
Setelah puas marah-marah, Mama Dayang dan Pak Gatot pergi dari rumah Pak Dewa. Mereka mengancam akan melaporkan masalah itu pada polisi dan keluarga mereka karna anak mereka satu-satu nya sudah dizolimi oleh Sultan.
"Pokoknya Mama tidak mau tau, Sultan harus kita kasi pelajaran Yah," ucap Mama Dayang pada suaminya.
"Iya Ma sabar ya, kita harus secepatnya pulang kerumah, pasti Putri sudah pulang kerumah Putri butuh kita Ma."
"Iya Yah, ayo kita cepat jalan!" ucap Mama Dayang meraih tangan Suaminya lalu berjalan sama-sama.
Mereka mempercepat jalannya menuju halte di sana mereka menunggu angkot menuju rumah mereka. Di perjalanan mereka menuju rumah, Mama Dayang melihat Putri berjalan kaki sambil mendorong koper besar Putri tampak lelah. Mama Dayang menyuruh Pak Supir berhenti. Mobil pun berhenti Mama Dayang mengajak anaknya naik mobil Putri kaget melihat kehadiran Mamanya sontak ia memeluk Mamanya tanpa disadarinya air matanya mengalir deras di pundak Mamanya.
Kamu kok jalan kaki Sayang, Mama tidak akan biarkan kamu disakiti oleh siapapun," ucap Mama Dayang menenangkan anaknya.
Putri berkata masih sugukan ia mengadu kalau ia sudah pergi dari rumah Sultan. Karna Sultan sendiri sudah mengancam akan berpisah dengan Putri. Mama Dayang semakin geram ia tidak bisa sabar lagi. Namun, ia sadar saat itu bukan saat yang tepat untuk berdebat. Ia harus mendengar penjelasan Putri dulu bagaimana bisa kejadian yang memalukan itu terjadi di Lestoran tempat Putri bekerja.
Mama Dayang mengajak Putri naik angkot sama-sama mereka pun masuk, Putri duduk di samping Mamanya sambil merebahkan kepalanya di pundak Mamanya keadaannya sangat menyedihkan.
Entah apa sebabnya tiba-tiba Putri merasa kehilangan padahal sejak awal ia selalu bertengkar dengan Sultan tapi saat itu ia merasakan hal yang aneh ia menyesal telah pergi dari rumah Pak Dewa dan mengatakan semuanya pada Pak Dewa.
"Apakah semua akan segera berakhir?" lirih Putri dalam hati, sambil menepis air mata yang dari tadi terus mengalir.
__ADS_1
"Aku tidak boleh lemah seperti ini aku harus kuat Sultan bukan suami yang baik aku harus meninggalkan dia selamanya. Aku harus bisa memperbaiki hubunganku dengan Kak Juna. Hanya Kak Juna yang menerima aku apa adanya. Kak Juna kenapa gak dari awal mengatakan kalau dia mencintaiku," Putri terseyum sendiri saat mengingat Arjuna. Tapi saat ia mengingat Sultan ia kembali menangis lagi.
Sepanjang jalan ia merasa dilema antara memikirkan nasib pernikahannya dengan Sultan dan memikirkan Arjuna yang sudah terlanjur ketahuan menaruh cinta untuknya.
Mereka sudah sampai rumah Mobil berhenti mereka pun turun. Tampak Putri menarik napas panjang ia mencoba menghilangkan sejenak semua rasa di hatinya.
"Ma, maafkan Putri selama ini sudah buat susah kalian, sebenernya kalian habis dari mana tadi?" tanya Putri tiba-tiba mengajak ngobrol Mama Dayang setelah diam-diaman selama perjalanan tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kami habis dari rumah anak brengsek itu Put, apa kamu tidak tau Mama pergi kesana?" Mama balik bertanya.
"Tidak tau Ma, emang kalian ngapain disana?"
"Sebenarnya kalian tidak perlu mendatangi mereka Ma, karna itu masalah aku sama Sultan," ucap Putri.
"Tidak bisa begitu Put, kami berhak atas kamu."
"Iya Ma, Putri tau tapi tidak harus mendatangi Sultan juga apalagi marah-marah pada Pak Dewa dia tidak tau apa-apa masalah kita Ma."
"Mama tidak peduli Putri, pokoknya Mama harus melaporkan Sultan ke polisi," ancam Mama Dayang.
__ADS_1
"Tidak perlu Ma, Putri tidak mau reputasi Sultan jadi jatuh karna masalah ini."
"Bodo amat!" Mama Dayang pergi meninggalkan Putri.
"Ma ...!" teriak Putri.
Mama Dayang tidak menghiraukan teriakan Putri ya langsung pergi ke dalam rumah. Putri pun terduduk di teras sambil merenungi nasibnya yang malang. Kini hubungan dengan Sultan sudah hancur berantakan. Walaupun cuma sebatas pernikahan sandiwara tapi di saat ada masalah seperti itu ia tidak bisa membohongi dirinya ia terpukul dan merasa sangat sedih apalagi ia sudah meninggal rumah Pak Dewa.
"Aku bodoh banget, kok bisa mengatakan semuanya pada Pak Dewa. Pasti dia kecewa padaku. Maafkan Putri Pak, sudah membohongi Bapak selama ini. Jujur Putri menyesal sudah berbuat kesalahan hingga Sultan mengamuk. Tapi kalau di pikir-pikir kenapa juga Sultan mengamuk nya mendengar fitnah tentang aku sama Kak Juna. Dia kan tidak mencintai aku kenapa juga dia marah karena kedekatan kami. Aku tidak habis pikir deh," ucap Putri bicara sendirinya.
Di tempat lain.
Arjuna yang saat itu masih bergelut dengan pikiran susahnya juga sedang duduk melamun memikirkan nasib kedepannya apa ia harus berhenti bekerja atau bagaimana. Ia merasa malu mendengar fitnah yang di lontarkan kepadanya di tempat kerja. Ia dianggap orang sebagai penghancur rumah tangga Putri dan Sultan ia juga di tuduh berbuat yang tidak senonoh dengan Putri oleh karna itulah Sultan datang mengamuk dan menyakiti Putri.
Putri maafkan aku, karena fitnah itu kamu di sakiti Sultan, batin Arjuna merasa sedih.
Saat itu Arjuna merasa penasaran bagaimana keadaan Putri dan dimana dia sekarang. Rupanya disaat yang sama Putri juga memikirkan Arjuna ia berniat ingin menelpon tapi ia membatalkan niatnya setelah menyadari kalau Sultan sudah meminta untuk menjauhi nya termasuk menelponnya.
Putri memandangi Ponselnya berharap ada seseorang menghubunginya dan menghiburnya saat itu hati yang hancur dan harapan yang sia-sia. Ia hanya bisa menarik napas kasar dan menghembus secara kasar juga untuk menghilangkan tekanan dalam hati dan pikirannya yang sedang ruwet saat itu.
__ADS_1