Mendadak Jadi Istri Sultan

Mendadak Jadi Istri Sultan
Sultan mengajak Arjuna ke rumah Putri


__ADS_3

Baru kali itu Sultan tampak akur dengan Arjuna sampai mau boncengan segala, selama ini Sultan selalu kasar dengan Arjuna apalagi saat tau dia menyukai Putri kadang ia merasa cemburu dengan kedekatan Arjuna dan Putri walau mereka pernah bilang mereka cuma sebatas teman Sultan masih tidak yakin dengan semua ucapan mereka ia tidak mempercayainya.


"Juna tolong! jangan kencang-kencang bawa motornya aku menggigil nih," ucap Sultan dengan suara bergetar.


"Waduh parah banget kamu, kok bisa menggigil gitu sih apa kamu baru kali ini naik motor?" ucap Arjuna terkekeh.


"Menurutmu?"


"Ya aku liat sih gaya kamu aneh banget seperti ketakutan gitu," Arjuna semakin tertawa saat melihat ekspresi wajah Sultan di spion.


"Kamu masih pake nayak lagi, ya jelas ini hari pertama aku naik motor. Itu pun terpaksa tau! aku kan anak Sultan jadi wajar aku seperti ini," ucap Sultan tampak menyombongkan diri di hadapan Arjuna.


"Gak juga gitu kali, kamu ya aja anak manja. Kemana-mana harus pakai mobil mentang-mentang anak orang kaya," ledek Arjuna memberanikan diri untuk terus meledek.


"Apa! kamu sudah berani ngatain aku manja? Benar-benar keterlaluan kamu. Baru aja kali ini aku boncengan sama kamu kamu sudah lancang, mau aku beri pelajaran lagi ya seperti dulu?" ancam Sultan.


Terlintas di benak Arjuna saat Sultan meninju perutnya seketika itu kena mentalnya ia pun takut dan minta maaf Pada Sultan berjanji gak meledek lagi. Mereka pun diam sepanjang jalan cuma ada suara motor yang terdengar.


Tidak terasa mereka hampir sampai di rumah Putri. Tampak dari jauh keadaan rumah Putri sangat gelap seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Lupanya mereka sengaja mematikan lampu depan rumah mereka dan seluruh ruangannya agar orang mengira kalau mereka tidak ada di rumah. Hanya lampu kamarnya saja yang dihidupkan.


Dari pagi tadi, rumah Putri didatangi oleh dua Rentenir. Ternyata diam-diam tanpa sepengetahuan Pak Gatot dan Putri Mama Dayang sudah berhutang pada Rentenir tersebut. Selama itu mamanya tidak sehat ia pun tidak bisa mengangsur hutang pada Rentenir tersebut, mereka pun mendatangi rumah Putri dan menyuruh Mama Putri melunasi hutangnya segera.


Putri kebingungan saat itu juga ia tidak punya uang selama pulang ke rumah ia tidak bekerja lagi karena malu mau datang ke tempat kerjanya terpaksa ia berhenti berkerja padahal selama itu, Putri lah yang selalu membantu memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Kini ia sudah tidak berkerja lagi dan Mamanya pun jatuh sakit.


"Sabar ya Ma, Putri pasti akan antar Mama di rumah sakit," ucap Putri sambil mengompres kepala mamanya dengan kain.

__ADS_1


"Tidak perlu Put, Mama cuma demam biasa, besok juga akan sembuh kok. Kamu jangan kuatir kan Mama ya," sahut Mama Dayang berusaha tegar.


Di luar terdengar suara orang mengetuk pintu Putri menyuruh Mamanya diam.


"Ma, pasti itu Rentenir itu lagi, Putri harus bicara sama mereka Ma. Masa mereka tidak punya hati sekali. Orang masih sakit juga," ucap Putri merasa dongkol, ia pun bergegas akan keluar menemui orang tersebut. Tapi, dicegah Mamanya.


"Jangan Put, takut mereka malah kasar sama kamu. Mama tidak mau karena bukan salah kamu Mama yang sudah punya hutang. Maafkan Mama ya Put, sudah buat kamu susah," lirih Mama Dayang bersedih.


"Putri juga minta maaf Ma, selama ini Putri jarang kasi Mama uang hingga Mama berhutang." Putri merasa bersalah.


Hiks, hiks ... Mama Dayang menangis ia menyesal karena sudah berhutang dan sekarang ia tidak bisa membayarnya karena gak punya uang.


"Sudahlah Ma, biar Putri temui mereka."


"Apaan sih Ma, Putri kan cuma mau bilang kalau Mama sakit."


"Mereka tidak akan mendengar penjelasan kamu Put, mereka mana mau tau yang mereka harapkan cuma pembayaran bukan alasan."


"Masa bodo, Putri tetap aja mau temui mereka. Udah ah, Mama tidak usah panik gitu. Kalau mereka mau kasarin Putri gak akan diam kok, Putri akan jaga-jaga bawa ini Ma," Putri menunjukan sepotong kayu di tangannya.


"Apaan itu Put!" Mama Dayang ngeri Putri menegang kayu besar siap memukul Rentenir jika sempat kasar padanya.


"Putri jangan ...!" teriak Mama Dayang ketakutan.


Putri sudah menuju pintu depan untuk menemui orang tersebut.

__ADS_1


Arjuna mengetuk pintu lebih keras lagi sambil berteriak memanggil Putri. Putri pun kaget mendengar suara itu sangat dikenalnya, ia pun membuang kayu yang sudah dipegangnya dari tadi dan membuka pintu.


"Kak Juna, Sultan ...!" Putri kaget melihat dua pria itu.


Putri kembali menutup pintu dan berdiri di belakang pintu. Kok Arjuna bisa bawa-bawa Sultan ke sini? batin Putri tidak menyangka.


"Put, Putri ... buka pintunya kenapa di tutup lagi? ada hal penting yang harus kami sampaikan Put!" teriak Arjuna dari luar.


"Kak Juna kenapa bawa brengsek itu ke sini? aku gak mau lihat muka dia Kak, usir saja dia baru aku akan bukain pintunya!" pinta Putri tanpa memikirkan perasaan Sultan lagi.


"Put, Putri buka! maafkan aku Put, malam ini kita selesaikan masalah kita," sambung Sultan yang teriak.


"Gak ada yang harus diselesaikan lagi karena semuanya sudah selesai. Aku dan kamu sudah AND," seru Putri.


"Put, tolong buka pintunya!" lirih Sultan.


Sultan memijak kaki Arjuna dan mengancamnya. "Kalau hidupmu mau tenang di dunia ini, kamu harus bisa membujuk Putri buat berdamai lagi dengan ku," ucap Sultan berbisik sambil melototinya. Seketika itu mental Arjuna ciut ia takut dengan ancaman Sultan kakinya juga terasa sakit ia pun menjerit.


Sultan mengangkat kakinya dan menyuruhnya membujuk Putri. Arjuna pun berusaha menyakinkan Putri agar mau membuka pintu dan mendengar penjelasan Sultan.


"Dasar licik kamu Sultan! tadi kamu bilang kita akan meluruskan semua fitnah itu, tapi kenapa setelah datang ke sini kamu malah meminta aku buat membujuk Putri buat berdamai dengan kamu. Egois banget kamu," ucap Arjuna setengah berbisik ia begitu tidak suka dengan sikap Sultan yang sudah ingkar janji malah untuk keperluan pribadinya.


"Semua ini karna kamu kan? maka kamu yang harus bertanggungjawab menyelesaikannya adil kan!" ucap Sultan dengan tegas.


Arjuna menarik napas panjang dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia pun pasrah dengan keadaan. Ia mencoba membujuk Putri lagi walau ia sudah letih berteriak-teriak seperti orang gila menyuruh Putri membuka pintu dan memaafkan Sultan.

__ADS_1


__ADS_2