
Sultan masuk ke kamar dengan lirikan mata sinisnya sambil tersenyum miring meledek keadaan Putri yang sedang gundah gulana saat itu. Dengan bertopang dagu sibuk dengan pikirannya Putri memmincingkan matanya ke arah Sultan yang saat itu mulai duduk di ranjangnya.
"Andai aku tidak tidur di kamar ini, mungkin aku tidak akan melihat tampang jeleknya pria sombong ini, sedikit pun aku tak akan rela meliriknya dengan mataku ini," cibir Putri di dalam hatinya.
"Tapi kalau sudah satu kamar begini, mau gimana lagi mataku akan memandang juga ke arahnya," ucap Putri lagi ia mengubah posisi duduk nya membelakangi Sultan yang berada tepat di depannya.
Sultan mengeyitkan alisnya saat melihat Putri ganti posisi melihatnya datang.
Dasar gadis aneh siapa juga yang mau melihatmu, batin Sultan mulai merebah dan membelakangi Putri.
Begitulah kondisi mereka selama satu malam itu tanpa bicara satu sama lain, cuma lirikan mata sinis dan raut wajah yang masam yang terjadi saat bertatapan.
Sebenarnya aku salah apa sama dia? kenapa kelihatannya dia benci banget sama aku batin Putri. Melayangkan pandangannya ke arah Sultan yang sudah duluan keluar dari kamar.
Putri bangun dari sofa dan pergi mandi hari itu ia berniat akan pergi kerja. Setelah siap mandi dan berpakaian dan Putri keluar kamar tanpa pamit ia pergi menunggu angkot di halte yang lumayan jauh dari rumah Pak Dewa. Walaupun jauh ia menguatkan dirinya untuk berjalan demi berkerja. Ia harus lebih rajin lagi berkerja apapun halangan nya, agar gajinya bisa naik bulan itu. Ia bertekad akan membeli sebuah mobil walaupun bekas juga gak apa-apa intinya ia harus beli mobil secepatnya untuk membuktikan pada Sultan kalau ia bisa punya mobil sendiri tanpa pemberian dari orang lain.
Sultan tidak mau tau kemana Putri pergi, sepintas ia melihat Putri sudah keluar ia tidak menghiraukannya ia hanya memikirkan dirinya sendiri bagaimana caranya bisa balikan lagi dengan Ratu. Pagi itu setelah sarapan Sultan berniat akan menemui Ratu.
Pak Dewa yang baru saja tiba di dapur memandang sekeliling tempat ia mencari keberadaan Putri.
"Sultan, Putri mana?" tanya Pak Dewa
__ADS_1
"Putri mendadak pulang Pa, Mamanya sakit," ucap Sultan beralasan.
"Dia pergi pake apa? kenapa tidak kau antar? suami seperti apa kamu?" ujar Pak Dewa memanas karena membiarkan Putri pulang sendirian.
"Papa jangan ngegas dulu, Putri itu perginya buru-buru sebelum aku bangun dia sudah tidak ada dikamar. Dia cuma mengirimkan pesan singkat padaku barusan."
"Tetap saja kamu salah Sultan! tidak peduli pada istrimu. bagaimana kalau dia kenapa-napa ini kan masih sangat pagi."
"Kok Sultan yang disalahin sih Pa? dia sendiri yang gak bilang ke Sultan. Istri seperti apa gitu gak menghargai suami banget. Aku yakin itu akal-akalan nya saja," ucap Sultan memfitnah Putri.
"Maksud kamu Putri berbohong?"
"Iya, apalagi? dia kan baru saja dapat hadiah mobil dari Papa paling dia ingin pamer sama teman-temannya," cibir Sultan.
"Terserah Papa kalau gak percaya jangan salah Sultan kalau Putri ngelunjak semaunya bertindak bebas di rumah ini. Aku yakin sebentar lagi Papa akan tau siapa Putri yang sebenarnya."
Sultan pergi karna sudah selesai makan. Sedangkan Pak Dewa baru saja mau mulai makan. Ia merenungkan kata-kata Sultan barusan ia jadi ragu.
Gak mungkin Putri seperti itu, aku melihatnya ia tidak seperti gadis lainnya. Gak mungkin aku salah pilih dia anak baik, Sultan ada-ada saja bisa saja dia cemburu karna Putri dapat hadiah juga dari ku, Pak Dewa terseyum melihat kesalahpahaman Sultan.
Sehabis makan Pak Dewa menemui Sultan yang sudah siap akan pergi.
__ADS_1
"Mau kemana kamu Sultan?" tanya Pak Dewa.
"Biasa Pa, ke lokasi syuting emang ada apa?"
"Kamu tidak kuatir atau gimana gitu lihat istri pulang sendiri di rumah orang tuanya. Tidak merasa gak enak gitu? apalagi kan mertua kamu sedang sakit."
"Apa sih maksud Papa?" Sultan belaga bego.
"Astaga Sultan, masih tidak paham juga kamu itu sebenarnya suami macam apa? kenapa gak susul istrinya ke rumah orang tua tuanya?"
"Buat apa sih Pa, toh Putri perginya gak lama paling sore udah balik."
"Meskipun begitu sebaiknya kamu tetap pergi ke sana juga liatin mertuanya bagaimana keadaannya, gimana sih kamu jadi suami gitu amat Papa gak suka kamu bersikap cuek sama Istri dan menantu mu karna Papa gak mau di cap gak benar ajarin anak."
"Papa terlalu berlebihan, Sultan sibuk, cuma sakit biasa kok mamanya Putri tanpa aku juga gak apa-apa bukan sakit parah cuma demam saja,"
"Sultan! cepat susul Putri atau?" Pak Dewa menggertak Sultan.
"Atau apa Pa?" tanya Sultan kaget.
"Papa mau ngancam aja kerjanya!" cetus Sultan pergi nyelonong tanpa pamit.
__ADS_1
Pak Dewa jadi kesal ia berteriak memanggil anaknya tapi Sultan tidak menghiraukan papanya.