
Pagi telah tiba Putri sudah bangun pagi-pagi sekali saat itu ia sudah siap dengan tas di tangannya yang biasa dipakainya. Mamanya juga sudah bangun sebenarnya berat hatinya melepas kepergian anak semata wayangnya itu. Namun, mamanya mengerti kalau Putri sudah jadi istri orang, wajar saja ia menetap di rumah suaminya.
Putri pamit dengan rasa terpaksanya karna masih ingin tinggal bersama orang tuanya. Saat itu juga Sultan masih sakit Pak Dewa berkali-kali sudah menelepon ia mengirimkan supir pribadinya untuk menjemput Putri ke rumahnya.
"Put, kenapa belum berangkat?" tanya Mama Dayang mamanya Putri.
"Masih tunggu supir pribadinya Pak Dewa Ma, dia aku jemput di sini."
"Oh, mertua kamu baik banget Put, kamu beruntung dapat mertua seperti Pak Dewa Mama harap kamu harus bisa jadi menantu baik juga, harus sayang sama suami dan keluarganya," pesan mamanya.
"Iya Ma, Putri ngerti kok," sahut Puti biasa saja.
Putri juga nikah karena permintaan Pak Dewa jadi wajar saja dia baik sama aku gimana sih Mama. cibir Putri tampak manyun.
Tidak lama kemudian supir pun datang ia menelpon Putri agar keluar Mama Dayang ikut keluar mengantar Putri ke depan.
"Ma Putri pergi dulu, jaga diri baik-baik ya Ma. Jangan lupa telpon putri kalau ada apa-apa," ucap Putri sambil bersalaman dengan mamanya.
"Iya Put, kamu juga jaga diri baik-baik jadi istri yang baik buat suami ya Nak, pesan Mama Dayang.
Mamanya mencium Putri, seketika ia jadi sedih karna pasti kesepian tanpa Putri di rumah.
"Mama Putri pergi dulu," Putri melambai ke arah mamanya.
Mama Dayang tampak melambaikan tangannya ke arah mobil.
Pak supir juga pamit pada Mama Dayang dengan mengangguk sambil membunyikan klakson.
Mereka pun melaju menuju jalan raya sekitar satu jam perjalanan mereka pun sampai di depan rumah Pak Dewa. Pak Dewa yang berbeda di teras dari tadi menyambut kedatangan Putri dengan senyum melihat kedatangan Putri. Putri turun langsung bersalaman dengan Pak Dewa.
"Sultan ada di kamar kamu temui dia ya!" titah Pak Dewa.
"Baik Pak," sahut Putri.
Putri pun langsung pergi ke kamar menemui Sultan.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
__ADS_1
"Siapa?" tanya Sultan bersuara serak.
"A-aku," jawab Putri terbata-bata.
"Kamu?" Sultan tampak membuka pintu lalu kembali ke ranjangnya.
"Kamu sakit?" tanya Putri.
"Tidak, siapa yang bilang aku sakit?" Sultan balik bertanya.
"Papamu," ucap Putri mendelik.
"Papa ada-ada saja. Aku tidak sakit kok," ucap Sultan berbohong tidak mau mengakui dirinya sakit.
"Tapi kalau gak sakit, kok jam segini masih ada di rumah?" tanya Putri ragu.
"Oh, aku lagi cuti karna ada kegiatan lain aku sama Ratu akan pergi ke suatu tempat mungkin seminggu gitu deh," ujar Sultan sambil melirik bagaimana reaksi Putri mendengar ucapannya.
"Oh gitu ya?" ucap Putri singkat.
Seketika itu raut Putri berubah Sultan terseyum dalam hatinya.
"Tadinya aku di suruh datang ke sini buat rawat kamu. Tapi, ternyata kamu gak kenapa-kenapa yah dari pada tidak ada kerjaan aku mau kerja saja lagian hari ini banyak yang memesan makanan. Jadi aku buru-buru harus pergi sekarang!" Putri bergegas.
Putri menarik napas, "Ada apa lagi?"
"Kamu tidak bisa pergi sendiri, kita pergi sama-sama, karena kalau kamu pergi sendiri lagi pasti Papa kepo lagi."
"Gak perlu, aku bisa sendiri," Putri menarik tangannya.
"Jangan membantah! ini perintah suami," ujar Sultan berlaga tegas.
Dasar suami gadungan, cibir Putri terpaksa duduk kembali menunggu Sultan mempersiapkan dirinya.
Terpaksa Putri menuruti kemauan Sultan yang ingin pergi sama-sama karena tidak mau di interogasi oleh Papa mertua yang selalu ingin tau itu.
Putri menunggu beberapa saat, Sultan pun sudah siap berpakaian rapi. Mereka pun keluar dari kamar menemui Pak Dewa yang masih belum beranjak dari tempat duduknya dari tadi. Sultan tampak mengandeng tangan Putri agar tampak mesra di hadapan Papanya.
"Kenapa harus pake pegangan tangan sih biasa saja kali," ucap Putri yang salah tingkah saat Sultan menggenggam erat tangan Putri.
Putri ingin melepaskan tangan Sultan namun Sultan semakin kuat menggenggamnya tidak mau melepaskan tangan Putri.
__ADS_1
"Kamu jangan GR, aku cuma menyakinkan Papa kalau kita baik-baik saja."
"Oh jadi cuma itu ya, kirain kamu sudah baper sama aku gak mau aku pergi lagi."
"Ha-ha-ha ... Putri ... Putri sampai kapanpun aku gak akan baper dengan hubungan pernikahan kita yang cuma di atas kertas ini. Karna sampai detik ini juga aku masih mencintai Ratu kekasihku," ujar Sultan penuh percaya diri.
"Oh gitu bagus deh, biar aku gak pusing ngurusin kamu suruh saja Ratu datang ke sini buat gantiin aku," ujar Putri kesal.
"Sebentar lagi Ratu akan ke sini kok, setelah kita sah bercerai bisik Sultan di telinga Putri.
"Oke, terserah kamu saja!" Raut wajah Putri sekilas sedih tapi ia tidak mau menampakkan nya pada Sultan ia berpura-pura biasa saja padahal hati Putri sangat sakit saat Sultan berkata cerai. Sejenak mereka terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Oya ngomong-ngomong apa kabar teman kamu yang bernama Arjuna itu? apa dia baik-baik saja?" tanya Sultan tiba-tiba bertanya tentang Arjuna membuat Putri kaget.
Putri tersentak dari pikirannya langsung menoleh ke arah Sultan dan memandang lekat di wajah Arjuna.
"Kamu? kamu tanya keadaan Kak Juna berarti kamu tau keadaan Kak Juna sekarang?" Putri terdiam dengan prasangka buruknya terhadap Sultan yang tiba-tiba bertanya.
"Em, jelas aku ingin tau selama ini kan aku gak lihat kamu pulang bereng dia lagi?"
Putri masih terdiam.
"Kenapa kamu jadi bengong gitu? ada masalah dengan pertanyaan ku?"
"Aku merasa aneh aja, kamu tiba-tiba bertanya tentang Kak Juna."
"Oh masalah itu si biasa saja Markonah ...!" ledek Sultan menyembunyikan wajahnya ia berlalu di hadapan Putri berjalan lebih cepat mencari Papanya.
"Pa ... Papa ... kita mau pergi ...!" seru Sultan.
"Papa di sini," ucap Pak Dewa di teras rumah.
Sultan menghampiri Papanya ia berpamitan mau pergi dengan alasan berobat.
"Apa perlu Papa temani?" tanya Pak Dewa menawarkan dirinya.
"Tidak perlu Pa, cukup Putri saja," jawab Sultan.
"Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi Papa ya," ujar Pak Dewa.
"Pak kami berangkat dulu," pamit Putri sambil bersalaman.
__ADS_1
Pak Dewa pun mengijinkan, mereka pun pergi.