
Pak Dewa terpaku sejenak ia memenangkan dirinya saat mendengar ucapan Putri yang diluar dugaannya. Ia melayangkan pandangan sinisnya ke arah Sultan. "Jadi selama ini kalian bohongi Papa?
"Sultan, apa benar yang dikatakan Putri!" bentak Pak Dewa pada anaknya.
Putri menghentikan langkahnya ia menoleh kebelakang menyaksikan Sultan yang di bentak Pak Dewa.
Saat itu Sultan merasa panik ia tidak tau akan jawab apa yang sejujurnya hal yang dikatakan Putri itu benar adanya. Sultan hanya terdiam, sebuah penyesalan di rasakan olehnya ia tidak berani menatap Papanya yang masih menunggu jawabannya itu.
Pak Dewa bertanya untuk yang kedua kalinya. Apa benar semua yang di katakan Putri itu. Sultan melirik wajah Papanya ia tidak tega harus membohongi Papanya lagi akhinya ia mengangguk mengiyakannya. Pak Dewa menarik napas kasar ia geleng kepala seakan tidak percaya apa yang di lakukan anak dan menantunya kenapa tega membohonginya. Padahal ia berharap Sultan dan Putri akan segera memberikan dia keturunan. Pak Dewa kecewa ia shok sambil memegangi dadanya yang sesak.
Putri yang sudah terlanjur mengatakan semuanya ikut sedih berurai air mata ia pun pergi dari rumah itu tanpa berpamitan lagi. Pak Dewa benar-benar shok mendengar semua itu, hatinya begitu sakit karna ulah mereka yang sudah membohonginya selama itu. Semua harapannya menjadi sia-sia ia terdiam dengan mata yang memerah menahan rasa sakit hati.
"Pa maafkan Sultan," lirih Sultan memohon duduk bersimpuh di bawah kaki Pak Dewa.
"Papa kecewa padamu Sultan, silahkan angkat kaki dari rumah ini. Papa tidak mau lihat kamu di sini!" usir Pak Dewa mendorong tubuh Sultan yang berusaha memohon padanya itu.
"Pa maafkan Sultan jangan usir Sultan Pa ...," lirih Sultan berkali-kali.
"Pergi ....!" bentak Pak Dewa dengan suara nyaring.
Dengan sedihnya Sultan pergi ke kamarnya dan mengisi koper dengan beberapa helai baju. Ia mendorong koper menuju pintu luar sambil menoleh ke arah Papanya berharap Pak Dewa mau memaafkan, tapi sedikit pun Pak dewa tidak menghiraukannya ia membiarkan Sultan pergi.
"Tunggu, Sultan!" ucapnya tiba-tiba.
"Iya Pa, ada apa?" ucap Sultan semangat berbalik badan.
"Papa tidak jadi usir aku?" tanya Sultan tersenyum.
__ADS_1
"Papa cuma mau bilang kembalikan semua pasilitas yang Papa kasi ke kamu!" pinta Pak Dewa.
"Apa Pa?" Sultan kaget seketika senyuman Sultan pun sirna saat mendengar ucapan Papanya.
"Jangan kaget begitu, bukankah itu sudah jadi kesepakatan kita? kalau kamu tidak menuruti semua ucapan Papa maka semuanya akan diambil alih."
Sultan membuka dompetnya memberikan beberapa kartu kredit nya.
"Apa kamu lupa sesuatu?"
"Apalagi Pa!"
"Itu yang kamu pegang, dan surat warisan kembalikan pada Papa semuanya Papa take down!" ujar Pak Dewa dengan tegas.
"Hah? semuanya Pa? Papa mau mengambil mobil aku juga?"
Sultan kembali bersujud pada Pak Dewa berharap Papanya akan memaafkannya tapi Pak Dewa menolak dan kembali mendorong tubuh Sultan.
"Papa jahat!" Sultan menangis, ia mengambil surat warisan dan kuncinya memberikannya pada Papanya. Berat hatinya memberikan semua barang berharga itu namun ia tidak bisa mencegahnya lagi.
Kemana aku akan pergi Papa tega padaku, batinnya Sultan sambil mendorong Kopernya keluar.
Rupanya di luar ada Ayah dan Mama Putri yang menggedor-gedor pintu dari tadi. Sultan kaget melihat mereka datang dengan keadaan marah-marah bahkan Mama Dayang berteriak kencang memanggil namanya.
"Ini ada apa?" tanya Sultan panik sambil mendekati mereka.
"Jangan berlaga bodoh, bocah tengil mana anak saya!" bentak Mama Dayang dengan wajah penuh amarah.
__ADS_1
"Put, Putri sudah pergi Buk," ucap Sultan terbata-bata.
"Pergi? pergi kemana?"
"Dia sudah keluar dari rumah ini Buk, kami akan segera bercerai," ujar Sultan memberitahu tanpa basa-basi lagi.
"Astagfirullah, apa sebenarnya yang terjadi Sultan!" tanya Pak Raden dengan wajah sedihnya.
Sultan menjelaskan secara singkat permasalahan yang terjadi di antara mereka.
"Terus kamu bawa koper mau kemana? kamu mau lari dari tanggung jawab ya! kami tidak mau anak kami di perlakuan kasar oleh mu, kami tidak terima kamu harus di hukum!" gertak Mama Dayang.
Sultan berkilah ia membela dirinya di depan orang tua Putri ia menceritakan semuanya ia pun ingin beranjak.
"Sultan, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya mu ke pengadilan," seru Mama Dayang.
"Itu terserah kalian aku akan hadir kapan pun kalian perlu aku tidak akan jadi pengecut. Asal kalian tau Putri lah yang salah. Untuk saat ini, aku mau pergi tolong jangan halangi!"
Mendengar ribut-ribut di luar Pak Dewa bergegas keluar memastikan siapa yang datang. Sontak ia kaget melihat di luar ternyata mereka orang tua Putri. "Ada apa ini?" tanya Pak Dewa mendatangi mereka.
Semua menoleh ke arahnya. Mama Dayang langsung mendekati Pak Dewa dan memarahi Pak Dewa secara terang-terangan. Sultan yang menyaksikan ternganga mendengar semua ucapan Mama Dayang yang marah-marah ingin menuntut Pak Dewa juga.
"Tenang, tenang Ibu. Kita selesaikan permasalahan ini dengan cara kekeluargaan saja," pinta Pak Dewa.
"Apa ini balasannya anak saya sudah membantu kalian waktu itu!" cetus Mama Dayang mengingat kejadian dulu saat mereka mendadak menikah. Pak Dewa yang memaksa Putri menikah dengan anaknya lalu sekarang seenaknya berbuat tidak adil Putrinya dikasari.
"Sultan sudah KDRT terhadap anak kami. Kami sebagai orang tua tidak terima anak kami di perlakuan seperti itu. Kami tidak akan diam ingat itu," ancam Mama Dayang.
__ADS_1
Pak Dewa terdiam bingung mau jawab apa ia tidak mampu berhadapan dengan Mama Dayang yang dari tadi memojokkannya dan mengancam akan lapor ke pengadilan.