
Tanpa di sadari Sultan dan Putri, Mama Dayang sudah di depan pintu. Ia melihat mereka berdua tengah mengobrol, semua kaget melihat Mama Dayang yang tampak melototi Putri. "kenapa ada Sultan di sini?" sontak Mama Dayang memanas ia pun langsung berteriak memanggil Putri. Putri pun histeris Sultan ikut kaget.
"Dasar pria brengsek! sudah KDRT sama anak saya, masih berani datang sini," seru Mama Dayang tidak suka.
"Maaf Buk, saya ada keperluan dengan Putri," ucap Sultan sambil memohon agar di ijinkan berada di situ beberapa saat lagi.
"Untuk apa kamu kesini hanya buat Putri kesusahan sekarang pergi dari sini. Pergi ...!" bentak Mama Dayang sambil menjauhkan Putri dari Sultan.
"Mama, jangan usir Sultan. Dia sedang tidak sehat," ujar Putri tiba-tiba kasian pada Sultan dengan kondisi masih menggigil.
"Mama tidak mau tau Put, pokoknya dia harus keluar sekarang juga!" cetus Mama Dayang.
"Baik, saya akan pergi. Maaf sudah membuat ricuh," ujar Sultan pasrah.
"Jangan pergi Sultan, kamu masih sakit," ucap Putri menghentikan langkah Sultan.
"Tidak apa-apa Put, Mamamu tidak suka aku di sini."
__ADS_1
"Sultan jangan pergi!" Putri mengejar Sultan. Sultan pun jadi kaget melihat reaksi Putri yang tampak beda saat itu seolah-olah Putri memberi harapan untuknya.
"Putri ...!" ucap Sultan sambil merangkul tubuh Putri dan menenggelamkannya kedadanya. Tanpa disadari Putri pun dengan pasrahnya membiarkan tubuhnya dipeluk Sultan. Mama Dayang terbelalak melihat adegan itu membuatnya semakin memanas.
"Heh malah pelukan kalian! lepas ...lepas ... Putri apa yang sudah kamu lakukan?" seru Mama Dayang semakin panas melihat mereka pelukan.
Putri dengan nyamannya berada di pelukan Sultan tapi saat ia sadar ia pun melepaskan tubuhnya dari pelukan Sultan.
"Apa aku harus pergi?" tanya Sultan ragu melihat sikap Putri yang nampak sedih seolah berat melepasnya Putri menunduk tidak berani menatap Sultan.
"Put, katakan kalau kamu mencintai aku," lirih Sultan sambil memegang tangan Putri. Putri geleng kepala ia pun menyuruh Sultan pergi, dengan sedihnya Sultan pun menghela nafas panjang dan menatap kearah Putri lagi.
Putri hanya terdiam mematung sambil melihat ke arah Sultan. Air mata Putri tidak dapat dibendung lagi ia pun menangis di depan Sultan.
Kenapa aku jadi menagis sih, Putri ... kamu tidak boleh seperti ini ucap Putri pada dirinya sendiri.
Aku tidak boleh mencintai Sultan, dan seharusnya aku membencinya karena ia sudah membuat hidupku hancur, ucapnya membatin.
__ADS_1
"Sultan, ku harap kamu mengerti. Aku tidak mau Mama marah pergilah! karna aku tidak mau kamu di marahi Mama. Maaf ...," Putri berlari menuju rumahnya. Sultan pun pergi ke arah jalan raya dengan langsung lemah ia berjalan tidak tau mau kemana. Putri sudah masuk di rumahnya bersama Mamanya.
Putri menangis sugukan di depan mamanya memohon agar memaafkan Sultan tapi Mama Dayang tetap pada pendiriannya masih belum bisa memaafkannya.
"Sudahlah Put, jangan menangis lagi Mama tidak suka melihatmu begini. Tidak ada gunanya kamu menangisi pria kasar seperti Sultan. Mama tau itu suamimu Put, maafkan Mama karena sudah mengusirnya. Tapi, ini semua Mama lakukan agar harga dirimu tidak di injak-injak oleh dia. Mama tidak suka pria yang ringan tangan terhadap wanita. Kamu harus segera bercerai dengan Sultan," ujar Mama Dayang mencetus.
Putri memeluk Mamanya mamanya pun mengelus rambut Putri dengan lembut.
"Putri kesayangan Mama jangan menangis Mama tau kamu mencintai Sultan tapi ini demi kebaikan mu juga. Mama gak mau lihat Sultan ada di sini lagi ini yang terakhir kalinya!" ucap Mama Dayang dengan tegas.
Putri semakin menangis. "Maafkan Sultan Ma, Putri mencintainya. Putri tidak bisa jauh darinya!" Putri melepaskan dirinya dari pelukan mamanya dan berlari keluar sepetinya ia akan mengejar Sultan.
"Putri mau kemana kamu ... ini masih subuh," seru Mama Dayang. Putri terus berlari tanpa mengindahkan teriakan Mamanya.
"Putri ...!" seru Mama Dayang lebih kuat lagi.
Putri pun menoleh. "Maafkan Putri Ma, Putri harus mengejar Sultan!"
__ADS_1
Mama Dayang duduk menenangkan dirinya. Nafasnya terasa semakin sesak habis berteriak karena kondisinya pun masih sakit saat itu. Putri sudah menjauh mengejar Sultan. Mama Dayang hanya terdiam menahan gejolak hatinya yang tidak menentu. Di sisi lain ia merasa kasian pada Putri tapi disisi lain ia merasa benci pada Sultan belum bisa memaafkannya apalagi saat ia ingat Sultan sudah kasar pada anaknya.