
"Ja-jadi, Nona kecil ini, anaknya Tuan Bryant?" ujarnya mempertegas pertanyaannya.
"Ya begitulah," Bryant mengangkat bahu pelan.
"Astaga Tuan, ini benar-benar mengejutkan, saya--,"
Austin berdecak kesal, "dari pada kamu berisik disana, lebih baik siapkan makanan untuk mereka semua," ujar Austin, yang seketika mendapat anggukan dari Wayne dan para pelayan yang lain.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi. Nona kecil selamat datang di rumah kami, Nona Trisya saya serahkan Tuan pada anda, dia sangat susah di atur," keluhnya seraya berlalu.
"Wayne, kau ingin ku pecat?" bentaknya kesal. Bukan tanpa alasan Wayne tampak begitu akrab dengan Austin, dulu mereka adalah teman.
"Sayang, ayo salam sama Kakek," Trisya menggiring Zalia mendekat pada Austin.
"Halo Kakek, aku Zalia," sapa Zalia tak lupa disertai senyuman manis di bibirnya.
"Halo juga sayang, kamu sangat cantik. Trisya, dia sangat mirip denganmu," ucap Austin antusias.
"Iya Pah, bagaimana keadaan Papah, apa lutut Papah masih merasakan sakit?" tanya Trisya.
"Tidak, lututku sudah lama mati rasa, jadi aku baik-baik saja," ucapnya, dia hendak memangku Zalia dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Pah, Zalia lumayan berat jangan memangkunya," cegah Trisya.
"Gak papa Trisya, Papah cukup kuat. Ayo Nak, sini duduk di pangkuan Kakek." Ujar Austin tak menghiraukan perkataan Trisya. Zalia pun menurut dan duduk di pangkuan Austin.
"Pah, bagaimana kabar Papah?" Bryant angkat bicara.
"Aku baik," jawab Austin ketus.
"Ayolah, sebaiknya kita duduk dulu, kakiku sudah pegal rasanya," keluh Kakek sembari berlalu masuk lebih dulu.
__ADS_1
"Apa Papah masih marah padaku?" tanya Bryant dengan tampang memelas.
"Ayo Trisya, kita masuk. Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, banyak yang ingin aku bicarakan." Ujar Austin tak menggubris perkataan Bryant.
Trisya melirik Bryant yang menghela napas pelan, "sabarlah, aku yakin kemarahan orang tua tidak akan berangsur lama, apa lagi ada Zalia disini," Trisya menepuk bahu Bryant ringan.
"Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa Papah lebih menyayangimu di banding aku, atau jangan-jangan aku bukan anaknya," gerutu Bryant sembari berjalan di samping Trisya.
Trisya mendengus senyum, "kalau kau bukan anaknya Papah, lalu kau anak siapa? Ayolah Bryant, kenapa pikiranmu kekanakan," Trisya menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa kau tahu bagaimana keadaan adikku?" tanya Trisya.
"Aku tidak tahu, setelah kejadian waktu itu, aku tak pernah mendatangi rumah mereka lagi. Tapi ada yang bilang, dia tinggal di rumah pengasuhnya," ujar Bryant.
"Aku ingin menemuinya, walau bagaimanapun aku sangat menyayanginya dulu, dan sampai sekarang pun, aku masih menganggapnya sebagai adikku."
"Baiklah, aku akan menemanimu mencarinya."
"Terimakasih Bryant." Trisya tersenyum manis.
Hem, Trisya menoleh menuntut jawab, "apa kau sudah memutuskan tentang hubungan kita? Aku masih menunggu jawabanmu."
"Bryant aku--," perkataan Trisya seketika di potong Austin.
"Tidak, jangan pernah terima dia lagi Trisya, laki-laki brengsek seperti dia tidak pantas mendapat kesempatan kedua!" timpal Austin.
"Austin, apa yang kau katakan? Ini masalah rumah tangga mereka, biarkan mereka menyelesaikan itu sendiri. Lagi pula, kini mereka sudah punya anak, tidak ada salahnya kalau mereka kembali rujuk," tegur Kakek menasehati.
"Walau apapun alasannya aku tidak setuju, Trisya tidak boleh kembali pada Bryant." Tegas Austin.
"Kenapa Pah? Kau tahu kejadian dulu itu hanya karena aku belum dewasa, aku sudah menjelaskan segalanya padamu."
__ADS_1
"Kedewasaan tidak bisa di ukur dengan umur, bisa saja itu terjadi untuk yang kedua kalinya, dan aku tidak ingin Trisya mengalami nasib yang lebih tragis dari pada dulu. Kau tahu aku mengetahui segalanya, termasuk apa yang kau lakukan padanya dulu," Austin mengepalkan tangannya, "betapa bejatnya kau," seketika Bryant menunduk, pun dengan Trisya.
"Jujur sampai saat ini, rasa kecewa itu belum hilang sepenuhnya. Aku benci mengakui bahwa kau putraku, didikan yang Manda berikan padamu, seolah ikut hilang bersamanya."
Bryant mendengus kasar, "ya kau benar, didikan yang Mamah berikan padaku hilang bersamanya, itu karena dirimu." Balas Bryant, membuat semua orang seketika menatap kearahnya.
"Bryant apa yang kau katakan?!" bentak sang Kakek.
"Trisya, bawa Zalia keliling rumah ini, jangan biarkan dia mendengarkan semua ini," ujar Austin, yang seketika di angguki Trisya.
"Ayo Nak, kita lihat-lihat rumah Kakek." Trisya meraih tangan Zalia dan berlalu membawa gadis kecil itu keluar. Meski dalam hati sebetulnya dia ingin tahu apa yang terjadi di antara keluarga ini.
"Mommy, Manda itu siapa?" tanya Zalia, mendongak menatap Ibunya.
"Dia Nenekmu, Ibunya Daddy." Jawab Trisya, sambil terus berjalan sejauh mungkin agar Zalia tak mendengar perdebatan yang terjadi antara Ayah dan juga Kakeknya.
"Apa dia cantik?"
"Sangat cantik, nanti Mommy akan tunjukkan fotonya, tapi sekarang kita harus menjauh dulu dari mereka, tidak sopan kalau kita menguping pembicaraan orang tua." Trisya memberi petuah.
"Baiklah Mommy, wah, halaman rumah Kakek ternyata sangat luas ya, lihat Mommy banyak bunga dan kupu-kupu!" ujar Zalia sembari berlari menghampiri bunga-bunga yang nampak bermekaran tersebut.
"Kamu suka, Nak?"
"Tentu saja Mommy, aku sangat suka bunga." Jawabnya antusias.
"Kakek bilang, ini Nenek yang menanamnya, dia juga sepertimu menyukai tanaman dan kupu-kupu."
"Wah benarkah?"
"Ya sayang, Mommy juga tidak tahu banyak tentang Nenek, karena saat Mommy menikah dengan Daddy dia sudah tidak ada, jadi Mommy hanya mendengar cerita dari Kakekmu saja."
__ADS_1
"Oh begitu."
"Mainlah sepuasmu, Mommy akan duduk disini," Trisya membiarkan Zalia melihat-lihat kebun bunga, dan sesekali mengejar kupu-kupu yang berterbangan karena kehadirannya.