
"Baiklah, tidak masalah." Trisya tersenyum, dia mengusap rambut Zalia lembut.
"Kenapa kalian menatapku, Bibi yang memasaknya tadi." Ucap Zalia tampak kesal.
"Iya, iya Bibi yang masak, tuan putri ini memang tidak pernah salah." Trisya dan Jessy tertawa gemas.
Jessy menyayangi Zalia seperti putri kandungnya sendiri, bisa di bilang dia Ibu kedua untuk Zalia.
"Trisya, tidakkah kau ingin memberikan Ayah untuk Zalia?" tanya Jessy sembari menyesap minuman di genggamannya.
"Apa dia yang menyuruhmu mengatakan ini?" Trisya balik bertanya.
"Tidak, dia tak pernah sekali-pun menanyakan siapa dan dimana Ayahnya, namun Trisya aku yakin jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam Zalia juga ingin seperti anak yang lain, punya keluarga yang lengkap." Ujar Jessy.
Trisya mendengus kasar, "kebanyakan Pria ingin menikahi wanita lajang, sedang aku sudah punya seorang anak. Jes, aku takut pria itu tidak bisa menyayangi putriku, aku tidak ingin mengambil resiko. Lagi pula, kegagalan pada pernikahanku yang terus terjadi, membuat aku ingin hidup sendiri. Sebaliknya kau lah yang harus cepat menikah."
Jessy tersenyum, dia menunjukan sebuah cincin putih di jari manisnya, "apa Gio sudah melamar-mu?" Trisya melebarkan matanya karena terkejut.
"Ya, dia sudah melamar-ku, aku juga sudah bertemu keluarganya."
"Astaga, selamat Jess! Aku ikut senang, kapan kalian akan menikah?" tanya Trisya lagi.
"Mungkin dua bulan lagi."
"Aah, selamat sekali lagi, aku merasa bahagia untukmu." Trisya memeluk Jessy sekilas.
"Semoga kau juga akan segera bertemu dengan jodohmu."
"Haish, kau ini. Aku bahkan tidak ingin itu terjadi." Jessy tertawa membuat Trisya pun ikut tertawa.
Keesokan paginya, Trisya mengantar Zalia ke taman kanak-kanak.
"Sayang, sekolah yang pintar ya, nanti Bibi Jessy yang akan menjemputmu."
"Iya Mom! Mommy juga, hati-hati kerjanya!" Zalia melambaikan tangan seraya memasuki gerbang sekolahnya, Trisya tersenyum sembari membalas lambaian tangan tersebut.
"Dia putrimu? Dia sudah besar, ya." Suara di iringi dengusan senyum membuat Trisya seketika menoleh.
"Jo, kenapa kau disini?" tanya Trisya.
__ADS_1
Sudah bertahun-tahun sejak saat Trisya membatalkan pernikahannya dengan Jo, mereka tak pernah sekali-pun bertemu kembali.
"Aku mengantarkan anakku juga." Jo tersenyum menatap punggung seorang anak laki-laki seusia Zalia yang perlahan menjauh.
"Hah, kau sudah punya anak? Kapan kau menikah?" tanya Trisya dengan nada terkejut.
"Punya anak tak harus selalu menikah, kan." Trisya memalingkan muka, agaknya dia tersindir oleh perkataan Jo.
"Aku bercanda, aku belum menikah. Arzan adalah anak Kakak-ku, dia menyerahkan Arzan pada Ibu-ku saat dia masih bayi dan dia sendiri lari entah kemana. Dan kini Arzan menjadi tanggung jawab-ku karena, Ibu-ku telah tiada."
"Aku turut berduka, maaf aku tidak tahu jika Ibu-mu sudah meninggal."
"Tidak papa, siapa nama putrimu?" tanya Jo nampak tertarik.
"Anzalia, dia berusia lima tahun."
"Dia sangat cantik, sama seperti Ibunya." Puji Jo sembari tersenyum menampakan lesung Pipit di masing-masing pipinya.
Trisya tersenyum kaku, "Jo, aku permisi dulu, aku harus pergi bekerja." Trisya hendak berlalu, namun Jo mencekal tangannya, membuat Trisya terkejut.
"Astaga maafkan aku, tapi bisakah kita bertemu lagi lain waktu, aku ingin bertanya tentang cara merawat anak," ujar Jo memberi alasan dia tampak gugup.
"Emh, ya karena anak kita seumuran, aku pikir mendiskusikannya denganmu akan lebih nyaman." Ujar Jo.
Trisya menghela napas dalam, "baiklah, jika ada waktu luang aku akan memberi tahu mu lagi, aku permisi dulu." Jo melambaikan tangan sembari tersenyum.
Trisya berlalu bersama taksi yang di tumpangi-nya.
Sesampainya di kantor, Trisya di kejutkan dengan banyaknya para karyawan yang berjajar membingkai jalan di ruangan itu.
"Ada apa ini?" tanya Trisya para Liana yang kini berdiri di sampingnya.
"Aku dengar perusahaan ini telah di ambil alih oleh orang lain, hari ini bos baru akan datang," bisik Liana di daun telinga Trisya.
"Hah bos baru?" Trisya melebarkan matanya memekik cukup keras, beruntung ruangan ini cukup ramai jadi tak ada orang lain yang mendengar pekikan Trisya.
"Apa kau yakin?" Liana mengangguk pasti, "bagaimana jika bos baru ini justru membuat kita menderita, dan membuat perusahaan ini bangkrut," tiba-tiba wajah Zalia melintas di benak Trisya, "apa yang akan putriku makan nanti, mencari pekerjaan di jaman sekarang itu sangat sulit." Keluh Trisya.
"Jangan berpikiran buruk begitu, siapa tahu justru bos baru ini akan jauh lebih baik dari yang sebelumnya, yang pasti siapa pun pemilik perusahaan ini, kita hanya bisa menerima karena kita hanya karyawan biasa."
__ADS_1
"Haish, kau benar!"
Tak...Tak...Tak...
Suara langkah kaki menggema di ruangan itu, tiba-tiba semua orang diam, menatap sejurus.
Deg...
Mata Trisya membola, tubuhnya seketika mematung, kala dia melihat siapa yang baru saja tiba di tempat itu.
Tubuh tinggi tegap, dengan pakaian formal wajah tampannya tak pernah berubah, dialah Bryant. Saliva Trisya teguk, pandangannya tertunduk dengan tangan mengepal. Langkah Bryant perlahan mendekat, dia berhenti tepat di depan Trisya, membuat kegugupan seketika menderanya.
'Aku harap dia tidak mengenaliku,' batin Trisya bergumam. Dia menundukkan pandangan sambil mengigit bibir bawahnya.
"Halo semuanya salam kenal nama saya Bryant Maverick kalian bisa memanggil saya Bryant, Pak Bryant atau Tuan Bryant, terserah kalian saja, saya tidak peduli pada formalitas semacam itu. Mulai hari ini saya adalah pimpinan kalian, bisa di bilang saya pemilik baru perusahaan ini, peraturan masih sama seperti sebelumnya, tapi jika ada peraturan yang menurut saya kurang pas saya akan merubahnya. Bekerjalah dengan nyaman, dan mari kita sama-sama bekerja keras dan membawa perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan ternama di Asia!" Suara tepuk tangan mengiringi berakhirnya pidato perkenalan Bryant, namun satu orang yang tidak ikut bertepuk tangan, yaitu Trisya.
Bryant melirik Trisya dari ujung matanya, lantas tersenyum.
'Aku menemukan-mu sayang, kemana kamu bisa lari sekarang!' batin Bryant bergumam.
"Baiklah, kalian bisa kembali bekerja. Oh ya, saya ingin tiap divisi mengutus perwakilan untuk menerangkan laporan beberapa bulan kebelakang, saya tunggu kalian di ruangan saya." Ujarnya lantas berlalu.
Trisya menghembuskan napas kasar, dia mengusap dadanya pelan, "syukurlah, sepertinya dia tidak mengenaliku, aku harus sebisa mungkin menghindari dia."
Trisya kembali ke mejanya yang berdampingan dengan meja Liana, "Bos baru itu sangat tampan ya, dia sudah punya pacar belum ya?" gumam Liana yang tak ada satu-pun yang menanggapi.
"Dari pada kamu berkhayal yang tidak jelas lebih baik cepat selesaikan laporannya dan kamu bisa langsung ketemu bos baru." Ucap Dion teman satu Divisi mereka.
"Wah, kau memang genius Dion, aku akan segera mengerjakannya." Trisya hanya tersenyum kecil menanggapi tingkah Liana.
Siang hari selepas makan siang, semua perwakilan dari tiap Divisi harus segera menyampaikan laporan.
"Trisya bawa ini dan pergi ke-ruangan bos!" ujar Pak Han yang seketika membuat Liana kembali ke-posisinya semula dengan wajah kecewa.
"Ke-kenapa saya Pak? Kenapa tidak Liana saja?" tanya Trisya bingung, jujur dia begitu enggan bertemu Bryant untuk saat ini, rencana untuk menghindari pria itu agaknya tidak akan ter-realisasi dengan mudah.
"Kau yang lebih cakap, jadi aku memilihmu. Cepat pergi!" tegasnya, membuat Trisya mau tak mau pergi juga.
'Sial, kenapa ini harus terjadi padaku.'
__ADS_1