Mendadak Jadi Istri Sultan

Mendadak Jadi Istri Sultan
Saling marah-marahan


__ADS_3

Saat itu kebetulan Sultan dan Ratu melewati mereka karna mereka sudah mau pulang. Sultan menoleh dan ia melihat Putri. Timbul pertanyaan di benaknya. Putri lagi duduk dengan siapa? Sepertinya itu bukan mantannya yang bernama Raja itu deh, siapa dia?


Sultan melirik pria yang duduk bersama Putri itu ia memegang tangan Putri dan Sultan tidak suka.


Sultan menyuruh Ratu pergi duluan ia beralasan akan ke toilet, padahal ia mau menemui Putri. Ratu pun pergi dan Sultan menemui Putri dan langsung menarik tangan Putri secara kasar. "Putri! sini kamu," ucap Sultan.


"Hah, siapa kamu?" ucap Chico sambil berdiri menjadi kanget.


"Kamu yang siapa!" Sultan memanas.


"Sultan apa-apaan kamu, main kasar gini!" bentak Putri lagi.


"Putri, kamu itu...."


"Apa?"


"Kamu mau bicara apa? Terusin ...!" bentak Putri.


Sultan membawa Putri menjauh dari Chico. Chico pun kebingungan. Tia jadi gelisah dan serba salah ia pun menyusul Putri dan Sultan. Tia mendengar Putri dan Sultan perang mulut di belakang Kafe. Sepertinya Sultan marah melihat Putri berduaan dengan pria lain. Mereka berdua sama-sama tengah emosi sampai bicara soal cerai. Tia pun jadi tidak enak ia harus angkat bicara meredakan pertengkaran mereka karna bagaimanapun juga Tia lah yang sudah membuat Sultan memarahi Putri.


"Ternyata semua pria itu sama, sama-sama egois" cetus Putri mengakhiri pertengkarannya ia pun pergi.


"Tia, ngapain kamu ke sini! kamu urusin temanmu yang bawel itu!" cetus Sultan jengkel ia ingin beranjak, tapi di tahan Tia.


"Maaf Sultan, sebanarnya aku yang suruh Putri temui Pria tadi. Pria tadi bukan siapa-siapanya kok, dia teman chatan aku di Dunia Maya. Aku merasa ragu untuk menemuinya. Jadi, aku suruh Putri yang temui dia. Sekali lagi maaf yah sudah buat kamu salah paham terhadap Putri," ucap Tia memberi penjelasan.


"Dasar gadis aneh kalian berdua!" Sultan meninggalkan tempat itu dengan rasa bersalah karna sudah menuduh Putri yang tidak-tidak dan suy berkata kasar pada Putri.


Sultan masuk dalam mobil. Ratu sudah tidak sabar ingin menemui papa Sultan untuk meminta maaf. Ia menyuruh Sultan cepatan jalan. Sultan mengikut saja ia terdiam selama perjalanan, tidak bicara satu kata patah pun dengan Ratu, sampai tiba di rumah. Setelah sampai di rumah ia baru teringat kalau papanya sedang tidak ada di rumah. Sultan pun mengantar Ratu pulang.


.


.


.


Hari sudah sore Putri dan Tia pulang. Putri memasang wajah murung dari tadi sepanjang perjalanan sampai rumah ia tidak bicara sama Tia. Tia pun jadi serba salah ia merasa tidak nyaman. Tia sudah berkali-kali meminta maaf pada Putri tapi Putri biasa saja tidak merespon apapun itu.

__ADS_1


Mereka sudah sampai di halaman rumah Putri. Tia menahan langkah Putri untuk menyelesaikan permasalah mereka saat itu.


"Put, tunggu dulu. Kamu tidak boleh diam terus seperti ini. Aku minta maaf padamu yah, karna aku kalian jadi bertengkar."


"Kamu tidak salah kok Tia, yang salah adalah Sultan yang egois dan tidak tau diri itu. Padahal dia sendiri yang jalan berduaan dengan mantan dan sudah tidak menganggap aku sebagai istrinya. Eh giliran aku cuma ngobrol dengan pria lain dia malah buat aku malu seperti tadi. Aku benar-benar tidak bisa memaafkan dia. Kenapa aku gak boleh dia aja boleh dasar egois!" ujar Putri baru mau bicara.


"Tetap aku yang salah Put, aku sudah katakan kok pada Sultan kalau pria tadi bukan siapa-siapa kamu."


"Jadi, gimana reaksi dia?" tanya Putri kepo.


Tia terseyum cie kepo ya? Sepertinya ia merasa bersalah karna sudah salah sangka padamu Put," ujar Tia.


"Hah! dasar pria aneh bukan? padahal kalau di pikir-pikir aku sama dia itu gak ada hubungan batin sama sekali. Aku juga tidak mempermasalahkan dia untuk.dekat dengan perempuan manapun, kenapa dia begitu marahnya melihat aku berduaan dengan pria tadi, itu yang ku jengkelkan padanya."


"Sepetinya Sultan cemburu Put, masa kamu gak bisa lihat itu sih!"


"Gak mungkin Tia, dia kan sayang banget sama pacarnya Ratu. Dia itu cuma ingin menang sendiri saja ingny cari gara-gara sama aku saja. padahal kalau ia minta cerai sama aku gampang aja kok aku akan siap kapan pun itu."


"Ya terserah kamu lah, aku yakin Sultan itu sudah jatuh cinta sama kamu. Kalau gak kenapa juga dia marah kan? jangan bicara cerai-carai Put ntar kamu nyesel," ujar Tia.


"Kamu bicara apa! udah ah, aku mau masuk lama-lama aku bisa ikut gila kayak kamu."


"Iya ... buruan sana ntar Mak mu nyariin tuh!" usir Putri.


"Oya besok kamu karja kah?" Tia berhenti.


"Kayaknya gak deh, aku lagi malas ketemu Raja."


"Hem ... masih bucin sama Raja ya ...?" ledek Tia.


"Sorry banget, gak lah! sana pulang aja kamu. Kepo mu mulai kambuh, ya!" Putri memasang wajah sinis.


Tia pun pergi dari rumah Putri sambil cikikikan melihat Putri yang selalu marah-marah.


Tidak lama kemudian saat Tia pergi. Tampak sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah Putri.


"Itukan mobil Sultan, mau apa lagi dia ke sini?" Putri menutup pintu rumahnya. Sultan berteriak memanggil namanya.

__ADS_1


"Putri ... Put, tunggu! aku minta maaf," teriak Sultan.


Putri langsung pergi ke kamarnya menutup keras pintu kamarnya. Ibu kaget mendengar Putri tiba-tiba datang dengan perangai tidak sopan seperti itu.


Saat ibu ingin mengetuk pintu kamar Putri, ia pun mendengar teriakan dari luar.


"Putri ...!" suara Sultan memanggil.


"Ibu, Bapak, bukain pintu nya. Assalamualaikum ...," seru Sultan.


Ibu Ajeng pun membuka pintu.


"Sultan kamu kenapa? ada apa dengan putri kenapa dia pulang-pulang marah-marah. Kalian bertengkar?" tanya ibu.


"Ada sedikit masalah Buk. Ijinkan aku masuk, aku mau temui Putri."


"Yah silahkan masuk.!" ujar ibu Ajeng.


Sultan langsung mengetuk pintu kamar Putri.


"Put ... bukain pintunya, aku mau bicara!" pinta Sultan.


Putri yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang enggan untuk bangun dan menjawab Sultan ia diam saja sambil memeluk boneka Bear kesayangannya.


"Putri ... Putri ...!" ujar bu Ajeng ikutan mengetuk pintu.


"Mama kok ada juga di situ sih!" Putri jadi bingung mau buka atau tidak, ia masih kesal pada Sultan.


"Put gak baik diam-diam gitu, kalau ada masalah selesaikan baik-baik. Kalian suami-istri gak boleh bertengkar terus. Baru aja menikah masa sudah marah-marahan gini sih! Apa gak malu sama tetangga?" cibir Ibu.


"Yaellah Mama, bicara bawa nama tetangga apa hubungannya coba sama tentangga. Kalau pun mereka tau terserah merekalah aku mah masa bodoh aja!" ucap Putri bicara pelan dengan sendirinya.


Bekali-kali Sultan dan ibu mengetuk pintu kamar Putri, tapi tetap saja Putri tidak mau membukakan pintu. Sultan pun menyerah ia duduk di kursi menunggu Putri membuka pintu untuknya. Bu Ajeng jadi kasian melihat Sultan yang bermuka murung.


"Sultan sambil menunggu Putri keluar, ibu buatkan minuman mau?" tawar Ibu.


"Bolehlah Buk makasih ya," ujar Sultan.

__ADS_1


Ibu pun pergi kedapur membuatkan Sultan minuman.


__ADS_2