Mendadak Jadi Istri Sultan

Mendadak Jadi Istri Sultan
Putri merasa panik


__ADS_3

Hampir 1 jam Sultan menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tapi, Putri masih enggan untuk membukanya ia masih sakit hati pada Sultan. Sekuat hati ia memejamkan matanya Namun matanya belum mau terpejam. Ada rasa kasian pada Sultan ada juga rasa dendam padanya. Rasa itu bercampur aduk jadi satu, Putri merasa serba salah apalagi mendengar suara Sultan yang sudah hampir habis karna berteriak memanggil mamanya.


Setelah puas berteriak Sultan terdiam ia merasa dongkol rasa bencinya makin memuncak pada Putri.


"Sultan, Sultan apa kamu masih di dalam?" tanya Putri yang sebenarnya tidak tega.


"Dasar kurang ajar! istri durhaka kamu Putri! mengunci suamimu di dalam kamar mandi berani sekali kamu melakukan ini. Aku pastikan besok kau sudah tidak akan ada lagi di sini. Cepat buka atau aku akan mempermalukan kamu setelah ini. Aku pastikan hidupmu akan menyesal seumur hidup!" ancam Sultan ia sudah menggigil kedinginan. Suara Sultan terdengar bergetar Putri pun tidak tega apalagi Sultan baru saja sembuh dari sakit.


"Aku akan bukakan pintunya, asal kamu mau berbaik hati padaku. Tidak marah-marah begitu lagi padaku


Dan soal permintaan cincin berlian itu harus kamu batalkan. Aku tidak perlu barang mewah dari papamu. Apa kau siap?" tanya Putri.


Dasar bodoh siapa juga yang mau memberimu Cincin itu, aku akan memberikannya pada Ratu *kali,Tapi ... gak apa-apa deh kehilangan cincin itu. Lain kali saja aku belinya, setelah harta warisan itu jatuh di tanganku saja*, batin Sultan.


"Baiklah, semuanya akan aku lakukan cepat buka!" sahut Sultan memanas.


"Aku gak mau denger kamu bicara keras seperti itu. Itu artinya kamu masih marah padaku, aku gak mau buka kalau kau meminta dengan cara yang kasar begitu."


Astaga Tuhan sabar kan aku menghadapi gadis aneh ini, batin Sultan sambil mengelus dada mencoba untuk bersabar. Ia menarik napas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan agar semua tekanan dalam dadanya bisa mereda.


"Putri yang baik hati, tolong buka pintunya?" ujar Sultan dengan terpaksa harus bersikap lembut karna ia tidak tahan lagi berdiam diri di kamar mandi.


"Baiklah, akan aku buka. Janji ya gak marah lagi," ucap Putri sambil tersenyum.


"Oke! gak marah lagi kok," ucap Sultan geregetan. Demi keluar dari kamar mandi ia mau mengiyakan ucapan Putri. Seketika itu Putri membuka Pintu Sultan tampak pucat dan kedinginan.


"Sultan kamu kenapa?" ucap Putri kaget.

__ADS_1


"Dasar gadis aneh, masih bertanya aku kenapa! yah aku kedinginan lah kalau sempat aku kenapa-napa kamu harus tanggung jawab!" ancam Sultan. Putri jadi takut dan tampak panik. Ia keluar kamar akan segera mengambil alat kompres.


"Mau kemana kamu?" tanya Sultan menahan langkahnya.


"Aku, aku mau ambil baskom mau kompres kamu. Duh maaf yah Sultan, aku buat kamu sakit lagi. Ini semua juga karna ulah kamu tau? kalau kamu tidak duluan aku juga gak akan berbuat yang tidak-tidak kok sama kamu," ucap Putri menutupi kesalahannya.


"Aku gak mau dikompres kayak anak kecil aja. Kamu tidak perlu pura-pura baik di depanku. Sudah lah biarkan aku. Jangan kau hiraukan, bukankah kamu suka liat aku sakit? aku yakin kalau aku mati kamu pasti tertawa iya kan?" Sultan memandang sinis ke arah Putri.


"Nggak kok, gak mungkin aku tertawa kamu sok tau banget sih!"


"Jelas aku tahulah, kamu kan benci sama aku."


Putri terdiam, sambil membatin. Bagaimana kalau Sultan benaran mati? Ah dia mah paling cuma mengertak aku aja.


Putri kembali ke sofa ia merebahkan tubuhnya tidak mau melihat Sultan yang sedang berganti baju. dalam hatinya ada rasa takut dan panik memikirkan ucapan Sultan.


"Gak, aku gak takut kok, biarin aja kamu mati. Apa urusannya dengan aku," cetus Putri berlaga judes.


Sultan melotot merasa geram ia tidak berhasil mengertak Putri.


"Heh, enak saja kamu bicara begitu kamu kan sudah buat aku sakit. Jadi, kamu harus tanggung jawab!" Sultan mencetus.


Putri diam saja sibuk dengan pikirannya ia mencoba menutup telinganya tidak mau mendengar ocehan Sultan yang terus menyalahkannya.


Malam telah hadir keduanya masih asyik perang dingin. Setelah puas mengoceh mereka pun saling diam sibuk dengan pikirannya masing-masing padahal mereka sama-sama masih belum tidur saat itu.


Dasar pria gila, kenapa juga aku harus mikirin dia biarin aja dia sakit. ucap Putri. Tapi tetap aja ia kuatir sekali-sekali ia melihat ke arah Sultan tetapi orangnya membelakanginya.

__ADS_1


"Aku gak yakin Sultan baik-baik saja, kenapa perasaanku aneh gini?" Putri pun mengecek keadaan Sultan. Diam-diam ia memeriksa suhu tubuhnya.


Panas banget badannya. "Duh gimana ini?" tanya Putri merasa panik. "Bagaimana kalau Sultan mat?" Putri semakin panik ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya jika hal itu terjadi pada Sultan karna ulahnya lah ia sakit.


"Apa aku bangunkan Pak Dewa ya? tapi gak deh, nanti Sultan bilang lagi dia sakit karna ulah ku. Argh!kok jadi serba salah gini sih?" ucap nya menyesali perbuatannya sendiri.


"Sultan aku gak mau kamu sakit," lirih Putri bicara pelan.


Sultan membalikan tubuhnya ia merasa sangat kedinginan. Ia sempat mendengar ucapan Putri Ia pun terseyum walau masih merasa dongkol.


"Sultan maafin aku yah, aku ambilkan kamu kompres atau aku kerokin mau gak?" tawarnya sambil menggoyangkan badan Sultan agar ia bangun.


"Kamu masih belum tidur juga? Sudahlah tidur sana aku gak kenapa-napa kok. Sana cepatan tidur!" usir Sultan, sepertinya ia ngambek tidak mau di perhatikan Putri lagi.


"Gak kenapa-napa bagaimana? itu badanmu panas banget."


"Berani sekali kamu menyentuh tubuhku? tanpa seijin dari ku!" ucap Sultan tidak suka.


"Maaf aku hanya kuatir sama keadaanmu Sultan."


"Hem alasan saja! sudahlah aku tidak percaya ucapan licik dari mulutmu, pura-pura baik dasar munafik kamu Putri! sana pergi aku tidak sudi kamu rawat dengan tangan kotor mu itu."


"Jangan keras hati Sultan! kamu masuk angin aku kerokin yah," pinta Putri.


"Tidak, sana pergi!" Sultan mendorong tubuh Putri.


Putri pun menjauh dan kembali ke sofa.

__ADS_1


__ADS_2