
Kriet...
Perlahan Bryant menutup pintu kala Ia dan Marc telah memasuki kediaman Bryant.
"Ada apa?" tanya Bryant sembari melucuti jas dan melonggarkan dasi yang tergantung di lehernya.
"Aku mendapat Informasi tentang Nyonya. Nyonya dia tidak pernah menikah selain dengan anda, pernah dia hendak menikah, namun tiba-tiba saja itu di batalkan, entah karena apa. Tapi, mengenai anak itu, agar pasti anda harus melakukan tes DNA terhadapnya."
"Hem, tapi akan sangat sulit untuk mendapatkan sampel DNA gadis kecil itu." Bryant menghela napas sembari menghempaskan diri ke-sopa.
Marc terdiam sambil memperhatikan wajah bos-nya yang nampak kelelahan, "kenapa kau menatap-ku begitu?" Bryant merasa kesal karena tatapan Marc tampak mengasihaninya.
"Apa Tuan sudah makan?" Marc balik bertanya.
Bryant mendengus kasar, "kau pikir di rumah ini ada makanan," cibirnya kesal.
"Kalau begitu saya akan beli makanan sebentar," Marc berlalu.
Bryant terbiasa di urusi orang lain, jadi dia tidak tahu caranya memasak, bahkan menyentuh peralatan dapur pun tak pernah ia lakukan dari kecil sampai sekarang, dan kini dia harus tinggal seorang diri di tempat kecil ini.
Bryant tak menjawab dia beranjak membersihkan diri di kamar mandi, tempat ini hanya memiliki satu kamar mandi kecil tanpa bak mandi, sejujurnya dia tidak terlalu nyaman dengan tempat ini, namun demi Trisya dia harus menguatkan diri.
Marc melangkah keluar, dia bertemu dengan Trisya yang juga baru keluar dari rumahnya hendak membuang sampah.
"Apa kabar Nyonya?" Marc menunduk memberi hormat.
"Aku baik," jawab Trisya dingin.
"Nyonya!" Panggil Marc kembali saat Trisya hendak berlalu.
"Jangan memanggilku Nyonya, Nyonya terus. Itu membuatku tidak nyaman," keluh Trisya.
"Emh, maafkan saya, itu hanya kebiasaan yang sulit di hilangkan," jawab Marc sambil tersenyum.
Trisya mendengus kasar, "mengapa kalian datang kemari? Aku dan Bos-mu, kami sudah selesai."
"Aku tahu betul seperti apa Tuan-ku, anda juga tahu dia menyesal pada masalah yang terjadi pada kalian dulu, aku mohon tolong jangan membenci dia Nyonya."
"Kalau sudah selesai, aku pergi dulu." Trisya enggan menanggapi perkataan Marc, dia lantas berlalu dengan langkah cepat, menenteng plastik hitam berisi sampah tersebut menuju ke-bawah.
'Dasar menyebalkan, sejak awal kedatangan Bryant sialan itu memang mencurigakan. Bagaimana jika dia tahu tentang Zalia?'
__ADS_1
"Mommy!" Suara Zalia yang memanggilnya dari atas balkon mengagetkan Trisya, dia mendongak menatap ke-atas.
"Kenapa Mommy lama sekali?" tanya gadis itu dengan pandangan menatap heran.
"Iya sayang sebentar, Mommy akan segera naik." Jawab Trisya.
"Dia putri Nyonya?" pertanyaan itu terlontar dari bibir Marc yang baru saja turun.
"Bukan urusanmu Marc, urusi saja Tuan-mu itu," tukas Trisya dingin.
"Apa dia anaknya Tuan?"
Pandangan Trisya melebar sempurna, dia menatap tajam pada Marc yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tenang, "apa kau bilang?"
Trisya mendengus tawa, "kau pikir hanya Tuan-mu yang bisa membuat anak? Dia anakku dengan pria lain, dan pria itu meninggal dalam kecelakaan." Tegas Trisya dengan tatapan pasti.
Marc tersenyum pelan, "benarkah, tapi dalam riwayat kehidupan Nyonya, anda tidak pernah menikah lagi setelah berpisah dari Tuan."
"Kau menyelidiki kehidupanku?" bentak Trisya, "kau benar-benar keterlaluan Marc, kau mau aku laporkan ke-polisi?!"
"Bukan itu maksudku Nyonya, aku hanya--,"
Perkataan Bryant itu memutus perbincangan antara Marc dan Trisya, "saya permisi dulu Nyonya, maaf telah mengganggu waktu anda," Marc menunduk hormat lantas berlalu.
"Benar-benar keterlaluan, hey tetangga sebelah, tolong disiplinkan bawahan-mu dia sudah bertindak kurang ajar, dia sudah melanggar privasi orang lain!" Teriak Trisya pada Bryant yang tampak berdiri di balik jendela.
"Apa kau bicara padaku?" tanya Bryant so-polos, dia berpura-pura tidak mengerti ucapan Trisya, sambil celingak-celinguk menilik sekitar.
"Iya kamu, siapa lagi! Tolong beri tahu dia, jika dia melakukan itu lagi, maka dia akan aku laporkan pada polisi karena mencuri Informasi pribadi seseorang dan menjadi penguntit!" ancam Trisya, yang hanya di balas senyuman serta anggukan oleh Bryant.
"Hey kalian, jangan ribut! Kalau ada masalah rumah tangga tolong selesaikan secara baik-baik jangan teriak-teriak, berisik suara kalian sangat mengganggu!" teriak salah satu penghuni apartemen tersebut.
"Ma-maafkan saya Nyonya." Ujar Trisya tak enak hati, dia menatap kesal pada Bryant yang nampak terkikik geli melihat dirinya.
"Dasar sialan!" ucap Trisya dengan gerak mulutnya, lantas berlalu.
Bruk...!
Trisya membanting pintu dengan mulut tak henti-hentinya menggerutu.
"Kenapa Mommy?" tanya Zalia yang melihat Ibunya bersungut-sungut penuh amarah.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa sayang, Mommy hanya kesal pada tetangga sebelah itu." Trisya menghempaskan diri ke-sopa dengan tangan terlipat di dada, sedang Zalia gadis kecil itu sedang tengkurap sambil mengerjakan PR di atas karpet bulu dengan motif Hello Kitty berwarna merah muda.
"Oh Om tampan itu, apa Mommy kenal dia?"
"Tidak Mommy tidak kenal! Tampan dari mananya coba," gerutu Trisya kesal.
"Zalia jangan bicara sama Om itu ya, siapa tahu dia bukan orang baik-baik."
"Iya Mom, Zalia tidur dulu." Zalia meninggalkan mainan dan bukunya yang berserakan berlalu ke-kamarnya.
"Zalia, mainannya ko gak di beresin dulu!" tegur Trisya yang nampak kesal karena Zalia.
"Aku udah ngantuk Mom, besok aja."
"Anak ini," Trisya menghela napas sembari berjongkok dan memunguti mainan dan buku Zalia, lantas Ia letakan ke-tempatnya semula.
Keesokan harinya.
Frank...!!
Aww...!!
Hiiissh... Trisya mencuci tangannya di Whastaple, punggung tangannya tampak memerah karena tak sengaja menyenggol wajan di atas kompor, minyak berceceran dan susuk jatuh ke-lantai.
"Mommy kenapa?" Zalia datang sembari menggosok matanya, agaknya dia terbangun akibat suara yang di timbulkan Trisya.
"Astaga maafkan Mommy sayang, kamu bangun gara-gara Mommy, tangan Mommy gak sengaja nyenggol wajan tadi. Tapi gak papa ko, cuma perih sedikit nanti juga sembuh." Trisya tersenyum menenangkan, pasalnya Zalia suka menangis kalau Trisya terluka.
Tok...Tok...Tok
Suara ketukan pintu mengalihkan atensi keduanya, "siapa yang bertamu pagi-pagi buta?" keluh Trisya seraya berlalu membuka pintu.
Ceklek...
Dahi Trisya berkerut menatap orang yang bertamu tersebut, "kamu baik-baik aja kan?" pertanyaan itu tak lantas di jawab Trisya, dia hanya diam menatap aneh pada Bryant.
"Trisya kamu baik-baik aja kan?" desaknya "aku mendengar kamu menjerit tadi, apa kamu baik-baik aja, dan anak kamu?" wajahnya tampak panik dia tak dapat menyembunyikan rasa ke-khawatirannya.
"Aku baik-baik saja, anakku juga," jawab Trisya.
"Siapa yang datang Mommy? Apa Bibi Jessy?" suara Zalia terdengar mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat siapa yang bertamu.
__ADS_1