Mendadak Jadi Istri Sultan

Mendadak Jadi Istri Sultan
Putri menemui Arjuna. (Kehidupan Sultan terancam)


__ADS_3

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Putri langsung pergi kerumah Arjuna untuk memastikan keadaannya. Putri masih penasaran dengan kejadian yang menimpa Arjuna tersebut. Siapa sebenarnya pelakunya.


Saat itu Putri sudah tiba di depan pintu rumah Arjuna. Ia mengetuk pintu dan dibukakan oleh Bu Sita Mamanya Arjuna.


"Putri?" ucap Mama Sita kaget melihat Putri yang datang sepagi itu.


"Iya Bu, maaf ganggu saya mau ketemu Kak Juna. Apa dia sudah bangun?" tanya Putri.


"Silahkan masuk dulu, biar Ibu yang bangunkan Arjuna."


"Makasih Buk, maaf sudah ngerepotin," ucap Putri sungkan.


"Iya gak apa-apa," ucap Bu Sita langsung pergi ke kamar Arjuna membangunkannya.


Arjuna terbangun mendengar suara mamanya memanggilnya.


"Ada apa Ma?" tanya Arjuna berteriak dari dalam kamarnya.


"Arjuna ... bangun! itu ada Putri di depan," seru Mama Sita.


"Putri?"


"Iya katanya ia ada perlu dengan kamu."


"Oh iya Ma, suruh tunggu saja. Juna mau cuci muka dulu," ucapnya.


Mama Sita pun pergi menemui Putri lagi. "Put, Arjuna sudah bangun tunggu bentar ya?" ujarnya.


"Oh iya Buk, makasih."


"Putri mau minum apa?" tanya Bu Sita menawarkan.


"Gak usah repot-repot Buk, Putri hanya sebentar kok karena habis ini Putri mau pergi kerja," jelas Putri merasa sungkan.


"Gak apa-apa ibu bikinkan saja ya?" Bu Sita pergi ke dapur.


Tidak lama kemudian ia kembali lagi membawa Teh panas buat Putri dan sepiring kue biskuit.


"Aduh! gak perlu repot-repot kok Buk," ucap Putri sungkan ia melihat Bu Sita sibuk melayaninya.


"Tidak apa-apa, sekali-sekali ibu juga gak repot-repot amat kok," ujar Buk Sita sambil tersenyum.

__ADS_1


Arjuna baru saja keluar dari kamarnya Putri kaget melihat wajahnya ada bekas luka.


"Kak Juna? wajahnya kenapa? seperti abis di gebukin," tanya Putri langsung.


"Iya Put, ini ulah orang itu. Aku juga tidak tau kesalahan aku apa sama dia."


"Kurang ajar banget sih! siapa sia dia ya aku penasaran banget dengan orang itu. Apa yang dia mau padamu? masa si tidak mengenalinya?" Putri tidak habis pikir.


"Tidak Put, soalnya dia pake topeng," ucap Arjuna berbohong. Ia sengaja tidak mau memberitahu Putri kalau Sultan lah pelakunya.


"Aku akan lapor polisi, masalah ini tidak bisa di biarkan!" ujar Putri memanas.


"Seenaknya saja dia menganiaya orang tanpa tau apa sebabnya!"


"Tidak perlu Put, aku tidak mau memperpanjang masalah," ujar Arjuna.


"Bukan memperpanjang Kak, tapi buat kasi dia pelajaran biar tidak kebiasaan," timpal Putri.


"Kita juga tidak akan tau siapa dia Put, karena tidak ada bukti dan saksinya. Bagaimanapun akan sulit mencari orangnya," jelas Arjuna.


"Kalau sudah Polisi yang turun tangan, semuanya gak akan sulit kok Kak. Asal kita tau tempat dan kejadiannya," ujar Putri menjelaskan.


"Ya sudah aku ikut selidiki ya?" pinta Putri.


"Iya Put, makasih kamu sudah perhatian padaku."


"Jelas aku perhatian dong, kamu kan sahabatku."


"Hii ... iya Put, hari ini aku gak bisa masuk kerja dulu kamu ijinkan aku ya ke Bos. Bilangin aku lagi sakit."


"Iya Kak, aku turut sedih melihat keadaan mu Kak, maafin Putri ya karna mangantar Putri pulang Kak Juna lalu dapat bencana begini," lirih Putri sedih.


"Bukan karna sebab itu kok Put, kamu jangan merasa bersalah gitu. Aku baik-baik saja kok mungkin besok juga udah bisa kerja."


"Iya tapi sebaiknya jangan dulu Kak, lebih baik Kakak ke puskemas saja, memeriksa keadaan tubuh Kakak dulu," ucap Putri memberi saran.


"Iya makasih sarannya, tapi aku sudah baikan kok," tolak Arjuna secara halus karena ia tidak mau berurusan dengan dokter.


"Syukurlah kalau bagitu. Btw aku pergi kerja dulu ya Kak," pamit Putri.


"Oh iya Put, maaf ya gak bisa antar kamu pergi," Arjuna bangun dari tempat duduknya melihat Putri yang sudah mau beranjak.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Aku bisa sendiri Kak," ujar Putri.


"Aku permisi ya. Putri janji akan menyelidiki siapa orang yang telah lancang menyakiti kamu Kak," ucap Putri bertekad.


"Biarkan saja Put, biar Tuhan yang membalasnya."


Putri terseyum ke arah Arjuna. Kok Arjuna baik banget sih sampai-sampai orang yang telah menganiaya dia biarkan begitu saja batin Putri kagum pada kebaikan hati Arjuna.


Putri pun berlalu ia pergi ke tempat kerjanya.


Di tempat lain, di jam yang sama. Sultan baru saja bangun pagi keluar dari kamarnya ia langsung di interogasi oleh Papanya. Pak Dewa selaku bertanya tentang keberadaan Putri. Dengan seribu alasan Sultan menjelaskan pada Papanya kalau Putri belum bisa pulang kerumah.


Pak Dewa ragu dengan alasan Sultan ia pun langsung menelpon Ayah Putri. Ayah Putri kebingungan saat ditanya tentang kondisi istrinya. Karena selama ini keadaan istrinya baik-baik saja.


Setelah menelpon Papa Putri. Pak Dewa memanas pergi menemui Sultan. Karena Sultan sudah lancang membohonginya.


Saat itu Sultan sedang asyik-asyiknya sarapan pagi di dapur. Pak Dewa datang langsung membentaknya. Pak Dewa melototi Sultan karna sudah berbohong.


Sultan kaget dan ketakutan melihat reaksi Papanya seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.


"Ampun Pa? Maafkan Sultan ...!" lirihnya meminta maaf.


"Sebenarnya apa mau mu Sultan? kenapa kamu bilang Mama Putri sakit, padahal ia baik-baik saja! apa kamu ingin Papa mati ya? terus berulah seperti ini!" bentak Pak Dewa emosi.


"Tidak Pa maafkan Sultan. Mama Putri memang tidak sakit. Aku telah berbohong karna Sultan bingung mau cari alasan apalagi. Putri tidak mau pulang ke rumah Pa, entah apa sebabnya Sultan juga tidak tau. Mungkin ia bosan dengan suasana rumah kita Pa. Dia kan terbiasa hidup di desa dekat dengan orang tuanya. Biarkan saja dia Pa jangan paksa dia aku tidak tega memisahkan dia dengan orang tuanya," ucap Sultan dengan suara melirih.


"Itu artinya kamu bukan suami yang baik, bagaimana sih kamu jadi suami gak bisa bikin betah istri kamu untuk tinggal di rumah! Apa jangan-jangan kamu KDRT ya!" tuduh Pak Dewa.


"Tidak kok Pa, Sultan tidak KDRT Putri aja yang gak mau tinggal dirumah," ucap Sultan membela dirinya.


"Kalau kamu tidak KDRT lalu kenapa Putri pulang? kalau kalian pisah begini, apa kata orang-orang Sultan? kamu bikin malu saja. Jika kalian terus begini kapan punya anaknya? Papa sudah tidak sabar lagi ingin melihat anak dari kalian. Ingat Sultan kamu satu-satunya penerus Papa. Papa tidak mau kamu mengulur-ngulur waktu dengan pekerjaanmu yang tidak jelas itu. Semakin hari Papa semakin tua kapan lagi Papa punya cucu dari kamu?" ucap Pak Dewa panjang lebar ia gregetan melihat sikap Sultan.


"Sabar Pa, Sultan akan segera punya anak kok!" ucapnya yakin.


Tapi tidak dengan Putri si judes itu. Aku mau punya anak dari Ratu kekasihku, batin Sultan terseyum.


"Papa pegang ucapan mu, Tolong jangan permainkan perasaan Papa! Oya satu lagi, ajak Putri pulang secepatnya kalau tidak harta warisan kamu Papa take down!" ancam Pak Dewa.


"Jangan Pa, Sultan akan bawa Putri pulang secepatnya, Sultan janji," ujar Sultan ketakutan.


"Oke buktikan ucapan mu itu!" ujar Pak Dewa ia pun berlalu di hadapan Sultan.

__ADS_1


__ADS_2