Mendadak Jadi Istri Sultan

Mendadak Jadi Istri Sultan
Sultan menyesali semua perbuatannya.


__ADS_3

Sultan terdiam saat diam-diam melihat Putri mengompres kepalanya dengan kain ia membiarkan wanita itu. Sebenarnya ia sudah sadar dari tadi tapi Ia berpura-pura masih pingsan untuk mengetahui bagaimana reaksi Putri padanya.


Ternyata Putri perhatian juga sama aku, Maafkan aku ya Put selama ini aku memandang kamu sebelah mata aku mengira kalau Ratu benar-benar mencintai aku kini aku baru sadar kalau cintanya memang tidak tulus padaku, batin Sultan diam-diam memperhtikan Putri.


Sultan melihat Putri tampak panik sampai ia tidak sadar kalau Arjuna yang sudah terlelap.


"Kak Juna bagaimana ini? Sultan belum sadar juga," ucap Putri mengajak Juna mengobrol ternyata ia tidak sadar kalau Arjuna sudah tertidur dari tadi.


"Kak Jun ...?" ujar Putri memanggil. Putri menoleh dan melihat Arjuna sudah pulas.


"Ya ampun Kak Juna! di ajak ngobrol dari tadi ternyata sudah tidur enak saja ya dia tidur di sini, bagaimana kalau Mama tau. Aduh dua pria ini bikin pusing aja yang satu pingsan dan yang satu tertidur. Aku harus bilang apa ke Mama. Ini benar-benar masalah buat aku harus aku kemanain dua pria ini?" tanya Putri pada dirinya sendiri, ia tampak bingung dan panik takut ketahuan mamanya.


Sultan yang dari tadi berpura-pura ikut panik di dalam hatinya karna untuk saat itu mama putri sangat membenci dia. Di saat Putri mengawasi mamanya.


Secepatnya ia membangunkan Arjuna dan Arjuna pun bangun ia mengigau langsung mengungkapkan perasaannya pada Putri sontak Sultan menampar Arjuna setelah Arjuna merasa sakit karna di tampar ia pun sadar dan berteriak.


Mama Dayang kaget mendengar teriakan Arjuna ia berusaha bangun dan melihat ada Putri di depan kamarnya.


"Putri? kamu kenapa teriak-teriak?" tanya Mama Dayang.


"Aduh kacau ini!" ucap Putri panik mencari alasan yang tepat.


"Maaf Putri melihat kecoa Ma lewat tadi," ucap nya berbohong.


"Kecoa? dimana?"


"Sudah pergi Ma."


"Ya sudah kamu ngapain ke sini?"


"Aku mau mamastikan keadaan Mama apa masih meriang atau tidak," ujar Putri beralasan.

__ADS_1


"Oh gitu, Mama agak mendingan tapi masih pusing."


"Syukurlah Ma kalau sudah mendingan Putri pamit," Putri bernapas lega saat mamanya mendengar teriakan tadi di sangka Putri ia pun segera menemui Sutan dan Arjuna.


Saat Putri kembali Sultan ketahuan sudah sadar Putri dengan sinisnya melihat ke arahnya sikap Putri berubah cuek ia pun membangunkan Arjuna dan menyuruh mereka pulang. Tapi Sultan tiba-tiba mual dan menggigil hebat.


"Sepertinya Sultan tidak bisa pulang Put, biar aku saja yang pulang ya, aku tidak nyaman berada di sini lama-lama," ucapnya tampak Arjuna langsung bangun dan menyeret motornya agar tidak bunyi takut ketahuan Mama Putri.


Putri memanggil Arjuna tapi Arjuna tidak mau berhenti ia menghidupkan motornya dan melaju saat sudah jauh dari rumah Putri.


"Yah, Kak Juna sudah pulang padahal aku mau bilang tadi buat jemput Sultan pagi nanti sebelum Mama bangun."


"Kenapa kamu gelisah apa aku tidak boleh nginap di rumah istriku?" tanya Sultan sambil memperhatikan raut Putri.


"Hah! sejak kapan kamu anggap aku istri?" Putri mendelik tidak suka.


"Sejak hari ini. Aku minta maaf selama ini atas kesalahanku yang sudah egois dan tidak perduli denganmu. Aku sudah di usir Papa dan sekarang aku bingung mau tinggal dimana ...," irih Sultan memasang raut sedih minta dikasihani.


"Oya koper aku ada di luar aku berkata serius aku sudah di usir Papa," terang Sultan.


Putri melihat memang ada koper Sultan di luar ia pun tertawa. "Ha-ha-ha kasian banget sih kamu sudah hidup sebatang kara dong, gak ada keluarga."


Sultan semakin bersedih.


"Kamu tidak usah kuatir besok pagi aku suruh Arjuna antar kamu ke rumah pacar kamu itu," ujar Putri.


"Pacar yang mana lagi?"


"Pura-pura lupa ya bukannya kamu masih punya Ratu?"


"Ratu ...?" Sultan terdiam sejenak.

__ADS_1


"Ratu sudah mengkhianati aku Put, dia selingkuh dengan teman aku sendiri. Kini aku benar-benar hancur reputasi ku juga hancur aku di pecat dari pekerjaanku."


Putri semakin tertawa. "Rasain kamu, itulah balasannya jahat sama orang. Kamu kira cuma kamu yang begitu. Gara-gara kamu aku ikut menderita berhenti berkerja dan Mama sekarang jatuh sakit lagi." tiba-tiba Putri menangis.


"Maafkan aku Put, semua ini salah ku aku yang egois kini Papa sudah tidak peduli lagi sama aku. Aku harus bagaimana untuk menebus kesalahanku padamu Put?" tanya Sultan berharap di maafkan.


Putri menyeka air matanya dan menatap Sultan.


"Pokoknya aku gak mau tau kamu harus bertanggungjawab carikan aku pekerjaan dan kamu juga harus berkerja. Aku akan urus surat perceraian kita."


"Put, Sultan meraih tangan Putri dan menggenggamnya. Desiran darah Putri mengalirkan dan jantungnya berdetak lebih kencang ia tidak menyangka hal itu. Putri menarik tangannya Sultan melepaskannya.


"Maaf, apa keputusanmu sudah bulat?"


"Bukannya itu sudah keputusan kita sejak awal. kok nanya nya sama aku si?"


Sultan menunduk bersedih entah kenapa ia berat mengatakan semua isi hatinya pada Putri kalau ia tiba-tiba berat ingin bercerai.


"Kamu kenapa bukannya kamu senang kalau kita sudah cerai?"


"Kita tidak boleh cerai Put," tolak Sultan.


"Kenapa?"


"Aku tidak dapat apa-apa dari Papa semua pasilitas di ambilnya dan aku tidak mau jadi gembel. Kita harus tetap lanjutkan pernikahan kita."


"Tidak Sultan! aku tidak mau membuang-buang waktu dengan permainan ini. Setelah kita cerai aku akan cari pendamping hidup yang benar-benar mencintai aku dengan tulus aku kasian pada orang tuaku. Aku sudah jadi beban mereka," terang Putri.


"Tapi bagaimana dengan aku Put, aku tidak bisa hidup seperti ini apa kamu tega melihat aku jadi gembel?"


"Itu urusan kamu, buat apa aku mikirin kamu. Toh, kamu juga tidak mikirin aku kan? Sekarang aku kehilangan pekerjaan dan aku malu keluar rumah karna fitnah itu sudah tersebar di mana-mana sampai ke media aku tidak habis pikir kenapa nasib mempermainkan aku begini. sudahlah menikah di permainkan orang dan di fitnah orang lagi. Hiks," Putri bersedih dan menangis.

__ADS_1


Sultan terdiam membisu ia merasa bersalah ia berjanji akan memperbaiki semuanya ia tidak tega melihat Putri bersedih.


__ADS_2