
"Ma-maafkan kami Pak, kami tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan nama Trisya, kami hanya ingin Bapak tahu semua masa lalu Trisya sebelum Bapak memutuskan ingin bersamanya," salah satu dari wanita tadi memberanikan diri berkomentar.
Bryant tersenyum pelan, "terimakasih atas perhatiannya, aku tidak menyangka aku punya karyawan yang sangat peduli terhadapku, ini sungguh luar biasa," kata-kata itu lebih terdengar seperti sindiran di banding ungkapan rasa syukur yang keluar dari mulut Bryant.
"Kau tahu apa tentang Trisya? Berapa lama kau mengenalnya?" Bryant berjalan mendekati wanita tersebut yang seketika menunduk takut dengan tubuh bergetar, karena tatapan mengintimidasinya.
Semua mata tertuju kearah wanita itu, tatapan campuran antara mengasihani dan rasa penasaran semua orang layangkan ke arah dua wanita itu.
"Tidak ada yang lebih tahu tentangnya melebihi aku. Dan ya, mengenai anak yang kau maksud itu, namanya Zalia, dia bukan anak haram tanpa Ayah," tegas Bryant membuat semua orang saling pandang satu sama lain, "aku tahu kau ingin mengatakan itu kan tadi," tambahnya, Bryant menyimpulkan sendiri kata yang bahkan tak berani wanita itu ucapkan, namun Bryant dapat menebak arah kata-katanya tertuju.
"Tidak Pak, sa-saya tidak berniat mengatakan itu sama sekali," dalihnya dengan bibir bergetar, dia menggelengkan kepalanya menolak semua yang Bryant katakan.
"Dia adalah Putriku, anak Trisya adalah anakku!" tegasnya, membuat semua orang memekik saking terkejutnya, bagaimana bisa itu terjadi, semua itu sungguh tidak terduga, ternyata Trisya bukanlah wanita biasa, seperti dugaan mereka selama ini.
"Sudah cukup Bryant, hentikan. Kita harus bekerja lagi," ucapan Trisya membuat Bryant mengalihkan perhatiannya.
"Apa kau tidak sakit hati dengan ucapan mereka Trisya, mereka mengatai-mu dan Zalia di belakangmu, mungkin kamu bisa diam saja dan menerima setiap cacian dan makian yang mereka layangkan padamu, tapi aku tidak! Mereka yang pernah menghinamu akan merasakan akibatnya!" geramnya kesal.
"Hey ayolah jangan terlalu berlebihan," Trisya mendekat, dia berusaha menenangkan amarah Bryant yang sudah nampak akan meledak seperti bom nuklir, membuat para Karyawan semua merasa was-was, takut kena semprot dari Bos-nya itu.
"Berlebihan katamu?" Bryant menatap tak percaya.
__ADS_1
"Oke, oke, aku faham maksudmu baik, tapi Bryant semua yang dia katakan tidak sepenuhnya salah, aku memang punya Anak dan mereka juga tidak tahu siapa Ayah kandung Zalia. Jangakan mereka, Zalia sendiri pun tidak tahu siapa Ayahnya, sudahlah apa kau tidak malu, mereka semua melihat kita," ucap Trisya dengan nada pelan, sehingga hanya Bryant yang dapat mendengar kata-katanya.
"Tapi aku benar-benar merasa kesal." Keluh Bryant, sembari menghembuskan napas kasar.
Trisya menghela napas pelan, "ayo kita bicara di tempat lain," Trisya menarik lengan Bryant agar mengikuti langkahnya. Langkah mereka terhenti di sebuah koridor sepi, jalan ini jarang di gunakan orang karena mengarah ke basemen.
Trisya melepas genggamannya dan berbalik menatap wajah Bryant, "aku ingin berterimakasih karena kamu sudah mau mengakui Zalia di depan semua orang, aku sangat senang. Tapi Bryant, mengenai kata-kata wanita tadi jangan di ambil hati, lagi pula kau sendiri yang menyimpulkan kata yang sama sekali tidak dia ucapkan," ujar Trisya, mencoba memberikan pengertian terhadap Bryant.
"Mulutnya memang tidak berkata begitu, tapi aku yakin di dalam hatinya yang busuk dia mengataimu." Bryant memberengut kesal, air mukanya masih saja belum berubah.
"Bryant, kita tidak bisa mengendalikan hati atau mulut orang lain, jadi biarkan saja mereka mengatakan apa pun, kita yang tahu diri kita seperti apa, selama aku hidup prinsip itu yang aku pegang, agar aku tak perlu sakit hati dengan ucapan orang lain." Bryant menatap nanar wajah Trisya, ingin rasanya dia membenamkan Trisya dalam pelukannya, namun akal dan pikiran menghentikannya, sampai saat ini Trisya belum sepenuhnya menerima dia kembali, jadi sebisa mungkin Bryant harus tetap menjaga jarak agar Trisya tidak marah.
Dia mendengus senyum, mungkin saja secara perlahan hatinya kembali tergerak oleh sosok pria yang sama namun dengan kepribadian yang berbeda.
'Bryant sudah berubah, aku tahu itu. Meski dia pria yang sama seperti enam tahun lalu, tapi tatapan matanya sangat berbeda.' batin Trisya bergumam, dia menatap punggung Bryant yang perlahan menjauh.
Siang hari saat jam makan siang tiba, suara yang Trisya kenali tiba-tiba berseru.
"Mommy!" panggilan itu sontak membuat Trisya menoleh, ternyata itu Zalia, dia datang bersama Bryant dan juga Marc, entah kapan pria itu pergi untuk menjemput Zalia dari sekolahnya.
"Sayang, kenapa kamu kemari?" tanya Trisya, dia mengecup pipi Zalia pelan dan membawa gadis kecil itu dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Daddy yang mengajakku kemari, Mommy. Mommy apa kantor ini milik Daddy?" Zalia sudah mulai terbiasa memanggil Bryant Daddy. Matanya menjelajah setiap sudut ruangan itu.
Emh, Trisya menoleh pada Bryant, Pria itu pasti mulai lagi menyombongkan diri pada Zalia, dia bilang dia ingin menjadi Ayah yang paling di banggakan oleh Putrinya.
"Yaps, ini kantor milik Daddy," Trisya membenarkan, "tapi... Di atas Daddy masih ada Kakek dan Kakek Buyut, jadi secara garis besar ini bukan sepenuhnya milik Daddy-mu," ucap Trisya, dia menaikan sebelah alisnya mengejek Bryant.
"Oh benarkah? Dimana mereka? Apa Zalia bisa ketemu Kakek?" pertanyaannya mengarah pada keduanya.
"Tentu saja Zalia harus menemui mereka, bahkan mereka yang sangat ingin bertemu Zalia. Tapi Daddy harus meluruskan sesuatu, Mommy bilang perusahaan ini bukan milik Daddy tapi milik keluarga Daddy. Tapi sebenarnya Mommy salah besar, Daddy membeli perusahaan ini dengan uang Daddy sendiri tidak sepeserpun memakai uang keluarga," ucapnya dengan penuh percaya diri, bahkan dalam hatinya dia ingin Trisya memujinya.
"Woah, Daddy sangat hebat, ya kan Mommy?!" Zalia meminta pendapat.
"Ya, Daddy hebat." Trisya tersenyum paksa.
'Cih, dasar sombong. Lihat wajah puasnya,' Trisya tersenyum samar, tapi memang sih harus Trisya akui dalam hal berbisnis Bryant tak bisa di anggap remeh, hingga keluarganya memutuskan menyerahkan perusahaan padanya saat usia Bryant masih terbilang sangat muda.
Bryant tersenyum puas, "mau makan siang bersama?" tawarnya.
"Mau!" Zalia yang menyahut, mau tak mau Trisya pun ikut menyetujui usul Bryant tersebut, dia tak ingin kehilangan senyuman di wajah putrinya.
Dan mereka pun pergi untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang letaknya masih di area kantor mereka.
__ADS_1