Mendadak Jadi Istri Sultan

Mendadak Jadi Istri Sultan
Putri mengikuti Sultan


__ADS_3

Putri mengejar Sultan sampai di jalan raya. Di kajauhan Putri melihat Sultan berlindung di sebuah bekas pondok orang jualan tepi jalan. Sultan tampak lemah dan pucat saat itu masih subuh sedikit gerimis membasahi jalan.


"Kasian sekali Sultan dia kan tidak biasa berjalan kaki pasti dia capek banget mana belum ada angkot yang lewat lagi, masih subuh. Apa aku samperin saja ya? tapi ... Ah sudahlah persetan dengan harga diri aku gak tega melihat dia sendirian di situ," ucap Putri sendirinya. Ia pun langsung nyamperin Sultan yang berteduh di pondok itu.


"Sultan ...!" panggil Putri.


"Put, kok kamu ada di sini? aku tau kamu bakal menyusul di sini perkiraan ku tepat," Sultan tersenyum menatap Putri.


"Kamu kenapa berhenti di sini kenapa gak langsung ke halte?" tanya Putri sambil berjalan mendekati Sultan ia pun langsung duduk di sampingnya. "Maafin Mama ya, aku tidak berdaya mencegah Mama."


"Iya aku mengerti kok Put, aku memang pantas di benci karena aku bukan menantu yang baik," lirih Sultan sedih.


"Aku sudah maafin kamu kok ...," ucap Putri menunduk.


"Yang benar Put, makasih ya istriku," ucap Sultan semangat ia pun langsung memeluk Putri.


Putri tidak berdaya mencegah Sultan lagu ia pasrah membiarkan tubuhnya di peluk oleh suaminya yang tiba-tiba berubah alay itu.


"Jadi? kita tidak jadi ceraikan Put ...?" tanya nya sambil mengelus rambut Putri.


"Em, soal itu belum ku pikirkan. Mungkin juga iya atau tidak."


"Plis aku mohon padamu Put, aku gak mau cerai."


"Kenapa?" tanya Putri ingin tau alasan Sultan.


"A- karna aku gak bisa hidup seperti ini Put, aku yakin kalau Papa tau kita tidak jadi bercerai pasti dia akan maafin aku dan balikin semua fasilitas yang pernah aku punya dari Papa. Bantuin aku yah pliss ... pinta Sultan dengan suara lirihhan.


Putri melepaskan pelukan Sultan. Ia menyangka kalau Sultan tidak mau kehilangannya tapi ternyata cuma karena tidak bisa hidup susah tanpa harta dari papanya. Putri pun kecewa pada Sultan.


"Gimana? apa kamu setuju?" tanya Sultan semangat.


Putri menghembuskan nafas kasar. Kirain dia tidak mau cerai karna mencintai aku, tapi ternyata cuma karna gak bisa hidup tanpa harta to ...


"Putri kok bengong?" Sultan memegang pundak Putri dengan kedua tangannya sambil menatap matanya. Putri jadi salah tingkah ia pun menepiskan tangan Sultan. "Maaf sebaiknya kamu cepat pulang karena sepetinya akan turun hujan lebat," ucapnya mengalihkan perhatian.

__ADS_1


"Aku gak punya duit buat naik angkot Put, lagian aku juga gak tau mau kemana. Aku kan sudah di usir Papa," lirih Sultan memasang wajah sedih berharap Putri berbelas kasihan pada Putri.


"Hem ... terserah kamu deh mau kemana, ini aku ada sedikit uang untuk mu," Putri memberikan beberapa uang lembar 10 ribu di tangan Sultan.


Sultan melihat beberapa uang sepuluh 10 tersebut.


"Uang segini mana cukup buat ongkos Taksi Put?"


"Siapa bilang aku suruh kamu naik taksi, naik angkot saja atau bus."


"Apa? gak salah kamu suruh aku naik angkot?" Sultan melotot tidak habis pikir.


"Ya. Dari pada jalan kaki kan ..."


"Aku gak bisa naik angkot apalagi aku lagi menggigil begini, bisa-bisa tambah sakit kalau naik angkot," tolak Sultan.


Sudah miskin saja masih belagu nih mantan anak Sultan. Gak sadar diri banget jadi orang, dengus Putri dalam hatinya sambil memasang wajah geram.


"Put, plis ada uang lagi gak? Aku janji bakal balikin dua kali lipat nanti," ujar Sultan tanpa rasa malu.


"Sekali lagi maaf ya Put, aku memang salah tapi setidaknya kamu gak lagi menyalahkan aku seperti ini. Aku tau aku salah aku akan menebus semua kesalahanku dengan berbaik hati padamu janji gak akan seperti dulu lagi," ucap Sultan berjanji.


"Hem aku pulang dulu ya Mama di rumah sedang sakit kamu naik angkutan umum saja ya biar uangnya cukup."


"Aku mau pergi kemana Put? aku kan tidak punya rumah selain rumah Papa."


"Terserah kamu mau kemana, aku juga gak punya rumah selain rumah Mama," ucap Putri balik mencibir.


Putri hendak pergi tapi di tahan Sultan. Ia pun menghentikan langkahnya.


"Apalagi?"


"Temani aku naik angkot ya, aku gak tau harus naik angkot yang mana," ujar Sultan sambil memohon.


"Dasar manja kamu, makanya jadi orang kaya tuh jangan belagu. Sekali-kali naik angkot biar saat udah miskin gini gak canggung."

__ADS_1


"Mana aku tau bakal mendadak miskin gini."


"Hem itu semua juga kamu yang buat kan? Rasain kamu jadi orang miskin emang enak makaya jangan cari masalah."


Putri memandang wajah Sultan tampak cemberut ia pun tertawa dalam hatinya meledek Sultan.


Duh haltenya masih jauh lagi, terpaksa deh aku jalan kaki lagi. Gini rupanya jadi orang kismin ke mana-mana harus jalan kaki, karna gak punya duit. Kenapa nasibku buruk begini ...? lirih Sultan menelan ludah.


"Kamu kok terseyum Put, apa kamu sedang meledakku?" tanya Sultan memerah.


"Gak kok siapa yang meledek!" Putri tidak mampu menahan tawa akhirnya ia pun tertawa lepas.


"Tuh kan tertawa. Bukannya prihatin malah tertawa gak kasian sama suami udah menggigil gini masih aja di ledekin," ujar Sultan mencibir.


"Suami dari mana, aku gak pernah anggap kamu suami," Putri membuang muka.


"Sampai hati kamu Put, aku ini suami sah kamu lho dosa gak akuin suami."


"Bukannya kamu sendiri yang bilang kita cuma menikah di depan Papamu di luar itu kita gak ada hubungan apa-apa."


"Itu dulu, sekarang aku mau kamu jadi istriku sungguhan mau?" tawar Sultan sedikit melirik ke arah Putri dengan tatapan menggoda.


"Udah deh gak usah drama lagi. Aku udah mau pulang nih! kasian Mama di rumah."


"Sebelum kamu pulang mau kah kamu berjanji padaku?"


"Janji apaan sih! ada-ada saja kamu cepetan bicara!"


"Tolong jangan ceraikan aku ya! plis... aku gak mau pisah sama kamu Put," ujar Sultan.


"Ah, sudahlah ...! capek bicara mulu kapan kamu sampai halte kalau bicara terus dari tadi."


"Duduk dulu Put, aku masih mau bicara denganmu," pinta Sultan.


Mau tidak mau Putri pun duduk mendengarkan Sultan yang berbicara panjang lebar. Anehnya Putri tidak banyak protes lagi meninggalkan Sultan sendirian di situ dan menemaninya mengobrol hingga pagi.

__ADS_1


__ADS_2