juna, kok jadi bengong?" tanya Putri tiba-tiba memecah keheningan.


"Siapa yang bengong, aku gak bengong kok. Itu kamu keringatan banget Put, aku bantu hapus keringat diwajahmu ya?" ucap Arjuna.


"Oh itu, gak perlu aku bisa hapus sendiri, kita kan abis lari tadi," ucap Putri tertawa melihat tampang Arjuna yang aneh. Putri menghapus keringat diwajahnya dengan saputangan di sakunya.


Arjuna memandangi wajah Putri tapi Putri selalu mengalihkan perhatian Arjuna agar tidak menatapnya tajam begitu.


"Put, sebenarnya ..., sebenarnya aku ...," ucap Arjuna gugup.


"Sebenarnya apa ya?" tanya Putri mendelik ke arah Arjuna.


"Kalian ngapain di sini sih! lagi berduaan lagi, kalian pacaran ya?" seru Tia tiba-tiba mengejutkan keduanya.


"Astaga Tia sembarang bicara aja, kita itu tadi abis di kejar Raja tau!" ucap Putri menjelaskan.


"Di kejar Raja? emang kenapa?" tanya Tia heran.


"Gak kenapa-napa kok," Putri tertawa ingat kejadian tadi saat di kejar Raja.


"Benar?" Tia memandangi wajah keduanya.


"Tapi itu wajah Arjuna memerah gitu, sedang apa dia?" Tia memperhtikan gerak-gerik Arjuna yang tampak aneh dan gugup.

__ADS_1


"Gak ada kok Tia, kamu ada-ada saja !" Arjuna pergi meninggalkan mereka.


"Dasar bocah tengil! gangguin aja gagal lagi deh ngomongnya," ucap Arjuna kesal pada Tia yang tiba-tiba datang padahal ia tadi mau bicara kalau ia menyukai Putri.


Putri memanggil Arjuna.


"Kak Juna ...! nanti pulang aku boleh nebeng gak?" serunya.


"Iya boleh Put!" seru Arjuna kembali semangat.


Putri mau pulang sama aku? apa aku gak salah dengar?


"Beneran Put? mau pulang sama-sama?" teriak Arjuna dari jauh.


"Iya benaran, hari ini aku mau pulang ke rumah orang tua aku," ucap Putri berteriak.


Arjuna pun mengacungkan jempolnya ke arah Putri tanda setuju mereka akan pulang sama-sama nanti karna arah rumah Arjuna dan rumah orang tua Putri sama jarak nya juga tidak jauh.


"Enggak ada apa-apa kok, aku gak minggat kok, cuma kangen aja sama Mama," sahut Putri.


"Beneran kangen atau berantem lagi sama Suaminya?" Tia terseyum mengarahkan wajahnya pada Putri.


"Apaan sih Tia wajahnya kok gitu amat biasa kali!" Putri mendorong wajah Tia yang mendekatinya.


"Aku tau kamu pasti berantem lagi sama Sultan iya kan?" tebak Tia.


"Belum berantem kok Tia, cuma lagi kesal aja sama dia," ucap Putri akhirnya mengakuinya.


"Hem sudah lah, gak apa-apa maafin aja dia kan suamimu. Gak baik marah-marahan terus Put, kamu itu sudah beruntung dapat suami Sultan. Ayahnya baik banget lagi."

__ADS_1


"Tapi nyebelin banget Tia. Masa dia sumpahin Mama sakit bilang ke Papanya, padahal kan Mama sehat-sehat aja apa itu namanya kalau gak keterlaluan," cetus Putri memasang wajah sinisnya.


"Bicarakan saja baik-baik, ajarin dia agar tidak begitu lagi," ajar Tia memberi nasihat.


"Gak bisa Tia, itu orang keras kepala banget mana mau dinasehati. Sepertinya aku akan segera cerai deh Tia, aku merasa gak nyaman banget jadi istri Sultan. Orangnya aneh dingin dan nyebelin. Hidup aku jadi kacau semenjak kenal sama dia emosi tiap hari liat sikapnya dia, kalau lama-lama aku bisa gila," ucap Putri.


"Serius? apa kamu gak akan menyesal?" tanya Tia tidak yakin dengan keputusan Putri.


"Buat apa menyesal. Karna aku tidak pernah berharap punya suami seperti Sultan," sahut Putri dengan yakin.


"Ya udah, kasi aku aja ya si Sultan," ucap Tia becanda.


"Ambil aja aku iklas kok!" sahut Putri langsung menimpali.


"Ehemm lagi bicarakan apa sih?" ucap Raja tiba-tiba.


"Aduh kamu lagi? kenapa sih gak bosan-bosannya kamu Raja dekatin Putri terus. Dasar pria tidak tau malu muka tembok!" dengus Tia marah ia segera meninggalkan mereka berdua.


Tinggallah Putri dan Raja mereka saling memandang. Raja memperhatikan wajah Putri wanita yang pernah jadi kekasihnya itu, bagitu juga dengan Putri. Entah kenapa hari itu ia tidak seperti. biasanya yang selalu menghindari Raja. Ia diam saat Raja memandangi seluruh tubuhnya.


"Putri maaf sekali lagi, aku tau kesalahanku fatal tapi percayalah aku masih berharap kamu mau memaafkan aku dan aku ingin kita seperti dulu lagi. Aku akan segera menceraikan Melani dan menikahi kamu Put," ucap Raja melirih.


"Jangan nekat kamu Raja, aku sudah tidak mencintai kamu lagi," cetus Putri.


"Kalau kamu tidak mencintaiku lagi kenapa kamu menikah dengan Sultan tidak sungguhan. Itu artinya kamu masih mencintai aku, iya kan Put?" ucap Raja.


"Apaan sih Raja, jelas-jelas aku sudah tidak suka lagi sama kamu. Sudahlah Raja lupakanlah aku dan jangan pernah kau ceraikan istrimu."


"Aku tidak mencintainya Put, aku hanya mencintai kamu," ucap Raja ngotot.

__ADS_1


"Terserah kamu saja!" seru Putri.


Putri pergi meninggalkan Raja. Raja semakin dongkol ia berniat akan segera menemui Sultan dan membicarakan tentang pernikahan mereka yang harus segera di akhiri, jika tidak ia akan membongkar semuanya memberitahu Pak Dewa tentang semua kebohongannya selama ini dengan Sultan.


__ADS_2